Adventure of a Lifetime

It’s funny how life works, I might actually have said this for many times. It’s just that this life never fails to surprise me (of course with both ups and downs) – although sometimes it is not so unexpected. I thought I’m not gonna be able to implement things that I specifically learned in my master degree – ever. But I actually am, the path is simply just not that instant.

This week I almost finish my Amatil X journey. Almost, because apparently my team was selected to continue to the final round of the program. This, actually, is something I wasn’t really hope for. I’ll tell you why.

The story goes way back to my postgraduate study in 2015. I studied Innovation Management & Entrepreneurship. In the first semester, one of the compulsory subject was High Tech Entrepreneurship. It taught me about how to build a tech startup. I enjoyed the class very much. Not only because the lecturer and the subject itself, but also because I was teamed up with amazing people. For the final project, the class was grouped into teams and we had to create our own startup proposal and to pitch our idea. I was in a team with 4 other students and I think we worked together very well. We won the pitching competition and I was very pleased with how the final proposal looked like.

The rest of the study in my master degree was about innovation and somewhat getting ourselves ready for startup environment. In the second semester, I had to work with one UK-based startup and helped them to understand the market better. That was the moment where I kind of reflecting what I learned in the High Tech Entrepreneurship class. Since then, I had a balanced view of startup environment. It wasn’t all cool.

So I came home to Indonesia, looking for a new job. I applied to several Jakarta-based startups and to other big companies as well. Finally I ended up working in an FMCG company. However, I’m actually curious of whether I can actually work in startup or even build one of my own. But I don’t quite have time to work on my startup idea while working as a full time employee. Slowly, the curiosity faded away. I will work in corporation and I don’t really mind of it.

Not so long ago, I decided that startup might not be for me. I can still implement all those stuffs I have learned back in university to a corporation, and that’s enough. Yet, life takes me to the path that can answer my curiosity. Amatil X.

The company I work for launched an intrapreneurship program. Employees went through 6 classes of startup thinking. Those who have an idea that can benefit the company can register for the Hackaton event. During the Hackaton, I was grouped into a team of 5 people and we had to define the problems we’re trying to solve, the solution we offer (which was our idea), and the benefit for the company. My team was selected to continue to the second round. Thus we went through another classes of creating a product. This week, we finally got the chance to do a pitch in front of the directors and investors, where they selected the best two ideas to continue the journey.

I value the experience very much. All the discussion, the thinking process, the chance to pitch in front of important people, those aren’t something all people can get. I’m very grateful, I know this is good for me. The drawback for me is because the process had totally drained my energy – more than ever. It’s not easy to work on an idea, it’s even harder to convince people that the idea is worthy. I salute all founders of startups that try to solve problems in various aspects in life. That is one tough job. However, I do believe that if the person is highly passionate about what he’s about to solve, it won’t be as tiring as how it affected me (I guess this validates more of how I am not so passionate about supply chain). But the ship has sailed, I gotta finish what I’ve started and keep doing the best that I can.

The thing that I want to highlight here is actually how life can take us to many different routes before finally reaching the destination – to where we really belong, to our true calling. And the road isn’t always straight. We might end up in a strange place several times, there probably shortcuts, and we can definitely get lost or just circling around a few times. I guess I haven’t reached my destination, there’s a lot to figure out. It’s a adventure of a lifetime, Coldplay said, we are diamonds taking shape.

Love, Atiqah Zulfa Naida

Writer’s block

Menulis itu butuh inspirasi dan semangat. Setiap kali aku merasa ngga punya ide nulis, aku lumayan frustrasi. Karena ada 2 hal yang bisa jadi penyebab: hidupku berjalan terlalu monoton dan mediocre sehingga aku ngga ada hal menarik untuk dibagi atau sesimpel aku males aja untuk menata kata-kata. Keduanya sama-sama ngga baik.

To realize how little I have been writing lately, aku jadi sadar beberapa hal yang perlu aku renungkan. Pertama, whether I have done something meaningful, mungkin ngga perlu setiap detik, jam, dan harinya. Even one meaningful thing in a week should be enough. Harusnya dengan itu aku bisa punya sesuatu untuk diceritakan. Ngga harus grande dan wow, dengan baca buku, diskusi, update berita terkini, membuat atau mengerjakan sesuatu, dan macam-macam kegiatan lainnya – yang penting ada makna yang bisa diambil. This will be my first homework: kembali belajar memaknai, meresapi hal-hal yang terjadi dalam hidupku. Maybe this time around, I had let it pass me just like that.

Kedua, was I being lazy all this time? If so, then why? Was I lack of ambition? Semenjak lulus dan kerja kantoran, rasanya agak sulit menemukan ambisi yang men-drive diri supaya terus berkembang. Pertanyaan “what’s next?” jadi sulit dijawab. Disiplin jadi PR kedua, harus rutin melakukan kegiatan yang baik. Contohnya olahraga, ikut kelas online, dan nulis blog. To start is one challenge, but to be consistent is one level up.

Ketiga, penting untuk selalu ingat purpose kita dalam hidup. Makanya purpose ini baiknya tertuang dalam sebuah tulisan yang bisa sering dibaca. Ketika mengingat kembali tujuan kita, biasanya bakal kembali semangat melakukan hal-hal yang bisa membawa kita ke tujuan tersebut.

