What’s Thicker than Water

As I was expecting Mahira, one thing I am very concerned about is how Hannah will response to the fact that she’s going to have a sibling. Sadly, knowledge regarding this is very rare. You can easily search articles and videos about how to prepare for your first-born but not for your second one. In fact, the situation is more challenging the second time around. The dynamics, the priorities are different.

So the first 2 to 3 months of adaptation was the hardest. Even I felt like reaching the dead end sometimes. The whole family need to adapt or else we all failed. Hannah was the one with more complexities as she even not in the age where she can already regulate her emotion. So I guess it was even harder for her than for me.

I sought for experts opinion and help from God (what else can I do, right?). And it turned out that the only way out is to complete the adaptation process. So the parents need to let her and help her adapt.

After quite some time, we finally grew as family. And our family rythm is back, although little by little.

Being a mother of two is not bad at all. I bet having siblings is not bad either for both Hannah and Mahira. Blood is thicker than water. They are going to have each other through everything in life, insya Allah.

When one’s heart breaks, the other’s will too. But it’s strong enough to hold the one in despair. When one is happy, the other will radiates the same energy. Just like me and my big sis, they will have an amazing journey of sisterhood. To infinity and beyond.

❤ AZN

Advertisement

Gigi Bayi-bayi

Hiii there! Kembali lagi aku menulis dan berbagi di media ini. Kali ini mau cerita tentang gigi bayi!

Eh kenapa tuh, kok gigi bayi? Emang bayi udah punya gigi? Yes, umumnya bayi mulai punya gigi di usia 6 bulan ke atas. Tapi ada juga yang sebelum itu. Contohnya? Ya Hannah dan Mahira! Disclaimer dulu nih, yang lebih cepat ini bukan berarti lebih baik – dan as far as i’m concerned, lebih cepat dalam hal tumbuh gigi juga bukan indikasi yang berbahaya.

Hannah baru lahir banget giginya udah 2! Bikin kaget kayak headline detik.com. Ketika tanya sama dokter anaknya, dikasih info bahwa ini namanya natal teeth. Langsung deh browsing-browsing tentang natal teeth ini di Google.

Dari hasil riset ala-ala, ternyata penyebab dari munculnya natal teeth ini belum diketahui secara pasti. Ada juga kondisi lain di mana gigi tumbuh setelah lahir yang disebut neo natal teeth. Entah Mahira termasuk yang ini atau bukan, tapi giginya mulai tumbuh di usia 3 bulanan. Emang anak ibu hobinya cepet-cepetan tumbuh gigi kali ya..

Aku juga sempet tanya ke akun little.toothfairy di Instagram milik dokter gigi anak drg. Stella tentang kondisi Hannah waktu itu. Dijelaskan bahwa giginya perlu dirawat seperti biasa saja, kayak merawat gigi susu, jadi harus dibersihkan rutin.

Yang lucu, dulu ada salah seorang dokter anak yang insist agar gigi Hannah dicabut karena menjadi salah satu potensi faktor Hannah sulit menyusu. Waktu itu langsung konsul ke dokter gigi anak drg. Annisa Ramalia. Menurut beliau, akar giginya kuat dan ini basically adalah gigi susu. Jadi ngga perlu dicabut. Emangnya mau anak kita ompong terus sampai nanti gigi dewasanya tumbuh?

Alhamdulillah ngga jadi dicabut. Bisa diledekin temen sekolahnya nanti kalau ompong terus. Dan sebetulnya gigi bukan hal yang mengganggu kok saat menyusu. Yang paling penting itu pelekatan, pelekatan, dan pelekatan.

Gigi Hannah yang berikut-berikutnya tumbuh sewajarnya aja, kayak bayi-bayi lain. Kondisinya juga sampai sekarang baik. Insya Allah Mahira juga nanti begitu yah. Sekarang dia giginya udah 3!

Jadi, natal teeth dan neo natal teeth memang kondisi yang cukup wow karena bikin kaget. Tapi bukan berarti hal yang buruk. Kalau ada yang mengalami juga, cari informasi terpercaya dan kalau bener-bener penasaran atau khawatir, insting orangtua tuh paling ngga bisa dicuekin, periksakan ajaa ke dokter gigi anak. Mereka deh yang ahlinya.

Cara aku merawat gigi gigi bayi ini sama aja kok ngga ada yang spesial.. sekalian merawat rongga mulut secara keseluruhan. Awalnya pakai kasa dan air hangat matang. Lalu pakai silicone brush dan sedikit pasta gigi anak (pas udah mulai makan). Jangan lupa kudu yang berflouride kalau kata para dokgi alias dokter gigi. Semenjak satu tahun, Hannah mulai pakai sikat gigi stage 1 untuk anak-anak (pakai Oral B karena dia lengkap stage-nya dan gemes gambarnya). Dulu masih selalu disikatin. Lama kelamaan, mau sikat sendiri. Kadang gemas juga takut ngga bersih, tapi bismillah aja sambil dipantau terus.

