Free Space

Pernah denger quote ‘we have to let go of some things to make room for others’? Kira-kira prinsip itu yang selama ini aku jalani, setiap kali beli hal-hal yang sekedar kepengen padahal ngga butuh-butuh amat dan sebenernya udah punya, aku akan memberikan barang lamaku ke orang lain. Misal, aku punya banyak kemeja biru, ketika aku beli lagi maka kemeja biruku yang lama salah satunya harus aku sumbangkan. Intinya sih supaya ngga ada terlalu banyak barang di lemari. Dan jujur aja, sampai sekarang aku masih belum bisa ‘ngosongin’ lemariku. Meskipun udah berkali-kali tidying up, tetep penuh.

Walaupun begitu, aku yang masih work in progress ini mau sharing tentang betapa hidup minimalist itu memang menyenangkan. Lega gitu rasanya kalau banyak space kosong. Entah siapa yang pertama kali mencentuskan ide minimalist, tapi sekarang banyak banget yang udah mengikuti gaya hidup tersebut. Aku sendiri bisa dibilang hanya setuju 80% deh dari keseluruhan konsep minimalist. Even 80%-nya aja tapi udah melegakan banget. Gaya hidup minimalist ini sederhananya ya hidup simpel, ngga berlebihan. Hidup dengan pas sebutuhnya aja. Salah satunya adalah makan dengan porsi sedikit (karena tubuh kita ngga butuh sebanyak itu!). Kalau dibilang hidup minimalist adalah berhemat, ngga juga. Karena intinya adalah quality over quantity. Yang aku paling setuju adalah bahwa ada beberapa barang dalam hidup kita, yang kita cukup perlu punya satu aja. Tapi satu itu harus yang kualitasnya baik sehingga everlasting. Contohnya: kacamata hitam, jam tangan, knitted sweater, dan lain-lain. Beli aja knitted sweater seharga jutaan, but be sure itu bisa awet bertahun-tahun. Toh kita (apalagi di Indonesia) ngga akan pakai setiap hari. Buat apa punya banyak-banyak seharga ratusan ribu per piece tapi baru 6 bulan udah rusak?

Kesannya mungkin agak pelit ya karena harus mengerem konsumsi impulsif, tapi ternyata attachment kita terhadap barang-barang kita tuh berpengaruh sama mindfulness. Ini mungkin agak relate ya sama postku sebelumnya tentang berqurban. Kita seringkali susah untuk melepas hal yang kita punya. Padahal bisa jadi itu akan lebih bermanfaat kalau kita kasih ke orang lain. Belum lama ini aku dan temanku bikin garage sale buku. Awalnya aku ragu banget mau menjual buku-bukuku. Niatnya mau dikoleksi aja, terutama buku yang favorit. Ngga rela deh kalau dijual. Tapi kalau dipikir-pikir, aku ngga akan baca lagi bukunya sampai kapan pun (aku bukan tipe yang bisa baca buku yang sama lebih dari satu kali). Lama-lama semua buku itu berdebu aja di rak. Mungkin saat ini ada orang lain yang bisa memanfaatkan buku itu lebih baik daripada aku. Akhirnya aku beranikan diri untuk menjual buku-bukunya. To be honest aku masih selektif sih, buku yang aku favorit banget belum berhasil aku lepas. Dan ternyata, garage sale buku ini lumayan candu lho! Nagih. Kayak pengen jualin lagi supaya lemari di rumah juga lega, ngga penuh dengan buku berdebu.

Aku juga baru selesai beberes kamar dan mengeluarkan barang-barang yang aku udah ngga pakai lagi. Kertas-kertas yang dikira penting padahal cuma sampah juga akhirnya aku buang. Hasilnya, kamarku jadi rapi, lega.. ngga sumpek. Dan lebih bright juga jadinya. Suka banget. Semoga rapinya kamarku ini bertahan lama ya.

Sedikit tips dari aku nih untuk yang mau mencoba mengosongkan space di rumahnya:

1. Beresin lemari baju itu paling susah, ada aja alasan ‘siapa tau nanti bisa kepake lagi’. Nah kalau udah tiga kali cycle beresin lemari dan ada item yang selalu diberikan alasan tersebut, langsung aja keluarin. Jangan dipikir-pikir lagi.

2. Buku-buku yang salah beli, alias ternyata ngga berhasil dibaca sampai habis, baiknya dikasih ke orang lain aja. Atau dijual lagi juga boleh. Kadang ada buku yang kurang cocok di kita tapi bisa jadi bermanfaat buat orang lain. Ngga ada gunanya juga kan disimpan tapi kita ngga dapat apa-apa juga dari bukunya?

3. Sebelum membeli segala hal yang sifatnya impulsif (terutama kalau belanja online nih), coba ditunggu dulu sampai 3-7 hari. Diemin aja di cart, kalau masih kepengen, baru deh check out. Selain untuk meyakinkan diri sendiri kita benar-benar butuh atau engga, itu bisa jadi waktu untuk compare dengan produk lainnya.

4. Hal yang aku ngga kepikiran sebelumnya adalah rapi-rapi kosmetik. Ternyata ada banyak banget make up yang mubazir di rumah, terutama lipstik. Soalnya lipstik yang aku pake sehari-hari sebetulnya yang itu-itu aja. Jadi mungkin in total aku hanya butuh 2-4 lipstik (buat sehari-hari, buat weekend, dan buat kalau ke acara formal). Belum lagi lipstik dengan merk berbeda yang ternyata shade-nya sama dan lipstik yang ternyata ngga cocok di warna kulit kita. Yang masuk ke kategori di atas, bisa disumbangkan ke orang lain. Daripada expired tapi masih utuh.

5. Tips terakhir, do this regularly sih intinya.. karena kalau sering, otomatis ngeluarin barangnya jadi sedikit-sedikit. Ngga terlalu berasa deh jadinya. Lagian, kalau cuma sekali mungkin belum bisa memutuskan masih butuh atau engga. Regularly-nya bisa satu atau dua bulan sekali.

Punya space kosong itu menyenangkan. Kalau kamar, rumah, meja di kantor lengang tuh rasanya lebih adem gitu… yuk beberes!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

One thought on “Free Space

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s