Menara Balok Hannah

Pagi ini Hannah memilih untuk main susun-susun balok. Dulu bisanya cuma beberapa balok, sekarang jadi mau susun yang tinggiii. Awalnya dia kesulitan karena baloknya kecil-kecil dan bentuknya beda-beda. Kalau meletakkannya kurang pas, menara baloknya jadi kurang stabil. Semakin tinggi jadi semakin goyang.

Setiap di atas 4 atau 5 balok, di balok berikutnya seringkali menaranya roboh. Memang dasarnya temper Hannah cukup strong-willed, jadi dia kesel sendiri. Mulai deh merengek. Setelah banyak percobaan, kadang dia berhasil menyusun sampai cukup tinggi. Kadang juga gagal – tergantung seberapa tepat dia nyusunnya (tapi dia kan belum ngerti triknya).

Melihat kejadian pagi ini, aku dan Jihan membantu Hannah untuk mengelola emosinya. Pertama dengan celebrate small wins. Setiap dia berhasil menyusun balok cukup tinggi, kita apresiasi. Kita juga ajak dia untuk menghitung sudah sebanyak apa dia berhasil menyusun. Supaya dia tau bahwa sudah cukup banyak balok yang berhasil dibuat jadi menara.

Kedua dengan memberi pengertian bahwa gagal itu biasa. Seringkali kita berusaha tapi hasilnya ngga sesuai dengan keinginan. Tapi bukan berarti kegagalan adalah hal memalukan. Sedih, kesel, dan kecewa saat menerima kegagalan juga sesuatu yang wajar. Namun jangan sampai itu membuat dia menyerah. Coba lagi dan lagi.

Pada akhirnya ketika kekesalannya ngga terbendung lagi, baru deh kita coba ajak main yang lain. Sebelum beralih, kita emphasize lagi bahwa Hannah hebat sudah berhasil menyusun sekian balok dan kita bangga sekali. Sekalian kita jelasin lagi juga bahwa gagal dan kecewa itu hal yang wajar dan ke depannya mungkin akan sering dia temui kejadian-kejadian seperti itu.

Semoga Hannah bisa mengerti sehingga ia senantiasa berbesar hati, sekaligus tangguh menghadapi apapun..

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisement