No Longer Sparks Joy

Akhir-akhir ini kalian yang follow instagramku mungkin ngeh kalau aku lagi sering bikin garage sale. Yup, kebetulan di rumah lagi hobi beres-beres dan banyak ditemukan barang dengan kondisi baik tapi udah ngga pernah dipakai lagi. Dibuang sayang, selalu ngerasa ‘nanti siapa tau butuh..’

Sebetulnya aku udah membiasakan diri untuk decluttering dari jaman masih kuliah. Prinsipnya new clothes in, old clothes out. Udah pakai prinsip begini aja, masih numpuk barangnya. Terutama barang-barang dengan value lumayan, rasanya kok sayang kalau dikasih ke orang lain (dulu belum kepikiran tuh garage sale di instagram, carousell juga belum ada). Ditambah lagi, aku terus menerus mensugesti diri kalau suatu hari barang itu akan berguna lagi.

Detachment emang butuh proses panjang ya (at least buat aku pribadi), sampai akhirnya bisa merelakan banyak barang untuk ngga jadi milik kita lagi. Satu hal yang mendorong aku untuk konsisten beberes, walaupun masih sedikit demi sedikit, adalah fakta bahwa kita akan dimintakan pertanggungjawaban atas segala hal di akhirat nanti, termasuk tentang barang-barang di lemari. Aku meyakini itu baru-baru ini aja sih. Ditambah lagi dengan konsep minimalism yang belakangan populer.

Selain itu, aku juga membiasakan diri untuk berpikir bahwa barang-barang yang utilisasinya rendah ini akan jadi lebih bermanfaat kalau dimiliki oleh orang lain. Purchase value suatu barang akan impas kalau digunakan dengan maksimal kan (imagine like buying a machine for a plant, pasti harus dipakai sesering mungkin supaya output banyak dan akhirnya capital-nya ‘terbayar’). Well the analogy might be a bit off, but you get what i mean.

Ada banyak cara buat beberes, aku yakin tipsnya macam-macam di internet. Kalau dari aku, mulai aja pokoknya. Lagi buka lemari terus ngeliat baju yang udah ngga kepake, langsung keluarin aja. Jangan ditunda, nanti malah kebanyakan mikir. Sempet juga dulu ada baju yang agak sayang untuk disumbangin karena masih bagus dan siapa tau nanti kepake, tapi ternyata setelah baju itu ngga ada aku ngga nyariin sama sekali kok.

Nah setelah beberes, bisa 2 pilihan: bajunya disumbangin (dikasih ke orang lain) atau dijual lagi dengan harga murah. Ngasih barang2-barang bekas ngga melulu harus ke yayasan, panti asuhan, atau panti dhuafa. Bisa juga kasih ke saudara atau kerabat yang kira-kira cocok. Jual preloved sekarang udah bisa lewat banyak channel, seperti Carousell, OLX, dari instagram juga bisa, atau bisa langsung jual ke thrift shop.

Intinya buat aku, decluttering adalah salah satu kegiatan menyenangkan. Kalau rumah ngga banyak barang tuh rasanya enak. Plong gitu. It takes time indeed, beberes tuh ngga bisa sejam dua jam selesai. Capek, tapi puas rasanya. I don’t recommend you to do it all at once, kayak yang tadi kubilang, bertahap aja. Satu lemari dulu, lanjut ke lemari lain, dan seterusnya. My inner peace comes through this also, hopefully it works the same for you guys 🙂

♥️, Atiqah Zulfa Nadia

One thought on “No Longer Sparks Joy

  1. Aku ngerombeng barang udah byk banget tp pny orang rumah, hahaha. When it comes to my own craps, I still have the problem on how to be apart from all of them, hiks. Padahal plg lambat awal tahun depan udah kudu beres lho. Hanya menyisakan barang yg bener2 dipake sehari2.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s