Social Media Paradox

Harusnya saat ini aku lagi menulis essay tentang bagaimana Microbeads (that tiny little granules in your face scrub) digunakan secara massal dalam industri kosmetik tapi terancam untuk ditiadakan sama sekali penggunaannya karena mencemari ekosistem laut. Inti dari tugas itu adalah ‘sukses’ dan ‘gagal’ adalah dua kata yang relatif, tergantung diukur dengan parameter apa, kapan, dan lain-lain. Tapi aku malah end up nulis artikel ini 😀 I’ll get back to my essay later hehehe.

Sejak Facebook mulai populer di kalangan anak muda dan orang tua, ia menjadi sebuah kontroversi. Niat Mark Zuckerberg yang saat itu ingin memudahkan orang-orang untuk kembali get in touch dengan teman-teman sekolah (remember you used to be able to connect with people who went to the same school as you?) ditanggapi oleh beberapa orang sebagai ‘mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’.

Bukan cuma itu, akhir-akhir ini aku cukup sering melihat konten dalam status di social media tentang betapa ngga baiknya meng-upload foto ketika pergi umrah atau sesimpel meng-upload foto selfie. Ilmu agamaku masih sangat cetek to further discuss about this. Tapi intinya, the world of social media has brought both positive and negative sides to our life. Aku mencoba me-list benefits dan drawbacks-nya dan aku sengaja membuat keduanya seimbang karena tujuan post ini bukan untuk men-judge apakah social media itu sesuatu yang baik atau bukan.

What’s So Negative?

Addiction. Well, bukan cerita baru kalau banyak orang yang addicted to social media. Bangun tidur, cek notifikasi yang masuk di handphone. Ditambah scrolling timeline sejenak, supaya tetap update dengan apa yang terlewat saat kita tidur. I agree that this is a problem. Soalnya aku pun mengalami itu hehe. Udah banyak juga artikel mengenai bagaimana cara menjadikan hari kita produktif yang argue kalau untuk menjadi produktif, kita ngga boleh langsung cek handphone saat bangun tidur. Even we shouldn’t play with our phone before we go to bed. Belum lagi bagaimana resahnya orang-orang kalau kehilangan sinyal, bukan cuma sekali aku dengar orang yang misuh-misuh karena phone reception-nya jelek. It’s like our life is in social media.

False and provocative news. Temanku yang dulu sempat bekerja di perusahaan online newspaper pernah bercerita kalau para wartawan yang bekerja untuk koran online diminta untuk mengejar berita secepat mungkin dan mempublishnya secepat mungkin. No wonder terkadang berita yang muncul belum sempat diverifikasi. Mungkin itulah penyebab sebuah berita tentang gempa bumi dirilis dua kali dalam jangka waktu yang sebentar dengan keterangan magnitude yang berbeda oleh publisher yang sama. Social media, as sophisticated as it can be, ditambah dengan reaktifnya para penggunanya bisa dengan cepat menyebarkan berita yang belum tentu benar. That’s how information spreads so quickly these days. Ngga hanya belum tentu benar, beritanya pun kadang provokatif. Orang-orang yang sumbunya pendek (alias mudah terprovokasi) akan bereaksi, kemudian ditimpali oleh orang-orang yang punya opini berbeda. Kemudian, ramailah social media seperti ladang gandum ketumpahan coklat.

Gossip. Aku me-refer gosip di sini bukan sebagai kata benda, melainkan kata kerja. Kalau gosip sebagai kata benda, kurang lebih sama seperti poin false and provocative news di atas. Gosip sebagai kata kerja itu maksudnya, social media seringkali memancing orang untuk bergosip. Kalau lagi kurang kerjaan, aku sering melihat Instagram page artis-artis Indonesia. Kadang bukan hanya post-nya aja yang aneh, komentar dari orang-orang yang terpampang secara buka-bukaan (karena kita bisa tau siapa yang memberi komentar) itu lebih membuat geleng-geleng kepala. Ngga usah artis deh, kalau ada orang yang mengupload suatu foto atau membuat sebuah status update di social media, pasti pernah deh at least satu kali kita kemudian membuka percakapan dengan teman (atau siapapun) “eh, si ini tadi gini gini.. gitu gitu”.

Misunderstanding. Pada dasarnya, di social media orang-orang bebas berekspresi. Kayak aku yang saat ini lagi mengekspresikan apa yang aku pikir tentang social media. Ekspresi verbal dan nonverbal pasti diterimanya berbeda dan sangat memungkinkan adanya kesalahpahaman. Misalnya, si A menulis status yang ternyata menyinggung si B. Entah memang si B yang terlalu baper (bawa perasaan) atau emang si A yang niat menyinggung. Kasus lainnya misalnya seseorang yang sering update status yang religius, disangka sok alim padahal ia cuma ingin sharing atau update status yang akademis banget, disangka sok pinter.

Privacy. Selain privacy data-data pribadi kita yang disalahgunakan oleh pihak website, yang konon katanya bisa dijual ke para advertisers supaya bisa aim more potential target for their products, diri kita sendiri juga bisa loh menjadi sumber hilangnya privacy. Aku beberapa kali melihat orang-orang yang update status berisikan hal-hal yang ngga penting untuk dibaca orang lain. Misalnya, cerita kelabu keluarganya, nyindir suaminya, dan lain-lain. Kadang malah kita sendiri yang menjadikan kehidupan pribadi kita jadi konsumsi publik karena kurang wise dalam meng-update sesuatu di social media.

What’s So Positive?

News and idea. Menurutku, di Facebook sekarang banyak page yang berisi tentang berita-berita menarik dan ide-ide brilian. Misalnya, Tech Insider, Business Insider, Huffington Post, dan lain-lain. Mereka memberi wawasan baru buat aku. That’s why sometimes aku membenarkan keputusanku untuk scrolling timeline Facebook di pagi hari. Inspirasi itu datangnya dari mana aja and I embrace social media as one source of inspiration.

Enhance communication. This is so true. Aku yang berada sekian ribu mil jauhnya dari keluargaku di Jakarta, bisa tetap berkomunikasi dengan baik. Bahkan dengan teman yang tinggal satu kota pun, social media menjadi salah satu sarana komunikasi kami. Buatku, social media bukan semata mendekatkan yang jauh. It’s simply a new way of communication. It’s just like a new industrial revolution. Jadi, social media juga bisa mendekatkan yang dekat. Sebagai mahluk sosial, aku rasa by nature semua orang bisa menerima social media.

Life journal. No need to keep a diary, perhaps? Ketika kita continuously meng-update akun social media yang kita miliki, algoritmanya akan menyimpan berbagai cerita di kehidupan kita in a chronological order. Kenangan dan memory kita tersimpan di sana. Aku jadi wondering seperti apa server-nya Facebook, menyimpan cerita kehidupan milyaran manusia di dunia. Dengan kecanggihan teknologi, for instance AI (artifical intelligence, or machine learning), social media can do more than just storing our moments. Tapi bisa predict dan menentukan pattern, siapa orang-orang terdekat kita, bagaimana kebiasaan kita, dan lain-lain. Mungkin nantinya move one dari suatu peristiwa akan semakin sulit dilakukan, because your social media keeps reminding you that the incident existed.

Sharing. This is one thing that i like the most about social media. It enables me to share many things to the world. And in return, i got to know many things that other people share. YouTube has been one big source of useful information for me. Dari mulai gimana caranya menggunakan rumus =IF di Excel (which i can never remember karena dipakainya hanya sesekali), makeup tutorial, managing finance, dan lain-lain. It’s so powerful, it’s like someone, somewhere in this world is going to help you through social media.

Express ourselves. Aku pernah membaca buku biografi seseorang dan di situ ia menuliskan bahwa ketidakpopulerannya di dunia nyata membuat dia termotivasi untuk jadi populer di social media. Mungkin, involved more in social media, bagi beberapa orang menjadi psychologically important. Or else, mungkin mereka akan depresi karena ngga bisa mengekspresikan dirinya, perasaannya, dan pemikirannya. I’m partly introvert and partly extrovert. Buatku pribadi, social media sesekali bisa menjadi penyalur hal-hal yang ngga bisa aku ekspresikan secara blunt di depan orang lain. Bisa jadi hal ini terkait dengan Maslow’s Hierarchy of Needs, dimana at one point in life, manusia akan memiliki esteem needs; status and reputation.

As a conclusion, as promised, it’s a draw between the two! Dari kecil kita memang udah diajarkan untuk ‘selalu mem-filter; mengambil hal-hal yang positif dan meninggalkan hal-hal yang negatif’ di pelajaran PPKN, kan? Or maybe it’s best to agree with Captain Jack Sparrow. “The problem isn’t the problem, the problem is your attitude about the problem.”

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements