Puasa di Manchester

Ramadhan Mubarak!
Bulan suci ramadhan selalu jadi momen berkesan buatku. Selain keutamaannya di antara bulan-bulan lain, juga karena biasanya momen bulan puasa dijadikan ajang reuni ketemu temen-temen lewat acara buka puasa bareng. Sadly, tahun ini aku full melewatkan semua acara bukber di Jakarta karena aku insya Allah full sebulan penuh akan puasa di Manchester. Another first for me, sebelumnya aku pernah beberapa minggu puasa di Thailand but i came home afterwards dan berhasil membuat semua acara bukber digeser jadi setelah aku balik ke Jakarta (hehehehe).
Sooo, now I’m going to share the fun facts of Ramadhan in UK (particularly in Manchester)

Puasa 19 jam

Mungkin udah banyak yang tau yaa kalau puasa di UK durasinya sekitar 19 jam (subuh jam 3 dan magrib kira-kira jam 9.30) karena bertepatan dengan summer yang daylight-nya super panjang. Biasanya kalau di Jakarta cuma 14 jam, sekarang harus ditambah 5 jam lagi. Laper dan haus? Well, we do know godaan puasa itu bukan lapar dan haus (at least not for me), rasa lapar dan haus bisa banget ditolerir and it’s actually not that bad, you know. Yang aku rasain lebih ke bosen dan ngantuk nungguin magrib. Biasanya sekitar jam 8 tuh udah masa-masa penantian masuk waktu magrib, momen kritis dimana waktu terasa berjalan begitu lama hehehe
Bablas ngga tidur sampai subuh
Nah berhubung hanya ada waktu sekitar 5 jam untuk makan dan minum, aku memilih untuk stay awake dari sejak buka hingga sahur lagi (ngantuknya pol sih..). Soalnya aku termasuk yang harus sahur dengan proper, cukup makanannya dan minumannya. Biasanya aku ngemil dan ngopi di sela-sela taraweh supaya makannya sedikit-sedikit tapi sering, dibanding yang langsung sekaligus banyak. To be honest aku beberapa kali ketiduran sih sekitar satu jam gitu.. dan sempat satu kali ketiduran sampai jam 4 pagi, akhirnya hari itu puasa tanpa sahur. I won’t let this happen again, ever. Kapok. Awalnya aku panik sih, karena hari itu harus wara wiri ngurus konsumsi pengajian dan aku pernah dua kali hampir pingsan waktu puasa di Jakarta karena sahurnya ngga proper. Tapi alhamdulillah hari itu puasaku lancar 🙂 emang kalau udah niat dan dijalani dengan sungguh-sungguh tuh insya Allah akan tercapai segala niatan kita..
Godaan shirtless men
Give them a bit of sunshine, they will show you their skin. Kalau cuaca lagi terik, bajunya orang-orang di sini udah ngga jelas banget.. Summer style, dimana kayaknya salah satu style musim panas adalah shirtless. Nongkrong di taman shirtless, naik bus shirtless, sepedaan shirtless, dan lain-lain. For me, it’s not like they are arousing, tapi lebih ke “men itu aurat lo jangan diumbar dong“. I bet cowok-cowok pasti lebih berat lagi sih godaannya.
Waktu solat beda-beda
Selama di Manchester, aku mengandalkan aplikasi MuslimPro untuk jadwal solat sehari-hari. Tapi percayalah, jadwalnya sadis banget untuk puasa kali ini. Azan subuh jam 2.30 dan magribnya 9.45. Aku akhirnya ikutan jadwal solat yang diterbitkan oleh sebuah masjid di sekitar rumahku. Ternyata, ada banyak jadwal sejenis yang diterbitkan oleh masjid lain dan waktunya beda-beda. Dan perbedaannya ngga sepele satu dua menit, kadang bisa sampai 15 menit. Entah yang mana yang harus dipercaya but anyway aku ikut satu jadwal dan refer to jadwal itu terus.
Waktu mulai puasa beda-beda
Selain jadwal solat yang beda-beda, mulainya puasa pun beda-beda juga. Berhubung ngga ada menteri agama di sini, jadi keputusannya ngga ada di satu pihak. Well, ini terjadi juga sih yaa di Indonesia terkadang (hampir tiap tahun deeng). Menariknya, konon kita disuruh ikut sama masjid terdekat aja kapan mulainya. Aku kebetulan sih sesuai keyakinan aja dan barengin sama orang Indonesia lain di sini.
Rame di toko halal sehari sebelum Ramadan dimulai
Kirain ngga bakal kerasa suasana ramadan sama sekali di Manchester. Ternyata kerasa dikit! Yaitu di salah satu supermarket halal yang rame bangeeet waktu sehari sebelum puasa. Bener-bener kayak di Indonesia. I was just lucky to be there, jadi bisa ngerasain hawa-hawa dan spirit bulan puasa.
Nah itu semua adalah fakta-fakta (yang semoga) menarik dari berpuasa di Manchester. Sekarang aku mau share dikit menu sahur dan berbuka sehari-hari selama di sini.
Tepat setelah azan magrib berkumandang (walaupun di sini ngga berkumandang sih, cukup liat jam aja) aku minum teh manis hangat dan makan dua gorengan mini. Teh manisnya aku sengaja banget beli teh melati-nya Indonesia supaya makin nikmat. Sedangkan aku emang selalu berbuka dengan gorengan dari semenjak di Jakarta dan di sini aku nyetok vegetable spring roll dan meat samosa untuk selama bulan Ramadan. Setelah itu aku solat magrib dan makan besar. Menunya nasi, lauk, dan sayur. Standar aja sih, seperti menu yang aku masak biasanya di sini. Selanjutnya aku menghabiskan waktu dengan melakukan berbagai macam kegiatan sampai subuh, diselingi dengan minum air putih yang banyak dan makan snack. Snack-nya either wafer atau cake. Sekitar jam 12 aku biasanya minum kopi (soalnya ini masa-masa ngantuk luar biasa). Aku mulai makan sahur jam 1.30, menunya tergantung kondisi perut. Kalau laper, aku makan nasi. Tapi kalau tanggung, aku biasanya makan oatmeal dan cake. Nah sahurku ditutup dengan makan kurma plus minum air putih yang banyak (teteup). Alhamdulillah bikin kuat berpuasa 19 jam lamanya dan ngga lemes sama sekali. Laper? Ya kadang laper, tapi ngga sampe laper banget yang harus batalin puasa 😀
That’s basically my story, semoga kita semua dimana pun berada bisa menjalani bulan suci dengan lancar dan selalu sehat ya!
♥ Atiqah Zulfa Nadia

