Manusia Ada-ada Saja

Beberapa hari yang lalu, waktu tugas ke luar kota, selama di hotel aku selalu nonton acara-acara tentang hewan yang ada di channel Natgeo Wild. Terasa banget keajaiban ciptaan Tuhan ketika tau keistimewaan dari setiap spesies yang ada di bumi. Contohnya, hiu yang bisa berenang cepet banget dan bentuk rahangnya didesain pas banget untuk menangkap mangsa. Yang lebih menarik lagi, mereka tuh punya sifat-sifat kayak manusia juga. Bisa cemburu, marah, sedih.. ada yang galak, ada yang sabar, dan lain-lain.

Binatang aja kayak gitu, apalagi manusia yang lebih kompleks. Manusia tuh ada-ada aja kelakuannya. Semakin dewasa, ketika kita makin banyak bergaul dan punya bermacam pengalaman, otomatis pandangan dan pola pikir kita jadi meluas. Dulu aku sempit banget mikirnya dan sering mengkotak-kotakkan orang dengan traits tertentu. Misal, dulu aku beranggapan kalau perempuan merokok itu tergolong nakal. Sekarang? Banyak temanku (perempuan) yang merokok tapi mereka baik, enak diajak ngobrol, berprestasi juga.

Makin ke sini, aku jadi lebih tertarik untuk menilai orang dari banyak sisi. Apa yang dia lakukan, bagaimana dia bersikap, dan yang paling penting, kenapa dia seperti itu. Kepo banget ya? Tapi buat aku ini hal yang menarik sih.. karena setiap orang punya alasan untuk perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan. Kadang juga emang bawaan dari lahir aja, sih. Aku kepo bukan untuk ngejudge, simply pengen tau aja karena human’s emotion and behavior tuh menarik. Dan somehow ini melatih empati, biar ngga asal mengkotak-kotakkan orang lain dan asal ngejudge. Plus, jadi bisa senantiasa berprasangka baik ke orang lain.

Contohnya baru-baru ini temanku cerita tentang si A yang katanya rakus. Kalau ada makan-makan di kantor, dia ambil paling banyak dan kalau ada sisa pun dia bungkus paling banyak. Temanku ini ceritanya sambil sedikit emosi. Karena menurut dia, itu kurang beretika.. harusnya ambil secukupnya aja. Kan masih ada yang lain yang ingin makan dan bungkus juga. Nah cerita ini bikin aku wonder, kenapa si A kayak gitu. Apakah emang doyan, suka makan, atau di rumahnya banyak adik-adiknya dan dia suka berbagi makanan dari kantor ke mereka, atau dia ngekos dan pengen berbagi ke tetangga kosnya, atau simply value yang dianut temanku (tentang etika makan bersama) berbeda dengan value yang si A punya. Setiap individu, keluarga, kelompok masyarakat pasti punya value yang dianut dan bisa jadi berbeda satu sama lain. Buat temanku mengambil makanan secukupnya itu value yang penting, bisa jadi untuk si A itu value yang biasa aja. Dia ngga merasa ada yang salah dengan hal itu.

Sebenarnya ini cukup relate juga dengan apa yang harusnya kita lakukan sebagai manusia. Aku pernah denger ceramah tentang berprasangka baik terhadap orang lain. Intinya, kalau kita punya prasangka buruk ke orang lain, langsung cari 70 alasan yang bisa membuat prasangka buruk itu hilang. Kalau udah 70 dan masih belum ada yang make sense, maka yakin aja dalam hati bahwa orang tersebut punya alasan tersendiri yang kita ngga tahu. Jadi even kita ngga nemu alasannya, kita tetep ngga boleh berprasangka buruk. Kebayang kan repotnya nyari 70 alasan yang ujung-ujungnya kita harus berprasangka baik anyway. Mending ngga usah punya prasangka buruk makanya 🙂

