Sabtu (dan hari-hari lainnya) Bersama Bapak

Kalau lagi di luar rumah, misalnya lagi jalan-jalan, anakku memang cenderung lebih nempel sama bapaknya. Kami memang membagi role-nya demikian, bapak pegang anak dan ibu mengurus barang-barang supaya ringkes dan ngga ada yang ketinggalan. Seringnya juga anak digendong sama bapak yang lebih strong, terutama kalau lagi jalan-jalan di alam. Sejak hamil lagi, semakin jarang aku yang pegang karena dia makin lincah dan lari terus kemana-mana.

Jadi beberapa kali sempet dikomen “wah anaknya deket banget ya sama bapaknya”.. terus bapaknya agak keki harus respon apa. Mungkin takut ngga enak sama ibunya (?) Karena orang mikir anaknya lebih dekat sama bapak. But honestly, aku biasa aja dan malah cenderung seneng. Alasan pertama ya pasti karena aku yang sehari-hari bersama anak, tau juga ada momen-momen dia lebih lengket sama aku. Jadi ngga ada istilahnya saingan antara anak lebih sayang ibu atau lebih sayang bapak. Alasan kedua karena sekarang ini kita banyak diingetin tentang pentingnya peran ayah dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Jadi kalau anak dekat dengan bapaknya tanpa butuh effort, ya seneng dong. Mudah-mudahan banyak manfaatnya untuk dia kelak.

Mungkin masih kurang common ya, bapak-bapak yang sangat dekat dengan anak. Atau kita sudah terlalu lama berada pada pandangan anak lengket sama ibu, bapak kerja cari uang. Yang mana sekarang semua udah berubah dan terkadang masih terasa ‘asing’. Tapi buat yang udah paham, justru ini hal baik.

Sekarang ini sudah mulai banyak orang yang paham dan mempraktekkan. Terutama ya di keluarga-keluarga muda yang cukup terekspos dengan edukasi parenting. Terus gimana kalau ayahnya nun jauh di sana? It might be more challenging, tapi bukan berarti mustahil. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun sempat terpisah cukup lama tapi mereka tetap sangat dekat. So again, maybe it’s about sincerity, quality instead of quantity and distance? Semoga ke depan makin banyak lagi bapak-bapak yang terlibat dalam pengasuhan anak yah!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisement

Menara Balok Hannah

Pagi ini Hannah memilih untuk main susun-susun balok. Dulu bisanya cuma beberapa balok, sekarang jadi mau susun yang tinggiii. Awalnya dia kesulitan karena baloknya kecil-kecil dan bentuknya beda-beda. Kalau meletakkannya kurang pas, menara baloknya jadi kurang stabil. Semakin tinggi jadi semakin goyang.

Setiap di atas 4 atau 5 balok, di balok berikutnya seringkali menaranya roboh. Memang dasarnya temper Hannah cukup strong-willed, jadi dia kesel sendiri. Mulai deh merengek. Setelah banyak percobaan, kadang dia berhasil menyusun sampai cukup tinggi. Kadang juga gagal – tergantung seberapa tepat dia nyusunnya (tapi dia kan belum ngerti triknya).

Melihat kejadian pagi ini, aku dan Jihan membantu Hannah untuk mengelola emosinya. Pertama dengan celebrate small wins. Setiap dia berhasil menyusun balok cukup tinggi, kita apresiasi. Kita juga ajak dia untuk menghitung sudah sebanyak apa dia berhasil menyusun. Supaya dia tau bahwa sudah cukup banyak balok yang berhasil dibuat jadi menara.

Kedua dengan memberi pengertian bahwa gagal itu biasa. Seringkali kita berusaha tapi hasilnya ngga sesuai dengan keinginan. Tapi bukan berarti kegagalan adalah hal memalukan. Sedih, kesel, dan kecewa saat menerima kegagalan juga sesuatu yang wajar. Namun jangan sampai itu membuat dia menyerah. Coba lagi dan lagi.

Pada akhirnya ketika kekesalannya ngga terbendung lagi, baru deh kita coba ajak main yang lain. Sebelum beralih, kita emphasize lagi bahwa Hannah hebat sudah berhasil menyusun sekian balok dan kita bangga sekali. Sekalian kita jelasin lagi juga bahwa gagal dan kecewa itu hal yang wajar dan ke depannya mungkin akan sering dia temui kejadian-kejadian seperti itu.

Semoga Hannah bisa mengerti sehingga ia senantiasa berbesar hati, sekaligus tangguh menghadapi apapun..

❤️ Atiqah Zulfa Nadia