5 Must-have Apps for Living in Manchie

Hi there!

Dengan adanya fenomena internet of things, now your life is at the palm of your hands. Yass, and the technology is here to assist our life. Salah satunya dalam bentuk aplikasi yang bisa di-download di handphone atau tablet. Now I will talk about 5 must-have apps for living in Manchester (dan mungkin cukup relevan juga untuk tinggal di kota-kota lain di UK).

Citymapper

This apps works pretty much like google maps, tapi menurutku jauh lebih user friendly. So, it will automatically detect where you are right now dan kamu bisa langsung masukin tempat tujuan kamu. Then it will give you basically 4 options: jalan kaki, naik sepeda, naik uber, dan naik bus. Lengkap dengan waktu tempuhnya. Kalau pilih naik bus, bakal keluar jadwal kedatangan busnya di halte terdekatmu juga. It will tell you how many bus stop you should pass through before reaching the destination. Dia bener-bener incorporate semua bus stop di petanya dan ngga bakal bingung sama sekali (I’m so stupid at direction and this apps helps me a lot!). Ada satu kekurangan dari apps ini, yaitu dia ngga bisa dipakai di semua kota. Di UK sendiri cuma bisa digunakan di Manchester, Birmingham, dan London. Maybe because it’s really that accurate and detailed, makanya dia belum bisa cover semua kota. Something similar to this, namanya Moovit. I have never tried that one, but many people use it regularly.

WhatsApp

Oh, come on. You may think I’m crazy for (still) suggesting this, cause most of you must have downloaded it to your phone since long time ago. But really, this is a very important chatting application. Bule-bule tuh ngga pake Line, Kakao Talk, atau Telegram. They use WhatsApp only. However, if more than a half of your classmates are Chinese, I bet you gotta download WeChat 😀 What’s nice about WeChat adalah fitur translation-nya, jadi kalau cici-cici dan koko-koko itu udah ngobrol pake bahasa Cina di group, kamu tetep bisa ngerti hehehe..

Weather Forecast

Harusnya sih handphone kamu secara otomatis udah punya aplikasi ini ya.. It’s important karena cuaca di UK itu tricky banget. You can see the sun, tapi anginnya kenceng banget dan suhunya dingin. Although it’s sunny, you have to bring your windbreaker. Atau ketika pagi-pagi cerah ceria, tiba-tiba siang diguyur hujan sampai malam. Well, the forecast is there to safe you (well, sometimes :p karena kadang ngga akurat juga but most of the time it does!). It’s also good to plan a trip atau sekedar jadwal berjemur di taman. Like seriously, setiap matahari bersinar terik, manusia langsung tumpah di taman-taman.

Muslim Pro

Buat kamu yang muslim, aplikasi ini sangat bermanfaat dan super lengkap. Dari jadwal solat, jadwal puasa (kalau Ramadhan), arah kiblat, guide tempat makan halal, alquran, doa, daftar masjid, dan lain-lain. Those all are for free apps, aku ngga tau kalau premium bedanya apa. Tapi selama aku pakai yang free version, fitur-fiturnya udah cukup membantu. Anyway kadang jadwal solatnya suka beda-beda, I don’t know which to trust. Tapi pokoknya percaya aja sama satu sumber, insya Allah benar dan Allah kan ga akan menyulitkan hambaNya yang berusaha untuk selalu menjaga ibadahnya 🙂

Trainline

My last recommended apps adalah Trainline! Pastinya kamu akan pengen jalan-jalan ke kota lain kan, dan aplikasi ini akan membantu kamu mencari tiket kereta (dan sekarang dia incorporate jadwal tiket bus National Express juga di apps-nya). Apps ini bisa nyariin cheapest fare juga, jadi bisa makin hemat pas jalan-jalan. Trainline bisa untuk reserve seat di provider kereta manapun and I guess it covers most of the UK (termasuk Scotland dan Wales, i have never tried Ireland). Lewat apps ini kamu bisa cek platform kereta kamu (if you’re lazy to look up in the board).

Itu dia 5 apps yang (menurutku) wajib dipunya oleh orang-orang, terutama perantau, yang tinggal di Manchester atau kota lainnya di UK. Semoga bermanfaat and see ya!

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

 

Back to Uni Part 2

Hi!

Sebelumnya aku udah share persiapan back to uni (part 1) dan sekarang aku mau lanjutin pembahasannya. Kali ini aku akan lebih fokus ke persiapan setelah diterima di uni dan masalah finansialnya juga udah beres (either you’re with scholarship or not). Jadi bisa dibilang ini persiapan keberangkatan.

Visa

Ini paling penting dan paling tricky. Untuk studi di UK sendiri, visa baru bisa diurus setelah CAS keluar. Seingetku CAS itu singkatan dari Confirmation of Acceptance to Study. CAS dikeluarkan oleh kampus dan dikirim by email. Proses pengurusan visa itu tiap tahun bisa ganti-ganti prosedurnya, so I’m not gonna talk much here. Be proactive dan cari tahu apa aja yang perlu disiapkan. Dan yang paling penting, prepare and apply in advance. Butuh sekitar 3-4 minggu sampai visa granted, so bare this in mind kalau ngga mau panik in last minute. Sebaiknya apply as early as possible. Aku tahun lalu dibantuin sama agent untuk proses apply visa and it’s really helpful.

Cari Teman

Setelah accept offer, coba cari informasi tentang PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di kota tempat kamu akan studi nantinya. Contact dengan PPI itu bermanfaat banget, contohnya kalau di PPI-GM (Greater Manchester), kamu bisa dapet buddy yang akan meng-guide kamu dan bersedia ditanya apa aja tentang kehidupan di Manchester. Kamu juga bakal join di group (bisa di Whatsapp atau di Line) yang isinya orang-orang yang sama-sama akan studi di uni atau di kota yang sama kayak kamu. Trust me, punya teman di hari-hari pertama kedatangan tuh penting banget! Karena ada banyak hal membingungkan yang bakal ditemuin. Dari group itu juga kamu bisa dapet teman yang mau cari flat bareng atau yang sejurusan. So, do get in touch dengan PPI yah. Dari situ kamu bisa mulai cari teman yang bisa diajak ngobrol, tinggal bareng, berangkat bareng, dan lain-lain.

Akomodasi

Basically ada dua tipe akomodasi: campus and non-campus. Biasanya campus accom itu bentuknya flat atau hall sedangkan yang non-campus lebih beragam lagi. Ada yang flat, hall, rumah, dan apartemen. Keduanya ada lebih dan kurangnya. Aku tinggal di campus accom yang bentuknya flat. Harga campus accom biasanya lebih mahal dari non-campus, tapi enaknya dia udah all-in dan ngga ribet urus ini itu. Ada cleaner-nya juga walaupun ngga bersihin kamar tidur. Enaknya lagi, kita jadi nambah teman dari luar negeri. Kurang enaknya karena bentuknya bukan rumah. Setelah berbulan-bulan tinggal di kos-kosan gini aku ngerasa kangen tinggal di rumah hehe. Selain itu kadang sepi juga kalau dibanding dengan yang nyewa rumah rame-rame. You get home, enter your room, and that’s it. Alhamdulillah tempat tinggalku sih enak banget, deket sama kampus dan deket sama supermarket.

Tiket Pesawat

Kalau ini bener-bener preferensi masing-masing sih ya.. Ada banyak banget pilihan maskapai yang bisa mengantar kamu ke kota tempat kamu akan belajar. Harganya pun sebenernya mirip-mirip aja. Paling yang agak beda (dan cukup penting untuk di-consider) adalah baggage allowance-nya. Normalnya 30 kg per orang tapi tahun lalu ada juga yang bisa dapet lebih dari maskapai tertentu.

Packing

Aku udah pernah share nih tentang apa aja yang aku bawa (dan apa aja yang perlu dibawa) waktu berangkat merantau. Cek di post yang ini yaa.

Mental

Nah ini persiapan terakhir, yang sebenernya paling penting. Waktu mau berangkat, rasanya tuh campur aduk. Excited and anxious at the same time. Persiapan mental orang-orang pasti beda-beda. Aku waktu itu sih banyakin berdoa aja supaya semuanya lancar and I kept telling myself that I’ll be back in a year dan setahun tuh ngga kerasa (setelah dijalani, beneran ngga kerasa loh). Selain itu, balik lagi ke poin sebelumnya tentang cari teman. Pas kamu tau akan ada temen-temen yang bareng sama kamu, itu ngebantu banget dalam mempersiapkan mental merantau. After all, percayalah kesempatan kuliah di luar negeri itu ngga bisa didapetin oleh semua orang and you’re among the lucky ones. Be excited about it!

It’s quite easy, right? Aku sengaja ngga bahas in too much detail karena bakal beda-beda setiap case. But if you do have further questions, drop a comment or email me. Insya Allah aku akan coba membantu. I wish you all a best of luck dalam persiapannya 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

 

Life in Constant Changes

Selamat pagi dari negara empat musim 🙂

Ini pertama kalinya aku tinggal di negara empat musim dan merasakan keempat musimnya dalam satu tahun. Aku datang di bulan September saat mau memasuki musim gugur dan di bulan yang sama juga nantinya aku (insya Allah) akan pulang. Jadi, musim gugur, salju (dingin), semi, dan panas akan aku lalui semuanya. Pergantian musim bukan cuma soal temperatur yang perlahan drop atau sedikit demi sedikit naik, bukan juga cuma tentang daun-daun berubah coklat, gugur, berbunga, kemudian hijau segar lagi. Tapi juga tentang matahari yang stay lebih lama atau lebih singkat di langit Manchester.

IMG_6095
Daun yang mulai berubah warna memasuki musim gugur

Aku sekarang sedang dalam masa adaptasi dari jadwal matahari normal (maksudnya normal adalah mirip-mirip dengan di Indonesia, terang dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore) ke jadwal matahari saat summer. Langit mulai berubah terang sekitar jam 4.30 pagi dan akan gelap jam 9 lewat di malam hari.

Waktu winter kemarin, langit terang sekitar jam 8 pagi dan gelap lagi jam 4 sore. Most people said it was depressing. Matahari punya peran penting ternyata dalam keseharian dan mood kita. I remember the gloomy days in here, ketika hujan engga tapi matahari juga sembunyi, I felt less energetic than when there’s sun. So, I basically finish everything at 6 during winter. Jam 5 sore pun rasanya udah laper banget dan harus makan malam. Setelah solat isya sekitar jam 6, I had nothing to do. Ada sih, belajar, karena waktu itu lagi musim ujian. But I did not go outside after 6, or rarely.

So it’s totally the other way around now. Kadang aku baru memulai aktivitas setelah jam 6 sore, dimana masih terang banget. Dan entah kenapa jadi ngga bisa ngantuk sebelum jam 11 atau 12 malam. So I stayed up till very late – or even till the next morning. Tapi, aku harus bangun lagi jam setengah 4 pagi untuk solat subuh (and it will get earlier on June). Kemarin temanku iseng ngecek puncak jadwal puasa terlama di sini, which is dari jam 2.35 sampai jam 9.40. We might not sleep at all at night, karena kalau dihitung-hitung selesai taraweh sekitar jam 12 lalu jam 2 harus sahur lagi.

Hidup di negara empat musim, banyak hal selalu berubah dalam siklus yang sama (atau seengganya mirip). It’s fun to have 4 seasons, tapi aku ngga kebayang sih kalau setiap tahun, per tiga bulannya aku harus menyesuaikan banyak hal. Terutama masalah waktu. Pas winter, waktu rasanya sempit banget sedangkan pas summer sebaliknya. Kadang itu mempengaruhi mindset juga, that I still have more time (padahal satu hari ya cuma 24 jam aja, ngga ada yang berubah).

Constant change yang aku alami di sini, membuat aku belajar beradaptasi dengan cepat dan lebih disiplin masalah waktu. Dan anyway, aku bersyukur banget karena waktu solat itu jadi salah satu hal yang membantu proses mendisiplinkan diri. Apalagi masalah kapan harus bangun pagi.

So, I think, tinggal di Indonesia lebih enak. As we all are spoiled by how stable the weather is. Suhu yang mirip-mirip sepanjang tahun, matahari yang selalu stay dalam durasi yang sama sepanjang tahun, angin yang ngga bikin susah jalan, dan lain-lain. Hidup jadi stabil banget juga karena bangun, tidur, makan, dan solat di jam yang sebelas-duabelas lah selama 365 hari. Jadi, bersyukurlah! At least setelah merasakan tinggal di sini dan bolak-balik beradaptasi, i find it more convenient to be in Indonesia hehehe

Well, if you ask, musim apa yang paling aku suka.. I will choose spring. Itu kayak titik balik banget setelah winter yang cukup menyiksa karena dingin dan bikin kulit kering. Akhirnya bisa terpapar angin sejuk dan bisa liat matahari lebih lama lagi.

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

 

April 29, 2016

She believed she can so she did.

29 April 2016. Tanggal yang penuh makna buatku. Tanggal di mana untuk pertama kalinya aku melakukan sesuatu dan untuk terakhir kalinya pula melakukan sesuatu.

In fact, tinggal di Manchester membuat aku banyak mencoba hal-hal baru dan melakukan berbagai aktivitas untuk pertama kalinya dalam hidup. For the first time in forever. Dari mulai memasak berbagai masakan Indonesia yang mau ngga mau harus dibikin sendiri karena ngga ada yang jual (ayam kecap, cilok, bakso, bubur ayam, siomay, dan lain-lain), ikutan fashion show which is what i have been wanting to do for a long time, pengalaman pertama hujan es, jualan masakan sendiri, belanja tanpa plastic bag, road trip sama teman-teman, my very first Pecha Kucha which I enjoyed so much, nge-MC, nari saman di atas panggung, working with client, ngajar ngaji anak-anak, stayed in library for the whole night, dan masih banyak lagi….. I didn’t know why i took quite lot of opportunities and responsibilities. Perhaps it’s because I’m afraid that it was the only chance I got.

It’s the first of May now. Dan 29 April kemarin adalah hari terakhir perkuliahan. No more classes, no more presentations, no more workshops. Only assignments and dissertation left. Acara Indonesian Cultural Festival yang persiapannya dimulai sejak awal tahun pun diselenggarakan di tanggal yang sama. Kegiatan latihan, urus ini-itu, dan nugas yang membuat hari-hariku ‘penuh’ akhirnya berakhir. But I enjoyed those moments the most and I was definitely happy.

From now on, there’s no more evening practice, no more interaction in the class with friends. We may barely meet each other. So, at April 29th 2016, I was both happy and sad. I was fully satisfied but also felt like something is missing.

Semuanya belum berakhir, i know. Aku masih punya sekitar 4 bulan lagi untuk belajar lebih banyak, untuk menumpuk semakin banyak pengalaman ‘for the first time in forever’, untuk menjalani hari-hari di Manchester dengan penuh makna sebelum akhirnya kembali pulang. It went so fast, didn’t it?

I personally a bit worried of how my marks are going to be this semester 😀 But, pada akhirnya, kuliah ke Manchester bukan sekedar kuliah dan mencari ilmu akademis. Itu bukan satu-satunya ukuran sukses. Nyatanya, aku mendapat lebih banyak dari itu, pengalaman, persahabatan, cerita, dan pelajaran tentang hidup. Kalau kata Einstein, try not to be man of success but rather try to be a man of value. Semoga dengan ilmu akademis dan pelajaran berharga lainnya yang aku dapat selama tinggal di Manchester, aku bisa memberi value untuk banyak orang di sekitarku.

Salam hangat dari Manchester (yang hari ini cukup hangat)

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Back to Uni Part 1

Ngga terasa sekarang aku udah 6 bulan di Manchester. Tandanya, hanya sisa 6 bulan lagi masa studiku di sini. Semester kedua akan berakhir dalam 2 bulan dan masa-masa kritis, alias disertasi akan dimulai. Having been through it all, kali ini aku mau sharing tentang persiapan kuliah di luar negeri. Sebetulnya ini adalah lanjutan post yang aku buat beberapa bulan yang lalu tentang the real deal of studying overseas. Untuk kamu yang udah baca dan akhirnya memutuskan untuk berkuliah di luar negeri, semoga post ini bisa membantu kamu dalam menyiapkan segala requirements-nya 🙂

Do the Homework: Browse the Internet

Hal pertama yang wajib kamu lakukan adalah: browse the internet untuk mencari kampus dan jurusan yang kamu minati. Ada ratusan jurusan berbeda yang ditawarkan oleh universitas-universitas di seluruh dunia. Master degree is a big deal, jadi jangan asal-asalan memilih. Pastikan kamu memang tertarik banget dengan jurusannya, supaya belajarnya pun lebih enjoy. Beberapa jurusan ngga mengharuskan mahasiswanya datang dari jurusan yang sama, contohnya jurusanku (Innovation Management and Entrepreneurship). Jadi kamu bisa lebih bebas mengeksplor berbagai bidang ilmu. Tapi, menurutku kamu juga harus consider kira-kira nantinya kamu bisa seberapa cepat catch up dengan materi yang diajarkan. Or else, you have to work harder than anyone else (and I’m not saying that this is a bad thing).

Biasanya di setiap website university, ada contact yang bisa dihubungi kalau kamu ingin bertanya lebih lanjut tentang suatu hal. Do not hesitate to contact them. Atau, kamu bisa berkunjung ke pameran pendidikan luar negeri yang diadakan di Indonesia untuk bertanya langsung ke representatifnya. Tips aku untuk kalian yang mau datang ke pameran pendidikan, cari tahu dulu kampus apa aja yang datang di sana and then do your homework: browse the internet. Kamu sebaiknya punya target stand university apa yang mau kamu datangi dan apa yang mau kamu tanyakan (which should be beyond the information that you can look up in the internet).

Persiapan Dokumen

Setelah menentukan target jurusan dan universitas (do have more than one, just in case), saatnya menyiapkan dokumen. Ada tiga hal umum yang pastinya akan kamu butuhkan: nilai IELTS, ijazah dan transkrip nilai, dan paspor. Di section berikutnya aku akan membahas lebih detail tentang IELTS. Untuk ijazah dan transkrip, ngga usah khawatir kalau nilai akademik kamu kurang bagus. Persyaratan untuk bisa mendapat unconditional offer ngga harus lulus dengan predikat cumlaude, bahkan dengan IPK di bawah 3.0 pun bisa apply dan punya kesempatan untuk diterima di universitas yang dituju. Tapi bukan berarti jadi bisa santai-santai dan ngga peduli dengan nilai sewaktu kuliah S1. Soalnya, untuk bisa mendaftar beasiswa (LPDP, misalnya) butuh IPK at least 3.0. Dan semakin tinggi IPK-nya, semakin bisa stand out application kita dibanding application orang lain. Jangan lupa yaa, transkrip dan ijazah harus ditranslate ke dalam bahasa Inggris.

