Maroko (Bagian Pertama)

Letaknya di Afrika bagian Utara. Meskipun berada di benua Afrika, kekerabatan Maroko lebih dekat dengan negara-negara Arab. Bahasa yang digunakan di negara ini aja bahasa Arab. Selain itu, bahasa Perancis juga cukup common digunakan oleh masyarakat Maroko. Negara yang masih memiliki raja ini dulunya pernah dijajah secara administratif oleh Perancis (jadi segala kegiatan administratif negaranya diatur oleh Perancis while untuk kegiatan lainnya kerajaan dan pemerintahan Maroko masih punya kuasa penuh). Mata uang negara yang terkenal akan argan oil-nya ini adalah Moroccan Dirham. Please do remember to exchange your local currency to Moroccan Dirham, not Dirham! Aku soalnya sempet salah nuker uang, yang aku dapet adalah Dirham-nya Saudi instead of Maroko.

My itinerary was Casablanca-Rabat-Tangier. Sebetulnya ada dua kota lain yang menarik di Maroko, yaitu Fez dan Marrakesh. Sayangnya aku ngga mampir ke sana 😦 Hopefully next time..

Dulunya aku pikir Casablanca adalah ibu kotanya Maroko. Ternyata, Casablanca adalah kota terbesar di Maroko. Sama kayak dulu aku mengira Istanbul adalah ibu kota dari Turki. Hehehe πŸ˜€ Kalau lihat landscape dan tata kotanya, Casablanca itu seperti Jakarta tahun 80-an (sok tau banget, padahal tahun 80-an belum lahir). Mirip deh sama setting film-film jaman dulu. Satu hal yang aku notice, mobil-mobil mereka ngga terawat. They are also famous for being reckless drivers. Di hari pertama aku di sana, bus yang aku tumpangi menabrak sebuah taksi yang menyalip sembarangan. Gempar deh dunia, penumpang taksinya marah-marah. Well, that’s not important tho. Selain itu, bus umum di sana juga sama mengenaskannya sama bus umum di Jakarta.

Here’s some highlights from Morocco

Hassan II Mosque

Masjid yang sangat megah ini dibangun di atas tanah reklamasi, jadi letaknya bener-bener di ujung daratan. Konon di-claim sebagai masjid terbesar ketiga di dunia dengan menara tertinggi di dunia. Uniknya, banyak masjid di Maroko bentuk menaranya kotak instead of bulat (well, balok instead of tabung). Halaman masjidnya luas banget, no wonder masjid ini bisa menampung banyak sekali jamaah. Ornamen di masjid ini Moroccan-style banget, meskipun arsiteknya adalah orang Perancis. Tourist can come inside dengan membayar tiket seharga 120 dirham.

 

Jimat untuk Rumah

Kalau di Turki kita mengenal blue eye sebagai some kind of amulet, di Maroko ada telapak tangan yang menelungkup, namanya Hamsa. Biasanya Hamsa dipasang di pintu rumah sebagai protection dari hal-hal yang ngga baik. Waktu aku jalan-jalan di gang perumahan di Casablanca, emang rata-rata setiap pintu disertai dengan Hamsa.

IMG_1471

Water Seller

IMG_1624

Selain menjual minuman, kayaknya mereka sekaligus beratraksi dengan pakaian yang khas. Soalnya penghasilan mereka juga dari turis-turis yang minta foto bareng (kayak aku). Wadah minumannya konon berasal dari kulit sapi. Itu wadahnya yang dia selempangin di lehernya. Entah di dalamnya air apa (semoga sih air minum bersih).

Rue Soekarno

Di Rabat, ada sebuah jalan yang diberi nama Rue Soekarno. Yes you read it right, nama jalanan itu pun emang diambil dari nama Bapak Presiden RI yang pertama. Jadi, setelah Perang Dunia kedua, negara-negara Asia dan Afrika menggelar konferensi (KAA) di Bandung. I bet you all still remember ya.. Nah di konferensi itu Pak Karno sangat mensupport kemerdekaan Maroko yang saat itu masih belum merdeka. Setelah akhirnya merdeka, Maroko ingin membalas budi kebaikan dan support Bapak Soekarno. Ketika ditanya mau hadiah apa, Bung Karno saat itu menjawab bahwa beliau ingin rakyat Indonesia supaya bisa bebas masuk ke negara Maroko. Dari situlah asal usul kenapa kita para Indonesians ngga perlu apply visa untuk pergi ke sana. Selain itu, nama Soekarno pun dijadikan nama dari sebuah jalan di Rabat (anyway, ada Rue Bandung juga). Sebagai balasan, di Indonesia juga di buat deh jalanan dengan nama Kasablanka, di mana mall Kokas berdiri.

IMG_1759

 

Sekian dulu untuk cerita Maroko bagian pertama! To be continued…

 

β™₯ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisement

Grocery Shopping in Manchester

Sebagai mahasiswa independen, pastinya harus minimal seminggu sekali mampir ke minimarket ataupun supermarket. Pokoknya ada aja yang dibeli, dari mulai bahan makanan sampai ke cemilan untuk begadang di learning common. Karena aku muslim, aku harus berhati-hati memilih makanan yang aku beli. Alhamdulillah di UK semua produk dilabel dengan baik sehingga aku ngga seberapa kesulitan waktu belanja.

I will first talk about the general stuffs. Kayak apa aja macam-macam supermarket di UK, terutama di Manchester. Basically, untuk supermarket besar dan murah (mungkin setara dengan Carefour ya kalau di Indonesia) ada dua yaitu Aldi dan Lidl. Untuk grocery shopping, pokoknya puas dan lengkap deh di sini. Cons: antri kasirnya panjang mengular. Aku biasa belanja bahan makanan di Lidl karena murah dan lokasinya dekat rumah. Cons lainnya adalah you can barely find the common brands. Ya karena supermarket yang value-nya ekonomis, jadi merknya ya merk murah. Ngga ada nutella, but they do have something similar to nutella. Toiletries yang dijual di sana pun hanya satu merk. Kalau mau belanja di supermarket besar dan isinya beragam, ke Asda aja. Aku cuma pernah satu kali kesana karena jauh. But don’t worry karena dengan minimum pembelanjaan Β£25, kamu bisa menggunakan layanan Asda Delivery. Biaya antarnya beragam, tergantung hari dan jam.

Alternatif lain untuk belanja adalah minimarket kecil yang tersebar di banyak tempat di kota. Sebenarnya beberapa minimarket ini punya toko versi besarnya, tapi jarang dan letaknya seringkali agak jauh. Nama minimarketnya adalah Tesco, Spar, Sainsburry, dan Morrisons. Harga-harga di Sainsburry lebih mahal dibanding lainnya, tapi dia punya cookies dan pastries yang enak banget! Kala Morrisons itu lebih Asian-friendly, soalnya menjual mie (indomie juga loh, meskipun harganya lebih mahal daripada di toko Cina), santan, sayuran Asia seperti pokchoy dan chinese cabbage, dan beberapa bahan makanan lain untuk masakan Asia. Biasanya minimarket-minimarket ini juga punya promo Meal Deal seharga Β£3 or less, yang terdiri atas 1 main meal (sandwich dingin atau pasta dingin, atau sushi dingin, dll), plus minuman dan chips atau buah.

Chinese supermarket itu surga banget untuk orang-orang Asia. Lengkap hampir semua ada. Buat orang Indonesia, ngga perlu repot mencari tempe, indomie, sambal ABC, kecap ABC, dan berbagai bumbu masakan karena bisa ditemukan di toko Cina. Masalah harga, tentunya ya sedikit lebih mahal. Namanya juga diimpor.. Tapi ngga sampai mahal banget kok. Dan khusus di WH Lung ada student discount-nya. Kalau belanja di Chinese supermarket tuh bisa kalap deh pokoknya segala pengen dibeli. Di Manchester sendiri ada lumayan banyak Chinese supermarket yang mostly letaknya di Chinatown (Woo Sang, Hang Won Hong, sama ada satu lagi aku lupa namanya) dan ada juga yang dekat kampus yaitu WH Lung.

Terakhir, alternatif lain bisa belanja di supermarket halal yaitu Worldwide dan Superstore. Di sana bisa beli daging halal (ayam, kambing, dan sapi) dan berbagai bahan makanan meskipun mostly lebih cenderung ke bahan makanan India dan timur tengah.

Grocery shopping adalah salah satu aktivitas favoritku. Soalnya seru aja milih-milih bahan makanan sambil bikin planning mau diolah jadi masakan apa. I’d always prefer value supermarket seperti Lidl untuk belanja mingguan sedangkan aku ke Chinese supermarket dan supermarket halal paling sebulan satu sampai dua kali untuk belanja yang perlu-perlu.

Happy shopping!

 

β™₯, Atiqah Zulfa Nadia

Stanage Edge, Derbyshire

Berawal dari nonton film Pride and Prejudice dan How to be Single, aku bercita-cita trekking ke Stanage Edge. Bukit bebatuan ini letaknya di kawasan Derbyshire, where the story of Pride and Prejudice took place.

My friends and I went there by train, we stopped at Hathersage station and followed the lead of Google Maps to reach the place. Kalau googling, katanya jalur ini level-nya moderate. Aku yang cupu ini bersiap dengan tidur yang cukup, sarapan, dan stok air putih yang cukup. Jalurnya melalui rumah-rumah dan pedesaan (yang katanya mirip Kebumen?). Sedikit melewati hutan, kebun, dan peternakan sapi.

Di tengah jalan kami sempat berhenti untuk istirahat dan makan. Kami ngga sanggup melihat jalur di depan mata yang isinya tanjakan semua. But then, setelah sekitar setengah jam duduk-duduk kami kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal setengah lagi.

Ngga berapa jauh dari tempat istirahat kami tiba di kebun (yang kayak tempat syuting film Heart, tapi bukan pohon teh) dimana di puncaknya ada bebatuan. Dari kebun itu juga bisa kelihatan pemandangan yang bagus banget. A scenery that only your eyes can capture, soalnya kalau difoto hasilnya ngga sebagus aslinya. Meskipun jalurnya menanjak, entah kenapa kami jalan super cepat dan penuh semangat. Pelajaran pertama: kita cenderung lebih semangat melakukan sesuatu kalau kita tau bahwa hasil atau imbalannya setimpal atau melebihi usaha kita.

IMG_3183

There are actually two hills around the area. Jadi kita sempat bingung yang mana sebenernya Stanage Edge and then we decided to visit both cause simply we had time. And we still had our energy. Plus a bag of donuts. Jadilah kami menelusuri jalur menuruni bukit pertama yang sepertinya bukan jalur yang lazim dilewati orang. Tanahnya ngga rata dan jeblos-jeblos, ilalangnya tinggi, rumputnya pun tajem-tajem. Kami pun tersadar bahwa ternyata bukit satunya ngga sedekat itu. Di tengah perjalanan turun, kami hampir menyerah. Tapi, waktu menoleh ke belakang. Oh, crap. We were already far away from the peak. Pelajaran kedua: don’t look back. Or, do. But only to see how far you’ve gone and how close you are to your destination.

IMG_3256

We finally arrived at the top of the other hill, which we believe to be the real Stanage Edge. Di sana banyak orang yang wall climbing dan naik gantole. Anginnya super kencang, I think it’s almost the same as when I was at Snowdon Mountain, Wales. Meskipun dingin, kami menghabiskan kira-kira hampir dua jam di sana. The view is such a beauty. Ngga heran sih kenapa orang-orang suka outdoor activities karena emang sebagus itu pemandangannya. The ultimate stress reliever. Kalau kata Rumi, travel brings back power and love to our life. Couldn’t agree more!

IMG_3446

Then we walked back to the station, melewati jalur yang sama. Ketika sampai di bukit yang pertama, seorang temanku nyeletuk “setelah ke bukit yang satunya, bukit ini jadi biasa aja ya.” Dan temanku yang lain pun memberi Pelajaran ketiga dari perjalanan ke Stanage Edge kemarin, yaitu: begitulah keindahan di dunia, cuma sementara.

I had so much fun, mau sering-sering trekking dan hiking demi kebahagiaan lahir dan batin hehehe πŸ™‚ one thing i learned yesterday about myself: I am actually strong enough to do such activity! Berbeda jauh dari waktu aku nanjak di Arthur Seat, Edinburgh dimana aku super cranky, rasanya mau nangis aja. People change and I’ve become a little bit stronger now πŸ™‚

 

β™₯ Atiqah Zulfa Nadia

Perjalanan di Hari Lebaran

It’s been a while, isn’t it? Been busy traveling with my parents although I actually wrote some stuffs on my phone to be posted here. Tapi belum kesempetan ditulis rapi untuk di-post aja. Today I spare a bit of my Sunday to write, just because. I hope it’s not too late πŸ˜€

Beberapa orang mengira aku spend Idul Fitri tahun ini di Maroko, while sebetulnya di hari lebaran itu aku lagi di perjalanan yang cukup panjang dari Manchester ke Maroko. Jadi sebetulnya aku cuma setengah hari aja merayakan Idul Fitri di sana dan ngga sempet merasakan ambience eid festive-nya. Bare with me, I hope the story is going to be as you all expected..

