Siapa Bilang Enak? (part 1)

Gimana sih rasanya kuliah di luar negeri? Pasti asik ya, bisa sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui dan sambil menyelam minum air, alias sekolah plus jalan-jalan? Seru banget deh kayaknya punya temen-temen bule?!

Siapa sih yang bikin mindset kuliah di luar negeri itu seperti paragraf di atas?

Kenapa bukan ‘pasti susah ya bikin essay ribuan kata’ atau ‘gimana tuh handle kerja kelompok dengan orang-orang yang culture-nya beragam?’ yang terbersit pertama kali ketika mendengar seseorang merantau ke negara lain untuk kuliah?

Mungkin karena manusia lebih suka menilai sesuatu dari yang terlihat aja. Just the tip of the iceberg. Padahal, di bawah lautan, bagian dari bongkahan batu es itu luar biasa besarnya. Segala kemelut perkuliahan dan kehidupan mahasiswa rantau itu letaknya di dalam lautan. You have only seen the fun, after all this time…

Siapa bilang kuliah di luar negeri itu enak? Aku membuat artikel ini (yang nantinya akan ada part 2 dan part 3-nya) karena aku merasa selama ini perspektif orang tentang kuliah di luar negeri itu selalu hal-hal bagusnya aja. Selalu tentang bagaimana asyik-nya hidup di luar negeri, mencoba hal-hal baru, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Aku juga memiliki persepsi yang sama ketika memulai cita-citaku untuk kuliah di luar negeri. I will never say that the perspective is wrong. Tapi aku mau meng-expose dan meng-elaborate sisi lain dari kehidupan kami para mahasiswa asal Indonesia di negara lain. Niatnya bukan untuk nakut-nakutin atau membuat orang-orang jadi ragu untuk merantau dan kuliah tapi supaya semua orang bisa mengambil keputusan yang wise, whether to study abroad or to study in Indonesia (or not to study at all!).

Kuliah di luar negeri itu pilihan yang harus diputuskan baik-baik karena trade-off nya banyak: jauh dari orangtua, resign dari pekerjaan, meninggalkan comfort zone, dan lain-lain. Ditambah lagi dengan tanggung jawab kepada pihak yang udah membiayai studi kita (either scholarship negara, scholarship perusahaan, atau orangtua). It’s a hell lot of money. Jadi, untuk sesuatu sebesar ini, ngga bisa asal memutuskan karena senang-senangnya aja kan? The decision has to be fully justified, bukan hanya supaya keren atau supaya bisa jalan-jalan aja. We have to be aware that apart from the fun, kita harus mau berjuang dan berusaha supaya bisa make the most out of our study.

So, how is it really like to study abroad?

Kampus dan Fasilitasnya

Sebelumnya, aku kuliah di Universitas Indonesia, salah satu kampus terbaik di Indonesia dengan fasilitas yang lumayan oke. Dulu aku sering mengeluh karena internet connection di perpustakaan (yang komputer-nya Mac semua itu..) lemot banget sehingga perpustakaan bukan menjadi tempat favorit buatku. In Manchester, I love the library and the learning common! Bahkan aku pernah nginep di learning common karena gedungnya open 24 hours. Masalah safety, dijamin aman karena semua akses ke library harus menggunakan student card. Ada shuttle service juga yang siap sedia mengantar students sampai ke depan akomodasinya ketika udah malem banget (not free, though). Kalau lupa membawa laptop dan ngga kebagian PC, students bisa meminjam laptop ke resepsionis selama 4 jam. Kegiatan self-learning difasilitasi dengan baik oleh uni. Akses ke beragam jurnal tersedia, ngga perlu datang ke kampus untuk bisa akses jurnal-jurnal tersebut karena ada VPN yang sangat membantu (terutama saat liburan, karena banyak international students yang pulang ke negara asal). Koleksi buku di library pun lengkap. Kalau ngga menemukan buku yang dicari, students bisa request supaya library membeli bukunya dengan membayar 1-2 quids. Tenggat waktu peminjaman buku normalnya satu semester, kecuali untuk koleksi high demand yang harus segera dikembalikan dalam 1×24 jam.

IMG_5940
Salah satu cubicle untuk group study di Learning Common

Aku bukan anak teknik ataupun science, jadi ngga tau bagaimana kualitas laboratory di sini. Tapi, semua students yang nantinya akan nge-lab harus lulus safety induction terlebih dahulu sebelum bisa mendapatkan akses ke lab. Safety first, always. Seingatku aku udah menjalani seengganya tiga safety induction di awal kedatanganku ke Manchester.

Gedung di University of Manchester ada puluhan, ada yang tua dan ada yang modern. Di gedung yang tua, ruang kelasnya ngga sebagus ruang kelas di gedung-gedung yang baru. Tapi setiap kelas punya standard fasilitas yang harus dimiliki: speaker, komputer, dan LCD. Anyway, di sini dosen dipaksa mengajar sambil berdiri karena ngga ada kursi yang disediakan untuk mereka di depan kelas. Mereka bisa duduk saat break atau saat ada orang lain yang presentasi di depan kelas. Menurutku itu bagus banget untuk men-trigger students supaya semangat mendengarkan lecture. Waktu di UI, banyak dosenku yang mengajar sambil duduk which is bikin ngantuk…

Dosen

Pada dasarnya, semua dosen hanyalah manusia biasa. Bukan berarti dosen-dosen di luar negeri lebih pandai dan lebih bisa mengajar dibanding dosen di Indonesia. Throw away that mindset! Salah satu dosenku saat ini termasuk dosen yang pintar tapi kurang ahli dalam men-transfer ilmunya. Aku pun pernah mengikuti online course dari salah satu universitas di Amerika dan dosennya pun super boring! Dosen-dosenku waktu S1 dulu malah banyak yang lebih oke. Jadi, semua kembali ke personality orangnya masing-masing.

Alhamdulillah, so far semua dosenku berbahasa inggris dengan jelas. Permasalahan yang banyak dialami oleh overseas students adalah: dosen-dosen berbicara dengan cepat dan memiliki aksen yang sulit dimengerti. Kadang takes time buatku mengerti kalimat yang mereka ucapkan, kadang juga aku harus buka kamus supaya lebih yakin kalau aku menangkap materinya dengan benar. Setiap datang ke kelas, bukan semata-mata mendengarkan dosen, tapi betul-betul harus memperhatikan. Berbeda jauh dengan yang biasa aku lakukan kalau di Indonesia, aku bisa mendengarkan dosen sembari mengetik sesuatu di handphone dan tetap bisa paham dengan baik pelajaran yang disampaikan. Di sini? Handphone harus disimpan baik-baik dan baru bisa digunakan lagi saat break, kalau mau benar-benar mengerti penjelasan dari dosen.

Kuliah dan Seminar

Rata-rata untuk program master, dalam satu semester terdiri atas empat mata kuliah. Di semester pertama ini semua mata kuliahku adalah core unit. Sistem perkuliahannya terbagi dua, yaitu lecture dan seminar. Lecture itu seperti kuliah biasa, mendengarkan dosen di dalam kelas. Kalau seminar sifatnya lebih interaktif, bahkan kelasnya dibuat lebih kecil (satu angkatan dibagi menjadi tiga kelompok seminar). Students dituntut untuk lebih aktif di seminar dan ikut berpartisipasi dalam diskusi. Durasi untuk lecture adalah dua jam sedangkan untuk seminar adalah satu jam tiap kelompoknya. Di tengah-tengah lecture, dosen selalu memberi kesempatan untuk break, sekitar 5-15 menit.

Sebelum seminar, biasanya dosen akan memberi case study untuk dibaca dan dianalisis. Ada juga yang memberi ‘PR’ untuk dipresentasikan pada saat seminar. Kalau sebelum kuliah, menurutku semua orang punya preferensi masing-masing. Ada yang baca-baca reading materials dulu, ada yang datang ke kelas dengan kepala kosong. Aku termasuk orang yang lebih suka membaca background reading-nya dulu sebelum masuk kelas. Itu membantu banget buat aku men-develop pola pikir dan aku jadi lebih mudah memahami penjelasan dosen. Biasanya aku juga scroll through slide presentasi dosennya pagi-pagi sebelum berangkat kuliah.

Anyway, mau ngga mau memang students di sini dituntut untuk membaca, membaca, dan membaca. Reading materials yang diberikan oleh dosennya itu mandatory dan sebisa mungkin harus membaca jurnal, artikel, atau buku lain supaya mendapat nilai lebih. Berbeda banget dengan waktu S1 dulu, dimana slide presentasi dosen adalah sumber utama (dan bahkan satu-satunya) dari jawaban yang akan ditulis di kertas ujian.

Di University of Manchester, kami menggunakan aplikasi Blackboard sebagai platform antara students, uni, dan dosen. Jadi, semua dokumen yang terkait dengan perkuliahan akan di-post di Blackboard. Mulai dari pembagian kelompok, course outline, jurnal atau reading materials lainnya, slide presentasi, dan juga nilai. Tugas-tugas juga harus disubmit melalui Blackboard ke aplikasi Turnitin. Aplikasi canggih yang bisa count words dan mendeteksi plagiarism. Di sini aku jadi memperhatikan banget masalah referencing, karena they really take it seriously here.

Salah satu hal yang lumayan tricky, terutama untuk mahasiswa muslim adalah jadwal kuliah yang bersamaan dengan waktu solat. Kalau di Indonesia, mostly selalu ada lunch break at least selama satu jam sekitar pukul 12 yang bisa dipakai untuk solat zuhur, di sini ngga seperti itu. Misalnya, aku punya jadwal kelas dari jam 11 sampai jam 1 siang dan setelahnya langsung dilanjutkan dengan kuliah lain dari jam 1 sampai jam 4. Jadi harus pintar-pintar mengatur jadwal atau mencari celah untuk tetap bisa solat 5 waktu.

Classmates dan Group Work

Jurusanku termasuk jurusan yang jumlah muridnya banyak. Setengah dari 80 orang di kelasku asalnya dari Cina. Orang Eropa-nya malah cuma sedikit, sekitar 10 orang aja. Kelasku diverse banget, awalnya orang-orang dari Cina selalu bergerumul dengan sesamanya tapi lama-lama semuanya makin membaur. Terutama karena kami dialokasikan ke 4 group berbeda di setiap mata kuliah. Jadi ngga bisa eksklusif walaupun pasti tiap orang punya lingkaran mainnya masing-masing.

Alhamdulillah banget aku selalu ada di kelompok yang semua anggotanya bisa diajak kerja sama dengan baik. Aku belum pernah ada permasalahan apapun di dalam kelompok. Salah satu faktornya juga mungkin karena waktu S1 aku udah sering kerja kelompok, jadi udah siap dan ngga kaget dengan free rider yang hanya numpang nama tapi ngga ikutan kerja. Atau mereka yang selalu telat dan jarang dateng kumpul kelompok. Overall, dealing with people from different cultures itu sulit. Meskipun ngga mengalami masalah berarti, aku pernah merasakan beberapa hal yang juga kadang dikeluhkan oleh temen-temenku. Misalnya, orang-orang asal Eropa itu cenderung bossy dan suka narsis bahwa pendapatnya adalah yang mutlak paling benar. Mereka cukup stubborn dan kadang itu irritating banget, apalagi kalau sebenarnya pendapat mereka itu kurang benar. Atau orang Cina yang Bahasa inggris-nya kurang fasih, jadi harus memutar otak untuk memahami apa yang mereka tulis dan apa yang mereka bicarakan. Berargumen dengan orang-orang dari negara berbeda juga tricky. Demi keberlangsungan kerja kelompok yang harmonis, semua harus hati-hati ketika bersikap dan terbuka kalau tersinggung akan sesuatu (harus mau meminta maaf dan memaafkan). Karena groupwork itu akan mempengaruhi nilai akhir, jadi segala challenge di atas harus bisa di-overcome dengan baik, bukan cuma dikeluhkan.

IMG_7690
Classmates from all over the world that become good friends

That is all untuk part pertama dari artikel ini. Jangan ambil kesimpulan apa-apa dulu, because I have more to say. Stay tune 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

2 thoughts on “Siapa Bilang Enak? (part 1)

  1. Hai Atiqah. Wah nama kita sama 🙂 ex muridku ada yg kuliah di kampusmu jg tp kayaknya udah lulus deh S2-nya. Suamiku sempet jg mempertimbangkan untuk apply di kampusmu tp akunya ga mau krn kejauhan dr Surabaya, hehehe. Akhirnya pilih di Sydney aja.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s