Setiap orang itu unik, tingkah lakunya suka ada-ada aja. Bisa nyebelin, bisa menyenangkan. Ada yang nyebelin terus. Ada yang moody. Ada yang lempeng banget hidupnya kayak ngga pernah diterpa cobaan. Selama bisa, ya dimaklumi aja. Udah sifatnya begitu, dia lagi ada masalah, lagi PMS, lagi kesenengan karena kebanyakan makan gula, punya value berbeda, dan lain-lain alasannya. Kalau ditahap ngga bisa memaklumi lagi, jaga jarak sebisa mungkin. Supaya kita ngga sebel amat sama itu orang dan bikin orang itu balik sebel ke kita. Karena memang ngga semua orang bisa cocok. Tapi ngga cocok bukan berarti musuhan.

Yang ada-ada aja kayak gini, enaknya dibawa asik aja 🙂

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

What I’ve Learned about Career

Ada yang pernah baca cerita tentang Lucy and why she’s unhappy? Kalau belum, bisa dibaca di sini:

https://waitbutwhy.com/2013/09/why-generation-y-yuppies-are-unhappy.html

Sebaiknya, baca dulu cerita Lucy sebelum melanjutkan baca post ini ya. Soalnya akan berkaitan.

Nah, apa yang dialami Lucy pernah terjadi di aku waktu baru lulus S1 dan mulai bekerja di pekerjaan pertamaku. Singkat cerita, dulu aku pikir cari kerja yang bagus dengan benefit yang melimpah itu gampang. Aku selalu look up ke pekerjaan orang tua ku dan bagaimana kehidupan yang aku jalani saat itu. Jadi, aku punya ekspektasi yang tinggi terhadap karir dan pekerjaan dan berharap kesuksesan yang instan (sangatlah mental millenials). Dan realitanya sama sekali berbeda.

Awalnya ada rasa “duh kok nasibku ngga sebagus temen-temen yang lain..” atau ngga proud dengan yang aku kerjakan saat itu dan pengen banget dapet pekerjaan yang lebih bergengsi. Atau at least punya pekerjaan yang aku suka dan aku bangga ngejalaninnya. Tapi setelah aku memutuskan untuk lanjut S2, akhirnya jadi lebih santai. Ngga lagi interview sana sini, pokoknya fokus di pekerjaanku waktu itu dan mempersiapkan banyak hal untuk kuliah lagi. Mungkin karena saat itu aku jadi punya target yang exciting ya, dan menganggap kerja cuma iseng sambil menunggu waktu kuliah tiba.

Beberapa saat sebelum pulang dari S2, aku udah niat bahwa sampai di Indonesia aku harus langsung produktif. Makanya waktu itu aku langsung apply untuk magang di salah satu startup. Sembari magang, aku juga apply kerja. Ada 2 perusahaan FMCG yang aku ikuti proses rekrutmennya saat itu dan salah satunya adalah tempatku bekerja saat ini. Nanti-nanti mungkin aku akan cerita tips buat tes kerja berdasarkan pengalaman selama ini.

Well, it’s not the best company in the world or even in the country. Tapi sekarang aku lebih serius meniti karir di tempat aku bekerja. Aku suka dengan apa yang aku kerjakan, bosku selalu develop aku dan percaya kalau aku mengerjakan tugas-tugas yang menantang. I’m not in any point where I can give you advice about achieving a particular position at the office or about becoming the best employee. Tapi ada beberapa take out dari pengalaman yang aku ceritakan tadi.

First thing first, semua orang punya timeline hidup masing-masing. Mungkin hidup kita dari kecil sampai kuliah semacam ada juklaknya ya, tapi setelah lulus kuliah tuh semua random aja. Tiap orang akan punya jalan hidup masing-masing. For some people, it’s a one lucky shot untuk dapat pekerjaan yang bagus dan sesuai keinginan. Ada lagi yang dapat kerjaan bagus, ternyata setelah dijalani jadi ngga cocok. Yang awalnya ngga suka dengan kerjaannya, lama-lama jadi enjoy juga ada. Beberapa lainnya harus pindah sana sini dulu baru ketemu yang pas. Pokoknya beragam banget ceritanya deh.