Sehari sebelum lebaran, sore-sore aku berangkat ke airport untuk terbang ke Madrid. Flight-ku itu Manchester-Madrid kemudian dilanjutkan dengan Madrid-Casablanca. Aku transit di Madrid 12 jam (yeah, true). Pesawatku landed di Madrid sekitar jam 10 malam. Bandara di Madrid, which is Barajas airport, lumayan nyaman untuk stay overnight. Bangkunya keras dan dingin sih untuk tidur, tapi kalau udah ngantuk ya bisa-bisa aja tidur di sana. Aku sempet tidur walaupun kebangun beberapa kali untuk benerin posisi. Wifi-nya unlimited dan tersedia beberapa spot electricity socket untuk ngecharge handphone dan laptop. Satu hal yang agak kurang sih stall makanannya ngga seberapa banyak. I ate both my dinner and breakfast at Starbucks di saat orang-orang nyicip sepiring opor atau makanan identik lebaran lainnya.

I arrived at Casablanca sekitar jam 11 dan ketemuan dengan orangtuaku di airport. Sekitar jam 2 atau 3 gitu baru akhirnya aku keluar gedung dan terpapar udara meditarian yang hari itu panas tapi cukup berangin. Jadi bisa disimpulkan, aku ngga ikutan solat ied dan ramah tamah ala hari raya seperti biasanya. One thing is quite salient in the street of Casablanca. Rame banget. Kayaknya semua orang keluar rumah. Persis kayak Ancol kalau lagi lebaran, apalagi di alun-alunnya.

20160707_012116

Everyone seemed to be going outside the house. Kinda familiar, isn’t it?

That’s basically it, tho. I don’t have any special eid moment in Morocco, nor in Madrid.

But, I’d like to have a say about this year’s Ramadhan. Bulan puasa di tahun ini spesial banget, Alhamdulillah. Pertama kalinya sebulan full ada di negara lain dan harus puasa selama 19 jam. And the highlight was jualan kue lebaran (akhirnya terealisasi!). Di bulan Ramadhan kemarin aku ngerasain secara langsung ke-Mahabesar-an Allah. I must say puasanya a bit tough dan melelahkan dan kadang terasa sepi. Tapi di sisi lain puasanya ngga bikin laper yang sampai gimana banget, tetep bisa beraktivitas seperti biasa, dan jadi sering ketemu orang-orang (walaupun lo lagi, lo lagi). After all, di ujung bulan yang suci itu aku bersemangat untuk memulai semuanya kembali dari awal dengan lebih baik πŸ™‚

I know it’s late, tapi aku mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin untuk semuanya! I hope you all did have a great eid.

 

β™₯ Atiqah Zulfa Nadia

 

Escaping Manchester

I’m sorry that I have to disagree with Seth Godin when he said instead of wondering when our next vacation is we should set up a life we don’t need to escape from. After all, we’re only humans. We get bored and tired, even from a routine that we love the most. Instead of ‘escape’ I’d prefer to call it ‘take a break’, to be honest. In this case, ‘escape’ sounds a bit negative.

I took a break from my extraordinary life in Manchester and went to London for a night. The highlight of the trip was watching a ballet performance. And that’s basically it. Obviously, no one will finish London in two days. It was just huge. But, if you’re being efficient, perhaps you can visit most of the places in Zone 1 (London has 9 zones). My trip was not prepared with an itinerary so the decision about where to go was rather spontaneous than planned. I hope this is entertaining enough for you though πŸ˜€

Borough Market

Take a tube and get off at Borough station. Not far from the station, you will find a market full of food and beverages, raw and cooked, from all over the world. The market is huge and it has several different areas. You will find just almost everything, fresh juice, cheese, meat, cakes, chinese food, thai food, egyptian food, and many more. Plenty of choices just makes it hard for me to choose what to eat. So basically, I didn’t buy anything there. It is so crowded, I believe because there are so many tourists (or is it because I came at lunch time?). In some food stalls, you have to queue until you got served. Being in Borough Market reminds me of travel documentary series I used to watch in NatGeo Travel and if only I got more time (and money) I’d stay for a little longer in the market.

London Riverside

We went to this place because one of my friend used to work at PwC and the office of PwC London is located here. It was a nice visit though, because the riverside view is just nice and we can see the famous Tower Bridge (which often is mistaken as the London Bridge). Office buildings near the place is also very modern and sophisticated.

IMG_0907
Pardon the lack of lighting in this pict

Covent Garden

If you’re not a budget traveler and you’re keen on shopping, visiting Covent Garden is a must. It welcomes you with luxury shops and some restaurants, though at the back you’re going to find a less luxurious market. There’s shake shack here, I bet it is a must for Indonesian hipster kids to buy a burger and take a selfie there. Oh, and Godiva. Fancy a cone of Godiva ice cream, don’t you? (Well, di Indonesia juga ada sih ya..). The area that surrounds this place is nice to stroll around and less than 10 minutes walk, you will arrive at my next destination…

 

Travalgar Square

This iconic square in London is a tourist must visit. The name Travalgar is taken from an ancient battle between Britain and France and Spain. It was a nice place to chill and relax during a good weather. It’s full of people but when I went there it wasn’t as crowded as Dam Square (by far, Dam Square is still the most crowded public open space in the world that I’ve been to). National Gallery stands just beside the square and in the area of the square itself, there are two fountains and several statues.

 

China Town (Assa Korean Restaurant)

My friend and I have been craving to eat Korean dish and there we were in one of the most popular Korean restaurant in London. It’s located in the China Town (kayaknya lebih tepat dibilang Asia Town sih.. soalnya ada restoran Indonesia, Malaysia, Korea, dan lain-lain juga). How was it? Recommended! It’s a good value as well, per person-nya dibawahΒ Β£10 aja. We grabbed some packs of Samyang noodle too. Samyang noodle is just too popular everybody tries it.

My thoughts about Samyang : enak! Pedes banget, tapi pedes nagih. Di awal pedesnya belum terasa tapi lama-lama bikin meler dan mewek. But you just can’t stop karena rasanya enak. It won’t be my weekly dose of instant noodle, tapi once in a while I’ll crave for it. Anyway, di sini Samyang-nya berlogo halal di packaging-nya. Kata temenku, di Indo ngga ada logo halal-nya ya?

There is a Chinese bakery which smells sooo good and we stopped by to buy some sweet buns and taiyaki. Roti manis kayak di Indonesia itu ngga dijual secara masif di UK, beda jenis roti dan beda taste yang pasti. Roti yang lazim dan normal itu pastries, donuts, chiabata (pardon my spelling), dan roti-roti yang cenderung keras dan plain. Ngga ada deh roti isi pisang coklat, isi keju, isi srikaya, selain di Chinese bakery. Jadi, toko roti di China Town itu selalu jadi favorit (sambil bismillah semoga halal). Kalau taiyaki sendiri adalah kue berukuran kecil yang dicetak di cetakan berbentuk ikan. The price is expensive tho, menurutku mereka menjual experience ngeliat proses pembuatannya juga. I bet it’s interesting untuk orang-orang Western, kalau aku sih udah biasa liat kue cubit πŸ˜€ (but no, the texture is not the same as kue cubit).