Well, big homework for me. Semoga bisa pelan-pelan meningkatkan frekuensi menulis lagi. Mudah-mudahan tulisan kali ini ngga hanya jadi mediaku untuk rant about experiencing such writer’s block, tapi juga memberi inspirasi atau perspektif baru untuk siapapun yang baca. Cheers!

♥️, Atiqah Zulfa Nadia

Measuring Success

Pulang kantor kemarin papasan dengan rombongan satpam yang baru selesai briefing, mereka masuk shift 3 sepertinya. Pas lagi capek-capeknya begitu, ngeliat orang sumringah dan semangat kerja, jadi adem. Seperti terinspirasi oleh keceriaan mereka dan kelegowoan mereka. Banyak orang yang less fortunate tapi bahagianya sempurna.

Dulu sempat lihat di twitter, ada yang bilang hal seperti ini kurang tepat. Butuh pembanding kesulitan orang lain untuk merasa beruntung. Kenapa harus tunggu sadar ada orang yang lebih sulit hidupnya baru kita bisa bersyukur?

Well, aku setuju ngga setuju dengan pendapat ini.

Di satu sisi bersyukur itu wajib. Ngga bisa diganggu gugat, selama kita masih bernafas dan hidup.

Di lain sisi, banyak hal memang butuh indikator, parameter, dan benchmark. Termasuk kehidupan. Jadi keinget salah satu request temanku untuk nulis tentang measuring success. Let me try to explain how I see it.

Kesuksesan itu suatu hal yang personal sebetulnya. Definisi sukses seseorang ngga selalu sama dengan orang lainnya. Bisa jadi sama juga, ngga sedikit kan orang yang terinspirasi dari kesuksesan orang lain? Yang mutlak sama bagi siapapun, karena sukses ini adalah sebuah tujuan, menurutku harus ada parameternya. Jadi, pertama harus didefinisikan dulu sukses itu seperti apa dan indikatornya apa saja.

Gimana cara menentukan definisi sukses? Biasanya akan sangat relate dengan value yang dianut dalam hidup dan lingkungan. Bisa juga terinspirasi dari orang lain. Kalau aku pilih berdasarkan apa yang diatur agama (value), apa yang aku jalani saat ini, dan apa yang aku suka. Makna sukses yang kita tentukan ngga harus hanya satu, boleh banyak. Kita aja sering doa supaya sukses dunia dan akhirat.

Ada yang suksesnya adalah sekaya Bill Gates dan setenar personil BTS. Ada juga yang mau fokus di akhirat, jadi suksesnya adalah menghafal Alquran. Ada juga yang mencoba balance, mau jadi ahli sedekah dan astronot. Pokoknya macem-macem, tergantung masing-masing orang.

Tapi kita ngga bisa pungkiri bahwa ada beberapa definisi sukses yang diakui bersama oleh society. Misalnya, punya banyak uang, karir yang bagus, keluarga harmonis, dan dikenal banyak orang. Mau ngga mau dan suka tidak suka, ukuran ini sering dijadikan pembanding antara kesuksesan satu orang dengan orang lainnya. Despite everything, sebagai manusia biasa, kita juga pasti pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain berdasarkan parameter-parameter tersebut. Aku ngga naif dengan bilang kita harus deny semua hal itu. Manusiawi aja kok merasa galau, minder, dan lain-lain. It’s human. Yang perlu diingat, jangan sampai galau kelamaan dan minder berlebihan. Ada banyak parameter lain yang bisa kita gunakan untuk bangkit lagi dari rasa negatif itu. Selalu ingat kalau sukses itu personal goal, tergantung value apa yang kita anut. Define our own success and we don’t have to care about someone else’s.

Ibarat misal kita perusahaan makanan cepat saji. Kita punya value lingkungan hidup, dimana kita mengurangi penggunaan plastik. Ini goal kita as a single company. Tapi, di industri makanan cepat saji, parameter sukses yang diukur dan dibuat ranking adalah volume penjualan. Di mata industri, seberapa pun kita mengurangi penggunaan plastik does not matter. Yang penting jualannya. Sedangkan untuk perusahaan, less plastic itu sebuah goal dan kalau tercapai artinya sukses. Ngga dipungkiri juga, at some point pasti kita ingin mencapai volume penjualan yang tinggi dan meraih makna kesuksesan yang dianggap ‘standard’.

Pertanyaan mendasarnya, apakah sukses butuh pengakuan orang lain?

Last but not least, sukses itu kesannya mewah ya. Grande gitu. Menurutku, pencapaian yang simpel dan mudah bisa jadi sukses juga. Ini yang kita ngga boleh luput untuk kasih diri sendiri reward. Apa yang meningkat dari kita di tahun ini compared to tahun lalu? Apa skill yang kita kuasai hari ini tapi bulan lalu belum? Don’t be so hard on ourselves.

So now, selamat meraih sukses!

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Hijab Journey

Akhir-akhir ini cari ide buat tulisan di blog agak susah deh. Kalau stuck gini biasanya social media comes to the rescue. Tulisan ini muncul berkat social media, waktu aku tanya di instagram topik apa yang pengen dibahas. Lalu salah satu sahabatuku di SMA nanya, apa suka duka dan challenge menggunakan hijab sampai akhirnya bisa ikhlas berhijab lillahi ta’ala.