Beberapa kampus ada yang akan meminta surat rekomendasi saat pendaftaran. Ada juga yang require calon mahasiswanya untuk membuat motivation letter. Tipsnya untuk kedua jenis dokumen ini adalah jujur. Well, this sounds too naive, tapi aku termasuk orang yang ngga tenang kalau menulis rekomendasi dan motivation letter dengan dibuat-buat dan lebay. I try to be true to myself and be realistic. Aku ngga menulis “I’m going to make Indonesia as the next Silicon Valley” karena aku ngga punya cita-cita itu, walaupun motivasi seperti itu tentunya akan dilihat sebagai motivasi yang besar. I wrote my dream to have a culinary business instead.

IELTS

Tes IELTS yang aku kerjakan di tahun 2014 lalu sepertinya agak berbeda dengan IELTS yang berlaku saat ini (setauku untuk keperluan visa, sekarang harus punya sertifikat IELTS UKVI). Aku ngga terlalu paham apa bedanya, tapi semoga yang aku tuliskan disini masih relevan dengan keadaan sekarang. Aku dulu mengikuti kelas IELTS preparation, soalnya aku ngga tau sama sekali soal-soal IELTS itu seperti apa. Menurutku, ikut prep atau ngga ikut prep itu sama aja dan masing-masing ada benefits dan drawbacks-nya.

Kalau ikut prep, aku merasa jadi lebih bisa disiplin karena ada tugas jadi dipaksa untuk latihan dan at least setiap minggu ada ilmu baru yang dipelajari. Selain itu, menurutku yang paling valuable adalah aku bisa mendapat feedback dari orang yang emang paham tentang IELTS (guruku). Dari feedback itu (terutama untuk writing dan speaking section, yang ngga ada kunci jawabannya), aku jadi lebih percaya diri dan tau di bagian mana aku masih perlu improvement.

Kamu pasti akan punya waktu yang lebih fleksibel kalau ngga ikut prep (selama 2 bulan aku menghabiskan sepanjang hari Sabtuku di tempat les). Dan pastinya ngga ada biaya yang harus dikeluarkan untuk ikut programnya.

Ketika udah tes IELTS dan mendapatkan sertifikat, kalau bisa segera daftar ke universitas. Sertifikat IELTS itu ada masa berlakunya, sayang kan kalau udah bayar tes mahal dan mendapat nilai yang bagus tapi tiba-tiba hangus karena expired sebelum terpakai..?

Education Agent

Setelah semua persiapan komplit, saatnya mendaftar ke universitas tujuan. Proses pendaftaran bisa dilakukan sendiri atau melalui agent. Fyi, agent ini free of charge dan akan membantu proses pendaftaran sekolah sampai aplikasi visa. Ada cukup banyak education agent di Indonesia dan yang aku cukup familiar adaha SUN dan IDP. Ngga semua university bekerja sama dengan salah satu atau semua agen, jadi kalau kamu tertarik untuk apply via agent, cari tahu dulu apakah agent itu memiliki partnership dengan universitas tujuan kamu.

Aku pernah apply sendiri dan via agent. Menurutku ngga beda jauh experience-nya. Tapi untuk masalah pengurusan visa, assistance dari agent itu sangat membantu. Soalnya, pengurusan visa (terutama UK) cukup kompleks dan strict.

Finansial

Ngomong-ngomong masalah visa, itu terkait banget dengan masalah finansial. Kalau kamu berencana untuk self-funding, kamu harus aware bahwa jumlah uang yang akan digunakan untuk biaya sekolah dan living cost selama di luar negeri itu harus mengendap di tabungan (boleh tabungan kamu atau tabungan orangtua) selama beberapa waktu. Pelajari betul-betul persyaratan visa dari negara tujuanmu. Be aware of the fluctuative exchange rate, too.

Kalau kamu adalah pencari beasiswa, worry not! Karena sekarang ada LPDP (well, jaman sekarang siapa sih yang ngga tau LPDP?) dan ada juga pilihan beasiswa dari government negara yang mau kamu tuju. Chevening untuk UK dan Australian Awards untuk Australia, misalnya. Seek for information, terkadang university juga punya program beasiswa atau bursary (potongan biaya tuition fee) untuk mahasiswanya. Try all chances.

Okay guys, itu adalah persiapan yang harus kamu planning sebelum berangkat kuliah di luar negeri. I still have some more to discuss, so wait for my next post 🙂 Thanks for reading!

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Ethics and Norms

Dua orang sahabatku sekitar sebulan yang lalu ngga sengaja meninggalkan barang berharga mereka di bus kota di Manchester. Kerennya, mereka berdua berhasil mendapatkan kembali barang tersebut (dompet dan handphone) which can hardly happen kalau kejadiannya dialami di Jakarta. Mayoritas bus di Manchester dikelola oleh perusahaan bernama Stagecoach dan perusahaan ini memiliki mekanisme lost and found yang baik. Kedua sahabatku bisa melakukan pengaduan dan diminta untuk expect result-nya selama 3 hari. Kalau setelah 3 hari barangnya belum ditemukan juga, maka pihak pengadu diminta untuk ikhlas merelakan barang yang ia laporkan hilang.

But after all, mekanisme itu ngga akan bisa berjalan mulus tanpa adanya support dari masyarakatnya sendiri. Di dalam satu bus yang penuh bisa terdapat lebih dari 50 orang dan mereka naik-turun silih berganti. Meskipun ada cctv di dalam bus, akan sulit untuk mendeteksi siapa yang kira-kira mengambil barang yang tertinggal oleh pemiliknya. Jadi kesimpulanku adalah warga Manchester itu punya etika dan norma yang baik. Mereka ngga mengambil barang yang bukan milik mereka. Walaupun harus aku akui ngga semua warga Manchester kayak gitu, karena Manchester adalah kota dengan tingkat kriminalitas yang tinggi.

Norma dan etika ini bisa dilihat juga dari penerapan self check-out di banyak supermarket. Self check-out adalah fasilitas kasir self service dimana setiap pembeli meng-scan barang belanjaannya sendiri, termasuk menghitung sendiri berapa banyak kantong plastik yang ia beli (peraturan kantong plastik berbayar ini udah dimulai sejak sekitar bulan Oktober tahun lalu). Setiap item tentu ada barcode-nya dan kalau ada barcode yang belum di-scan pasti akan men-trigger sensor yang terletak di pintu supermarket untuk berbunyi. Tapi, ada beberapa item yang dijual tanpa barcode, seringnya fresh bread, sayur, dan buah sehingga pembeli harus meng-input jenis roti atau buah dan sayur yang dibeli beserta jumlahnya. Kebayang ngga sih kalau banyak orang yang curang dan ngga meng-input item yang ngga ber-barcode ke dalam daftar belanjaan mereka?

I’m not saying orang Indonesia ngga punya moral dan etika yang baik lho! Tapi aku merasa belum merata aja kesiapan orang-orang Indonesia untuk bisa seperti di sini hehehe. Yuk makanya kita harus semangat membangun bangsa yang lebih baik lagi, dimulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat 😀

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Belajar Berdagang

Berawal dari wejangan seorang teman sekelasku, aku sedikit demi sedikit menyicil persiapan bisnis kuliner yang sejak lebih dari setahun yang lalu aku rencanakan. Tiba-tiba seminggu yang lalu temanku bercerita bahwa ia akan membuka stand makanan di Indonesia Winter Food Bazaar dan bersedia kalau ada partner yang mau join. Betul kata orang, opportunity comes to those who prepare. Aku pun langsung deal saat itu juga kalau aku mau ikut patungan membeli stand dan berjualan di sana. Kami akhirnya berjualan berempat, setelah menarik dua orang teman lain untuk bergabung.

Aku meniatkan eksperimen berdagang yang pertama kalinya ini sebagai proses belajar, bukan 100% untuk dapat untung. Walaupun aku tetap berharap dapat untung juga supaya first impression-nya bagus dan aku semangat untuk terus berdagang di kemudian hari. Aku merasa udah terlalu lama menunda untuk memulai berbisnis dan salah satu resolusiku di tahun 2016 adalah: no wacana. Bismillah, kesempatan yang datang tanpa dikira-kira itu langsung aku ambil.

Try everything and fail fast

Sebelum betul-betul terjun ke dunia berdagang dan bisnis, aku perlu punya pengalaman dan perlu rehearsal. Aku juga harus yakin bahwa ini adalah hal yang aku pengen lakukan setiap hari seumur hidupku seusai studi S2 nanti. Dan kesempatan ini adalah ajang gladi resik dan re-konfirmasi cita-cita dan tujuan hidupku.

Aku memulai dengan prinsip stay within my affordable loss. Affordable loss-ku saat itu adalah menjual makanan yang kalau ngga laku, aku bisa menghabiskannya sendiri (bisa disimpan dan bisa aku makan nantinya) dan modal yang ngga lebih dari £40. 

Mempersiapkan dagangan itu capek. Tidur larut, bangun pagi demi semua masakan matang tepat waktu. Menjualnya pun bukan perkara mudah. Dari mulai banyaknya pilihan (kompetitor, walaupun kita ngga secara langsung berkompetisi), calon pembeli yang gagal beli, dan lain-lain. Awalnya pun deg-degan, takut jualannya ngga laku. Tapi alhamdulillah satu persatu ada yang beli juga, meskipun supply tetep melebihi demand. Tapi toh even the most profitable company in the world aja ngga selalu terjual habis barang dagangannya, ya kan?

Profit yang aku dapat dari jualan kemarin lumayan banget. Bisa untuk nambahin uang liburan easter break nanti. But that’s not the most important thing.

  

Intinya I’m so glad i took the chance dan memulai ini semua. There’s a satisfaction which is hard to be explained when someone buy what you sell. Dan yang juga penting, harus ramah dengan pembeli ataupun calon pembeli. Courtesy and friendliness are kings. 

Aku belum jadi expert di bidang wirausaha dan jalanku masih teramat panjang. And hopefully, I won’t ever stop 🙂 see you soon on September!

Ps. Follow ya instagram @sourceofblessings thank you!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Makanan Halal di Manchester

Terlepas dari isu yang lagi hangat akhir-akhir ini tentang jilbab halal, aku kali ini mau share tentang makanan halal di Manchester (ngga bisa digeneralisasi untuk seluruh UK, tapi beberapa kota lain di UK are pretty much the same as Manchester).