Albert Hall

Our final destination of the first day, where we watched the Swan Lake Ballet. The building is just amazing and the show was even more amazing! That was my first experience to enjoy a ballet performance. I didn’t expect myself to like it that much. Perhaps it’s also because of the stunning orchestra (an orchestra always amuses me, it reminds me so much about my childhood as a violinist). I’m not a football person, jadi instead of nonton match sepakbola, aku lebih interest nonton art performance (but not a concert). If you love art, di UK ada banyak performance yang menarik untuk ditonton.

 

Camden Market

Pardon me if I’m not giving any direction in this post. Peta tube lumayan membantu kok dan aku pakai apps andalanku juga: City Mapper selama jalan-jalan di London and I didn’t get lost even for once. Camden Market itu pasar yang tumpah ruah semua jualan ada disitu. It’s like Chatuchak but in London. Ada makanan, minuman, mainan, aksesoris, baju, souvenir, lampu, dan lain-lain you will find almost everything. Banyak barang-barang yang lucu dan menarik di sini. On our way to the market, kami melewati sebuah jalanan yang penuh manusia dimana di kanan dan kirinya terdapat toko-toko. Penampakannya persis Cihampelas (like for real).

 

Baker Street

Ada dua tempat tujuan di Baker Street. Yang pertama tentunya 221B Baker Street alias rumahnya Sherlock Holmes dan yang kedua adalah masjid besar di sekitar Baker Street karena kami harus solat zuhur dan ashar. The home of Sherlock Holmes is actually a museum, which you have to pay to get inside. As I’m only a moderate fan of the detective, I didn’t go inside. I went to the shop instead. It was a small shop and I didn’t find anything that interest me. So we kind of spent just less than 15 minutes there and then moved to the next destination: the mosque (alim). Masjidnya gede banget, aku ngga expect akan sebesar itu masjidnya. Bersih dan nyaman juga di dalamnya. It’s around 5 to 10 minutes walk from the 221B Baker Street, passing the London Business School on the way.

IMG_1017

 

Buckingham Palace

I have been here once but one of my friend haven’t been there. So, we decided to visit the palace. The front side of the palace has a quite huge open space for people to take pictures and chilling out. We’re basically exhaustedΒ  by the time we reach the palace (a short trip will definitely makes you more tired because you have to move fast and not to waste any time). So we just sat there, watching people passing by.

 

It’s a wrap! That’s basically it. Someone said when a man is tired of London, he is tired of life for there is in London all that life can afford. Well, that’s a bit exaggerated. But I do want to explore more of London when I have time (and money) one day πŸ™‚ I hope you’re entertained by this post πŸ˜€

 

β™₯ Atiqah Zulfa Nadia

Camaraderie

Merantau mengajariku tentang persahabatan dalam dimensi waktu dan tempat.

Dalam waktu hampir satu tahun ini aku bertemu banyak banget teman baru. Dari mulai mahasiswa Indonesia lain di sini, teman-teman sekelas, temannya teman, sampai anak-anak dari mahasiswa Indonesia yang memboyong keluarganya ke sini. I did make a lot of friends, kalau dipikir-pikir. Walaupun sebagiannya hanya sebatas kenal nama.

Meski waktunya singkat, udah banyak hubungan pertemanan yang dilalui (bahkan yang mungkin ngga pernah terjadi dengan teman-teman lain yang udah kukenal bertahun-tahun lamanya). Kita make travel plans bareng, ngegalau bareng, masak-masak, nonton film, nge-random bareng, begadang nugas berjamaah, saling utang-utangan, dan lain-lain. Ngga terasa, we become so close together. A very intimate friendship, orang-orang ini yang paling tau ceritaku dalam beberapa bulan ke belakang. Cerita panik, cerita bahagia, cerita konyol, drama kehidupan, semuanya deh.. Sebagian besar teman-teman ini tentunya sesama mahasiswa asal Indonesia, tapi beberapa teman sekelasku yang berasal dari negara lain pun ada yang menjadi teman dekat.

Sedikit baper, aku tinggal punya waktu 2 bulan lebih sedikit di sini. Cepet banget ngga kerasa! Dan walaupun I am so excited to be home (disertasi seringkali bikin homesick “pulangkan aku ajaaa ke Jakarta…”), aku juga sedih karena ngga akan bisa sedeket ini lagi sama teman-teman di sini. We almost see each other everyday, ngelakuin banyak hal bareng cause simply we have time dan manusia butuh bersosialisasi. Dan nanti pas udah di Indonesia, I’m totally aware that things will change.

Terutama dengan teman-temanku yang dari negara lain. We won’t see each other anymore. Entah kapan akan dapet kesempatan untuk cross each other’s path lagi. In two (or even one) years time, perhaps they will only be my Facebook friends. Tau kan, maksudnya Facebook friends? Those friends in our Facebook’s friends list which we haven’t talked to for ages. “Oh that’s my elementary school friend, but I don’t know him anymore. But we were friends”-kind of friends. Ya gitu. Secanggih apapun teknologi mampu mendekatkan yang jauh, rasanya ngga akan lagi sama.

Kalau dengan teman-teman yang asal Indonesia juga, I bet it will be easier. Bisa arrange meet up once in a while, tanpa tau akan bertahan berapa lama acara meet up-nya akan terus diadakan. Cause we’re going to continue living. Semua akan punya kesibukan masing-masing. Everyone will go back to the life they left. Dari yang awalnya tiap hari bareng, jadi cuma sebulan sekali mungkin. Lama-lama jadi setahun sekali pas bukber di bulan puasa.

Merantau tuh mirip kayak lagi traveling, suatu hari harus kembali dan ‘balik ke realita’ (walaupun merantau juga realita sih..). Back to the place where we belong, dimana kehidupan akan berlanjut. Kemaren temanku bilang, yang bakal diinget dari pengalaman kuliah di luar negeri tuh most likely bukan apa yang dipelajari di kelas, tapi momen-momen sama teman dan cerita-cerita yang meninggalkan kenangan buat kita.

Aku ngga pernah mikir tentang ini sebelumnya, meskipun udah sering melewati masa perpisahan sama teman-teman. Dari SD pindah ke SMP, lalu ke SMA, kemudian kuliah, dan kerja. Tapi somehow tau one day we’ll meet again and no hard feeling at all ketika pisah sama mereka. Mungkin karena ngga se-intense di sini ya pertemanannya?

I’m so happy and beyond grateful to know and to feel this kind of feeling and friendship. Bahwa aku bisa get along very well dengan orang-orang dari negara lain dan banyak bertukar cerita dan juga bisa ketemu sesama orang Indonesia yang baik-baik dan punya interest yang sama. Without them, my life in Manchester wouldn’t be so exciting and bearable.

Teman-teman yang baik itu anugrah dari Tuhan dan di saat merantau gini, they’re your knights in shining armor. Menjadi tempat curhat dan berkeluh kesah yang dituju setelah Allah, mereka yang paling dekat dengan kita karena keluarga kita adanya puluhan ribu kilometer jauhnya.

Last but not least, I want to say thanks for the friendship and the good times! Good luck for us all.

IMG_6212

These are my flat mates. Mereka secara jarak adalah orang-orang terdekatku di Manchester. Kami semua orang Asia dan punya kebiasaan yang mirip-mirip (bangun cukup pagi and we don’t do party). Walaupun mostly interaksi kami cuma berlangsung di dapur selama 30 menit sampai satu jam, we know each other quite well.

IMG_0657

My classmates in our very last lecture. Udah berminggu-minggu aku ngga ketemu dengan banyak orang di dalam foto ini. Some of them are home for good, sisanya sibuk dengan penelitian masing-masing. Paling ketemu dan saling sapa di learning commons aja. It was very nice knowing all of them πŸ™‚

DSCF0022

Teman-teman road trip ke North Wales, 4 hari penuh ketawa dan curhat.

FullSizeRender

I once captioned this photo as “my luvly ukhti”, indeed they are lovely! Such a blessings banget bisa ketemu mereka semua dan keeping sane melewati segala drama kehidupan di Manchester hehe

IMG_0492

Segenap teman-teman sekelasku yang nonton acara Indonesian Cultural Festival 2016. Really do appreciate them for coming around and watch the show! Love you guys

IMG_0445

Anak-anak PPI-GM yang berpartisipasi di ICF. Banyak yang cuma kukenal nama, hehe

IMG_1344

Sister-sister yang literally 4L (lu lagi, lu lagi) karena hampir tiap minggu ketemu dan main bareng. Kebetulan sama-sama hobi masak, makan (kecuali satu orang yang ke dapur aja jarang) dan wacana olahraga (kecuali satu orang yang ngga pernah wacana olahraga).

 

They all are my #SquadGoals

β™₯ Atiqah Zulfa Nadia

My Last Season in UK

Tanggal 20 Juni kemarin katanya musim panas dimulai (kata Facebook sih..) dan artinya udah genap tiga musim aku lalui di UK. Dari mulai fall, winter, sampai spring. Summer will be my last season in UK. Ngga terasa udah hampir setahun aku jadi mahasiswi rantau. Time flies so quickly! Satu tahun itu waktu yang sebentar banget ternyata.

I’m a bit sad to know that my ‘vacation’ is almost over, entah kapan lagi bisa ke UK dan tinggal di sini untuk waktu yang lama. I had my ups and downs, ada banyak kejadian seru, menyenangkan, unforgettable, bikin panik, sedih, kecewa, ngeselin, dan banyak lagi. I met a lot of good friends (some of them come from a different part of the world) which somehow turns into family, mungkin karena sama-sama perantau jadi bond di antara kita cukup kuat. I really wouldn’t trade this experience with anything. Anything at all. Sekarang aku tinggal menikmati my last battle (read: disertasi) dan bulan-bulan terakhirku di Manchester.

Aku mau share sedikit yaa tentang hal-hal menarik di sini πŸ˜€

Makanan dingin. Di kantin kampus umumnya aku cuma bisa menemukan makanan dingin. Awalnya bingung, kenapa makanan yang dijual di pendingin itu ngga bisa dihangatkan di microwave kayak di Seven Eleven di Jakarta. Lama-lama aku maklum juga walaupun sampai sekarang masih ngga toleran dengan makanan dingin. Dari mulai sandwich, sushi, sampai pasta semuanya disajikan dan disantap dingin-dingin. Ini bukan cuma terjadi di kantin sih, di semua minimarket pun makanan siap santapnya disajikan dalam keadaan dingin.

Cake that is way too sweet. Setiap kali aku beli cake, 90%-nya aku merasa too much sugar. Either itu chocolate cake, carrot cake, ataupun red velvet cake. Semuanya manis banget. Well, sebetulnya kalau beli cake di bakery milik Chinese, manisnya ngga selegit cake yang dijual di minimarket. On the other hand, masakan asli British itu ngga ada asin-asinnya. Bener-bener plain.

Aksen. Aku merasa fine aja ketika di kelas mendengarkan dosen mengajar dan ngobrol bersama teman-teman. Untuk kegiatan sehari-hari pun aku cukup percaya diri dengan kemampuanku mendengar orang-orang di sekitar. Tapi, suatu hari aku naik kereta ke luar kota sendirian dan di belakangku ada cewek (yang sepertinya British) bersama temannya. Mereka ngobrol panjang kali lebar dengan suara cukup keras dan kecepatan luar biasa. I barely can understand a thing. Aksennya kental banget dan ngomongnya super cepat, aku cuma bisa melongo. Di situlah aku baru semakin sadar kalau aksen-aksen orang Inggris itu sulit untuk dimengerti.

Mendengar beragam bahasa. 50% murid di kelasku berkewarganegaraan Cina. Sisanya tersebar hampir di seluruh dunia. Di jalanan pun aku sering mendengar orang ngobrol dengan bahasa arab, india, cina, korea, dan lain-lain. Pokoknya bener-bener multi culture. Niat awal mau membawa pulang aksen British, yang ada malah bahasa Inggris-ku ya begini-begini aja karena mostly ngobrol dengan teman-teman yang sama-sama punya mother tongue selain bahasa Inggris.

Hujan. Banyak yang ngga terlalu suka dengan cuaca di UK yang gloomy dan sering hujan. Aku pribadi lebih cenderung suka cuaca kayak gini dibanding panas dan matahari melulu. Sometimes it’s a bit depressing, cause it’s way too gloomy. Tapi sejuknya enak. Tipe hujan di UK itu intensitasnya sedang tapi awet. Bisa seharian, bahkan dua hari awetnya. Terkadang berangin juga. Yang pasti jarang banget ada petir atau geledek. Hujannya beda dengan hujan di Jakarta yang akan bikin basah kuyup kalau diterabas. Di sini, banyak orang cuek aja kena basah-basah sedikit dari air hujan tanpa payung dan jas hujan.

Sun bathing. Saking seringnya hujan, setiap matahari keluar dan stay cukup lama (biasanya kalau weather forecast-nya sedang bagus), semua orang langsung tumpah ruah di jalanan dan di taman demi menikmati terik dan hangatnya matahari. Mereka akan tidur-tiduran di taman, duduk-duduk di trotoar, pokoknya keluar dari rumah deh. Aku sebagai anak yang udah sering liat matahari dan cenderung ogah panas-panasan cuma ngeliatin aja dari dalam gedung hehe..

