TicTalks 1: Coping with Life

Belakangan ini cukup sering denger berita tentang orang-orang terkenal yang bunuh diri. Sejak bulan Mei kemarin at least udah ada 2: Kate Spade dan Anthony Bourdain. Menurut kabar yang tersebar, dua-duanya mengalami stress dan depresi yang akhirnya membuat mereka memilih untuk mengakhiri hidup. Isu tentang mental health ini jadi banyak dibahas. Termasuk juga jadi topik obrolanku dengan beberapa teman.

Kita memang ngga akan pernah bisa menilai kehidupan orang lain, apalagi kalau hanya lihat dari tampak luarnya aja. Ada yang sudah sukses dengan karirnya, terkenal hampir di seluruh dunia, berkeluarga, tapi sebenernya struggling dengan sesuatu – entah apa – yang secara perlahan membuat dia ngga kuat lagi dengan hidupnya. Life literally does not stop until you die. Kata temanku begitu.

This whole world will keep pushing us. Setelah lulus kuliah, harus bekerja dan dituntut untuk bisa mandiri secara finansial. Setelah sukses berkarir, ada karir lain yang lebih tinggi lagi.. dan seterusnya. Manusia dan dunia ngga akan pernah sampai pada titik puas. Not until we die.

The world is moving, continuously. Kadang cepat, kadang lambat. Temanku bilang, dan di tengah-tengah dunia yang berputar ini kadang kita merasa lelah. Rasanya mau berhenti sejenak, snooze off dari hiruk pikuk keseharian. Mungkin di titik tertentu dalam hidup, kita akan merasa selelah itu sampai rasanya mau berhenti selamanya..

Semua orang yang terlihat ‘normal’, tanpa beban bukan jaminan hidupnya baik-baik aja. Everybody is struggling. Apalagi di tengah-tengah society yang mulutnya betul-betul lebih tajam dari silet dan lingkungan yang ngga pernah berhenti memberikan pressure dalam kehidupan. Tapi, ngga semua orang bisa dengan terbuka menceritakan keluh kesah hidupnya. Makanya, lagi-lagi bersikap baik dan ramah itu penting. Checking up on people itu penting, sesimpel menanyakan kabar dan memberikan perhatian sederhana. Ada buat orang lain, baik keluarga ataupun teman itu penting. Because everybody could use our little act of kindness to stay alive and survive a life.

Sebagai pribadi menurutku kita juga harus bisa menolong diri sendiri, coping with all the troubles of life. Hal yang klise tapi benar adalah dengan dekat sama Tuhan, supaya selalu merasa tentram. Kedua, mengelilingi diri dengan lingkungan yang baik dan positif. Ketiga, tahu limit diri sendiri.. kapan take a break dan berhenti sejenak, kapan harus mengambil keputusan besar, dan lain-lain. Keempat, count our blessings, supaya ngga terus menerus merasa ngga beruntung dalam hidup. Kelima, salurkan emosi, apapun bentuknya (bahagia, kesel, marah, sedih).. kalau bukan tipe yang bisa outspoken untuk mengekspresikan di depan orang lain, coba disalurkan lewat media lain. Keeping a journal, maybe?

Semoga kita semua bisa menjalani hidup dengan apa adanya, banyak bersyukur, dan bahagia terus dan terus…

(Tulisan ini berdasarkan obrolan bersama geng Manchester-ku; Sarahi, Indi, dan Azizah)

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s