Satu hal yang temanku bilang, career is a marathon, not a sprint. After all, it’s not about the speed but about the endurance.

Kedua, setiap milestone dalam hidup pasti mengajari kita sesuatu. Pelajarannya ngga mesti relate dengan milestone itu sendiri. Misalnya, ada di pekerjaan yang kurang disukai, tapi teman-teman di kantor membuat kita paham tentang empati. Jadi harus percaya kalau apa yang kita alami saat ini akan membentuk kita yang lebih baik di masa nanti. Salah satu yang bisa dipelajari dari perjalanan berkarir adalah bagaimana menjadi profesional. Mantan director di kantorku selalu bilang, no one puts a gun on your head and force you to take this job. Jadi bekerja di tempat yang saat ini adalah pilihan kita yang dibuat secara sadar dan tanpa paksaan. Kalau ngga suka, pindah. Cari pekerjaan yang lebih baik. Jangan stay dan ngga perform. Kalau pada akhirnya memilih untuk stay, ya do our best. Jangan males, jangan ogah-ogahan, jangan mempersulit pekerjaan orang lain yang ada kaitannya dengan pekerjaan kita. Intinya, be professional. Sengga suka apapun dengan pekerjaannya, kalau kita memilih untuk stay, harus tetap perform dengan baik. Ini akan jadi nilai positif juga buat kita, karena orang lain akan lihat bahwa kinerja kita baik. It will leave them a good impression. Dan ketika akan pindah ke pekerjaan lain, recruiternya bisa mendapat rekomendasi yang positif dari teman-teman kerja kita.

Terakhir, set our own standards. Ada yang punya ambisi besar, ada yang merasa cukup dengan karir yang biasa-biasa aja. Ada yang cinta mati dengan perusahaan, ada yang bekerja sekedarnya. Ngga ada yang benar, ngga ada yang salah. Semua preferensi masing-masing orang aja. Tapi kita harus set standar kita sendiri. Mau kerja dimana, mau posisi apa, mau hidup yang kayak gimana. Do not settle for comfort, but settle to the standards we made for ourselves. Dan yang terpenting, jangan compare dengan orang lain. Karena setiap orang berbeda-beda. Rezeki juga udah ada yang atur. Live for our own personal achievement, dan untuk orang-orang sekitar yang kita sayangi.

Nah itu sedikit cerita tentang pekerjaan, yang mungkin akan berlanjut juga di post berikut-berikutnya. Satu prinsip yang selalu aku ulang-ulang; nobody in life gets exactly what they thought they were going to get, but if you work really hard and you’re kind, amazing things will happen.

It did. It does. And I believe it always will..

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Easy Cooking a la Atiqah

Sesuai dengan janjiku di Instagram, aku akan sharing resep-resep masakan yang aku bisa. Sebetulnya aku ngga percaya diri amat nih mau share resep karena aku sendiri kalau masak ngga ada pakemnya (kecuali baking). Pokoknya masukin bumbu aja sekiranya terus dicobain, ditambah ini itu sampai enak. Jadi resep yang aku share ngga akan detail banget nih, tapi semoga essentials-nya ngga kelewat deh.

Sebelum membahas resep, aku mau berbagi sedikit tentang masak yang gampang. Terutama kalau lagi merantau di luar negeri dan maunya yang praktis aja biar cepet. Bumbu instan udah pasti sangat membantu buat masak yang ngga menghabiskan banyak waktu dan pastinya enak. Nah, waktu tinggal di Manchester dulu, aku jadi tau beberapa tips lain untuk masak yang gampang, cepet, dan enak.

Pertama, sedia bumbu bubuk. Aku dulu punya hampir semua bumbu bubuk yang dijual di supermarket (even garam masala! Karena pernah iseng bikin vegetarian samosa – menyusul ya resepnya). Secara rasa dan bau tentunya bumbu bubuk ini kalah sama bumbu aslinya. Tapi demi kepraktisan, boleh banget digunakan. Dari mulai bawang putih, ketumbar, cengkeh, pala, jahe, cinnamon, kunyit, dan maasih banyak lagi. Ngga perlu iris-iris, kupas-kupas, ulek-ulek lagi. Langsung taburin aja bumbunya.