Baju monochrome. Kalau belanja di sini, ngga banyak warna yang tersedia untuk dipilih. Di musim gugur dan winter, baju-baju didominasi warna gelap seperti hitam, biru navy, dan abu-abu. Sedangkan memasuki musim semi dan musim panas, bajunya didominasi warna putij. Bukan berarti ngga ada warna lain sama sekali, tapi dominannya ya warna basic itu. Makanya menurutku belanja di sini ngga sepuas belanja di Indonesia karena model bajunya ngga begitu sesuai dengan style-ku.

Well-suited gentlemen. Aku suka banget dengan gaya berpakaian orang-orang kantoran di UK, terutama di London (aku sempat lihat beberapa di Manchester juga, tapi ngga sebanyak di London). Mereka mengenakan kemeja, suit, dan dasi. Rapi banget pokoknya, tapi entah kenapa tetep kelihatan santai. I think London’s fashion is just fabulous. Berpakaian rapi dan pantas menurutku bisa meningkatkan attractiveness seseorang. Period.

Antri naik bus. Selama di Manchester aku ngga pernah mengalami seradak seruduk rebutan masuk ke dalam bus, seramai apapun penumpangnya. Bahkan, orang-orang punya kesadaran untuk mengantri. Misal aku datang terlebih dahulu dibanding si A, ia akan mempersilahkanku naik ke bus duluan meskipun si A berdiri lebih dekat dengan pintu bus. Waktu naik tube di London pun ngga chaos, penumpang yang mau turun akan turun terlebih dahulu sebelum penumpang lain naik. Lumayan tertib deh pokoknya, dibanding keadaan di stasiun kereta di Jabodetabek yang selalu sikut-sikutan.

Tepat waktu. Masih berhubungan dengan transportasi, bus antar kota dan kereta di sini tepat waktu banget (kecuali kalau ada masalah). Kalau di tiket tertera 9.45, ya bus atau kereta akan berangkat tepat jam 9.45 jadi kita harus udah on board sebelum itu. No tolerance dan tiada ampun buat yang telat meski semenit.

Dear, Love. Jangan baper (bawa perasaan) kalau disapa dengan sapaan ‘dear’ atau ‘love’ karena itu lumrah banget terjadi di UK. Biasanya paling sering disapa ‘love’ kalau lagi belanja di swalayan. Menang banyak kalau mas-mas kasirnya ganteng! πŸ˜€

Homeless. Aku awalnya mengira di UK semua orang hidup sejahtera, tapi nyatanya cukup banyak juga homeless di jalanan yang selalu berkata “any spare change please” kepada orang-orang yang berlalu lalang. Gemasnya, mereka suka nongkrong di depan toko atau minimarket dan ATM. Kan jadi serem, tapi so far mereka ngga ada yang ngerampok atau berbuat kriminal ke orang-orang sih setauku. They are merely homeless, but not criminals. Aku kasihan sih sama mereka, mengingat udara di sini yang bolak-balik hujan dan dingin. Hidup di jalanan dengan cuaca kayak gitu pasti ngga mudah.

Crime. Nah ada juga orang yang bener-bener kriminal. Sejak aku tiba di Manchester sampai sekarang, udah beberapa kali denger berita kemalingan, kecopetan, kebobolan, penculikan pemerkosaan, dan lain-lain. Pokoknya peringatan waspada ngga henti-hentinya dihimbau ke penduduk sini. Waspada harus, tapi jangan sampai parno hehe..

Cashless. This will be the last thing (karena udah lumayan banyak juga ya). Aku selalu punya cadangan cash at least 2 pounds untuk naik bus dan jarang punya cash lebih dari 10 pounds karena almost everything is cashless in here. Semua transaksi dilakukan dengan kartu. Konon sih, cashless itu baik untuk perekonomian? Menurutku, jadi praktis aja sih. Dan ngga banyak kertas juga, dompet jadi lebih ringkas.

That’s all for now, guys.

Manchester has been amazing. Yang terpenting, aku di sini jadi lebih mandiri (hopefully bukan cuma pendapatku doang), bisa masak banyak makanan Indonesia, dan somehow merasa lebih dekat dengan Tuhan. Not in a way dimana aku jadi lebih alim, tapi lebih ke aku jadi semakin interest untuk belajar banyak tentang agama dan mendekatkan diri pada Allah. Di masa-masa up and down-nya merantau dan hidup sendiri, kerasa banget kalau Allah itu Maha Besar dan bener-bener ada deket banget dengan kita, siap sedia menolong kalau kita kesulitan dan menenangkan hati.

With Allah beside me, I become an unstoppable force (this applies to you, too).

 

β™₯ Atiqah Zulfa Nadia

Puasa di Manchester

Ramadhan Mubarak!
Bulan suci ramadhan selalu jadi momen berkesan buatku. Selain keutamaannya di antara bulan-bulan lain, juga karena biasanya momen bulan puasa dijadikan ajang reuni ketemu temen-temen lewat acara buka puasa bareng. Sadly, tahun ini aku full melewatkan semua acara bukber di Jakarta karena aku insya Allah full sebulan penuh akan puasa di Manchester. Another first for me, sebelumnya aku pernah beberapa minggu puasa di Thailand but i came home afterwards dan berhasil membuat semua acara bukber digeser jadi setelah aku balik ke Jakarta (hehehehe).
Sooo, now I’m going to share the fun facts of Ramadhan in UK (particularly in Manchester)

