Reflection on Eid

Waktu kecil dulu, aku sekolah di sekolah islam yang selalu membuat suasana hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha meriah. Setiap mendekati Idul Adha, murid-murid akan diajak untuk beramal setiap hari dan berapapun uang yang terkumpul akan digunakan untuk membeli hewan qurban.

Momen Idul Adha selalu dijelaskan sebagai momen untuk berbagi ke sesama, ke orang-orang yang kurang beruntung. Sering guruku bercerita bahwa banyak orang yang hanya bisa makan daging satu tahun sekali, ya di hari Idul Adha itu. Sedangkan untuk aku dan sebagian orang lainnya, makan daging adalah hal biasa. Kalau bulan puasa sering dijelaskan salah satunya agar kita bisa merasakan kelaparan yang dirasakan orang-orang yang kurang beruntung, hari raya qurban adalah saatnya orang-orang yang kurang beruntung untuk merasakan apa yang biasa kita rasakan.

Itu hal yang aku pahami waktu kecil. Idul Adha ya tentang berbagi aja.. tapi ternyata ada hal lain yang penting – dan selama ini aku belum paham. Yaitu tentang kesabaran. Tadi lagi scroll timeline twitter, sampai ada suatu akun yang membuat post berisi ayat Alquran surat As-Saffat ayat 99-111. Ayatnya bercerita tentang bagaimana Nabi Ibrahim berdoa agar diberikan anak yang soleh. Lalu ketika akhirnya punya anak, Allah memberi ujian dengan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya (Nabi Ismail). Dan keduanya menjalani ujian tersebut dengan sabar.. dan akhirnya diberikan balasan yang baik.

Reflecting on our life, rasanya jadi Nabi Ibrahim tuh kayak.. udah lama banget kepengen sesuatu. Sampai berdoa yang lebih dari biasanya. Terus pas akhirnya dikabulkan, eh harus dibalikin lagi. Hal kayak gitu lumayan sering ngga sih terjadi di kehidupan? Dikasih ujian untuk mengikhlaskan sesuatu, apa aja. Orang yang kita sayang, barang yang kita suka, hal-hal yang kita biasa lakukan. Selama ini mungkin ada banyak attachment-attachment dalam hidup yang membuat kita susaaah banget untuk melepas sesuatu. Padahal, semua yang ada di dunia kan fana.. pasti berakhir, pasti harus mengikhlaskan atau diikhlaskan.

Idul Adha tahun ini buatku, selain tentang berbagi, juga tentang belajar untuk melepas attachment terhadap hal-hal di dunia ini. Orang, barang, pekerjaan, dan lain-lain. Supaya nanti kalau suatu saat hal-hal tersebut harus dikembalikan ke Yang Maha Esa, atau dipergilirkan ke orang lain, aku bisa sabar dan ikhlas. Sebenernya, hal ini udah pernah dijelasin panjang lebar sama temenku belum lama ini sih, tapi waktu itu aku belum ngeh banget hehe..

Mengikhlaskan sesuatu yang kita suka banget, yang kita pengen banget tuh ngga gampang. Dan bersabar atas ujian itu juga sama susahnya. Tapi bisa belajar.. dan inget terus aja kalau Allah janji akan memberi balasan untuk orang-orang yang berbuat baik 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s