Wae Rebo, Pelajaran dari Atas Awan

Sembilan kilometer jauhnya dari Desa Dintor, Desa Wae Rebo menyimpan keindahan yang sederhana. Di mana keindahan yang sama sering luput dari orang-orang yang sehari-hari menghabiskan waktu di kota modern.

Perjalananku dimulai dari Kota Labuan Bajo. Enam jam lamanya dihabiskan di dalam mobil melalui jalur lintas Flores yang berliku-liku. Berhenti sejenak selama satu malam untuk istirahat, aku menginap di sebuah tempat peristirahatan di Desa Dintor. Penginapan tersebut biasa digunakan oleh para pengunjung Desa Wae Rebo, bisa untuk sekedar makan ataupun menginap. Tidak jauh dari sana, pendakian menuju desa yang dijuluki juga dengan Kampung Di Atas Awan dimulai.

IMG_0057

Jalur pendakian di hari itu licin karena tanahnya yang basah. Bagi yang tidak biasa, medannya terhitung cukup sulit dan jauh. Di tengah jalan aku berpapasan dengan beberapa rombongan pengunjung yang sedang turun ke bawah. Kebanyakan dari mereka adalah turis mancanegara. Mereka menyapa selamat pagi (dalam Bahasa Indonesia) dan tidak lupa menyemangati rombonganku. Meskipun nyatanya perjalanan masih panjang, kata-kata semangat dari mereka semua memberikan energi baru. Sering juga aku bertemu dengan warga desa yang sedang turun untuk pergi ke pasar yang letaknya di desa lain. Mereka sudah gesit dan lincah melalui jalur trekking, tidak jarang di antara mereka yang berjalan sambil membawa barang-barang.

Aku bertemu Pak Benedictus yang turun gunung sambal membawa balok kayu seberat 20 kilogram. Dalam sehari, beliau bisa bolak-balik sampai tiga kali. Tanpa alas kaki, beliau memikul kayu dan menyusuri jalur becek yang di salah satu tepinya adalah jurang. “Percuma beli sandal, baru satu minggu sudah rusak lagi,” katanya.

Suara keceriaan anak-anak kecil bermain bola menyambut kedatanganku di Desa Wae Rebo. Saat itu sedang liburan sekolah, anak-anak pulang ke kampungnya. Di musim sekolah, desa tersebut hanya akan ditinggali oleh orang dewasa. Tidak ada sekolahan di sana. Memasuki umur SD, anak-anak kecil itu harus berpisah dari kedua orang tua mereka untuk bersekolah di desa lain. Terkadang seminggu sekali mereka pulang, kadang juga tidak. Meski bisa dibilang berasal dari pelosok negeri, ada juga pemuda-pemuda dari Desa Wae Rebo yang sudah menempuh pendidikan tinggi, sesekali kembali untuk bertemu keluarga.

Sebelum berkeliling desa, aku harus melapor dulu ke tetua di sana, semacam kepala adat, mohon izin untuk berkunjung dan menginap. Setelah diterima, aku resmi menjadi bagian dari keluarga di Desa Wae Rebo. Penduduk di sana sangat ramah dan sangat terbuka. Mereka bercerita tentang kehidupan mereka sehari-hari. Ada yang mengolah kopi, menenun, dan menganyam bambu. Selain dari pariwisata, kegiatan-kegiatan tersebut merupakan sumber mata pencaharian masyarakat di sana.

20170702_151112

Pagi hari, warga desa biasa memetik sayuran di kebun untuk sarapan. Akibat lokasinya yang berada di ketinggian, tidak banyak tanaman yang bisa tumbuh di sana. Sehari-hari mereka hanya menyantap sayur labu dan daunnya. Kadang juga mereka memasak keladi. Lauknya paling sering adalah telur dan sesekali ayam. Mereka mengolah makanannya hanya dengan garam dan gula. Tanpa bawang, merica, ketumbar, dan bumbu lainnya. Letak pasar yang jauh membuat masyarakat di sana terpaksa makan seadanya.