Terakhir, ya sempetin cek cek ke dokter gigi anak meski cukup menguras kantong ya.. tapi setidaknya bisa jadi early detection kalau ada apa-apa.

Okedeh cukup sekian dulu ceritaku kali ini. Kalau ada yang punya pengalaman sama gigi bayi yukk sharing-sharing 🙂

❤ Atiqah

Sabtu (dan hari-hari lainnya) Bersama Bapak

Kalau lagi di luar rumah, misalnya lagi jalan-jalan, anakku memang cenderung lebih nempel sama bapaknya. Kami memang membagi role-nya demikian, bapak pegang anak dan ibu mengurus barang-barang supaya ringkes dan ngga ada yang ketinggalan. Seringnya juga anak digendong sama bapak yang lebih strong, terutama kalau lagi jalan-jalan di alam. Sejak hamil lagi, semakin jarang aku yang pegang karena dia makin lincah dan lari terus kemana-mana.

Jadi beberapa kali sempet dikomen “wah anaknya deket banget ya sama bapaknya”.. terus bapaknya agak keki harus respon apa. Mungkin takut ngga enak sama ibunya (?) Karena orang mikir anaknya lebih dekat sama bapak. But honestly, aku biasa aja dan malah cenderung seneng. Alasan pertama ya pasti karena aku yang sehari-hari bersama anak, tau juga ada momen-momen dia lebih lengket sama aku. Jadi ngga ada istilahnya saingan antara anak lebih sayang ibu atau lebih sayang bapak. Alasan kedua karena sekarang ini kita banyak diingetin tentang pentingnya peran ayah dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Jadi kalau anak dekat dengan bapaknya tanpa butuh effort, ya seneng dong. Mudah-mudahan banyak manfaatnya untuk dia kelak.

Mungkin masih kurang common ya, bapak-bapak yang sangat dekat dengan anak. Atau kita sudah terlalu lama berada pada pandangan anak lengket sama ibu, bapak kerja cari uang. Yang mana sekarang semua udah berubah dan terkadang masih terasa ‘asing’. Tapi buat yang udah paham, justru ini hal baik.

Sekarang ini sudah mulai banyak orang yang paham dan mempraktekkan. Terutama ya di keluarga-keluarga muda yang cukup terekspos dengan edukasi parenting. Terus gimana kalau ayahnya nun jauh di sana? It might be more challenging, tapi bukan berarti mustahil. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun sempat terpisah cukup lama tapi mereka tetap sangat dekat. So again, maybe it’s about sincerity, quality instead of quantity and distance? Semoga ke depan makin banyak lagi bapak-bapak yang terlibat dalam pengasuhan anak yah!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Menara Balok Hannah

Pagi ini Hannah memilih untuk main susun-susun balok. Dulu bisanya cuma beberapa balok, sekarang jadi mau susun yang tinggiii. Awalnya dia kesulitan karena baloknya kecil-kecil dan bentuknya beda-beda. Kalau meletakkannya kurang pas, menara baloknya jadi kurang stabil. Semakin tinggi jadi semakin goyang.

Setiap di atas 4 atau 5 balok, di balok berikutnya seringkali menaranya roboh. Memang dasarnya temper Hannah cukup strong-willed, jadi dia kesel sendiri. Mulai deh merengek. Setelah banyak percobaan, kadang dia berhasil menyusun sampai cukup tinggi. Kadang juga gagal – tergantung seberapa tepat dia nyusunnya (tapi dia kan belum ngerti triknya).

Melihat kejadian pagi ini, aku dan Jihan membantu Hannah untuk mengelola emosinya. Pertama dengan celebrate small wins. Setiap dia berhasil menyusun balok cukup tinggi, kita apresiasi. Kita juga ajak dia untuk menghitung sudah sebanyak apa dia berhasil menyusun. Supaya dia tau bahwa sudah cukup banyak balok yang berhasil dibuat jadi menara.

Kedua dengan memberi pengertian bahwa gagal itu biasa. Seringkali kita berusaha tapi hasilnya ngga sesuai dengan keinginan. Tapi bukan berarti kegagalan adalah hal memalukan. Sedih, kesel, dan kecewa saat menerima kegagalan juga sesuatu yang wajar. Namun jangan sampai itu membuat dia menyerah. Coba lagi dan lagi.

Pada akhirnya ketika kekesalannya ngga terbendung lagi, baru deh kita coba ajak main yang lain. Sebelum beralih, kita emphasize lagi bahwa Hannah hebat sudah berhasil menyusun sekian balok dan kita bangga sekali. Sekalian kita jelasin lagi juga bahwa gagal dan kecewa itu hal yang wajar dan ke depannya mungkin akan sering dia temui kejadian-kejadian seperti itu.

Semoga Hannah bisa mengerti sehingga ia senantiasa berbesar hati, sekaligus tangguh menghadapi apapun..

❤️ Atiqah Zulfa Nadia