Measuring Success

Pulang kantor kemarin papasan dengan rombongan satpam yang baru selesai briefing, mereka masuk shift 3 sepertinya. Pas lagi capek-capeknya begitu, ngeliat orang sumringah dan semangat kerja, jadi adem. Seperti terinspirasi oleh keceriaan mereka dan kelegowoan mereka. Banyak orang yang less fortunate tapi bahagianya sempurna.

Dulu sempat lihat di twitter, ada yang bilang hal seperti ini kurang tepat. Butuh pembanding kesulitan orang lain untuk merasa beruntung. Kenapa harus tunggu sadar ada orang yang lebih sulit hidupnya baru kita bisa bersyukur?

Well, aku setuju ngga setuju dengan pendapat ini.

Di satu sisi bersyukur itu wajib. Ngga bisa diganggu gugat, selama kita masih bernafas dan hidup.

Di lain sisi, banyak hal memang butuh indikator, parameter, dan benchmark. Termasuk kehidupan. Jadi keinget salah satu request temanku untuk nulis tentang measuring success. Let me try to explain how I see it.

Kesuksesan itu suatu hal yang personal sebetulnya. Definisi sukses seseorang ngga selalu sama dengan orang lainnya. Bisa jadi sama juga, ngga sedikit kan orang yang terinspirasi dari kesuksesan orang lain? Yang mutlak sama bagi siapapun, karena sukses ini adalah sebuah tujuan, menurutku harus ada parameternya. Jadi, pertama harus didefinisikan dulu sukses itu seperti apa dan indikatornya apa saja.

Gimana cara menentukan definisi sukses? Biasanya akan sangat relate dengan value yang dianut dalam hidup dan lingkungan. Bisa juga terinspirasi dari orang lain. Kalau aku pilih berdasarkan apa yang diatur agama (value), apa yang aku jalani saat ini, dan apa yang aku suka. Makna sukses yang kita tentukan ngga harus hanya satu, boleh banyak. Kita aja sering doa supaya sukses dunia dan akhirat.

Ada yang suksesnya adalah sekaya Bill Gates dan setenar personil BTS. Ada juga yang mau fokus di akhirat, jadi suksesnya adalah menghafal Alquran. Ada juga yang mencoba balance, mau jadi ahli sedekah dan astronot. Pokoknya macem-macem, tergantung masing-masing orang.

Tapi kita ngga bisa pungkiri bahwa ada beberapa definisi sukses yang diakui bersama oleh society. Misalnya, punya banyak uang, karir yang bagus, keluarga harmonis, dan dikenal banyak orang. Mau ngga mau dan suka tidak suka, ukuran ini sering dijadikan pembanding antara kesuksesan satu orang dengan orang lainnya. Despite everything, sebagai manusia biasa, kita juga pasti pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain berdasarkan parameter-parameter tersebut. Aku ngga naif dengan bilang kita harus deny semua hal itu. Manusiawi aja kok merasa galau, minder, dan lain-lain. It’s human. Yang perlu diingat, jangan sampai galau kelamaan dan minder berlebihan. Ada banyak parameter lain yang bisa kita gunakan untuk bangkit lagi dari rasa negatif itu. Selalu ingat kalau sukses itu personal goal, tergantung value apa yang kita anut. Define our own success and we don’t have to care about someone else’s.

Ibarat misal kita perusahaan makanan cepat saji. Kita punya value lingkungan hidup, dimana kita mengurangi penggunaan plastik. Ini goal kita as a single company. Tapi, di industri makanan cepat saji, parameter sukses yang diukur dan dibuat ranking adalah volume penjualan. Di mata industri, seberapa pun kita mengurangi penggunaan plastik does not matter. Yang penting jualannya. Sedangkan untuk perusahaan, less plastic itu sebuah goal dan kalau tercapai artinya sukses. Ngga dipungkiri juga, at some point pasti kita ingin mencapai volume penjualan yang tinggi dan meraih makna kesuksesan yang dianggap ‘standard’.

Pertanyaan mendasarnya, apakah sukses butuh pengakuan orang lain?

Last but not least, sukses itu kesannya mewah ya. Grande gitu. Menurutku, pencapaian yang simpel dan mudah bisa jadi sukses juga. Ini yang kita ngga boleh luput untuk kasih diri sendiri reward. Apa yang meningkat dari kita di tahun ini compared to tahun lalu? Apa skill yang kita kuasai hari ini tapi bulan lalu belum? Don’t be so hard on ourselves.

So now, selamat meraih sukses!

♥️ Atiqah Zulfa Nadia