Saat matahari sudah mulai meninggi, anak-anak kecil mulai bermain. Para orang dewasa melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang beberes membersihkan rumah dan ada juga yang bekerja. Aku melihat warga yang menumbuk kopi, mengunyah sirih, dan menenun. Proses menenun bisa memakan waktu hingga 4 bulan. Ngga heran harga kain tenun yang dijual cukup mahal. Malam hari saat sudah gelap, semua orang masuk ke rumah masing-masing. Di sana, listrik masih menggunakan genset. Saat siang, mereka menggunakan solar panel. Keren kan, meski di pelosok sudah memanfaatkan solar panel.

Terdapat 7 rumah adat di Desa Wae Rebo, semua memiliki bentuk yang sama. Setiap rumahnya ditinggali oleh satu keluarga secara turun temurun. Rumah berbentuk melingkar tersebut biasanya diisi beberapa kamar. Kamar-kamar tersebut ditempati oleh para orang tua. Anak-anak biasanya tidur di luar kamar. Dapurnya terletak di tengah-tengah. Meski terlihat seperti hanya satu lantai, sebenarnya ada 5 lantai di setiap rumah. Lantai kedua biasanya digunakan untuk menyimpan barang-barang dan lantai paling atas digunakan untuk menyimpan persembahan bagi leluhur.

IMG_0175

Berada jauh dari kota, tanpa televisi ataupun radio, tanpa disibukkan dengan beragam teknologi dan sosial media, masyarakat Wae Rebo hidup dengan keceriaan mereka. Senyum hangat dan keramahan mereka mengingatkanku bahwa terdapat hal-hal yang lebih esensial bagi kita sebagai manusia. Gadget dan teknologi sudah terlalu banyak membuat waktu kita terbuang, sibuk dengan diri sendiri. Lupa melihat kanan kiri, tersenyum pada orang asing, menyapa orang yang tanpa sengaja bertatap mata. Padahal, ada rasa senang dan damai yang berbeda dalam berinteraksi secara langsung dengan manusia lainnya.

Wae Rebo juga yang membuatku bersyukur. Bahwa manusia, untuk bisa hidup dengan tentram dan bahagia, sebetulnya hanya perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasarnya. Tanpa perlu barang ini, barang itu, seri terbaru handphone ini, tas model terbaru merk itu, dan lain-lain. Bahwa yang sederhana itu sudah cukup memberikan kebahagiaan. Tinggal bagaimana mensyukurinya 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Weekend Getaway to Bandung

Bandung, undoubtedly, has been the favorite weekend getaway destination for people in Jakarta. Not only it is considerably close to the city but also because it offers various attractions and places to visit, including culinary and shopping destination. Who wouldn’t love to chill around the old city of Braga? Or enjoy the nature in Lembang? And some other people might just hopping from one factory outlet to another for the sake of great shopping deal (is it really a great deal, though?). Well, whatever it is your purpose to visit Bandung, it always has a story to tell.

I went to Bandung with my best friends and stayed there for 2 days and 2 nights. Be it a small city, it is so unlikely that you can visit all of the attractions and the current-popular places in 2 days. So our itinerary was quite packed. We visited 4 places, all of them are common places everyone would go if they’re visiting Bandung. Millennials are afraid of missing out something (yes, that FOMO syndrome) so there we went: Roti Gempol, The Lodge Maribaya, Farmhouse Lembang, and Dusun Bambu.

But first, I’m gonna share my accommodation in both Bandung and Lembang. The first one, which is located in Bandung, is The Attic Bed & Breakfast. Found it on Booking.com and someone else’s blog. The review is good and it is very affordable. We booked the accommodation for 2 rooms (1 shared bathroom, 1 en-suite) and it only costs us IDR 450,000. The room was comfortable and most importantly, the bathroom was very clean. It has self service kitchen for all guests to have breakfast. We arrived at the place almost in the middle of the night and thankfully the owner was still up to open the door for us. Too bad we only stayed for a night, it would have been nicer if we could spend more time there.

