Cipika Cipiki Cipika

Sudah lama ya ngga cerita-cerita tentang pengalaman traveling dan tinggal di luar negeri.. kebetulan momennya pas, aku mau share tentang serunya hidup bersama sesama muslim waktu di Manchester dulu. Satu hal yang paling menarik buatku adalah kebiasaan cipika cipiki yang sedikit berbeda dari biasanya. Di Manchester, cium pipinya tiga kali, bukan dua kali. Pipi kanan, pipi kiri, lalu pipi kanan lagi. Jadi, instead of cipika cipiki, nama yang tepat adalah cipika cipiki cipika 😀

Aku ngga pernah tau asal muasal kenapa harus tiga kali.. tapi semua orang begitu. Baik orang Indonesia yang tinggal di sana ataupun umat muslim yang berasal dari negara lain. Jadi aku ikutan aja.

Selama di Manchester aku ngga merasakan perbedaan yang terlalu signifikan dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Shalat ya shalat, puasa ya puasa, rutin juga datang ke pengajian bulanan. Islamic Society di kampus juga ngga jarang mengadakan kajian dengan mendatangkan ustad-ustad kondang (kondang versi internasional, yang kadang aku juga ngga pernah dengar).

Yang paling aku suka adalah bagaimana orang-orang di sana solid sekali 🙂 kalau mau ada pengajian bulanan, ramai-ramai masak menu makanan Indonesia yang menjadi salah satu daya tarik untuk datang ke pengajian. Di bulan Ramadhan dan hari raya pun pasti ada aja undangan bukber atau open house. Hidangannya pun mewah banget. Buat aku yang anak rantau, makan mendoan dan bala-bala aja udah mewah luar biasa. Apalagi kalau bisa langsung disantap tanpa repot-repot ngadon. Tapi biasanya makanannya bukan sekedar bala-bala dan mendoan. Ada bakso, somay, es pisang hijau, rendang, gulai, dan masih banyak lagi deh….. (makanya di sana ngga kangen Indo, tapi pas di Indo selalu kangen Manchester hehe). Setiap pulang dari acara kumpul-kumpul pun selalu bawa kantong plastik isi makanan.

Aku senang aja melihat orang-orang rela bercapek-capek dan mengeluarkan effort yang cukup besar untuk bisa kumpul-kumpul. Melepas rindu kampung halaman, bertukar cerita, berkeluh kesah dari mulai masalah disertasi sampai masalah jodoh, dan sedikit banyak belajar tentang agama juga.

Selain orang muslim dari Indonesia, muslim dari negara lain pun ngga kalah baiknya. Aku beberapa kali diundang makan bareng oleh temanku dari Mesir dan satu lagi orang Pakistan yang lahir dan besar di UK. Aku jadi bisa mencicipi makanan khas negara mereka, deh. Ngga tanggung-tanggung, mereka menyiapkan 3 course menu setiap kali mengundang makan bareng (and you may guess, I’m always falling in love with the desserts). Ketika kumpul kami sering ngobrol tentang kebiasaan puasa, lebaran, dan lain-lain di negara asal masing-masing. Walaupun beragam (even kadang cara kami beribadah aja berbeda), tapi kami sama-sama muslim. And that’s kind of a strong bond already.

Tanpa disadari, keberadaan mereka di Manchester menjadi salah satu alasan kenapa Manchester, meskipun jauh, adalah rumah kedua.

 

♥Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s