Topik menarik nih, aku ngga punya cerita inspirasional terkait perjalanan hijabku sejujurnya. But let me just tell you the story, semoga I can come up with lesson learned at the end supaya kalian ngga sia-sia baca panjang lebar. Fyi, kata hijab, kerudung dan jilbab di tulisan ini bermakna sama ya, penggunaannya kuganti-ganti biar ngga bosen aja.

Aku konsisten berhijab sejak SMA kelas 1, but the journey started long way back. Dari mulai SD aku sudah paham bahwa menutup aurat itu wajib saat perempuan mulai menstruasi. Kakakku mulai berhijab kelas 5 SD, jadi ibuku pun meng-encourage aku untuk mulai pakai kerudung di waktu yang sama. Di minggu pertama aku duduk di kelas 5, aku mencoba pakai kerudung ke sekolah dan ke tempat les. Tapi rasanya belum dari hati, jadi aku ngga betah dan akhirnya berhenti pakai jilbab sampai lulus SD. It was a very short period of time, mungkin ngga ada yang inget kalau aku pernah menggunakan kerudung saat itu.

Di SMP, sehari-hari aku diwajibkan untuk pakai bergo di sekolah. Saat itu aku juga disuruh oleh orang tua untuk mulai pakai kerudung secara konsisten. Cerita menariknya di sini. Waktu SMP aku pakai kerudung kalau sekolah dan di depan keluarga aja, jadi mereka taunya aku udah konsisten berhijab. Tapi kalau lagi ngga sama mereka, aku lepas jilbabnya. I don’t quite understand kenapa dulu sulit banget untuk berhijab, I just didn’t feel like I want it. Ditambah lagi dengan lingkungan teman-teman yang saat itu masih belum menutup aurat. Waktu itu fashion untuk perempuan berhijab belum kayak sekarang. Jamannya masih hobi beli majalah Gadis dan Cosmogirl, ngga ada tuh model berkerudung ataupun inspirasi gaya hijab. Di masa SMP ini aku masih berat hati banget menutup aurat.

Sampai pada waktu aku akhirnya masuk SMA. Saat itu aku ngga punya pilihan lain selain konsisten berkerudung. Soalnya, aku sekolah di SMA Negeri yang ngga wajib memakai hijab. Berhubung keluargaku taunya aku udah berhijab, jadi seragamku dijahit lengan panjang dan rok panjang. Mau ngga mau aku harus pakai kerudung karena aneh kalau seragam serba panjang tapi ngga berhijab. Untungnya, ketika di SMA lumayan banyak teman-teman yang udah berkerudung. Semacam ngga merasa terasing. Tapi aku sempat mengalami krisis percaya diri waktu itu. Rasanya ngga pede dan ngga bebas jadi diriku yang sesungguhnya karena pakai jilbab. Kadang sering iri liat teman-teman yang belum berhijab dan pengen ikut bergaya kayak mereka.

Setahun berlalu, aku berhasil memupuk rasa percaya diri dan merasa normal dengan penampilanku. Aku sadar bahwa berhijab bukan penghalang untuk melakukan hal-hal yang aku suka. Di momen itu aku bisa mendefinisikan hijab adalah bagian dari diriku. Perjalanan masing-masing orang dari tahu aturannya sampai ke mengamalkan di kehidupan itu berbeda satu sama lain. Ada yang cepat dan ada yang lama, kita hargai aja. Aku butuh bertahun-tahun. But the journey does not stop there.

Aku beberapa kali jalan-jalan ke luar negeri dalam keadaan berhijab. Awalnya merasa agak asing, tapi lama-lama sadar: not everyone cares (aku ngga naif juga bahwa ada yang akan memandang aneh atau agak negatif). Takeaways-nya adalah santai aja dan berani beda. Bahkan berhijab ini memberikan manfaat kalau lagi traveling. Selain jadi alert untuk orang lain bahwa kita muslim (jadi terhindar dari makanan non halal), berhijab membuka interaksi dengan orang lain juga. Interaksinya bisa dengan sesama hijabers, bisa juga sama non muslim tertarik untuk tahu lebih banyak tentang hijab. Biasanya mereka tanya “apa sih itu yang nutup kepala kamu?” atau “kenapa sih kamu pakai penutu kepala?”

Nah pertanyaan itu makin sering aku dapat dari teman-teman ketika kuliah di Manchester. Di situ aku merasa jawabanku tentang kenapa harus berhijab tuh cetek banget. Aku kayak ngga tau alasan sebenarnya dari pilihanku berhijab. I just did dan ternyata aku baik-baik aja so I continue wearing. Aku bersyukur karena ada orang-orang sekitarku yang menyuruh, mengingatkan, dan meng-encourage aku untuk berkerudung. Kalau ngga ada support dari mereka, sampai sekarang mungkin aku belum pakai jilbab. Insya Allah selalu istiqomah sampai nanti.

Suka dan dukanya udah lumayan tergambarkan di cerita tadi ya. Kalau sekarang sih, ngga ada dukanya. Seneng-seneng aja dan aku merasa berhijab udah semakin mudah. Terutama terkait fashion ya, udah banyak banget sekarang baju-baju untuk para hijabers.

