Siapa Bilang Enak? (part 3)

Welcome to the final part of Siapa Bilang Enak! Sebelumnya, terima kasih sudah membaca part 1 dan part 2. Such an honor for me to have a numerous readers. Insya Allah bener-bener bermanfaat yaa.

Without any further ado, please buckle up, have your most comfortable position, and let’s continue the journey 😀

Mandiri dan Bertanggung Jawab

Mandiri saat merantau itu beyond bisa bangun pagi sendiri dan bisa masak (seriously, this isn’t the thing you need to worry about. Kemampuan itu akan datang dengan sendirinya, once you have no other option). Aku juga awalnya ngga menyangka mandiri itu akan sebegininya. Sebelum aku berangkat, salah satu sahabatku pernah bilang “Tiq, kalau ngerantau tuh jadi mandiri banget. Kalau ada masalah itu diselesaiin sendiri, ngga mau ngerepotin orang-orang di rumah.” Awalnya aku mikir, masalah apa sih yang bisa dialami oleh mahasiswa yang kuliah di luar negeri? Paling masalah akademis.. tapi ternyata aku salah. Dan yang dibilang oleh sahabatku itu menjadi kenyataan.

Waktu aku punya masalah dengan account PayPal-ku (ada orang ngga dikenal yang belanja dengan account PayPal-ku sebanyak £400-an) aku sama sekali ngga mau melibatkan ibu dan bapak, even up to now aku belum cerita ke mereka hehehe. Untungnya uangku kembali utuh setelah diurus selama satu minggu dengan pihak PayPal.

So, mandiri means bisa menyelesaikan masalah sendiri even that requires you to deal with other people by your own. Sure, aku bercerita ke beberapa temanku di sini dan ke kakakku. But they can only give suggestion, do this and do that. Yang harus melakukan usahanya ya kita sendiri. I’d say kemandirian ini juga bisa muncul dengan sendirinya saat kepepet. Tapi semua butuh persiapan, aku merasa pengalamanku bekerja di kantor selama setahun membuatku cukup percaya diri untuk menyelesaikan masalah sendiri sebelum eskalasi ke supervisor. Dan itu yang membantuku untuk bisa melalui masalah tanpa kebingungan seperti anak ayam mencari induknya.

Saat merantau, you have to be independent. Ngga bisa bergantung sama orang lain dan hanya ikut kemana orang lain pergi. Ke bank, ke student service, ke pendaftaran klinik dokter, vaksin, dan lain-lain harus berani sendiri.

The one who wishes to wear the crown must bear its weight

Bertanggung jawab itu hal yang cukup berat. segala tindak tanduk selama di perantauan harus bisa dipertanggungjawabkan. To go to the pub or not go to the pub, to spend lots of money on winter coat or to buy some experiences (watch a theater, for instance), to study only or to also join a social activity, and so on. After all Tuhan udah memberikan kesempatan untuk kuliah di luar negeri (yang ngga semua orang bisa dapatkan), jadi salah satu bentuk syukurnya adalah dengan menjalani kesempatan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Yang utama tentunya belajar sebaik-baiknya supaya mendapat hasil yang baik pula.

Menjaga Diri

Manchester is not safe at all! Banyak copet (di jalanan maupun yang membobol rumah), banyak orang mabuk, dan orang-orang yang melakukan sexual harassment. Don’t worry, most of other cities in the UK are way safer than Manchester. Aku jadi harus bisa menjaga diri supaya ngga menjadi korban kejahatan selama di sini. Dari mulai ngga pegang handphone saat di jalan, selalu pulang saat terang benderang (kalau terpaksa, selalu pulang ramai-ramai atau naik kendaraan seperti bus dan uber), selalu lewat jalan besar, dan aware terhadap lingkungan sekitar kalau sedang sendirian.

Menjaga diri itu termasuk juga membatasi pergaulan, jangan sampai kebawa arus dan melenceng dari prinsip hidup yang sebelumnya. I won’t elaborate more on this, karena prinsip hidup dan batasan setiap orang itu berbeda-beda but one important thing is jangan sampai menjadi pribadi yang lebih buruk dari sebelumnya.

Keep in Touch

Seven hours time difference, isn’t that too much? It is! Untungnya ada teknologi canggih yang assist segala kebutuhan komunikasi kita saat ini. Walaupun tetap aja rasanya ngga sama dengan hadir secara secara fisik di tengah-tengah keluarga dan sahabat. Kadang-kadang merasa left out juga karena perbedaan jarak dan waktu. Sometimes you just wish you were there too. Yes, merantau tandanya kamu kemungkinan besar akan kelewatan momen-momen spesial bersama keluarga dan teman-teman. On the other hand, kamu bisa punya special moment juga saat kamu studi di luar negeri. It’s a matter of trade-off.

Once in a while, mungkin kamu akan merasa home sick juga. Aku sendiri so far baru merasa home sick waktu stress ujian kemarin. On the most stressful day, you just want to be home but home is just too far away. (Sedih ya? Huehehe tapi nikmatin aja). Dan di saat-saat seperti itulah keeping in touch itu penting. Seengganya bisa mengurangi sedikit rasa kangen dan bisa semangat lagi.

Pasca Kampus

“Mau ngapain abis S2?”

Ekspektasi orang-orang terhadap mahasiswa bergelar master pasti lebih tinggi dari yang bergelar sarjana. Ketika dulu kita udah di level 7, seusai sekolah pasti harapannya bisa ada di level 9 atau bahkan 10. Kehidupan pasca kampus itu harus betul-betul dipikirin juga. And it’s tough. Bagaimana caranya membuktikan kalau memang studi yang sudah ditempuh sampai jauh-jauh ke negeri orang itu bener-bener memberikan value added kepada diri kita. Kita yang lebih baik dari sebelumnya, kita yang bisa mencapai sesuatu yang lebih besar lagi.

This is my biggest concern right now. How to execute my plan after study and be successful.

After all, ini beban terberat (at least menurutku) dari sekolah ke luar negeri. Make sure you have a clear plan in your mind and be eager enough to turn it into reality.

‘Bonus’

Here we are in the last part and the most fun one I can guarantee: the bonus! Jalan-jalan ke Eropa, Afrika, dan keliling UK, menonton bola langsung di stadion ternama, menonton premier film lebih awal dari orang-orang di Indonesia, dan belanja barang branded murah di outlet atau charity shop adalah bonus yang akan kamu dapat kalau kamu kuliah di luar negeri. Happy-happy-nya kami ini (yang kami tunjukkan di social media) hanya sebagian kecil dari perjuangan selama menjadi mahasiswa di luar negeri.

Tentunya selain jalan-jalan, kamu juga bisa jadi orang yang lebih baik, lebih dewasa, lebih pintar, dan lebih mandiri dari sebelumnya (kalau kamu benar-benar memanfaatkan waktu merantau kamu dengan baik).

 

IMG_7982
Winter break in Scotland

 

In conclusion, i will give you time to yourself to answer the question: are you ready to make a decision now? Semua yang aku tulis, silahkan dijadikan consideration (if you feel like it matters to you). Intinya, be sure that you want it that bad and you’re ready to take all the consequences. After all, don’t ever give up in reaching your biggest dream. It’s never too far to reach your dream. Quoting from a very inspirational movie, Pursuit of Happyness, “Don’t ever let someone tell you, you can’t do something. Not even me. You got a dream, you got to protect it. You want something, go get it. Period.”

I wish you all the best 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

2 thoughts on “Siapa Bilang Enak? (part 3)

  1. I can relate bangeeet sama postingan-postingannya aaaaaak.
    Aku sudah hampir pulang sih dari perantauan singkat satu semester di Ireland tapi karena mbaca postingan kakak, aku jadi termotivasi untuk bikin tulisan juga. Terutama karena jatuh bangunnya kayaknya sama (atau malah lebih susah) daripada entitas Indonesia yang merantau di bumi Britania Raya XD
    Terima kasih sudah berbagi pengalamannya ya kaaaaaak. Semangat terus pokoknya!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s