Puasa 19 jam

Mungkin udah banyak yang tau yaa kalau puasa di UK durasinya sekitar 19 jam (subuh jam 3 dan magrib kira-kira jam 9.30) karena bertepatan dengan summer yang daylight-nya super panjang. Biasanya kalau di Jakarta cuma 14 jam, sekarang harus ditambah 5 jam lagi. Laper dan haus? Well, we do know godaan puasa itu bukan lapar dan haus (at least not for me), rasa lapar dan haus bisa banget ditolerir and it’s actually not that bad, you know. Yang aku rasain lebih ke bosen dan ngantuk nungguin magrib. Biasanya sekitar jam 8 tuh udah masa-masa penantian masuk waktu magrib, momen kritis dimana waktu terasa berjalan begitu lama hehehe
Bablas ngga tidur sampai subuh
Nah berhubung hanya ada waktu sekitar 5 jam untuk makan dan minum, aku memilih untuk stay awake dari sejak buka hingga sahur lagi (ngantuknya pol sih..). Soalnya aku termasuk yang harus sahur dengan proper, cukup makanannya dan minumannya. Biasanya aku ngemil dan ngopi di sela-sela taraweh supaya makannya sedikit-sedikit tapi sering, dibanding yang langsung sekaligus banyak. To be honest aku beberapa kali ketiduran sih sekitar satu jam gitu.. dan sempat satu kali ketiduran sampai jam 4 pagi, akhirnya hari itu puasa tanpa sahur. I won’t let this happen again, ever. Kapok. Awalnya aku panik sih, karena hari itu harus wara wiri ngurus konsumsi pengajian dan aku pernah dua kali hampir pingsan waktu puasa di Jakarta karena sahurnya ngga proper. Tapi alhamdulillah hari itu puasaku lancar πŸ™‚ emang kalau udah niat dan dijalani dengan sungguh-sungguh tuh insya Allah akan tercapai segala niatan kita..
Godaan shirtless men
Give them a bit of sunshine, they will show you their skin. Kalau cuaca lagi terik, bajunya orang-orang di sini udah ngga jelas banget.. Summer style, dimana kayaknya salah satu style musim panas adalah shirtless. Nongkrong di taman shirtless, naik bus shirtless, sepedaan shirtless, dan lain-lain. For me, it’s not like they are arousing, tapi lebih ke “men itu aurat lo jangan diumbar dong“. I bet cowok-cowok pasti lebih berat lagi sih godaannya.
Waktu solat beda-beda
Selama di Manchester, aku mengandalkan aplikasi MuslimPro untuk jadwal solat sehari-hari. Tapi percayalah, jadwalnya sadis banget untuk puasa kali ini. Azan subuh jam 2.30 dan magribnya 9.45. Aku akhirnya ikutan jadwal solat yang diterbitkan oleh sebuah masjid di sekitar rumahku. Ternyata, ada banyak jadwal sejenis yang diterbitkan oleh masjid lain dan waktunya beda-beda. Dan perbedaannya ngga sepele satu dua menit, kadang bisa sampai 15 menit. Entah yang mana yang harus dipercaya but anyway aku ikut satu jadwal dan refer to jadwal itu terus.
Waktu mulai puasa beda-beda
Selain jadwal solat yang beda-beda, mulainya puasa pun beda-beda juga. Berhubung ngga ada menteri agama di sini, jadi keputusannya ngga ada di satu pihak. Well, ini terjadi juga sih yaa di Indonesia terkadang (hampir tiap tahun deeng). Menariknya, konon kita disuruh ikut sama masjid terdekat aja kapan mulainya. Aku kebetulan sih sesuai keyakinan aja dan barengin sama orang Indonesia lain di sini.
Rame di toko halal sehari sebelum Ramadan dimulai
Kirain ngga bakal kerasa suasana ramadan sama sekali di Manchester. Ternyata kerasa dikit! Yaitu di salah satu supermarket halal yang rame bangeeet waktu sehari sebelum puasa. Bener-bener kayak di Indonesia. I was just lucky to be there, jadi bisa ngerasain hawa-hawa dan spirit bulan puasa.
Nah itu semua adalah fakta-fakta (yang semoga) menarik dari berpuasa di Manchester. Sekarang aku mau share dikit menu sahur dan berbuka sehari-hari selama di sini.
Tepat setelah azan magrib berkumandang (walaupun di sini ngga berkumandang sih, cukup liat jam aja) aku minum teh manis hangat dan makan dua gorengan mini. Teh manisnya aku sengaja banget beli teh melati-nya Indonesia supaya makin nikmat. Sedangkan aku emang selalu berbuka dengan gorengan dari semenjak di Jakarta dan di sini aku nyetok vegetable spring roll dan meat samosa untuk selama bulan Ramadan. Setelah itu aku solat magrib dan makan besar. Menunya nasi, lauk, dan sayur. Standar aja sih, seperti menu yang aku masak biasanya di sini. Selanjutnya aku menghabiskan waktu dengan melakukan berbagai macam kegiatan sampai subuh, diselingi dengan minum air putih yang banyak dan makan snack. Snack-nya either wafer atau cake. Sekitar jam 12 aku biasanya minum kopi (soalnya ini masa-masa ngantuk luar biasa). Aku mulai makan sahur jam 1.30, menunya tergantung kondisi perut. Kalau laper, aku makan nasi. Tapi kalau tanggung, aku biasanya makan oatmeal dan cake. Nah sahurku ditutup dengan makan kurma plus minum air putih yang banyak (teteup). Alhamdulillah bikin kuat berpuasa 19 jam lamanya dan ngga lemes sama sekali. Laper? Ya kadang laper, tapi ngga sampe laper banget yang harus batalin puasa πŸ˜€
That’s basically my story, semoga kita semua dimana pun berada bisa menjalani bulan suci dengan lancar dan selalu sehat ya!
β™₯ Atiqah Zulfa Nadia

5 Must-have Apps for Living in Manchie

Hi there!

Dengan adanya fenomena internet of things, now your life is at the palm of your hands. Yass, and the technology is here to assist our life. Salah satunya dalam bentuk aplikasi yang bisa di-download di handphone atau tablet. Now I will talk about 5 must-have apps for living in Manchester (dan mungkin cukup relevan juga untuk tinggal di kota-kota lain di UK).

Citymapper

This apps works pretty much like google maps, tapi menurutku jauh lebih user friendly. So, it will automatically detect where you are right now dan kamu bisa langsung masukin tempat tujuan kamu. Then it will give you basically 4 options: jalan kaki, naik sepeda, naik uber, dan naik bus. Lengkap dengan waktu tempuhnya. Kalau pilih naik bus, bakal keluar jadwal kedatangan busnya di halte terdekatmu juga. It will tell you how many bus stop you should pass through before reaching the destination. Dia bener-bener incorporate semua bus stop di petanya dan ngga bakal bingung sama sekali (I’m so stupid at direction and this apps helps me a lot!). Ada satu kekurangan dari apps ini, yaitu dia ngga bisa dipakai di semua kota. Di UK sendiri cuma bisa digunakan di Manchester, Birmingham, dan London. Maybe because it’s really that accurate and detailed, makanya dia belum bisa cover semua kota. Something similar to this, namanya Moovit. I have never tried that one, but many people use it regularly.

WhatsApp

Oh, come on. You may think I’m crazy for (still) suggesting this, cause most of you must have downloaded it to your phone since long time ago. But really, this is a very important chatting application. Bule-bule tuh ngga pake Line, Kakao Talk, atau Telegram. They use WhatsApp only. However, if more than a half of your classmates are Chinese, I bet you gotta download WeChat πŸ˜€ What’s nice about WeChat adalah fitur translation-nya, jadi kalau cici-cici dan koko-koko itu udah ngobrol pake bahasa Cina di group, kamu tetep bisa ngerti hehehe..

Weather Forecast

Harusnya sih handphone kamu secara otomatis udah punya aplikasi ini ya.. It’s important karena cuaca di UK itu tricky banget. You can see the sun, tapi anginnya kenceng banget dan suhunya dingin. Although it’s sunny, you have to bring your windbreaker. Atau ketika pagi-pagi cerah ceria, tiba-tiba siang diguyur hujan sampai malam. Well, the forecast is there to safe you (well, sometimes :p karena kadang ngga akurat juga but most of the time it does!). It’s also good to plan a trip atau sekedar jadwal berjemur di taman. Like seriously, setiap matahari bersinar terik, manusia langsung tumpah di taman-taman.

Muslim Pro

Buat kamu yang muslim, aplikasi ini sangat bermanfaat dan super lengkap. Dari jadwal solat, jadwal puasa (kalau Ramadhan), arah kiblat, guide tempat makan halal, alquran, doa, daftar masjid, dan lain-lain. Those all are for free apps, aku ngga tau kalau premium bedanya apa. Tapi selama aku pakai yang free version, fitur-fiturnya udah cukup membantu. Anyway kadang jadwal solatnya suka beda-beda, I don’t know which to trust. Tapi pokoknya percaya aja sama satu sumber, insya Allah benar dan Allah kan ga akan menyulitkan hambaNya yang berusaha untuk selalu menjaga ibadahnya πŸ™‚

Trainline

My last recommended apps adalah Trainline! Pastinya kamu akan pengen jalan-jalan ke kota lain kan, dan aplikasi ini akan membantu kamu mencari tiket kereta (dan sekarang dia incorporate jadwal tiket bus National Express juga di apps-nya). Apps ini bisa nyariin cheapest fare juga, jadi bisa makin hemat pas jalan-jalan. Trainline bisa untuk reserve seat di provider kereta manapun and I guess it covers most of the UK (termasuk Scotland dan Wales, i have never tried Ireland). Lewat apps ini kamu bisa cek platform kereta kamu (if you’re lazy to look up in the board).

Itu dia 5 apps yang (menurutku) wajib dipunya oleh orang-orang, terutama perantau, yang tinggal di Manchester atau kota lainnya di UK. Semoga bermanfaat and see ya!

 

β™₯ Atiqah Zulfa Nadia

 

Back to Uni Part 2

Hi!

Sebelumnya aku udah share persiapan back to uni (part 1) dan sekarang aku mau lanjutin pembahasannya. Kali ini aku akan lebih fokus ke persiapan setelah diterima di uni dan masalah finansialnya juga udah beres (either you’re with scholarship or not). Jadi bisa dibilang ini persiapan keberangkatan.

Visa

Ini paling penting dan paling tricky. Untuk studi di UK sendiri, visa baru bisa diurus setelah CAS keluar. Seingetku CAS itu singkatan dari Confirmation of Acceptance to Study. CAS dikeluarkan oleh kampus dan dikirim by email. Proses pengurusan visa itu tiap tahun bisa ganti-ganti prosedurnya, so I’m not gonna talk much here. Be proactive dan cari tahu apa aja yang perlu disiapkan. Dan yang paling penting, prepare and apply in advance. Butuh sekitar 3-4 minggu sampai visa granted, so bare this in mind kalau ngga mau panik in last minute. Sebaiknya apply as early as possible. Aku tahun lalu dibantuin sama agent untuk proses apply visa and it’s really helpful.

Cari Teman

Setelah accept offer, coba cari informasi tentang PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di kota tempat kamu akan studi nantinya. Contact dengan PPI itu bermanfaat banget, contohnya kalau di PPI-GM (Greater Manchester), kamu bisa dapet buddy yang akan meng-guide kamu dan bersedia ditanya apa aja tentang kehidupan di Manchester. Kamu juga bakal join di group (bisa di Whatsapp atau di Line) yang isinya orang-orang yang sama-sama akan studi di uni atau di kota yang sama kayak kamu. Trust me, punya teman di hari-hari pertama kedatangan tuh penting banget! Karena ada banyak hal membingungkan yang bakal ditemuin. Dari group itu juga kamu bisa dapet teman yang mau cari flat bareng atau yang sejurusan. So, do get in touch dengan PPI yah. Dari situ kamu bisa mulai cari teman yang bisa diajak ngobrol, tinggal bareng, berangkat bareng, dan lain-lain.

Akomodasi

Basically ada dua tipe akomodasi: campus and non-campus. Biasanya campus accom itu bentuknya flat atau hall sedangkan yang non-campus lebih beragam lagi. Ada yang flat, hall, rumah, dan apartemen. Keduanya ada lebih dan kurangnya. Aku tinggal di campus accom yang bentuknya flat. Harga campus accom biasanya lebih mahal dari non-campus, tapi enaknya dia udah all-in dan ngga ribet urus ini itu. Ada cleaner-nya juga walaupun ngga bersihin kamar tidur. Enaknya lagi, kita jadi nambah teman dari luar negeri. Kurang enaknya karena bentuknya bukan rumah. Setelah berbulan-bulan tinggal di kos-kosan gini aku ngerasa kangen tinggal di rumah hehe. Selain itu kadang sepi juga kalau dibanding dengan yang nyewa rumah rame-rame. You get home, enter your room, and that’s it. Alhamdulillah tempat tinggalku sih enak banget, deket sama kampus dan deket sama supermarket.

Tiket Pesawat

Kalau ini bener-bener preferensi masing-masing sih ya.. Ada banyak banget pilihan maskapai yang bisa mengantar kamu ke kota tempat kamu akan belajar. Harganya pun sebenernya mirip-mirip aja. Paling yang agak beda (dan cukup penting untuk di-consider) adalah baggage allowance-nya. Normalnya 30 kg per orang tapi tahun lalu ada juga yang bisa dapet lebih dari maskapai tertentu.

Packing

Aku udah pernah share nih tentang apa aja yang aku bawa (dan apa aja yang perlu dibawa) waktu berangkat merantau. Cek di post yang ini yaa.

Mental

Nah ini persiapan terakhir, yang sebenernya paling penting. Waktu mau berangkat, rasanya tuh campur aduk. Excited and anxious at the same time. Persiapan mental orang-orang pasti beda-beda. Aku waktu itu sih banyakin berdoa aja supaya semuanya lancar and I kept telling myself that I’ll be back in a year dan setahun tuh ngga kerasa (setelah dijalani, beneran ngga kerasa loh). Selain itu, balik lagi ke poin sebelumnya tentang cari teman. Pas kamu tau akan ada temen-temen yang bareng sama kamu, itu ngebantu banget dalam mempersiapkan mental merantau. After all, percayalah kesempatan kuliah di luar negeri itu ngga bisa didapetin oleh semua orang and you’re among the lucky ones. Be excited about it!

It’s quite easy, right? Aku sengaja ngga bahas in too much detail karena bakal beda-beda setiap case. But if you do have further questions, drop a comment or email me. Insya Allah aku akan coba membantu. I wish you all a best of luck dalam persiapannya πŸ™‚

 

β™₯ Atiqah Zulfa Nadia