Challenge dari menggunakan jilbab menurutku adalah menjaga sikap dan perilaku. Beda dengan jadi alim dan rajin ibadah ya, karena itu urusannya sama Allah. Menjaga sikap dan perilaku itu urusannya sama manusia. Dengan berjilbab, harus bisa menunjukkan akhlak yang baik dan sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Ramah, lemah lembut, sopan, datang tepat waktu, ngga ingkar janji, dan lain-lain. Termasuk juga cara menasehati orang lain, cara menegur, dan cara menyampaikan pendapat. Jangan sampai menyakiti dan merugikan orang lain. Intinya membuat orang senang dengan keberadaan kita. Ini tantangan besar supaya stereotype yang terbentuk tentang hijabers itu yang baik-baik. Udah bukan rahasia kalau sekarang ini ukhti-ukhti seringnya dikategorikan eksklusif, ngga ramah, dan lain-lain yang insya Allah ngga benar. Pastinya saat ini aku belum sempurna dalam menjaga sikap dan perilaku ini, makanya jadi tantangan besar.

Tantangan besar yang kedua adalah menutup aurat dengan sempurna. Yang ngga berlebihan tapi sesuai dengan aturannya: tertutup semua kecuali wajah dan telapak tangan, pakaiannya longgar dan ngga transparan. Sempurna di sini maksudnya juga sesuai mana yang mahram dan mana yang bukan.

Terakhir, gimana caranya ikhlas lillahi ta’ala? Aku sendiri masih progressing. Salah satu caranya dengan belajar agama terus menerus, sedikit demi sedikit tapi kontinyu. Cari terus hidayahnya Allah, supaya senantiasa yakin kalau ini perintahNya dan Allah cuma mau yang baik-baik aja buat kita.

Gitu kira-kira hijab journey-ku. Semoga ada hal baik yang bisa diambil yaa. Terima kasih sudah mau baca panjang-panjang! 🙂

♥️, Atiqah Zulfa Nadia

Does All Improvement Necessary?

Sudah pada tau tentang startup lokal bernama Wahyoo dan Warung Pintar? Kalau belum, bisa cek google untuk tau detailsnya. Secara singkat, dua startup ini memberikan sentuhan teknologi pada bisnis tradisional di Indonesia, seperti warteg (Wahyoo) dan warung rokok pinggir jalan (Warung Pintar).

Kemarin aku dan Jihan makan di salah satu kedai bubur terkenal dan melegenda di Jakarta Pusat. Terlepas dari rasa, ada beberapa hal yang kurang pas dari pengalaman kami makan di sana. Apalagi dari sudut pandang anak manajemen dan anak teknik industri, bikin geregetan. Pertama, pelayannya kewalahan melayani pengunjung yang saat itu cukup ramai, mereka bahkan ngga mencatat pesanan – kalau kondisi sedang sepi mungkin cara mengingat pesanan ini lebih praktis, tapi nyatanya kalau sedang ramai jadi berantakan dan salah-salah. Lupa pesanannya apa, ngga ingat pelanggan mana yang duluan datang, dan lain-lain. Kedua, stok empingnya habis (entah sejak kapan) dan baru tiba ketika aku dan Jihan selesai makan. Jadilah kami berdua ngga dapat emping.

Dari situ jadi iseng berpikir kenapa warung yang pastinya omzetnya besar ini (karena legendaris dan selalu ramai) ngga melakukan improvement untuk memperbaiki layanan dan manajemennya?

Hasil ngobrol-ngobrol iseng aku dan Jihan, bisa jadi karena mereka ngga mengenal improvement.

Kedai bubur ini sederhana tempatnya, ada gerobak, kasir, dan kursi serta meja makan untuk tamu. Begitupun dengan bisnisnya, sederhana juga. Semua masih tradisional. They do their business as they did years ago. Yet people keep coming back, jadi mereka ngga merasa harus mengubah apa-apa. Mereka mungkin ngga tau bahwa opsi improvement itu ada.

Ini yang menarik dari bisnis kuliner tradisional, rasa dan legendanya itu bisa mempertahankan posisinya di pasar. Beda dengan bisnis lain yang harus terus menerus berinovasi, marketing ini itu, promo sana sini, untuk menjaga posisinya di antara kompetitor lain. Well, we’re not talking about that tho.

Jadi, manajemen kedai bubur ini bisa jadi ngga mengenal konsep improvement. Yang dia tau adalah berjualan, untung rugi, kualitas bubur, pembeli kenyang dan datang lagi. They just know they survive and that’s enough.

Lalu, gimana kalau mereka ditawarkan dengan opsi improvement? Apa yang akan terjadi kalau suatu hari ada orang yang datang ke sana dan menawarkan improvement untuk bisnisnya?

There’s always two options. Ya dan tidak. Inilah kenapa aku menyinggung dua startup sebelumnya, yang mencoba memberi benefit-benefit teknologi kepada toko tradisional supaya toko tersebut menjadi lebih baik. Yang aku tau, customer dari Wahyoo dan Warung Pintar ini sudah lumayan banyak, yang artinya banyak pebisnis tradisional yang tertarik – at least ngga reluctant terhadap teknologi dan perubahan.

Then, we have to look at it for a longer period. Akankah bertahan? Masihkah teknologi itu digunakan dalam 6 bulan, satu tahun, atau 2 tahun ke depan? Apakah penjualnya merasakan dan memahami manfaat dari teknologinya?

