Belajar Berdagang

Berawal dari wejangan seorang teman sekelasku, aku sedikit demi sedikit menyicil persiapan bisnis kuliner yang sejak lebih dari setahun yang lalu aku rencanakan. Tiba-tiba seminggu yang lalu temanku bercerita bahwa ia akan membuka stand makanan di Indonesia Winter Food Bazaar dan bersedia kalau ada partner yang mau join. Betul kata orang, opportunity comes to those who prepare. Aku pun langsung deal saat itu juga kalau aku mau ikut patungan membeli stand dan berjualan di sana. Kami akhirnya berjualan berempat, setelah menarik dua orang teman lain untuk bergabung.

Aku meniatkan eksperimen berdagang yang pertama kalinya ini sebagai proses belajar, bukan 100% untuk dapat untung. Walaupun aku tetap berharap dapat untung juga supaya first impression-nya bagus dan aku semangat untuk terus berdagang di kemudian hari. Aku merasa udah terlalu lama menunda untuk memulai berbisnis dan salah satu resolusiku di tahun 2016 adalah: no wacana. Bismillah, kesempatan yang datang tanpa dikira-kira itu langsung aku ambil.

Try everything and fail fast

Sebelum betul-betul terjun ke dunia berdagang dan bisnis, aku perlu punya pengalaman dan perlu rehearsal. Aku juga harus yakin bahwa ini adalah hal yang aku pengen lakukan setiap hari seumur hidupku seusai studi S2 nanti. Dan kesempatan ini adalah ajang gladi resik dan re-konfirmasi cita-cita dan tujuan hidupku.

Aku memulai dengan prinsip stay within my affordable loss. Affordable loss-ku saat itu adalah menjual makanan yang kalau ngga laku, aku bisa menghabiskannya sendiri (bisa disimpan dan bisa aku makan nantinya) dan modal yang ngga lebih dari £40. 

Mempersiapkan dagangan itu capek. Tidur larut, bangun pagi demi semua masakan matang tepat waktu. Menjualnya pun bukan perkara mudah. Dari mulai banyaknya pilihan (kompetitor, walaupun kita ngga secara langsung berkompetisi), calon pembeli yang gagal beli, dan lain-lain. Awalnya pun deg-degan, takut jualannya ngga laku. Tapi alhamdulillah satu persatu ada yang beli juga, meskipun supply tetep melebihi demand. Tapi toh even the most profitable company in the world aja ngga selalu terjual habis barang dagangannya, ya kan?

Profit yang aku dapat dari jualan kemarin lumayan banget. Bisa untuk nambahin uang liburan easter break nanti. But that’s not the most important thing.

  

Intinya I’m so glad i took the chance dan memulai ini semua. There’s a satisfaction which is hard to be explained when someone buy what you sell. Dan yang juga penting, harus ramah dengan pembeli ataupun calon pembeli. Courtesy and friendliness are kings. 

Aku belum jadi expert di bidang wirausaha dan jalanku masih teramat panjang. And hopefully, I won’t ever stop 🙂 see you soon on September!

Ps. Follow ya instagram @sourceofblessings thank you!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s