Makanan halal, baik di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim maupun di negara lain, merupakan hal yang tricky. Buatku, makanan halal bukan hanya yang ngga mengandung pork, tapi juga rhum, red wine, white wine, dan lain-lain. Di Indonesia pun banyak makanan yang berpotensi ngga halal (dan jelas-jelas ngga ada logo halalnya, tapi kita cenderung merasa safe karena kita di Indonesia, negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim). Contohnya, saus spaghetti yang dimasak dengan campuran red wine, roti yang proses pembuatannya menggunakan ragi yang ngga halal, coklat dengan gelatin babi, dan cake yang mengandung rhum atau alkohol. Aku pun masih suka cuek dan asal makan, tapi semoga ke depannya bisa lebih aware dan selektif (di Indonesia dan di Manchester).

Restoran

Di Manchester,tepatnya di daerah Rusholme, ada sebuah jalan yang disebut Curry Mile. Di sana terdapat beragam restoran India dan timur tengah berlogo halal. Bahkan satu blok sebelum Curry Mile, Subway-nya pun halal. Di sekitar Curry Mile juga ada supermarket halal dan beberapa butcher halal. Pokoknya kalau di Curry Mile, rasanya ngga seperti ada di Manchester. Aku beruntung banget karena tinggal ngga jauh dari Rusholme, bisa jalan kaki.

Harga makanan di restoran-restoran Arab, Pakistan, India, dan sekitarnya affordable banget. Sekali makan ngga sampai £10 dan porsinya banyak banget. Aku selalu makan setengah porsi dan sisanya aku bawa pulang. Aku suka banget segala jenis makanan Arab dan ngga pernah anti sama masakan berbahan dasar kambing, jadi semua yang tersedia di Curry Mile memuaskan banget buatku 😀 Selain makanan authentic Arab, ada juga fast food (ala KFC plus kebab dan shawarma) dan dessert shop. Kalau beli fast food tentunya lebih murah lagi..  sekitar £3 bisa untuk 2 kali makan.

Beberapa restoran Cina dan Korea juga menyediakan menu halal (they literally memisahkan proses pembuatan makanan yang halal dan yang non halal). Yang agak jarang berlogo halal itu restoran Jepang, sama sih kasusnya dengan di Indonesia hehe, padahal makanan Jepang enak banget!

Di salah satu toko kue dan patisserie, pelayannya helpful banget. Aku pernah bertanya apakah blackforest cake-nya mengandung rhum atau engga dan dia menjawab “no, but it does contain alcohol”. Temanku pun bilang kalau pelayan di sana dengan sabar menjelaskan kandungan-kandungan setiap cake di etalase dan memilihkan cake yang (secara kandungan) halal. Toko ini pun melayani pesanan kue customize, kita bisa memberikan list bahan-bahan apa aja yang ngga boleh ada di cake yang kita pesan.

Bahan Makanan di Supermarket

Kalau bener-bener mencari setiap bahan makanan yang ada logo halalnya, dijamin ngga akan makan apapun selama setahun di UK. Untuk makanan-makanan seperti daging, ayam, bakso, dan makanan impor logo halal masih bisa ditemukan. Tapi kalau biskuit, roti, mentega, coklat, susu, dan lain-lain, berdoa aja supaya makanan yang dibeli tergolong halal. Aku sendiri selalu mencari yang ada logo suitable for vegetarian-nya (walaupun ini ngga berarti bebas dari alkohol). But that’s the best that i can get.

Mencari makanan halal di Manchester ngga semudah di Indonesia, tapi ngga berarti sulit juga. I can’t be as strict as i was back home, tapi toh emang jangan dibikin repot. As long as we try our best, insya Allah aman 🙂 (ini ngingetin diri sendiri juga hehehe)

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Ayah Bunda Scholarship

ABS alias Ayah Bunda Scholarship adalah bercandaanku setiap ditanya “sponsornya dari mana?” Berada di tengah-tengah puluhan orang awardee beasiswa LPDP, kadang pertanyaannya langsung “anak PK berapa?” Supaya ngga awkward, aku suka menjawab “ngga LPDP nih, anak ABS..”

Orang-orang kadang beranggapan bahwa anak-anak ABS itu hidupnya mewah dan carefree. Some of them (some of us, to be exact) do. But the rest (including me) is just thankful enough to be able to study abroad and try really hard not to spend too much money in living cost. Kalau mahasiswa lain yang dibiayai oleh sponsor biasanya mendapat living allowance per bulannya £800-£1000. Aku cukup strict di budget bulanan yang aku tentukan sendiri: akomodasi £412, biaya hidup £200 plus minus 10%, dan £50 untuk ditabung supaya bisa jalan-jalan saat break. In total, secara keseluruhan kurang dari £700 which means i don’t have a budget that exceeds the amount of allowance that those who hold a scholarship get.

Jadi, persepsi orang tentang anak ABS yang suka belanja itu kurang tepat, or at least ngga bisa digeneralisasi. After all, semua kembali ke pribadi masing-masing. In my case, i’m trying to manage my money as efficient as possible. Malah kalau bisa, dapat uang tambahan hehehe 😀

♥ Atiqah Zulfa Nadia