Semua tergantung dari seberapa effort dan benefitnya.

Menurut aku pribadi, it’s easy to change a system, a business process. Tapi, mengubah behavior orang itu sulit. Sebelum kita menerapkan berbagai teknologi dan sistem yang sekiranya bisa memberi improvement, kita harus bisa memengaruhi pikiran dari orang-orangnya. Bukan hanya membuat mereka bilang “ok” tapi juga membuat mereka paham betul bahwa mereka butuh improvement – dan solusi yang ditawarkan betul-betul bisa membantu mereka. Or else, improvement yang ada hanya bersifat sementara, ngga sustain. Karena orang-orang yang menjalankan bisnisnya belum memiliki urgensi untuk berubah.

Di bisnis kelas multinasional pun, perubahan ngga gampang diterima oleh semua karyawan. Sebagian karyawan lebih suka mengerjakan yang sudah biasa dikerjakan, dengan cara yang biasanya, di mana outputnya ngga jauh berbeda dengan sistem yang baru.

Dari sini aku tau pentingnya manajemen inovasi. Waktu S2, aku belajar bahwa sebuah inovasi itu harus dibuat semirip mungkin dengan kebiasaan saat ini. Sehingga effort orang-orang untuk berubah hanya sedikit, namun benefitnya bisa bertambah. Salah satu hal yang menentukan berhasil atau tidaknya inovasi, ya seberapa mudah orang beradaptasi ke sistem atau produk yang baru.

Aku yakin kedai bubur yang aku kunjungi akan senantiasa ramai selama dia tetap menjaga rasa dari makanan yang disajikan. Some improvements with the service would be good, but I don’t think it’s that necessary… yet.

♥️, Atiqah Zulfa Nadia

Berkenalan (II)

Cerita ini adalah kelanjutan dari Berkenalan yang pernah aku post di blog sebelumnya (buat yang lupa ceritanya atau belum baca, silahkan diklik yaa).

Singkatnya, aku bercerita tentang salah seorang teman di Manchester yang penasaran tentang tuhan. Dia ngga menganut agama apa pun, jadi dia belajar dari banyak sumber dan kepercayaan berbeda. Dari cerita temanku ini, aku jadi bersyukur karena ngga perlu ada di fase kebingungan mencari tuhan karena lahir di keluarga yang percaya akan tuhan dan menganut suatu agama. Di keluarga selalu ditanamkan nilai-nilai agama dan sekolahnya pun di sekolah Islam. Aku ngga perlu cari-cari lagi siapa itu tuhan.

Saat bulan Ramadan kemarin, aku tersadar kalau selama ini aku terlalu take it all for granted. Selama bulan puasa aku rutin mendengar kajiannya Ustad Khalid Basalamah, terutama yang tentang kisah-kisah Nabi dan sahabat. Aku memang suka mendengar cerita dan gaya berceramahnya Ustad ini menurutku enak untuk diikuti (recommended, guys!). Beliau banyak mengisahkan sahabat Nabi yang ibadahnya luar biasa, taat banget sama Allah dan rasulNya. Di akhir cerita, di bagian moral of the story, beliau sering bilang “betapa hebatnya orang-orang yang mengenal Tuhannya”. Dari situ aku mulai berpikir, how well do I know Allah?

Soalnya, ketaatan sahabat Nabi yang diceritakan oleh Pak Ustad ini memang luar biasa. Ngga jarang sahabat Nabi harus mengorbankan dunia karena perintah Allah. Namun, karena mereka sudah sangat mengenal Tuhannya jadi ikhlas banget mengerjakan semuanya. Segala sifat Allah mereka pahami dengan baik, jadi ngga ada keraguan sedikit pun.

Jadi, meskipun sudah Islam dari lahir, aku sepertinya perlu berkenalan lebih dalam dengan Allah. Selama ini cuma kenal sekedarnya dan sudah merasa cukup dengan itu. Padahal belum. Kemarin ngobrol juga sama Jihan, kita belajar agama defaultnya hanya dari SD-SMA. Ketika kuliah dan seterusnya, belajar agama jadi sebuah opsi. Padahal there is more to learn, banyak banget hal yang aku belum tahu – banyak hal juga yang selama ini aku salah dalam memahaminya.

Aku di titik ini belum bisa untuk encourage orang lain beribadah A, B, C karena masih cetek juga ilmunya. Tapi aku highly encourage orang-orang untuk sedikit demi sedikit dan rutin belajar agama. Aku pernah baca sebuah quote: the more you learn about Islam, the more you fall in love with it. Belajar bisa melalui beragam media, misalnya datang ke kajian, baca buku, nonton ceramah di Youtube, sharing dengan teman-teman yang ilmunya lebih banyak, dan lain-lain. Tapi harus hati-hati juga, jangan sampai belajar dari sumber yang sesat. Ini pentingnya untuk cari banyak referensi dan diskusi langsung dengan ahlinya. Mungkin kapan-kapan aku akan share beberapa referensi untuk belajar agama. Insya Allah referensiku bakalan asyik dan ngga ‘keras’, karena aku lumayan picky dalam mencari sumber belajar.

Mudah-mudahan dengan makin mengenal Tuhan, jadi semakin tentram hidup ini yaa 🙂

♥, Atiqah Zulfa Nadia

Marriage: A Perspective

Tadi malam ngobrol-ngobrol seru dengan beberapa teman, sampai akhirnya kesinggung juga masalah pernikahan. Ngga bisa dipungkiri ya kalau topik ini emang lagi pas banget diomongin di umur segini.. obrolannya singkat, tapi cukup untuk membuatku berpikir di sepanjang jalan pulang. Terus jadi keinget untuk nulis tentang menikah.. dari perspektif aku, dengan fair dan jujur. Jadilah tulisan ini dibuat.

Kenapa fair dan jujur? Karena sebelum nikah dulu, aku cukup tergelitik dengan pendapat orang-orang yang sangat mendewakan menikah. Well, maybe they aren’t wrong, but their opinion can be misleading. Contoh, “nikah enak banget cuy..” atau “nyesel gue nikah, nyesel kenapa ngga dari dulu” dan ungkapan-ungkapan lain yang menurutku menjadikan menikah cukup overrated. Orang jadi menganggap menikah adalah solusi dan jalan keluar, sebuah happy ending layaknya fairytale. Dari dulu aku selalu wonder, masa iya seindah itu? Bukannya pesimis, tapi aku yakin bahwa menikah adalah hal besar dan semua hal besar pasti butuh persiapan, butuh di-handle dengan baik, dan juga perhatian ekstra. Semakin besar sesuatu, challenge-nya juga semakin banyak. Makanya perspektif ini akan aku buat dengan jujur dan semoga ngga misleading buat yang membaca.

Menikah itu menyenangkan, tapi perjalanannya ngga mulus melulu. Tentu menyenangkan dong punya teman hidup, yang bisa diajak menjalani hobi bareng, berkarya bareng, diskusi banyak hal tiap hari tiap malem. Aku baru 2 bulan lewat dikit menikah dan menyadari bahwa ke depannya it won’t be easy peasy. Bahkan di bulan-bulan yang sudah aku lalui, ada juga hal-hal cukup berat yang harus diputuskan bersama, ada pengorbanan yang harus dilakukan, dan pastinya penyesuaian. Oleh karena itu, menikah butuh persiapan untuk meghadapi itu semua.

Banyak orang super sibuk dengan persiapan acara akad dan resepsi – perhelatan akbar sekali seumur hidup. Don’t get me wrong, aku pun sibuk merealisasikan the wedding of my dream saat itu. Tapi Jihan juga selalu ingetin untuk menyiapkan mental dan ilmu untuk menikah. Orang tuaku juga memfasilitasi dengan pembekalan pranikah dari ustadzah. Ini menurutku penting, soalnya kan agama adalah way of living, jadi pernikahan juga harus dijalani sesuai dengan petunjuk di agama. Temanku yang beragama lain pun punya pendekatan yang sama ketika mau menikah, ada pembekalan agamanya juga.

Ilmu lainnya, seperti manajemen keuangan, baca-baca tentang parenting, dan sharing dengan orang lain yang sudah menikah juga perlu. Tapi perlu digarisbawahi, semua orang punya ceritanya masing-masing dan pendekatan yang mereka lakukan belum tentu berhasil di hidup kita.

Tadi aku sempat menyinggung tentang penyesuaian. Bisa dibilang juga adaptasi. Nah di awal-awal menikah ini yang aku rasa challenge-nya ya adaptasi ini. Klise sih, tapi faktanya gitu. Adaptasi satu sama lain, plus adaptasi dengan keluarga pasangan. Nanti next levelnya adaptasi dengan keluarga besar dan teman-temannya. Penyesuaian dengan diri sendiri yang punya peran baru aja adalah sebuah tantangan, lho. Misal, jadi istri sekarang harus nurut sama suami, mau pergi izin dulu, lalu harus menyesuaikan kegiatan dengan waktu yang diizinkan suami, dan lain-lain.

Ini baru satu dari banyak tantangan lain dalam pernikahan dan membangun rumah tangga. Satu hal yang penting adalah saling support. Kerja sama di tugas rumah tangga, saling back up dan bantu, sering komunikasi dan sharing. Soalnya dalam menghadapi segala tantangan itu, berdua akan lebih baik daripada sendiri. We gotta work things out together, gitu kira-kira prinsipnya. Sambil terus menerus saling mendoakan.

Kalau ditanya pendapat tentang pernikahan, aku akan jawab, aku meng-encourage orang untuk menikah. It is indeed fun, it is such an adventure dan pada beberapa kesempatan, banyak keuntungan dari menikah yang aku rasakan. Namun jangan beranggapan asyiknya aja. Apalagi berpikir kalau nikah adalah solusi dari lelah kerja dan bikin skripsi. Jangan juga keputusan untuk menikah didasari impulsivitas, kepatok umur, desakan society, dan hal-hal lain yang bukan bentuk dari kemauan dan kesiapan diri. Kalau pengalaman aku, ada satu titik dimana aku merasa aku serius untuk mau menikah (bukan cuma bercanda dan ucapan asal-asal aja). Dari situ mulai deh persiapannya, dari berdoa, banyak memperbaiki diri supaya dapat jodoh yang baik juga, sampai mengimprove diri sendiri dari berbagai aspek. Kayak tergerak aja gitu, Alhamdulillah diberikan jalannya. The right moment will come…

Last but not least, jangan takut menikah. Apalagi takut sama hal-hal yang mungkin terjadi dalam pernikahan. Ngga ada yang bisa guarantee seperti apa endingnya, atau apa yang bakal terjadi di awal atau pertengahan. Tapi selama niatnya baik, sama partner saling support dan berjuang, mudah-mudahan apapun bisa dilalui bersama. Mudah-mudahan juga bisa selamanya 🙂

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Thoughts on Finally Found the One

When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible. 

Quote dari film When Harry Met Sally itu rasanya relate banget dengan apa yang aku rasakan di minggu-minggu menuju hari pernikahan. Setiap ditanya orang “udah deg-degan belum?”, pasti jawabnya “belum nih..” karena emang ngga nervous sama sekali. Aku lebih deg-degan ketika mau naik wahana flying dinosaur di USJ daripada waktu mau nikah kemarin. Yang aku rasakan justru excited, mau cepet-cepet tanggal 16 Februari. Persis dengan quote di atas, deh.

Akhirnya perjalanan Atiqah Finding the One selesai juga.. bener aja, Tuhan rencananya selalu terbaik. Semua yang kita harapkan, jadi kenyataan dan dikabulkan di waktu yang tepat. I used to dream of getting married at 23. Ternyata menikahnya umur 25 tahun. Alhamdulillah tetep bahagia. It’s a long journey untuk bisa ketemu Jihan dan akhirnya sama-sama memutuskan untuk menikah. Gabungan dari berbagai kejadian kecil, yang disengaja maupun tidak, akhirnya berujung di sini. Siapa yang nyangka? Begitu kali ya, yang namanya takdir.

Kalau ditanya bagaimana rasanya finally found the one, aku akan jawab excited. Soalnya, ketika kita dengan sadar memilih seseorang untuk hidup bersama, pasti karena ada visi hidup, cara pandang, dan cita-cita yang sejalan. Jadi aku excited banget untuk bisa banyak melakukan berbagai hal berdua, pursuing dreams, banyak diskusi, dan semoga dengan berdua ini jadi semakin banyak manfaat yang aku dan Jihan bisa berikan di dunia. Jihan selalu bilang, dengan menikah, bukan 1+1 = 2, tapi harus bisa jadi lebih dari itu.

After all, menikah itu sama halnya dengan milestones hidup yang lain. Life goes on.. dan sama halnya dengan hidup seperti biasanya, akan ada susah-senang, sedih-gembiranya. It’s not an instant happily ever after (meskipun aku fans disney fairy tales garis keras). Justru malah kadang nervous-nya di sini, menghadapi ketidakpastian masa depan ya pasti bikin insecure. Tapi, the airplane I used to fly on my own sekarang ada co-pilot-nya. Jadi bisa pilih destinasi bersama, bisa overcome turbulence berdua, bisa diskusi untuk ambil keputusan, bisa saling gantian in charge, dan lain-lain.

At this point of time, untuk diriku sendiri, i think two is better than one

Love,

Atiqah Zulfa Nadia

Galau Pekerjaan

Siapa bilang masa-masa galau cuma dialami ketika udah lulus tapi belum dapat kerja alias nganggur? Udah bekerja, bahkan udah beberapa tahun kerja pun, tetep bisa ngerasain galau.

Ada banyak faktor dalam sebuah pekerjaan yang menjadi penentu betah atau engga-nya kita. Betah di sini artinya, ya settle down. Faktor ini pun bisa berganti-ganti, tergantung keadaan kita saat itu. Faktor bagi fresh graduate pastinya beda dengan faktor untuk karyawan yang sudah belasan tahun bekerja.

Saat pertama kali bekerja, biasanya orang akan cukup ambisius. Haus akan tantangan dan semangat 45 untuk bisa mencapai posisi tertentu. Kalau merasa tidak cukup di-develop dan diutilisasi oleh perusahaan, rasanya malas dan jadi demotivasi. Buat fresh graduate, biasanya pertanyaan yang muncul “masa gue udah S1 susah-susah tapi kerjanya begini aja?”

Faktor yang menurutku berlaku secara umum adalah lingkungan. Berhubung manusia ini mahluk sosial dan kita menghabiskan waktu setidaknya 8 jam sehari di kantor, pasti ada kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Dengan lingkungan kerja yang pas, bekerja jadi lebih nyaman dan menyenangkan. Aku bilang pas, karena tiap orang punya preferensi dan standar masing-masing. Lingkungan ini mencakup rekan kerja, atasan, dan budaya atau kebiasaan di sana.

Selain lingkungan ada juga faktor dari pekerjaan itu sendiri. Sesuai passion atau hal yang kita sukai atau engga. Ditambah dengan apakah kapasitas kita mencukupi untuk bisa mengerjakan hal tersebut. Hal-hal seperti ini baiknya diputuskan setelah cukup lama menjalani pekerjaannya, sih.. karena ada masa adaptasi dan belajar yang perlu kita maklumi.

Terakhir ya tentunya kesejahteraan. Apakah kita dibayar sesuai dengan responsibility yang kita miliki, bagaimana coverage asuransinya, ada tunjangan-tunjangan atau tidak, dan lain-lain.

