Kindness

Beberapa hari yang lalu seorang director di tempatku bekerja pensiun. Dalam acara town hall bulanan, presiden director di kantorku menyampaikan rasa terima kasihnya dan secara official mengucapkan selamat tinggal. Salah satu kalimatnya yang aku ingat adalah bagaimana ia melihat sosok direktur yang akan resign tersebut sebagai laki-laki yang sangat positif dan memiliki 'frustratingly endless kindness'. Aku ngga mengenal sosoknya secara pribadi, tapi melihat beliau berinteraksi sehari-hari dengan orang-orang disekelilingnya, aku yakin beliau adalah seseorang dengan personality yang sangat baik. Ceria, ramah, dan hangat adalah kesan yang aku rasakan mengenai beliau.

Wouldn't it be so nice to be remembered as someone with frustratingly endless kindness?

Bukan hanya orang baiknya aja yang merasa tentram kalau diingat sebagai sosok yang baik.. tapi juga orang-orang di sekitarnya. Seumur hidup aku belum pernah bertemu dengan kakek dari ibuku. Seringnya aku hanya mendengar cerita dari ibu atau dari nenek. Beberapa tahun yang lalu, waktu sedang jalan-jalan di mall dengan ibu, kami bertemu dengan teman kantor kakekku dulu. Setelah bersalaman, hal yang sampai sekarang aku ingat adalah beliau bilang "kakekmu itu orangnya baaaik sekali." And that truly warms my heart. Bahkan setelah puluhan tahun kepergiannya dari dunia, orang-orang mengingat kakekku sebagai sosok yang baik.

Kindness is eternal, yes?

How do we all want to be remembered?
Ngga semua orang punya kesempatan untuk bisa diingat sebagai seseorang yang pemberani atau pembela hak-hak manusia atau pemegang suatu rekor atau juara dari sebuah kompetisi. Tapi, semua orang punya kesempatan supaya bisa diingat sebagai orang yang baik..

Diingat sebagai orang baik harusnya bukan jadi alasan berbuat baik. Itu hanya bonus aja dan bukan urusan kita lagi apakah orang akan ingat dengan kebaikan kita atau ngga. Yang pasti, berbuat baik itu penting dalam kehidupan. Menyenangkan hati orang lain, menyapa dengan ramah, menawarkan bantuan, dan banyak lagi cara-cara untuk berbuat baik. Supaya bisa terus menerus melakukan dan menebar kebaikan, satu hal yang penting adalah untuk selalu berpikiran baik. Cluttering mind, kalau bahasa kerennya. Ujungnya ya mendapatkan inner peace. Jadi menjalani hidup dengan legowo aja. If we feel good about ourselves, it will be easier for us to do good for others..

Selain itu, perlu juga punya value bahwa kita ngga boleh ragu-ragu dalam melakukan hal baik. Do not ever hesitate in doing good deeds. Kadang kan kita ragu ya, ada teman pinjam pulpen, ragu mau minjemin karena takut hilang.. mau bantu orang lain mengerti suatu hal, tapi takut kerjaan jadi ngga selesai, dan lain-lain. Padahal, pada kenyataannya dengan berbuat baik, semua urusan kita tetap baik-baik aja. Malah kadang jadi lebih mudah. Kindness is inexplicably mutual. Entah gimana, pokoknya segala kebaikan-kebaikan yang kita lakukan akan balik lagi ke kita, dalam bentuk yang beragam.

Kindness should be a way of life. Cause when we got nothing left, we can always give a little bit of kindness to people around 🙂

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s