Kedua, kalau kurang yakin dengan taste dari bumbu bubuk, bisa beli food processor kecil untuk bikin bumbu dasar putih. Resepnya gampang banget.. cuma campur bawang putih, kemiri, bawang merah, merica, dan ketumbar. Masukin semuanya ke dalam food processor, tunggu sampai halus deh. Nah bumbu dasar ini bisa disimpan di kulkas. Bisa tahan satu minggu sih waktu di Manchester dulu. Jadi setiap mau tumis-tumis, tinggal pakai bumbu ini. Ngga perlu tiap mau masak bikin.

Ketiga, cari menu yang lauk dan sayurnya dimasak sekaligus. Biasanya yang repot adalah karena masak harus dilakukan beberapa kali. Bikin sayur dulu, baru goreng lauk, misalnya. Supaya hemat waktu dan tenaga, bikin aja menu yang sayur dan lauknya jadi satu. Contohnya capcay, sapi cah brokoli, sup ayam wortel, dan lain-lain. Kalau bisa sekalian karbohidratnya juga lebih bagus. Pasta pakai jamur dan daging cincang misalnya.

Keempat, ini hampir kelupaan padahal ini penjamin enaknya masakanku selama di Manchester meskipun asal bumbunya: oils and sauces. Minyak wijen itu wajib ada (kalau suka, karena ada beberapa orang yang ngga suka). Sesame oil ini ada yang sudah dicampur chili oil juga, lebih enak menurutku dan enak banget buat bikin mie goreng. Kalau saus yang perlu ada yaitu fish sauce, kecap asin, dan kecap manis. Kalau temen-temenku yang orang Chinese biasanya punya semacam peanut sauce juga dan ini enak lho (ngga inget namanya). Saus lain yang optional tergantung selera adalah oyster sauce dan teriyaki sauce.

Kelima dan terakhir, for the sake of praktis dan mudah, beli daging dalam bentuk fillet atau cube. Pengolahannya jadi lebih gampang dan ngga repot. Selain itu, jangan ragu untuk beli frozen vegetable karena ini praktis banget! Setiap mau dimasak, tinggal di-defrost lalu bisa direbus atau di-sautee.

Kira-kira itu hal-hal yang bisa dilakukan supaya masak lebih praktis dan cepat. Ini berguna banget waktu dulu di Manchester karena banyak banget hal yang perlu dikerjakan setiap harinya dan masak adalah salah satu yang cukup makan waktu. Jadi harus diakalin biar lebih cepet. Dan masih berguna juga buat sekarang karena aku suka masak bekal buat ke kantor. Hectic banget pagi-pagi kalau harus masak ribet. Yaa aku tetep berpikir masak yang hakiki itu yang repot sih (banyak bumbu, mesti di ini dulu di itu dulu dan lain-lain), that’s where the joy comes from. Tapi kalau buat sehari-hari, simplicity is best lhaa 👌🏻

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Road to Healthy Lifestyle part I

Kalau ditanya resolusi di awal tahun 2018 ini apa, aku akan jawab punya hidup yang seimbang. Sebetulnya ya, resolusi ini udah sejak 2017. Tapi saking susahnya untuk dicapai, akhirnya di-carry over sampai tahun ini. Balanced life itu aspeknya banyak banget sih (mungkin ini juga yang bikin resolusinya sulit, apa harusnya ini dijadikan prinsip hidup aja ya?). Mulai dari work-life balance, mengejar dunia dan akhirat, makan seimbang, istirahat dan bekerja, dan lain-lain. Intinya hidup yang seimbang itu harapannya akan membuat sehat lahir batin.

Salah satu poin dari hidup seimbang itu buat aku adalah olahraga teratur. Sayangnya aku baru sadar mungkin setahun ke belakang ini kalau yang namanya olahraga rutin itu penting. Aku baca di sebuah artikel kalau orang yang kurang olahraga dan aktivitas fisik punya resiko lebih besar untuk terkena penyakit seperti kanker, jantung, dan diabetes. Bukan mutlak ya ini, kan hasil dari penelitian dalam sebuah populasi (ya in case ada yang mau mendebat ‘ada kok yang ngga olahraga tapi sehat-sehat aja’ atau ‘ada yang udah rajin olahraga tapi sakit’).

Dulu, motivasi aku untuk olahraga itu supaya kurus. Supaya berat badan turun. Kalau saran aku, jangan jadiin kurus sebagai motivasi. Soalnya motivasi kurus itu bisa hilang dengan mudah. Misal, udah kurus, jadi ngga olahraga lagi? Atau kalau ternyata udah olahraga mati-matian lalu ngga kurus, jadi mengundurkan diri? Kalau aku sendiri, motivasinya ya hidup sehat dan seimbang. Olahraga itu part of healthy lifestyle yang aku pengen jalanin sampai tua nanti.

Banyak banget hal menyenangkan yang aku rasain setelah rutin olahraga. Pertama adalah jadi happy. Setiap pagi-pagi sebelum beraktivitas yang lain aku nge-gym dulu, paginya jadi lebih excited dan merasa positif. Sudah sering dibahas kan yaa, bahwa ketika kita exercising, otak kita akan me-release endorphin yaitu hormon yang bikin senang. Terus, kulitku juga jadi lebih cerah setiap habis olahraga. Kalau yang aku baca sih, dengan berolahraga, sirkulasi oksigen dan nutrients lain meningkat, termasuk di sel-sel kulit. Ketiga, badan jadi lebih enteng. Terlepas dari berat badannya, tapi badan kita jadi lebih enak untuk dipakai beraktivitas lain. Ngga males, ngga mageran seperti couch potato. Bahasanya mungkin jadi lebih energetic gitu yaa.

Ngga gampang sih untuk stay motivated. Pasti ada momen-momen dimana aku males olahraga. Iman aja naik turun, apalagi motivasi macam gini.. tapi aku bersyukur karena punya lingkungan yang support healthy lifestyle juga. Aku punya teman kantor yang ngegym bareng, ada teman yang selalu ngingetin untuk jaga makan dan olahraga cukup, ada teman yang hobi banget olahraga sampai bikin terinspirasi dan ngga mau kalah. Dan balik lagi, harus inget-inget long term positive impact yang mudah-mudahan bisa dirasakan. Fyi juga, most of the successful people in the world rajin olahraga lho (siapa tau ini bisa jadi motivasi).

Awalnya pun rutin olahraga tuh berat.. dari cuma seminggu sekali, seminggu dua kali, lalu nambah jadi seminggu tiga kali. Aku prefer olahraga di gym, karena habis itu bisa langsung ngantor dan olahraga yang bisa aku lakukan variatif. Olahraga apa aja bebas, yang penting melakukan aktivitas fisik yang cukup. Jangan terlalu nyaman sama teknologi yang cuma bikin kita duduk-duduk aja. Ngga harus ke gym, sekarang banyak banget aplikasi olahraga yang bisa dilakukan di rumah, misal NTC-nya Nike. Atau nonton aja youtube, misal skwad fitness atau tontonin instagramnya @petitediva. Bahkan banyak olahraga yang ngga butuh alat apapun. Durasinya pun cuma sebentar.

Ini baru olahraga. PR aku masih banyak banget, terutama di makanan. Exposure kita terhadap beragam makanan tuh kadang bikin makan jadi ngga terkontrol. Aku tipe yang percaya apa aja boleh dimakan (asal halal) tapi jumlahnya jangan berlebihan. Tapi aku masih belum banyak progres sih di masalah makan sehat – so i’m gonna talk about this later.

Semoga bermanfaat ya! Dan semangat berolahragaa!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Free Space

Pernah denger quote ‘we have to let go of some things to make room for others’? Kira-kira prinsip itu yang selama ini aku jalani, setiap kali beli hal-hal yang sekedar kepengen padahal ngga butuh-butuh amat dan sebenernya udah punya, aku akan memberikan barang lamaku ke orang lain. Misal, aku punya banyak kemeja biru, ketika aku beli lagi maka kemeja biruku yang lama salah satunya harus aku sumbangkan. Intinya sih supaya ngga ada terlalu banyak barang di lemari. Dan jujur aja, sampai sekarang aku masih belum bisa ‘ngosongin’ lemariku. Meskipun udah berkali-kali tidying up, tetep penuh.

Walaupun begitu, aku yang masih work in progress ini mau sharing tentang betapa hidup minimalist itu memang menyenangkan. Lega gitu rasanya kalau banyak space kosong. Entah siapa yang pertama kali mencentuskan ide minimalist, tapi sekarang banyak banget yang udah mengikuti gaya hidup tersebut. Aku sendiri bisa dibilang hanya setuju 80% deh dari keseluruhan konsep minimalist. Even 80%-nya aja tapi udah melegakan banget. Gaya hidup minimalist ini sederhananya ya hidup simpel, ngga berlebihan. Hidup dengan pas sebutuhnya aja. Salah satunya adalah makan dengan porsi sedikit (karena tubuh kita ngga butuh sebanyak itu!). Kalau dibilang hidup minimalist adalah berhemat, ngga juga. Karena intinya adalah quality over quantity. Yang aku paling setuju adalah bahwa ada beberapa barang dalam hidup kita, yang kita cukup perlu punya satu aja. Tapi satu itu harus yang kualitasnya baik sehingga everlasting. Contohnya: kacamata hitam, jam tangan, knitted sweater, dan lain-lain. Beli aja knitted sweater seharga jutaan, but be sure itu bisa awet bertahun-tahun. Toh kita (apalagi di Indonesia) ngga akan pakai setiap hari. Buat apa punya banyak-banyak seharga ratusan ribu per piece tapi baru 6 bulan udah rusak?

Kesannya mungkin agak pelit ya karena harus mengerem konsumsi impulsif, tapi ternyata attachment kita terhadap barang-barang kita tuh berpengaruh sama mindfulness. Ini mungkin agak relate ya sama postku sebelumnya tentang berqurban. Kita seringkali susah untuk melepas hal yang kita punya. Padahal bisa jadi itu akan lebih bermanfaat kalau kita kasih ke orang lain. Belum lama ini aku dan temanku bikin garage sale buku. Awalnya aku ragu banget mau menjual buku-bukuku. Niatnya mau dikoleksi aja, terutama buku yang favorit. Ngga rela deh kalau dijual. Tapi kalau dipikir-pikir, aku ngga akan baca lagi bukunya sampai kapan pun (aku bukan tipe yang bisa baca buku yang sama lebih dari satu kali). Lama-lama semua buku itu berdebu aja di rak. Mungkin saat ini ada orang lain yang bisa memanfaatkan buku itu lebih baik daripada aku. Akhirnya aku beranikan diri untuk menjual buku-bukunya. To be honest aku masih selektif sih, buku yang aku favorit banget belum berhasil aku lepas. Dan ternyata, garage sale buku ini lumayan candu lho! Nagih. Kayak pengen jualin lagi supaya lemari di rumah juga lega, ngga penuh dengan buku berdebu.

Aku juga baru selesai beberes kamar dan mengeluarkan barang-barang yang aku udah ngga pakai lagi. Kertas-kertas yang dikira penting padahal cuma sampah juga akhirnya aku buang. Hasilnya, kamarku jadi rapi, lega.. ngga sumpek. Dan lebih bright juga jadinya. Suka banget. Semoga rapinya kamarku ini bertahan lama ya.

Sedikit tips dari aku nih untuk yang mau mencoba mengosongkan space di rumahnya:

1. Beresin lemari baju itu paling susah, ada aja alasan ‘siapa tau nanti bisa kepake lagi’. Nah kalau udah tiga kali cycle beresin lemari dan ada item yang selalu diberikan alasan tersebut, langsung aja keluarin. Jangan dipikir-pikir lagi.

2. Buku-buku yang salah beli, alias ternyata ngga berhasil dibaca sampai habis, baiknya dikasih ke orang lain aja. Atau dijual lagi juga boleh. Kadang ada buku yang kurang cocok di kita tapi bisa jadi bermanfaat buat orang lain. Ngga ada gunanya juga kan disimpan tapi kita ngga dapat apa-apa juga dari bukunya?

3. Sebelum membeli segala hal yang sifatnya impulsif (terutama kalau belanja online nih), coba ditunggu dulu sampai 3-7 hari. Diemin aja di cart, kalau masih kepengen, baru deh check out. Selain untuk meyakinkan diri sendiri kita benar-benar butuh atau engga, itu bisa jadi waktu untuk compare dengan produk lainnya.

4. Hal yang aku ngga kepikiran sebelumnya adalah rapi-rapi kosmetik. Ternyata ada banyak banget make up yang mubazir di rumah, terutama lipstik. Soalnya lipstik yang aku pake sehari-hari sebetulnya yang itu-itu aja. Jadi mungkin in total aku hanya butuh 2-4 lipstik (buat sehari-hari, buat weekend, dan buat kalau ke acara formal). Belum lagi lipstik dengan merk berbeda yang ternyata shade-nya sama dan lipstik yang ternyata ngga cocok di warna kulit kita. Yang masuk ke kategori di atas, bisa disumbangkan ke orang lain. Daripada expired tapi masih utuh.

5. Tips terakhir, do this regularly sih intinya.. karena kalau sering, otomatis ngeluarin barangnya jadi sedikit-sedikit. Ngga terlalu berasa deh jadinya. Lagian, kalau cuma sekali mungkin belum bisa memutuskan masih butuh atau engga. Regularly-nya bisa satu atau dua bulan sekali.

Punya space kosong itu menyenangkan. Kalau kamar, rumah, meja di kantor lengang tuh rasanya lebih adem gitu… yuk beberes!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Thoughts on Almost Finding The One

Karena aku tipe orang yang lebih mudah mengutarakan perasaan dalam bentuk tulisan dibanding omongan, ini tulisan untuk kamu.

Aku dulu berdoa sama Tuhan supaya cepet-cepet dipertemukan dengan jodohku. Tapi kalau cepet-cepet mungkin ngga ketemu kamu. Awalnya aku nyaman aja, sama kamu bisa ngobrol banyak dan aku bisa cerita macem-macem hal. Aku sampe sempet berpikir kalau finding the one tuh simply atas dasar rasa nyaman..

Tapi ngeliat kamu, di perjalanan kita yang baru sebentar tapi udah roller coaster banget ini, aku sadar nyaman aja ngga cukup untuk bisa bertahan. Nyaman emang punya kontribusi besar sih.. tapi lebih dari itu, kamu nunjukin kalau kamu baik dan bertanggung jawab. Kamu dewasa banget menghadapi banyak hal yang kita alami. Kamu simply do all the necessary things yang bikin kita bertahan. Itu semua membuat aku semakin yakin sama kamu. Kamu sebaik itu.

Kalau mengutip Nayyirah Waheed, someone can be madly in love with you and still not be ready. They can love you in a way you have never been loved and still not join you on the bridge. And whatever their reasons, you must leave. Because you never ever have to inspire anyone to meet you on the bridge. You never ever have to convince someone to do the work to be ready. There is more extraordinary love, more love that you have never seen, out here in this wide and wild universe. There is the love that will be ready. Kamu, somehow berhasil buat aku yakin, kalau kali ini.. this is the love that will (soon) be ready.