Jadi kenapa orang bisa galau pekerjaan? Menurutku karena ada setidaknya satu dari 4 faktor di atas yang tidak terepenuhi.

Menyambung masalah kegalauan, beberapa hari yang lalu aku mendapatkan advice yang bagus banget dari Managing Director tempat aku bekerja. Waktu itu lagi ada acara lunch with beliau. Too bad, advice-nya justru membuat aku makin wondering, apakah sekarang emang saat yang tepat untuk mencari tempat lain untuk bekerja?

Salah satu advice-nya adalah keep your options open. Ada banyak pekerjaan di dunia ini dan jangan buru-buru menyimpulkan kalau kita sukanya A, bagusnya di A, ngga suka B, dan ngga akan bisa mengerjakan C. Aku udah kerja selama 2 tahun di perusahaan yang sekarang, walaupun berbagai macam tugasnya tapi bisa dibilang berputar di bidang yang sama. Mulai bosen? Lumayan.. mau coba ngerjain yang lain? Mau.. tapi aku belum tau spesifik mau nyobain apa.

Advice kedua paling bikin aku galau. Katanya, work with great leaders. Di beberapa post sebelumnya yang juga membahas karir, aku sedikit cerita tentang bosku dulu. Bos yang menurutku adalah great leader, sebuah inspirasi dan role model. Semenjak beliau resign, aku mengalami masa-masa bagai anak itik kehilangan induk. Kebetulan emang posisinya ngga digantikan oleh siapa-siapa dan rolenya jadi dilebur ke tim lain. Aku lumayan lost sih, even up to now, kayak ngga ada direction dan ngga ada orang yang akan backup semisal nanti ada apa-apa. Meskipun di sisi lain aku bersyukur juga masih dibantu dan dibimbing oleh manager-manager lain (walaupun aku ngga direct report ke mereka). Intinya sih, interaksi dan relationship aku dengan direct reportku saat ini (yang udah ganti 2 kali) masih besar gap-nya. Dan ini buat aku faktor yang determining banget.

To conclude, ibu Managing Director ini juga bilang kalau there’s more to life than working. Kalau nantinya udah ngga kerja lagi, we have to ensure that we still have things to be done and dreams to pursue.

(((Semakin bikin galau kan)))

So, give it a go or… no, not yet?

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Talking ’bout Resolution

It’s 2019 already!

Banyak yang bilang, new year is just another day pass by. Iya juga, tapi kadang manusia butuh momentum untuk memulai sesuatu. Tahun baru sering dijadikan momentum untuk memulai hal baik atau membuat resolusi yang memberikan perubahan besar dalam hidup. So, yes, it’s just another day – which might be the day when something big begins.

Kalau bicara resolusi, seberapa sering sih resolusi biasanya tercapai? Dulu banget aku punya daftar resolusi yang cukup panjang setiap tahunnya. Ternyata, resolusi yang banyak itu kurang efektif. Entah berhenti di tengah tahun atau justru telat dan baru dimulai menjelang akhir tahun. Sejak 4 tahun yang lalu, tepatnya di 2016, aku mengganti caraku membuat resolusi. Instead of a long list, I made one simple sentence which I committed to throughout the year.  Di 2016 resolusiku adalah: do not hesitate in doing good deeds. Aku ngga buat resolusi apa-apa di 2017 dan di 2018 kemarin, resolusiku: live a balance life.

Dengan niat yang kuat, kalimat simpel itu bisa membawa segala hal yang kita lakukan ke arah tercapainya resolusi tersebut. Misalnya, kalau aku lagi ragu untuk bantu orang, aku inget bahwa aku punya resolusi untuk selalu berbuat baik tanpa paksaan. Atau, tahun lalu aku jadi tergerak untuk rutin olahraga dan membatasi konsumsi gula karena kata-kata ‘hidup sehat’ terngiang-ngiang terus. Hal yang simpel dan fleksibel (bukan to do list: ke gym 3 kali seminggu, minum kopi maksimal 2 kali sehari, plank 1 menit tiap pagi, dan lain-lain yang melelahkan) lebih mudah untuk di-maintain dan dijaga sustainability-nya.

Satu hal penting lagi tentang resolusi, kita harus tau seberapa penting resolusi tersebut dan apa yang akan kita dapat kalau resolusinya tercapai. Sebelum membuat resolusi hidup seimbang, aku banyak baca tentang pentingnya olahraga, bahaya gula, kenapa badan harus fit, dan aku waktu itu sadar banget jaman sekarang banyak penyakit yang diderita oleh orang-orang yang masih muda. Jadi aku sadar sepenuhnya kalau mencapai resolusi hidup seimbang itu penting. Kalau sudah tercapai, aku akan dapat reward kesehatan dan mudah-mudahan dapat pahala juga karena sudah menjaga pemberian Tuhan dengan sebaik-baiknya. Kalau sudah tau background dan objective-nya, jadi semakin semangat deh menggapai resolusi. Plus, dukungan dari orang-orang terdekat juga bisa membantu 😉

Terus, apa resolusiku di 2019? Aku mau punya kehidupan sosial (habluminannas) yang baik. Fingers crossed, bisa tercapai. Semoga apapun rencana dan resolusi kalian di tahun ini bisa terlaksana juga.. 🙂

♥ Atiqah Zulfa Nadia