Mainnya Kurang Jauh

Semenjak beberapa bulan yang lalu pindah ke kontrakan, karena rumah sedang direnovasi, jadi semakin terbuka akan realita kehidupan. Mungkin selama ini ternyata mainnya kurang jauh. Atau hidupnya terlalu nyaman, dikelilingi dengan lingkungan yang nyaman juga. Jujur banyak hal yang bikin tergelitik, banyak juga yang ‘concerning’, kadang meninggalkan pertanyaan what can I do to help – tapi cuma sebatas tanya karena tentu butuh effort yang besar kalau mau beresin dari akar permasalahannya (yang mana sejak kuliah dan di pekerjaan, selalu harus menyelesaikan akar masalahnya).

Kontrakanku letaknya masih di Jakarta Selatan, kita semua paham ya, antara komplek mewah dengan perkampungan kalau di Jakarta bisa sebelah-sebelahan. Jadi meski di Jaksel yang sering dielukan warga, wilayah ini bronx banget. It was a huge struggle for me to move in.

Meskipun rumahnya spacious dan ditata supaya bisa nyaman oleh orang tuaku, tapi jarak dari satu rumah ke rumah lain cukup dekat. Jadi aku bisa dengar dengan jelas percakapan warga sekitar yang lagi ‘nenangga’. Tangisan dan teriakan bocah-bocah juga bisa kedengeran jelas dari dalam rumah. Sejak dulu ngga pernah tinggal di pemukiman macem gini. Seolah-olah rumahnya kedap suara dan warganya juga sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tetangga tapi jarang-jarang kelihatan. Nah dari bisa mendengar suara-suara di luar ini lah muncul banyak concern di kepala.

Ada tetangga dengan beberapa anak, anaknya ada yang masih kecil tapi ada juga yang sudah berkeluarga. Mereka tinggal di bangunan yang sama, entah berapa luasnya. Ngga kebayang gimana pack-nya di dalam sana, gimana gerahnya, dan gimana mereka bisa cope with each other tanpa punya banyak ruang privasi.

Anaknya yang kecil-kecil masih sekolah, dan ngga kebayang pasti sekolah online menjadi berat untuk mereka. Dari mulai harus sedia gadget, beli paket internet, sampai membuat suasana belajar yang kondusif. Anak bungsunya sering banget menangis, kadang karena hal yang menurutku sepele: mau jajan. Tapi mungkin ngga sepele untuk keluarga itu. Jajan seribu dua ribu ngga murah. Lalu bapaknya akan mulai teriak dan marah kalau anaknya terlalu rewel, ngga bisa dibilangin. Setiap beliau marah-marah, aku bisa dengar dengan jelas.

Si anak juga beberapa kali buang air kecil di depan pagar rumah, atau lari-lari di jalanan sambil telanjang. Jujur shock juga melihat kayak gini. Semoga Hannah ngga pernah lihat pas dia lagi berbuat yang kurang baik. Semoga juga Hannah ngga perlu lama-lama besar di lingkungan seperti ini. Bukannya pilih-pilih, tapi memang harus membuat lingkungan anak sebaik mungkin kan?

Aku pun bukan nyalahin orang tua dari anak tadi, tapi kondisi mereka juga membentuk keluarganya jadi seperti itu. Mungkin boro-boro mikirin bagaimana cara parenting yang baik, mereka masih sibuk mengurus basic needs-nya dan setiap hari adalah struggle tersendiri untuk mereka. Who knows. Apa yang aku lihat pasti sudah bentuk akumulasi dari banyak hal. Hidup kan banyak tiny bits and pieces-nya.

Kadang mencoba memahami dan memaklumi, walaupun kadang spaneng juga. Tapi yang jelas aku sadar, point of view-ku jadi lebih luas semenjak melihat fenomena-fenomena di lingkungan sini. Entah gimana caranya, aku berharap hal-hal kayak gini bisa membaik. Kayak sila ke-5, walaupun kayaknya terlalu naif ya? Makanya pusing juga kalau berusaha cari solusi.

Yaaa, semoga pengalaman di sini bisa membuatku menjalani hidup dengan lebih baik, memandang segala sesuatu dengan lebih luas, ngga egois, dan apa segala pilihan yang kubuat di hidup bisa berkontribusi ke sekitar – apapun bentuknya. Dulu mungkin aku hanya dengar, tapi dengan melihat sendiri, experience sendiri, it hits me differently. Dulu mungkin mainnya memang kurang jauh…

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisement

The World that Doesn’t Revolve Around Us

This morning I contemplated as I read through my Twitter timeline. The heated topic was our minister of education who is said to be surprised by the inequality in the country, especially in terms of infrastructure and education. I don’t know whether the media framed him to be that surprised or he truly is that innocent. I tweeted, did he really just knew that not all regions in Indonesia has 24 hours electricity a day?

Many people correlated the minister being ignorant to the fact that he has spent his education overseas. I do not agree. It might be a factor, but it shouldn’t be. I have told my opinion through Twitter but I guess I want to talk about it a little deeper, thus I write this post. I won’t talk about the minister in person, I’m more interested in the context: we often forget or even unaware of the existence of the world that does not revolve around us.

It is a very big world out there and our life is just a small part, we collide with some other’s life sometimes and there are parts that we can never touch. Either it is too far or too irrelevant. I think it must be a component of education, how we must at least understand that those untouchable parts exist. Even better if we can interact with them. There, we build a sense of empathy.

We can live in the capital city and able to see the problem people in rural area is facing. We can be so educated and understand the way people who do not go to school think. We can be the socialite and know the struggle of the poor. The heart and the mind needs to be left open to things that are beyond our daily life.

My mother always teach me that a child, though lives comfortably, has to learn to strive too. No matter how much we put an effort to build a comfortable life for our kids, we must not forget that they have to understand the reality of life – there are other worlds that do not evolve around them. Long time ago I read a blog post from Adhitya Mulya (it’s an old post, I can’t seem to find it now) and what he said really stick to my head. Shortly, let the children understand both comfort and discomfort. For instance, we provide them with car and teach them to ride a public transportation, too. Make them understand that comfort and luxury is not compulsory but a choice. They can choose to take the uncomfortable path once in a while or often and there they will learn empathy. They can touch the part that is far from their everyday life and it opens their view of this world.

Ahh, I know the world that does not revolve around us includes those who are above the sky. It would be nice, too, to touch it once in a while 🙂

Love, Atiqah Zulfa Nadia