Membentuk Manusia

Satu hal yang bikin aku akhirnya yakin memilih bapaknya anak-anak adalah karena kita berdua bisa casually ngobrol tentang mendidik anak bahkan sebelum menikah. Buatku, salah satu tujuan menikah ya untuk membangun peradaban baru. Jadi ini poin penting banget untuk make sure visi dan ‘cara bermain’ kita sama.

Minggu kemarin, over coffee, lagi-lagi kita ngobrol soal anak. Ada cerita seorang temannya Jihan yang jadi trigger diskusi. Dan kita pun come up dengan 3 pertanyaan.

Gimana anak dari lingkungan yang baik bisa melakukan hal-hal buruk? Dan gimana anak dari lingkungan yang buruk bisa kemudian punya value yang baik? Lalu gimana caranya agar value kebaikan (dalam hal ini termasuk nilai-nilai) agama dipegang oleh anak bukan karena dipaksa melainkan karena kesadarannya sendiri?

Ya memang urusan hidayah itu sepenuhnya di tangan Allah ya.. tapi namanya orang tua pasti mau mengusahakan yang terbaik. Salah satu tugas kita, kan, membentuk anak-anak agar kelak mereka ngga sama kita lagi, tetap bisa survive dan selamat dunia akhirat.

Pada akhirnya diskusi mengarah ke tiga hal yang menurutku dan Jihan penting..

Yang pertama, untuk membentuk manusia yang baik, soleh/solehah adalah dengan menjadi orang tua yang soleh. Belajar dan terus memperbaiki diri, supaya bener-bener bisa jadi contoh.

Kedua adalah dengan memilihkan lingkungan yang baik. Kemarin kita sempet diskusi juga, sampai kapan sih harus mengarahkan anak tentang pergaulannya? Kita sepakat bahwa sampai mereka besar pun, kita harus kenal siapa sahabat anak-anak. Tapi untuk memilih siapa temannya, kita percaya semakin besar mereka semakin bisa memilih dengan baik. Kuncinya ketika masih kecil, kita arahkan.. kita bimbing supaya lekat dengan teman-teman yang baik. Dan keterusan deh, jadi nyaman dan prefer untuk selalu ada di lingkungan orang baik. Ngga nyaman di lingkungan yang ngga sesuai value agama.

Kesimpulan ketiga adalah menjaga solat itu penting. Sesuai pengalaman kita, solat menjadi salah satu penyebab anak bisa senantiasa ada di lingkungan yang baik. Aku flashback ke masa-masa ospek seharian yang melalui beberapa waktu solat. Karena aku mau solat, otomatis aku mencari teman yang juga sama-sama mencari mushola. Di mushola pun jadi bertemu teman baru. Begitu pun waktu di Manchester, mencari teman yang sama-sama solat akhirnya membawa aku ke lingkungan pengajian di sana. Sesuai haditsnya, solat mencegah perbuatan keji kan.. jadi insya Allah dengan menjaga solat, bisa menjaga perbuatan juga.

Kira-kira itu hasil diskusinya, berat tapi lumayan, sambil ngopi di pagi hari. Semoga Allah mudahkan dalam menjalaninya.. aamiin

🩷 AZN

Advertisement

The Why and The How

Selalu ada dua sisi dalam suatu persoalan.

Those sides might be: the one focus on why it happen and the one that focus on how we can solve it. There is absolutely no right or wrong, which side you’re in. Tapi ada kalanya, satu sisi lebih bijak dari sisi yang lain.

Pada saat masalah berlangsung, fokus pada penyelesaian agaknya lebih bijak. We need immediate action to get everything normal – or back in place. Kalau di isu-isu kerjaan, sering denger mungkin istilah fire fighting. Ya begitu kira-kira. Di situ ada api, di situ kita siram. Done.

Kalau api masih berkobar dan kita sibuk dengan segala asumsi dan pikiran tentang kenapa bisa kebakaran, terlalu lama prosesnya dan bisa-bisa api makin menyebar. Plus nyebelin juga, sih. Coba bayangin, ada rumah kebakar dan warga lagi sibuk nyiramin. Tau-tau ada yang nanya-nanya “kenapa nih kok kebakaran? Ada yang lupa matiin kompor ya? Rumah siapa nih yang korslet?” Apa ngga ikutan diguyur tuh dia sama warga?

Setelah masalahnya berhasil diselesaikan, bisa fokus di pertanyaan kenapa sesuatu bisa terjadi. Gunanya agar bisa tau penyebab utama persoalan dan bisa melakukan mitigasi bahkan pencegahan supaya ngga terulang lagi di kemudian hari. Kalau istilah kerennya RCPS, root cause problem solving.

Jadi why and how ini sama-sama diperlukan sebetulnya. Tapi pada porsinya dan pada momen yang tepat. Kalau kebalik, bisa bikin runyam suasana. Walaupun kita semua kayaknya memang punya kecenderungan, lebih ke how atau lebih ke why. Perlu dilatih aja agar bisa balance penerapannya.

❤ AZN

What’s Thicker than Water

As I was expecting Mahira, one thing I am very concerned about is how Hannah will response to the fact that she’s going to have a sibling. Sadly, knowledge regarding this is very rare. You can easily search articles and videos about how to prepare for your first-born but not for your second one. In fact, the situation is more challenging the second time around. The dynamics, the priorities are different.

So the first 2 to 3 months of adaptation was the hardest. Even I felt like reaching the dead end sometimes. The whole family need to adapt or else we all failed. Hannah was the one with more complexities as she even not in the age where she can already regulate her emotion. So I guess it was even harder for her than for me.

I sought for experts opinion and help from God (what else can I do, right?). And it turned out that the only way out is to complete the adaptation process. So the parents need to let her and help her adapt.

After quite some time, we finally grew as family. And our family rythm is back, although little by little.

Being a mother of two is not bad at all. I bet having siblings is not bad either for both Hannah and Mahira. Blood is thicker than water. They are going to have each other through everything in life, insya Allah.

When one’s heart breaks, the other’s will too. But it’s strong enough to hold the one in despair. When one is happy, the other will radiates the same energy. Just like me and my big sis, they will have an amazing journey of sisterhood. To infinity and beyond.

❤ AZN

Satu Tingkat di Atasnya

Di dunia yang penuh dengan perbedaan ini, mengasah empati jadi hal yang penting. Ketika kita yakin pada suatu hal atau memegang sebuah prinsip, bukan hal yang ngga mungkin kita jadi memandang orang lain dengan prinsip berbeda secara skeptis. Gampangnya, merasa kita yang paling benar. Bukan berarti jadi bermusuhan, tapi terbersit aja di hati kalau yang mereka anut atau pahami ngga lebih benar dari kita.

Pada akhirnya untuk menyikapi perbedaan memang perlu empati. Supaya ngga sembarang menuduh orang lain salah. Supaya bisa ‘santai’ juga dalam menghadapi dunia yang beragam cerita dan isinya. Empati ini seringnya membuat kita memaklumi prinsip, tindakan, dan pemikiran orang lain. There’s always a story behind everything. Dengan memaklumi ini, jadinya kita membiarkan orang lain bertindak dan berpikir sesuai apa yang dia anut. Tanpa banyak komentar, tanpa ngejulid, dan tanpa ikut campur pastinya.

Mungkin hal tersebut benar untuk case yang memang bisa dimaklumi, alias ngga melanggar hukum, aturan, ataupun ngerugiin orang lain. Kalau tindakannya salah atau melanggar gimana dong? Di Islam sendiri ada yang namanya amar ma’ruf nahi munkar. Jadi selain menyeru yang baik, harus juga melarang yang buruk. Tapi nyatanya ini ngga gampang. Ada aja yang menghalangi untuk menegur atau spill the news kalau seseorang berbuat buruk. Misalnya, takut dibilang sok suci, takut dianggap aneh, ngga mau cari ribut, dan lain-lain.

Jadi menjaga prinsip diri akan hal yang benar dan ngga mengusik orang lain mungkin tergolong level satu ya. Kalau sudah bisa, berani, menegakkan kebenaran dan tegas melarang keburukan, sepertinya itu satu tingkat di atasnya lagi.. dan jujur aku salut banget sama yang sudah selevel lebih tinggi ini. Semoga mereka semua diberikan keistiqomahan oleh Allah di jalan yang lurus, yang Ia ridhoi.

Aamiin.

Lalu, perlu naik level ngga kita? Ya perlu. Tapi karena challenge-nya banyak, berdoa dulu yang banyak supaya diberi kekuatan.

❤ AZN

Gigi Bayi-bayi

Hiii there! Kembali lagi aku menulis dan berbagi di media ini. Kali ini mau cerita tentang gigi bayi!

Eh kenapa tuh, kok gigi bayi? Emang bayi udah punya gigi? Yes, umumnya bayi mulai punya gigi di usia 6 bulan ke atas. Tapi ada juga yang sebelum itu. Contohnya? Ya Hannah dan Mahira! Disclaimer dulu nih, yang lebih cepat ini bukan berarti lebih baik – dan as far as i’m concerned, lebih cepat dalam hal tumbuh gigi juga bukan indikasi yang berbahaya.

Hannah baru lahir banget giginya udah 2! Bikin kaget kayak headline detik.com. Ketika tanya sama dokter anaknya, dikasih info bahwa ini namanya natal teeth. Langsung deh browsing-browsing tentang natal teeth ini di Google.

Dari hasil riset ala-ala, ternyata penyebab dari munculnya natal teeth ini belum diketahui secara pasti. Ada juga kondisi lain di mana gigi tumbuh setelah lahir yang disebut neo natal teeth. Entah Mahira termasuk yang ini atau bukan, tapi giginya mulai tumbuh di usia 3 bulanan. Emang anak ibu hobinya cepet-cepetan tumbuh gigi kali ya..

Aku juga sempet tanya ke akun little.toothfairy di Instagram milik dokter gigi anak drg. Stella tentang kondisi Hannah waktu itu. Dijelaskan bahwa giginya perlu dirawat seperti biasa saja, kayak merawat gigi susu, jadi harus dibersihkan rutin.

Yang lucu, dulu ada salah seorang dokter anak yang insist agar gigi Hannah dicabut karena menjadi salah satu potensi faktor Hannah sulit menyusu. Waktu itu langsung konsul ke dokter gigi anak drg. Annisa Ramalia. Menurut beliau, akar giginya kuat dan ini basically adalah gigi susu. Jadi ngga perlu dicabut. Emangnya mau anak kita ompong terus sampai nanti gigi dewasanya tumbuh?

Alhamdulillah ngga jadi dicabut. Bisa diledekin temen sekolahnya nanti kalau ompong terus. Dan sebetulnya gigi bukan hal yang mengganggu kok saat menyusu. Yang paling penting itu pelekatan, pelekatan, dan pelekatan.

Gigi Hannah yang berikut-berikutnya tumbuh sewajarnya aja, kayak bayi-bayi lain. Kondisinya juga sampai sekarang baik. Insya Allah Mahira juga nanti begitu yah. Sekarang dia giginya udah 3!

Jadi, natal teeth dan neo natal teeth memang kondisi yang cukup wow karena bikin kaget. Tapi bukan berarti hal yang buruk. Kalau ada yang mengalami juga, cari informasi terpercaya dan kalau bener-bener penasaran atau khawatir, insting orangtua tuh paling ngga bisa dicuekin, periksakan ajaa ke dokter gigi anak. Mereka deh yang ahlinya.

Cara aku merawat gigi gigi bayi ini sama aja kok ngga ada yang spesial.. sekalian merawat rongga mulut secara keseluruhan. Awalnya pakai kasa dan air hangat matang. Lalu pakai silicone brush dan sedikit pasta gigi anak (pas udah mulai makan). Jangan lupa kudu yang berflouride kalau kata para dokgi alias dokter gigi. Semenjak satu tahun, Hannah mulai pakai sikat gigi stage 1 untuk anak-anak (pakai Oral B karena dia lengkap stage-nya dan gemes gambarnya). Dulu masih selalu disikatin. Lama kelamaan, mau sikat sendiri. Kadang gemas juga takut ngga bersih, tapi bismillah aja sambil dipantau terus.

Terakhir, ya sempetin cek cek ke dokter gigi anak meski cukup menguras kantong ya.. tapi setidaknya bisa jadi early detection kalau ada apa-apa.

Okedeh cukup sekian dulu ceritaku kali ini. Kalau ada yang punya pengalaman sama gigi bayi yukk sharing-sharing 🙂

❤ Atiqah

The Mindset

I’m back to the office again after months of work from home. One thing (probably the only thing) i like more from WFO is the ability to talk with my colleagues in between meetings and during lunch. One of my colleagues had just finished her maternity leave so we often talk about motherhood. We once came to talk about the postpartum moment, where most of the hard things occured. New mom plus newborn is a chaos, without a solid support system – which I’m glad i had.

Long story short – hearing all our stories, another colleague just can’t imagine having a baby. To be exact, she’s not quite sure if she can handle all the hassles. But we kind of tell her that once God already decided to put a baby in her womb, it means she is ready – she will be ready eventually. You just don’t know where the strength came from. It just happened (well, with some preps and prayers of course).

It is that mindset that i would like to highlight. Not just when it comes to motherhood, but also when any kind of challenges, opportunities, or hardships face us. The mindset that a force greater than us is in control of whatever happens and by holding on to that force, we can go through every moments in life. Not necessarily perfect, but we survived. Gracefully, hopefully.

Amazingly, i found this case works in everyone -regardless of their religion- as long as they believe in God. Life becomes easier. The heart is at peace. Peace and calmness solves 50% burden of our problem. So it helps, a lot. In Islamic perspective, peace and calmness are reached by remembering Allah, continuosly. So that’s the mindset I’m trying to build within me. In every occasion, remember Allah, and remember He is capable of all and He is in control.

So, what’s there to be worried of?

Well it’s not that easy though. We’re human so we will still be worry about this and that. But at least 50% of it has been covered.

I hope we all find our peace of mind.

❤ Atiqah Zulfa Nadia

What happened to you?

Baru banget baca sebuah thread di Twitter, yang kontennya diambil dari Instagram seorang influencer. Di konten tersebut terlihat mbak influencer mengutarakan kesedihannya karena berulang kali dapat komentar super pedas dari netizen. Dia merujuk pada sebuah post tentang menjadi seorang ibu, di mana komentar netizen banyak yang menganggap dia lebay dan seakan ngga berempati terhadap apa yang dirasakan mbak influencer.

Terlepas dari segala faktor hormonal ibu dan betapa memang beberapa momen adalah perjuangan yang besar, aku lebih mau membahas para netizen yang suka komentar pedas di akun orang lain. Like, what happened to you?

Setahun ke belakang aku sempat membuat akun Instagram-ku jadi public. Niat awalnya supaya kalau share sesuatu bisa lebih luas impact-nya. Di masa itu, aku cukup hati-hati banget kalau ngepost. Terutama hal yang sifatnya personal. Foto anak, konten yang mengandung informasi diri, konten yang pakai tag lokasi, itu bener-bener dipikirin supaya ngga banyak data pribadi yang tersebar. Imagine strangers knowing all what you do and all your life story? Sebagai introvert tentunya ngga nyaman. Aku memang ngga siap jadi influencer yang sharing all the bits and pieces of life hehehe.

Lalu ada satu kejadian yang bikin aku bergerak mantap untuk menjadikan akunku private lagi. Suatu hari aku post sebuah konten, niatnya untuk nunjukin what I did to manage my expense. Kontennya udah dibuat sedemikian kecil dan buram. Kemudian ada orang asing, yang aku ngga kenal siapa and I bet she doesn’t know me too, yang komentar di DM. Komentarnya cukup pedas. And honestly, it took me several days to be okay with it (padahal DMnya langsung kuhapus saat itu juga – tapi otak kan ngga langsung lupa yaa). I did what I had to do to cope with the situation and after some days, akhirnya bisa bener-bener melupakan kejadian itu.

Sejak itu jadi paham kalau wajar aja jika influencer banyak yang mengalami disturbance dalam hidupnya. Apalagi kalau terekspos dengan komentar pedas nan jahat dari netizen. Ada yang bilang itu konsekuensi dari menjadikan hidup sebagai konsumsi masyarakat luas. Partially agree. Dan belum menjelaskan fenomena kenapa orang asing (netizen) punya drive untuk memberikan komentar julidnya? Aku pribadi sering merasa ‘cringe banget oy’ ketika melihat sebuah konten, tapi I don’t think it’s necessary to tell it to the person. Apalagi aku ngga kenal secara personal.

So what happened to you? Apa sih yang bikin banyak netizen sampai memutuskan untuk ngetik komentar dan klik tombol send? Apakah itu membuat dirinya kelihatan lebih baik dari orang-orang lain? Atau memang dasarnya dia merasa lebih baik dari mbak influencer? Atau ini ada pengaruh dari rasa iri? Atau jangan-jangan iseng semata?

Bener-bener penasaran sih sama latar belakang psikologi atau basic human behavior-nya. Di buku Contagion, ada satu istilah namanya social currency. Di mana sesorang inginnya selalu terlihat lebih baik, dibandingkan orang lain. Sehingga value social currency-nya lebih tinggi. Ada banyak hal yang bikin social currency ini terkesan naik: knowing what other’s don’t, be the first to try something, dan lain-lain. Tapi aku ngga yakin juga ini menjelaskan fenomena tadi sih.

Masih menerka-nerka, what drives those people to post such hateful and unnecessary comment? And how do they feel after posting it?

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Sabtu (dan hari-hari lainnya) Bersama Bapak

Kalau lagi di luar rumah, misalnya lagi jalan-jalan, anakku memang cenderung lebih nempel sama bapaknya. Kami memang membagi role-nya demikian, bapak pegang anak dan ibu mengurus barang-barang supaya ringkes dan ngga ada yang ketinggalan. Seringnya juga anak digendong sama bapak yang lebih strong, terutama kalau lagi jalan-jalan di alam. Sejak hamil lagi, semakin jarang aku yang pegang karena dia makin lincah dan lari terus kemana-mana.

Jadi beberapa kali sempet dikomen “wah anaknya deket banget ya sama bapaknya”.. terus bapaknya agak keki harus respon apa. Mungkin takut ngga enak sama ibunya (?) Karena orang mikir anaknya lebih dekat sama bapak. But honestly, aku biasa aja dan malah cenderung seneng. Alasan pertama ya pasti karena aku yang sehari-hari bersama anak, tau juga ada momen-momen dia lebih lengket sama aku. Jadi ngga ada istilahnya saingan antara anak lebih sayang ibu atau lebih sayang bapak. Alasan kedua karena sekarang ini kita banyak diingetin tentang pentingnya peran ayah dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Jadi kalau anak dekat dengan bapaknya tanpa butuh effort, ya seneng dong. Mudah-mudahan banyak manfaatnya untuk dia kelak.

Mungkin masih kurang common ya, bapak-bapak yang sangat dekat dengan anak. Atau kita sudah terlalu lama berada pada pandangan anak lengket sama ibu, bapak kerja cari uang. Yang mana sekarang semua udah berubah dan terkadang masih terasa ‘asing’. Tapi buat yang udah paham, justru ini hal baik.

Sekarang ini sudah mulai banyak orang yang paham dan mempraktekkan. Terutama ya di keluarga-keluarga muda yang cukup terekspos dengan edukasi parenting. Terus gimana kalau ayahnya nun jauh di sana? It might be more challenging, tapi bukan berarti mustahil. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun sempat terpisah cukup lama tapi mereka tetap sangat dekat. So again, maybe it’s about sincerity, quality instead of quantity and distance? Semoga ke depan makin banyak lagi bapak-bapak yang terlibat dalam pengasuhan anak yah!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Menara Balok Hannah

Pagi ini Hannah memilih untuk main susun-susun balok. Dulu bisanya cuma beberapa balok, sekarang jadi mau susun yang tinggiii. Awalnya dia kesulitan karena baloknya kecil-kecil dan bentuknya beda-beda. Kalau meletakkannya kurang pas, menara baloknya jadi kurang stabil. Semakin tinggi jadi semakin goyang.

Setiap di atas 4 atau 5 balok, di balok berikutnya seringkali menaranya roboh. Memang dasarnya temper Hannah cukup strong-willed, jadi dia kesel sendiri. Mulai deh merengek. Setelah banyak percobaan, kadang dia berhasil menyusun sampai cukup tinggi. Kadang juga gagal – tergantung seberapa tepat dia nyusunnya (tapi dia kan belum ngerti triknya).

Melihat kejadian pagi ini, aku dan Jihan membantu Hannah untuk mengelola emosinya. Pertama dengan celebrate small wins. Setiap dia berhasil menyusun balok cukup tinggi, kita apresiasi. Kita juga ajak dia untuk menghitung sudah sebanyak apa dia berhasil menyusun. Supaya dia tau bahwa sudah cukup banyak balok yang berhasil dibuat jadi menara.

Kedua dengan memberi pengertian bahwa gagal itu biasa. Seringkali kita berusaha tapi hasilnya ngga sesuai dengan keinginan. Tapi bukan berarti kegagalan adalah hal memalukan. Sedih, kesel, dan kecewa saat menerima kegagalan juga sesuatu yang wajar. Namun jangan sampai itu membuat dia menyerah. Coba lagi dan lagi.

Pada akhirnya ketika kekesalannya ngga terbendung lagi, baru deh kita coba ajak main yang lain. Sebelum beralih, kita emphasize lagi bahwa Hannah hebat sudah berhasil menyusun sekian balok dan kita bangga sekali. Sekalian kita jelasin lagi juga bahwa gagal dan kecewa itu hal yang wajar dan ke depannya mungkin akan sering dia temui kejadian-kejadian seperti itu.

Semoga Hannah bisa mengerti sehingga ia senantiasa berbesar hati, sekaligus tangguh menghadapi apapun..

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Mainnya Kurang Jauh

Semenjak beberapa bulan yang lalu pindah ke kontrakan, karena rumah sedang direnovasi, jadi semakin terbuka akan realita kehidupan. Mungkin selama ini ternyata mainnya kurang jauh. Atau hidupnya terlalu nyaman, dikelilingi dengan lingkungan yang nyaman juga. Jujur banyak hal yang bikin tergelitik, banyak juga yang ‘concerning’, kadang meninggalkan pertanyaan what can I do to help – tapi cuma sebatas tanya karena tentu butuh effort yang besar kalau mau beresin dari akar permasalahannya (yang mana sejak kuliah dan di pekerjaan, selalu harus menyelesaikan akar masalahnya).

Kontrakanku letaknya masih di Jakarta Selatan, kita semua paham ya, antara komplek mewah dengan perkampungan kalau di Jakarta bisa sebelah-sebelahan. Jadi meski di Jaksel yang sering dielukan warga, wilayah ini bronx banget. It was a huge struggle for me to move in.

Meskipun rumahnya spacious dan ditata supaya bisa nyaman oleh orang tuaku, tapi jarak dari satu rumah ke rumah lain cukup dekat. Jadi aku bisa dengar dengan jelas percakapan warga sekitar yang lagi ‘nenangga’. Tangisan dan teriakan bocah-bocah juga bisa kedengeran jelas dari dalam rumah. Sejak dulu ngga pernah tinggal di pemukiman macem gini. Seolah-olah rumahnya kedap suara dan warganya juga sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tetangga tapi jarang-jarang kelihatan. Nah dari bisa mendengar suara-suara di luar ini lah muncul banyak concern di kepala.

Ada tetangga dengan beberapa anak, anaknya ada yang masih kecil tapi ada juga yang sudah berkeluarga. Mereka tinggal di bangunan yang sama, entah berapa luasnya. Ngga kebayang gimana pack-nya di dalam sana, gimana gerahnya, dan gimana mereka bisa cope with each other tanpa punya banyak ruang privasi.

Anaknya yang kecil-kecil masih sekolah, dan ngga kebayang pasti sekolah online menjadi berat untuk mereka. Dari mulai harus sedia gadget, beli paket internet, sampai membuat suasana belajar yang kondusif. Anak bungsunya sering banget menangis, kadang karena hal yang menurutku sepele: mau jajan. Tapi mungkin ngga sepele untuk keluarga itu. Jajan seribu dua ribu ngga murah. Lalu bapaknya akan mulai teriak dan marah kalau anaknya terlalu rewel, ngga bisa dibilangin. Setiap beliau marah-marah, aku bisa dengar dengan jelas.

Si anak juga beberapa kali buang air kecil di depan pagar rumah, atau lari-lari di jalanan sambil telanjang. Jujur shock juga melihat kayak gini. Semoga Hannah ngga pernah lihat pas dia lagi berbuat yang kurang baik. Semoga juga Hannah ngga perlu lama-lama besar di lingkungan seperti ini. Bukannya pilih-pilih, tapi memang harus membuat lingkungan anak sebaik mungkin kan?

Aku pun bukan nyalahin orang tua dari anak tadi, tapi kondisi mereka juga membentuk keluarganya jadi seperti itu. Mungkin boro-boro mikirin bagaimana cara parenting yang baik, mereka masih sibuk mengurus basic needs-nya dan setiap hari adalah struggle tersendiri untuk mereka. Who knows. Apa yang aku lihat pasti sudah bentuk akumulasi dari banyak hal. Hidup kan banyak tiny bits and pieces-nya.

Kadang mencoba memahami dan memaklumi, walaupun kadang spaneng juga. Tapi yang jelas aku sadar, point of view-ku jadi lebih luas semenjak melihat fenomena-fenomena di lingkungan sini. Entah gimana caranya, aku berharap hal-hal kayak gini bisa membaik. Kayak sila ke-5, walaupun kayaknya terlalu naif ya? Makanya pusing juga kalau berusaha cari solusi.

Yaaa, semoga pengalaman di sini bisa membuatku menjalani hidup dengan lebih baik, memandang segala sesuatu dengan lebih luas, ngga egois, dan apa segala pilihan yang kubuat di hidup bisa berkontribusi ke sekitar – apapun bentuknya. Dulu mungkin aku hanya dengar, tapi dengan melihat sendiri, experience sendiri, it hits me differently. Dulu mungkin mainnya memang kurang jauh…

❤️ Atiqah Zulfa Nadia