20170121_073848

The next accommodation is Trizara Resort. My best friends and I were looking for a place for glamping (glamorous camping). Well, that’s another what-nowadays-millennials-should-do. The most famous one is actually Legok Kondang in Ciwidey but since our plan was to explore Lembang area, we have to search for glamping site near Lembang. Luckily we found this newly opened glamping site called Trizara Resort. The tent was very comfortable, it was so warm although the rain was falling so hard during our stay. The service was good, the wifi worked quite fine. It offers free sport activity in the morning, could be zumba or yoga. The room price already includes breakfast, it was pretty much a good deal (I guess?). Our room price was IDR 1,815k. You can order a BBQ for the night, too. We all love the place very much and had a very pleasant time.

img_561120170122_092325

Roti Gempol

I heard about this place from my brother in law who spent his undergraduate year in Bandung. He said that this bread shop is legendary. I went there and tried roti gandum bakar and donat kentang. The roti gandum bakar was simply good but the donat kentang was super good. Not to mention that I love the coffee, too. It’s a small place but comfortable enough to eat in. The price was so affordable, for one loaf of bread it costs us around IDR 45k (we ordered a loaf of bread for sharing). The place is located in Jalan Gempol, it wasn’t so hard to find the place. Another plus for Roti Gempol is that the waitresses are very nice (or maybe every people in Bandung is considerable nicer than people in Jakarta?).

20170121_08042620170121_083342

The Lodge Maribaya

Went uphill from Bandung to Lembang, our destination was The Lodge Maribaya. It was the place where you can see pine woods (if it is a pine woods) and take pictures with a great scenery. But, every good picture must pay a price. To take pictures in the mountain swing, I had to pay around IDR 20-25k and queued for more than 2 hours. Not to mention that I had to stand very closely to the person in front of me to avoid anyone interrupting the line. Actually there are several spots to take the so-called good pictures. You can also take pictures in sky tree, sky bamboo (these two are similar to the one in Kalibiru), and bicycle something (I forgot the name). All of them requires you to have no phobia with height. And they require you to be patient, too. As we spent a lot of time queuing, we didn’t get much time to chill around The Lodge. We finished taking pictures at almost 2 o’clock and then ate lunch in one of the restaurant inside The Lodge. To be honest, the food was just so-so. I would prefer eating somewhere else. Make sure that you go there early enough so you don’t have to queue for too long and get exposed to too much sun.

20170121_124921

Farmhouse Susu Lembang

This place is perfect for family. It has many cute spots for taking pictures and many fun activities for the kids. Visitors can rent clothes and wear it to wander around. There is hobbit house which is pretty similar to the one in New Zealand, where people can take picture. The kids would love to play with animals. There are rabbits, sheep, cow (and baby cow), mini hedgehog, guinea pig, lizards, birds, and so on. Beware as the smell would be displeasing. There are many shops and restaurants inside the area and you can buy souvenirs too. The place is less crowded than The Lodge and perfect for chilling around. As I grow older I feel like chilling around is equally important to doing some physical activities that triggers your adrenaline as it gives me quality time with my loved ones (nah, it was just me trying to find an acceptable reason for being lazy). There is also a love bridge, similar to the one famously known in Paris and Korea, where you chain a padlock to a bridge. You have to write your own name and your lover’s name on the padlock. It’s super cheesy and a waste of money, indeed. Even in Paris it was actually damaging the bridge and the padlock was finally removed from the bridge. Overall, I recommend this place to a family with little kids. They’re gonna love it.

20170121_16470020170121_170151

Dusun Bambu

This is another popular place in Lembang and one will need the whole day to explore every area in Dusun Bambu. There are restaurants, food court, flower garden, and playing area where visitors can spend their time at. I was enchanted by the Alice and Wonderland labyrinth where kids can play with rabbits (this kind of thing never fails me). My best friends and I didn’t explore the whole area because we had to catch the train back to Jakarta. Thus I can’t tell much about this place either. Still, I got pictures for you.

20170122_110837

img_5642

So, that’s a wrap for my trip to Bandung. It was a very fun trip! Because, as always, journey is made by the people you travel with 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Ujung Kulon

Sebelum berangkat merantau ke Manchester, aku menyempatkan diri untuk berlibur ke salah satu tempat wisata di Indonesia, yaitu Ujung Kulon. Aku pergi kesana bersama tiga orang temanku: Andyna, Cema, dan Irin. Supaya praktis, kami ikut rombongan open trip untuk berlibur di sana. Untuk yang belum familiar dengan open trip, sebetulnya open trip itu sama dengan tour rombongan. Jadi akan ada satu group berisi sekitar 16 orang yang akan berlibur bersama, mengikuti itinerary yang sudah dirancang oleh operator open trip. Menurutku, ikut open trip ada plus dan minusnya, tapi overall, untuk orang-orang yang ngga mau ribet, open trip bisa jadi pilihan.

Ujung Kulon adalah kawasan taman nasional, tempat badak bercula satu dilindungi. Di sekitarnya terdapat beberapa pulau kecil, sebagian besar ngga berpenghuni. Untuk sampai di Ujung Kulon, aku menyebrang laut dengan perahu dari sebuah desa bernama Sumur. Pagi-pagi buta aku dan rombongan tiba di Desa Sumur dan merenggangkan kaki sejenak sesudah perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam. Saat kapal datang, kami pun langsung melompat naik dan perjalanan laut pun dimulai… Ahoy!

Ternyata butuh waktu tiga jam dari Desa Sumur untuk sampai di pulau yang akan kami datangi pertama, yaitu Pulau Peucang. Perjalanan yang panjang betul-betul dibayar lunas oleh pasir putih, air biru, dan keindahan alam bawah laut di sana. Hewan-hewan seperti rusa dan babi hutan berkeliaran bebas di pulau yang hanya dihuni beberapa orang itu. Aku excited banget karena udah sekian lama absen melihat pantai dan laut. Fasilitas di Pulau Peucang cukup baik, ada mushola dan juga kamar mandi yang disediakan untuk pengunjung.

DSCN0394

Seharian hingga mendekati petang kami habiskan untuk snorkeling di lautan dan menikmati keindahan alam bawah laut bersama ikan-ikan lucu. Betul-betul jatuh cinta dengan keindahan alamnya.

Aku dan rombongan trip bermalam di sebuah pulau bernama Handeuleum. Seharusnya kami semua tidur di tenda tapi aku dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk membayar lebih supaya bisa tidur di dalam rumah milik penjaga pulau. Langit malam itu penuh dengan bintang, ngga ada polusi dan lampu dari gedung tinggi yang menghalangi cahayanya.

Kegiatan kami di hari kedua adalah berkano di Danau Cigenter selama satu jam. Selama berkano, rasanya syahdu dan tenang. Kanan dan kiri kami adalah hutan dengan banyak pepohonan. Menurutku, pemandangan selama berkano kurang menarik. Andaikan di kano ada yang bernyanyi sambil main gitar, seperti kalau naik gondola di Venesia, mungkin perjalanannya jadi lebih menyenangkan.

IMG_5373

Spot snorkeling lain selain Pulau Peucang adalah Pulau Badul. Tanpa perlu terjun ke dalam air, aku bisa melihat karang-karang di dalam laut karena airnya jernih banget. Laut di sekitar Ujung Kulon memang belum (dan semoga ngga akan) tercemar oleh sampah dan limbah. Aku melihat masih banyak orang yang belum aware tentang masalah lingkungan hidup. Ketika tourism di Indonesia semakin membaik, berbagai lokasi wisata sekarang bisa didatangi dengan mudah, menurutku edukasi tentang lingkungan penting untuk semakin disosialisasikan. Sayang aja, ketika akhirnya keindahan itu bisa dinikmati, malah jadi rusak karena ulah manusia. Semoga kita semua adalah traveler yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, ya!

Last but not least, aku mau berbagi tips packing untuk open trip 2 hari 2 malam yang terinspirasi dari salah satu sahabatku, Irin.

What and how much to bring :

  • Kaos 2 buah : untuk tidur (yang juga digunakan untuk keesokan harinya) dan untuk cadangan kalau basah atau kotor
  • Celana 2 buah (sama seperti poin sebelumnya)
  • Kerudung 2 buah, cari warna netral yang match untuk segala warna
  • Bergo (kerudung langsung pakai) 1 buah
  • Underwear
  • Handuk
  • Alat mandi
  • Alat solat
  • Kacamata dan perlengkapan pantai (topi, sunblock)
  • Outer, supaya keliatan stylish di foto
  • Kain bali, ini multi fungsi, bisa untuk selimut dan untuk cover bagian kaki saat pakai celana renang
  • Cloth hanger (ini penting untuk menggantung handuk atau menjemur baju yang basah)

Pastikan semua muat di dalam satu tas ransel ya! Selamat berlibuuur

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia