The Mindset

I’m back to the office again after months of work from home. One thing (probably the only thing) i like more from WFO is the ability to talk with my colleagues in between meetings and during lunch. One of my colleagues had just finished her maternity leave so we often talk about motherhood. We once came to talk about the postpartum moment, where most of the hard things occured. New mom plus newborn is a chaos, without a solid support system – which I’m glad i had.

Long story short – hearing all our stories, another colleague just can’t imagine having a baby. To be exact, she’s not quite sure if she can handle all the hassles. But we kind of tell her that once God already decided to put a baby in her womb, it means she is ready – she will be ready eventually. You just don’t know where the strength came from. It just happened (well, with some preps and prayers of course).

It is that mindset that i would like to highlight. Not just when it comes to motherhood, but also when any kind of challenges, opportunities, or hardships face us. The mindset that a force greater than us is in control of whatever happens and by holding on to that force, we can go through every moments in life. Not necessarily perfect, but we survived. Gracefully, hopefully.

Amazingly, i found this case works in everyone -regardless of their religion- as long as they believe in God. Life becomes easier. The heart is at peace. Peace and calmness solves 50% burden of our problem. So it helps, a lot. In Islamic perspective, peace and calmness are reached by remembering Allah, continuosly. So that’s the mindset I’m trying to build within me. In every occasion, remember Allah, and remember He is capable of all and He is in control.

So, what’s there to be worried of?

Well it’s not that easy though. We’re human so we will still be worry about this and that. But at least 50% of it has been covered.

I hope we all find our peace of mind.

❤ Atiqah Zulfa Nadia

What happened to you?

Baru banget baca sebuah thread di Twitter, yang kontennya diambil dari Instagram seorang influencer. Di konten tersebut terlihat mbak influencer mengutarakan kesedihannya karena berulang kali dapat komentar super pedas dari netizen. Dia merujuk pada sebuah post tentang menjadi seorang ibu, di mana komentar netizen banyak yang menganggap dia lebay dan seakan ngga berempati terhadap apa yang dirasakan mbak influencer.

Terlepas dari segala faktor hormonal ibu dan betapa memang beberapa momen adalah perjuangan yang besar, aku lebih mau membahas para netizen yang suka komentar pedas di akun orang lain. Like, what happened to you?

Setahun ke belakang aku sempat membuat akun Instagram-ku jadi public. Niat awalnya supaya kalau share sesuatu bisa lebih luas impact-nya. Di masa itu, aku cukup hati-hati banget kalau ngepost. Terutama hal yang sifatnya personal. Foto anak, konten yang mengandung informasi diri, konten yang pakai tag lokasi, itu bener-bener dipikirin supaya ngga banyak data pribadi yang tersebar. Imagine strangers knowing all what you do and all your life story? Sebagai introvert tentunya ngga nyaman. Aku memang ngga siap jadi influencer yang sharing all the bits and pieces of life hehehe.

Lalu ada satu kejadian yang bikin aku bergerak mantap untuk menjadikan akunku private lagi. Suatu hari aku post sebuah konten, niatnya untuk nunjukin what I did to manage my expense. Kontennya udah dibuat sedemikian kecil dan buram. Kemudian ada orang asing, yang aku ngga kenal siapa and I bet she doesn’t know me too, yang komentar di DM. Komentarnya cukup pedas. And honestly, it took me several days to be okay with it (padahal DMnya langsung kuhapus saat itu juga – tapi otak kan ngga langsung lupa yaa). I did what I had to do to cope with the situation and after some days, akhirnya bisa bener-bener melupakan kejadian itu.

Sejak itu jadi paham kalau wajar aja jika influencer banyak yang mengalami disturbance dalam hidupnya. Apalagi kalau terekspos dengan komentar pedas nan jahat dari netizen. Ada yang bilang itu konsekuensi dari menjadikan hidup sebagai konsumsi masyarakat luas. Partially agree. Dan belum menjelaskan fenomena kenapa orang asing (netizen) punya drive untuk memberikan komentar julidnya? Aku pribadi sering merasa ‘cringe banget oy’ ketika melihat sebuah konten, tapi I don’t think it’s necessary to tell it to the person. Apalagi aku ngga kenal secara personal.

So what happened to you? Apa sih yang bikin banyak netizen sampai memutuskan untuk ngetik komentar dan klik tombol send? Apakah itu membuat dirinya kelihatan lebih baik dari orang-orang lain? Atau memang dasarnya dia merasa lebih baik dari mbak influencer? Atau ini ada pengaruh dari rasa iri? Atau jangan-jangan iseng semata?

Bener-bener penasaran sih sama latar belakang psikologi atau basic human behavior-nya. Di buku Contagion, ada satu istilah namanya social currency. Di mana sesorang inginnya selalu terlihat lebih baik, dibandingkan orang lain. Sehingga value social currency-nya lebih tinggi. Ada banyak hal yang bikin social currency ini terkesan naik: knowing what other’s don’t, be the first to try something, dan lain-lain. Tapi aku ngga yakin juga ini menjelaskan fenomena tadi sih.

Masih menerka-nerka, what drives those people to post such hateful and unnecessary comment? And how do they feel after posting it?

❤️ Atiqah Zulfa Nadia