Aku ngga tau Tuhan punya rencana apa buat kita. Tapi semoga Tuhan punya rencana yang baik, yang ngga bikin kita harus pisah. Yang ngga bikin aku dan kamu sedih. Semoga Tuhan punya pendapat yang sama kayak aku, bahwa kamu orang yang aku butuh dan sebaliknya. Semoga Tuhan bisa merasakan apa yang aku rasakan sampe Tuhan ngga tega kalau harus misahin aku dan kamu.

Sejungkir balik apapun hidup kita ke depannya, i can’t wait to hop on the journey with you.

Aku berterima kasih banget sama Tuhan karena udah jawab doa-doaku, lebih dari yang aku minta. Semoga Tuhan selalu kasih rasa sayang yang banyak buat aku dan kamu untuk dibagi berdua dan ke orang lain.

Reflection on Eid

Waktu kecil dulu, aku sekolah di sekolah islam yang selalu membuat suasana hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha meriah. Setiap mendekati Idul Adha, murid-murid akan diajak untuk beramal setiap hari dan berapapun uang yang terkumpul akan digunakan untuk membeli hewan qurban.

Momen Idul Adha selalu dijelaskan sebagai momen untuk berbagi ke sesama, ke orang-orang yang kurang beruntung. Sering guruku bercerita bahwa banyak orang yang hanya bisa makan daging satu tahun sekali, ya di hari Idul Adha itu. Sedangkan untuk aku dan sebagian orang lainnya, makan daging adalah hal biasa. Kalau bulan puasa sering dijelaskan salah satunya agar kita bisa merasakan kelaparan yang dirasakan orang-orang yang kurang beruntung, hari raya qurban adalah saatnya orang-orang yang kurang beruntung untuk merasakan apa yang biasa kita rasakan.

Itu hal yang aku pahami waktu kecil. Idul Adha ya tentang berbagi aja.. tapi ternyata ada hal lain yang penting – dan selama ini aku belum paham. Yaitu tentang kesabaran. Tadi lagi scroll timeline twitter, sampai ada suatu akun yang membuat post berisi ayat Alquran surat As-Saffat ayat 99-111. Ayatnya bercerita tentang bagaimana Nabi Ibrahim berdoa agar diberikan anak yang soleh. Lalu ketika akhirnya punya anak, Allah memberi ujian dengan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya (Nabi Ismail). Dan keduanya menjalani ujian tersebut dengan sabar.. dan akhirnya diberikan balasan yang baik.

Reflecting on our life, rasanya jadi Nabi Ibrahim tuh kayak.. udah lama banget kepengen sesuatu. Sampai berdoa yang lebih dari biasanya. Terus pas akhirnya dikabulkan, eh harus dibalikin lagi. Hal kayak gitu lumayan sering ngga sih terjadi di kehidupan? Dikasih ujian untuk mengikhlaskan sesuatu, apa aja. Orang yang kita sayang, barang yang kita suka, hal-hal yang kita biasa lakukan. Selama ini mungkin ada banyak attachment-attachment dalam hidup yang membuat kita susaaah banget untuk melepas sesuatu. Padahal, semua yang ada di dunia kan fana.. pasti berakhir, pasti harus mengikhlaskan atau diikhlaskan.

Idul Adha tahun ini buatku, selain tentang berbagi, juga tentang belajar untuk melepas attachment terhadap hal-hal di dunia ini. Orang, barang, pekerjaan, dan lain-lain. Supaya nanti kalau suatu saat hal-hal tersebut harus dikembalikan ke Yang Maha Esa, atau dipergilirkan ke orang lain, aku bisa sabar dan ikhlas. Sebenernya, hal ini udah pernah dijelasin panjang lebar sama temenku belum lama ini sih, tapi waktu itu aku belum ngeh banget hehe..

Mengikhlaskan sesuatu yang kita suka banget, yang kita pengen banget tuh ngga gampang. Dan bersabar atas ujian itu juga sama susahnya. Tapi bisa belajar.. dan inget terus aja kalau Allah janji akan memberi balasan untuk orang-orang yang berbuat baik 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia