Thoughts on Finally Found the One

When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible. 

Quote dari film When Harry Met Sally itu rasanya relate banget dengan apa yang aku rasakan di minggu-minggu menuju hari pernikahan. Setiap ditanya orang “udah deg-degan belum?”, pasti jawabnya “belum nih..” karena emang ngga nervous sama sekali. Aku lebih deg-degan ketika mau naik wahana flying dinosaur di USJ daripada waktu mau nikah kemarin. Yang aku rasakan justru excited, mau cepet-cepet tanggal 16 Februari. Persis dengan quote di atas, deh.

Akhirnya perjalanan Atiqah Finding the One selesai juga.. bener aja, Tuhan rencananya selalu terbaik. Semua yang kita harapkan, jadi kenyataan dan dikabulkan di waktu yang tepat. I used to dream of getting married at 23. Ternyata menikahnya umur 25 tahun. Alhamdulillah tetep bahagia. It’s a long journey untuk bisa ketemu Jihan dan akhirnya sama-sama memutuskan untuk menikah. Gabungan dari berbagai kejadian kecil, yang disengaja maupun tidak, akhirnya berujung di sini. Siapa yang nyangka? Begitu kali ya, yang namanya takdir.

Kalau ditanya bagaimana rasanya finally found the one, aku akan jawab excited. Soalnya, ketika kita dengan sadar memilih seseorang untuk hidup bersama, pasti karena ada visi hidup, cara pandang, dan cita-cita yang sejalan. Jadi aku excited banget untuk bisa banyak melakukan berbagai hal berdua, pursuing dreams, banyak diskusi, dan semoga dengan berdua ini jadi semakin banyak manfaat yang aku dan Jihan bisa berikan di dunia. Jihan selalu bilang, dengan menikah, bukan 1+1 = 2, tapi harus bisa jadi lebih dari itu.

After all, menikah itu sama halnya dengan milestones hidup yang lain. Life goes on.. dan sama halnya dengan hidup seperti biasanya, akan ada susah-senang, sedih-gembiranya. It’s not an instant happily ever after (meskipun aku fans disney fairy tales garis keras). Justru malah kadang nervous-nya di sini, menghadapi ketidakpastian masa depan ya pasti bikin insecure. Tapi, the airplane I used to fly on my own sekarang ada co-pilot-nya. Jadi bisa pilih destinasi bersama, bisa overcome turbulence berdua, bisa diskusi untuk ambil keputusan, bisa saling gantian in charge, dan lain-lain.

At this point of time, untuk diriku sendiri, i think two is better than one

Love,

Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Galau Pekerjaan

Siapa bilang masa-masa galau cuma dialami ketika udah lulus tapi belum dapat kerja alias nganggur? Udah bekerja, bahkan udah beberapa tahun kerja pun, tetep bisa ngerasain galau.

Ada banyak faktor dalam sebuah pekerjaan yang menjadi penentu betah atau engga-nya kita. Betah di sini artinya, ya settle down. Faktor ini pun bisa berganti-ganti, tergantung keadaan kita saat itu. Faktor bagi fresh graduate pastinya beda dengan faktor untuk karyawan yang sudah belasan tahun bekerja.

Saat pertama kali bekerja, biasanya orang akan cukup ambisius. Haus akan tantangan dan semangat 45 untuk bisa mencapai posisi tertentu. Kalau merasa tidak cukup di-develop dan diutilisasi oleh perusahaan, rasanya malas dan jadi demotivasi. Buat fresh graduate, biasanya pertanyaan yang muncul “masa gue udah S1 susah-susah tapi kerjanya begini aja?”

Faktor yang menurutku berlaku secara umum adalah lingkungan. Berhubung manusia ini mahluk sosial dan kita menghabiskan waktu setidaknya 8 jam sehari di kantor, pasti ada kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Dengan lingkungan kerja yang pas, bekerja jadi lebih nyaman dan menyenangkan. Aku bilang pas, karena tiap orang punya preferensi dan standar masing-masing. Lingkungan ini mencakup rekan kerja, atasan, dan budaya atau kebiasaan di sana.

Selain lingkungan ada juga faktor dari pekerjaan itu sendiri. Sesuai passion atau hal yang kita sukai atau engga. Ditambah dengan apakah kapasitas kita mencukupi untuk bisa mengerjakan hal tersebut. Hal-hal seperti ini baiknya diputuskan setelah cukup lama menjalani pekerjaannya, sih.. karena ada masa adaptasi dan belajar yang perlu kita maklumi.

Terakhir ya tentunya kesejahteraan. Apakah kita dibayar sesuai dengan responsibility yang kita miliki, bagaimana coverage asuransinya, ada tunjangan-tunjangan atau tidak, dan lain-lain.

Jadi kenapa orang bisa galau pekerjaan? Menurutku karena ada setidaknya satu dari 4 faktor di atas yang tidak terepenuhi.

Menyambung masalah kegalauan, beberapa hari yang lalu aku mendapatkan advice yang bagus banget dari Managing Director tempat aku bekerja. Waktu itu lagi ada acara lunch with beliau. Too bad, advice-nya justru membuat aku makin wondering, apakah sekarang emang saat yang tepat untuk mencari tempat lain untuk bekerja?

Salah satu advice-nya adalah keep your options open. Ada banyak pekerjaan di dunia ini dan jangan buru-buru menyimpulkan kalau kita sukanya A, bagusnya di A, ngga suka B, dan ngga akan bisa mengerjakan C. Aku udah kerja selama 2 tahun di perusahaan yang sekarang, walaupun berbagai macam tugasnya tapi bisa dibilang berputar di bidang yang sama. Mulai bosen? Lumayan.. mau coba ngerjain yang lain? Mau.. tapi aku belum tau spesifik mau nyobain apa.

Advice kedua paling bikin aku galau. Katanya, work with great leaders. Di beberapa post sebelumnya yang juga membahas karir, aku sedikit cerita tentang bosku dulu. Bos yang menurutku adalah great leader, sebuah inspirasi dan role model. Semenjak beliau resign, aku mengalami masa-masa bagai anak itik kehilangan induk. Kebetulan emang posisinya ngga digantikan oleh siapa-siapa dan rolenya jadi dilebur ke tim lain. Aku lumayan lost sih, even up to now, kayak ngga ada direction dan ngga ada orang yang akan backup semisal nanti ada apa-apa. Meskipun di sisi lain aku bersyukur juga masih dibantu dan dibimbing oleh manager-manager lain (walaupun aku ngga direct report ke mereka). Intinya sih, interaksi dan relationship aku dengan direct reportku saat ini (yang udah ganti 2 kali) masih besar gap-nya. Dan ini buat aku faktor yang determining banget.

To conclude, ibu Managing Director ini juga bilang kalau there’s more to life than working. Kalau nantinya udah ngga kerja lagi, we have to ensure that we still have things to be done and dreams to pursue.

(((Semakin bikin galau kan)))

So, give it a go or… no, not yet?

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Talking ’bout Resolution

It’s 2019 already!

Banyak yang bilang, new year is just another day pass by. Iya juga, tapi kadang manusia butuh momentum untuk memulai sesuatu. Tahun baru sering dijadikan momentum untuk memulai hal baik atau membuat resolusi yang memberikan perubahan besar dalam hidup. So, yes, it’s just another day – which might be the day when something big begins.

Kalau bicara resolusi, seberapa sering sih resolusi biasanya tercapai? Dulu banget aku punya daftar resolusi yang cukup panjang setiap tahunnya. Ternyata, resolusi yang banyak itu kurang efektif. Entah berhenti di tengah tahun atau justru telat dan baru dimulai menjelang akhir tahun. Sejak 4 tahun yang lalu, tepatnya di 2016, aku mengganti caraku membuat resolusi. Instead of a long list, I made one simple sentence which I committed to throughout the year.  Di 2016 resolusiku adalah: do not hesitate in doing good deeds. Aku ngga buat resolusi apa-apa di 2017 dan di 2018 kemarin, resolusiku: live a balance life.

Dengan niat yang kuat, kalimat simpel itu bisa membawa segala hal yang kita lakukan ke arah tercapainya resolusi tersebut. Misalnya, kalau aku lagi ragu untuk bantu orang, aku inget bahwa aku punya resolusi untuk selalu berbuat baik tanpa paksaan. Atau, tahun lalu aku jadi tergerak untuk rutin olahraga dan membatasi konsumsi gula karena kata-kata ‘hidup sehat’ terngiang-ngiang terus. Hal yang simpel dan fleksibel (bukan to do list: ke gym 3 kali seminggu, minum kopi maksimal 2 kali sehari, plank 1 menit tiap pagi, dan lain-lain yang melelahkan) lebih mudah untuk di-maintain dan dijaga sustainability-nya.

Satu hal penting lagi tentang resolusi, kita harus tau seberapa penting resolusi tersebut dan apa yang akan kita dapat kalau resolusinya tercapai. Sebelum membuat resolusi hidup seimbang, aku banyak baca tentang pentingnya olahraga, bahaya gula, kenapa badan harus fit, dan aku waktu itu sadar banget jaman sekarang banyak penyakit yang diderita oleh orang-orang yang masih muda. Jadi aku sadar sepenuhnya kalau mencapai resolusi hidup seimbang itu penting. Kalau sudah tercapai, aku akan dapat reward kesehatan dan mudah-mudahan dapat pahala juga karena sudah menjaga pemberian Tuhan dengan sebaik-baiknya. Kalau sudah tau background dan objective-nya, jadi semakin semangat deh menggapai resolusi. Plus, dukungan dari orang-orang terdekat juga bisa membantu 😉

Terus, apa resolusiku di 2019? Aku mau punya kehidupan sosial (habluminannas) yang baik. Fingers crossed, bisa tercapai. Semoga apapun rencana dan resolusi kalian di tahun ini bisa terlaksana juga.. 🙂

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Manusia Ada-ada Saja

Beberapa hari yang lalu, waktu tugas ke luar kota, selama di hotel aku selalu nonton acara-acara tentang hewan yang ada di channel Natgeo Wild. Terasa banget keajaiban ciptaan Tuhan ketika tau keistimewaan dari setiap spesies yang ada di bumi. Contohnya, hiu yang bisa berenang cepet banget dan bentuk rahangnya didesain pas banget untuk menangkap mangsa. Yang lebih menarik lagi, mereka tuh punya sifat-sifat kayak manusia juga. Bisa cemburu, marah, sedih.. ada yang galak, ada yang sabar, dan lain-lain.

Binatang aja kayak gitu, apalagi manusia yang lebih kompleks. Manusia tuh ada-ada aja kelakuannya. Semakin dewasa, ketika kita makin banyak bergaul dan punya bermacam pengalaman, otomatis pandangan dan pola pikir kita jadi meluas. Dulu aku sempit banget mikirnya dan sering mengkotak-kotakkan orang dengan traits tertentu. Misal, dulu aku beranggapan kalau perempuan merokok itu tergolong nakal. Sekarang? Banyak temanku (perempuan) yang merokok tapi mereka baik, enak diajak ngobrol, berprestasi juga.

Makin ke sini, aku jadi lebih tertarik untuk menilai orang dari banyak sisi. Apa yang dia lakukan, bagaimana dia bersikap, dan yang paling penting, kenapa dia seperti itu. Kepo banget ya? Tapi buat aku ini hal yang menarik sih.. karena setiap orang punya alasan untuk perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan. Kadang juga emang bawaan dari lahir aja, sih. Aku kepo bukan untuk ngejudge, simply pengen tau aja karena human’s emotion and behavior tuh menarik. Dan somehow ini melatih empati, biar ngga asal mengkotak-kotakkan orang lain dan asal ngejudge. Plus, jadi bisa senantiasa berprasangka baik ke orang lain.

Contohnya baru-baru ini temanku cerita tentang si A yang katanya rakus. Kalau ada makan-makan di kantor, dia ambil paling banyak dan kalau ada sisa pun dia bungkus paling banyak. Temanku ini ceritanya sambil sedikit emosi. Karena menurut dia, itu kurang beretika.. harusnya ambil secukupnya aja. Kan masih ada yang lain yang ingin makan dan bungkus juga. Nah cerita ini bikin aku wonder, kenapa si A kayak gitu. Apakah emang doyan, suka makan, atau di rumahnya banyak adik-adiknya dan dia suka berbagi makanan dari kantor ke mereka, atau dia ngekos dan pengen berbagi ke tetangga kosnya, atau simply value yang dianut temanku (tentang etika makan bersama) berbeda dengan value yang si A punya. Setiap individu, keluarga, kelompok masyarakat pasti punya value yang dianut dan bisa jadi berbeda satu sama lain. Buat temanku mengambil makanan secukupnya itu value yang penting, bisa jadi untuk si A itu value yang biasa aja. Dia ngga merasa ada yang salah dengan hal itu.

Sebenarnya ini cukup relate juga dengan apa yang harusnya kita lakukan sebagai manusia. Aku pernah denger ceramah tentang berprasangka baik terhadap orang lain. Intinya, kalau kita punya prasangka buruk ke orang lain, langsung cari 70 alasan yang bisa membuat prasangka buruk itu hilang. Kalau udah 70 dan masih belum ada yang make sense, maka yakin aja dalam hati bahwa orang tersebut punya alasan tersendiri yang kita ngga tahu. Jadi even kita ngga nemu alasannya, kita tetep ngga boleh berprasangka buruk. Kebayang kan repotnya nyari 70 alasan yang ujung-ujungnya kita harus berprasangka baik anyway. Mending ngga usah punya prasangka buruk makanya 🙂

Setiap orang itu unik, tingkah lakunya suka ada-ada aja. Bisa nyebelin, bisa menyenangkan. Ada yang nyebelin terus. Ada yang moody. Ada yang lempeng banget hidupnya kayak ngga pernah diterpa cobaan. Selama bisa, ya dimaklumi aja. Udah sifatnya begitu, dia lagi ada masalah, lagi PMS, lagi kesenengan karena kebanyakan makan gula, punya value berbeda, dan lain-lain alasannya. Kalau ditahap ngga bisa memaklumi lagi, jaga jarak sebisa mungkin. Supaya kita ngga sebel amat sama itu orang dan bikin orang itu balik sebel ke kita. Karena memang ngga semua orang bisa cocok. Tapi ngga cocok bukan berarti musuhan.

Yang ada-ada aja kayak gini, enaknya dibawa asik aja 🙂

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

What I’ve Learned about Career

Ada yang pernah baca cerita tentang Lucy and why she’s unhappy? Kalau belum, bisa dibaca di sini:

https://waitbutwhy.com/2013/09/why-generation-y-yuppies-are-unhappy.html

Sebaiknya, baca dulu cerita Lucy sebelum melanjutkan baca post ini ya. Soalnya akan berkaitan.

Nah, apa yang dialami Lucy pernah terjadi di aku waktu baru lulus S1 dan mulai bekerja di pekerjaan pertamaku. Singkat cerita, dulu aku pikir cari kerja yang bagus dengan benefit yang melimpah itu gampang. Aku selalu look up ke pekerjaan orang tua ku dan bagaimana kehidupan yang aku jalani saat itu. Jadi, aku punya ekspektasi yang tinggi terhadap karir dan pekerjaan dan berharap kesuksesan yang instan (sangatlah mental millenials). Dan realitanya sama sekali berbeda.

Awalnya ada rasa “duh kok nasibku ngga sebagus temen-temen yang lain..” atau ngga proud dengan yang aku kerjakan saat itu dan pengen banget dapet pekerjaan yang lebih bergengsi. Atau at least punya pekerjaan yang aku suka dan aku bangga ngejalaninnya. Tapi setelah aku memutuskan untuk lanjut S2, akhirnya jadi lebih santai. Ngga lagi interview sana sini, pokoknya fokus di pekerjaanku waktu itu dan mempersiapkan banyak hal untuk kuliah lagi. Mungkin karena saat itu aku jadi punya target yang exciting ya, dan menganggap kerja cuma iseng sambil menunggu waktu kuliah tiba.

Beberapa saat sebelum pulang dari S2, aku udah niat bahwa sampai di Indonesia aku harus langsung produktif. Makanya waktu itu aku langsung apply untuk magang di salah satu startup. Sembari magang, aku juga apply kerja. Ada 2 perusahaan FMCG yang aku ikuti proses rekrutmennya saat itu dan salah satunya adalah tempatku bekerja saat ini. Nanti-nanti mungkin aku akan cerita tips buat tes kerja berdasarkan pengalaman selama ini.

Well, it’s not the best company in the world or even in the country. Tapi sekarang aku lebih serius meniti karir di tempat aku bekerja. Aku suka dengan apa yang aku kerjakan, bosku selalu develop aku dan percaya kalau aku mengerjakan tugas-tugas yang menantang. I’m not in any point where I can give you advice about achieving a particular position at the office or about becoming the best employee. Tapi ada beberapa take out dari pengalaman yang aku ceritakan tadi.

First thing first, semua orang punya timeline hidup masing-masing. Mungkin hidup kita dari kecil sampai kuliah semacam ada juklaknya ya, tapi setelah lulus kuliah tuh semua random aja. Tiap orang akan punya jalan hidup masing-masing. For some people, it’s a one lucky shot untuk dapat pekerjaan yang bagus dan sesuai keinginan. Ada lagi yang dapat kerjaan bagus, ternyata setelah dijalani jadi ngga cocok. Yang awalnya ngga suka dengan kerjaannya, lama-lama jadi enjoy juga ada. Beberapa lainnya harus pindah sana sini dulu baru ketemu yang pas. Pokoknya beragam banget ceritanya deh.

Satu hal yang temanku bilang, career is a marathon, not a sprint. After all, it’s not about the speed but about the endurance.

Kedua, setiap milestone dalam hidup pasti mengajari kita sesuatu. Pelajarannya ngga mesti relate dengan milestone itu sendiri. Misalnya, ada di pekerjaan yang kurang disukai, tapi teman-teman di kantor membuat kita paham tentang empati. Jadi harus percaya kalau apa yang kita alami saat ini akan membentuk kita yang lebih baik di masa nanti. Salah satu yang bisa dipelajari dari perjalanan berkarir adalah bagaimana menjadi profesional. Mantan director di kantorku selalu bilang, no one puts a gun on your head and force you to take this job. Jadi bekerja di tempat yang saat ini adalah pilihan kita yang dibuat secara sadar dan tanpa paksaan. Kalau ngga suka, pindah. Cari pekerjaan yang lebih baik. Jangan stay dan ngga perform. Kalau pada akhirnya memilih untuk stay, ya do our best. Jangan males, jangan ogah-ogahan, jangan mempersulit pekerjaan orang lain yang ada kaitannya dengan pekerjaan kita. Intinya, be professional. Sengga suka apapun dengan pekerjaannya, kalau kita memilih untuk stay, harus tetap perform dengan baik. Ini akan jadi nilai positif juga buat kita, karena orang lain akan lihat bahwa kinerja kita baik. It will leave them a good impression. Dan ketika akan pindah ke pekerjaan lain, recruiternya bisa mendapat rekomendasi yang positif dari teman-teman kerja kita.

Terakhir, set our own standards. Ada yang punya ambisi besar, ada yang merasa cukup dengan karir yang biasa-biasa aja. Ada yang cinta mati dengan perusahaan, ada yang bekerja sekedarnya. Ngga ada yang benar, ngga ada yang salah. Semua preferensi masing-masing orang aja. Tapi kita harus set standar kita sendiri. Mau kerja dimana, mau posisi apa, mau hidup yang kayak gimana. Do not settle for comfort, but settle to the standards we made for ourselves. Dan yang terpenting, jangan compare dengan orang lain. Karena setiap orang berbeda-beda. Rezeki juga udah ada yang atur. Live for our own personal achievement, dan untuk orang-orang sekitar yang kita sayangi.

Nah itu sedikit cerita tentang pekerjaan, yang mungkin akan berlanjut juga di post berikut-berikutnya. Satu prinsip yang selalu aku ulang-ulang; nobody in life gets exactly what they thought they were going to get, but if you work really hard and you’re kind, amazing things will happen.

It did. It does. And I believe it always will..

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Easy Cooking a la Atiqah

Sesuai dengan janjiku di Instagram, aku akan sharing resep-resep masakan yang aku bisa. Sebetulnya aku ngga percaya diri amat nih mau share resep karena aku sendiri kalau masak ngga ada pakemnya (kecuali baking). Pokoknya masukin bumbu aja sekiranya terus dicobain, ditambah ini itu sampai enak. Jadi resep yang aku share ngga akan detail banget nih, tapi semoga essentials-nya ngga kelewat deh.

Sebelum membahas resep, aku mau berbagi sedikit tentang masak yang gampang. Terutama kalau lagi merantau di luar negeri dan maunya yang praktis aja biar cepet. Bumbu instan udah pasti sangat membantu buat masak yang ngga menghabiskan banyak waktu dan pastinya enak. Nah, waktu tinggal di Manchester dulu, aku jadi tau beberapa tips lain untuk masak yang gampang, cepet, dan enak.

Pertama, sedia bumbu bubuk. Aku dulu punya hampir semua bumbu bubuk yang dijual di supermarket (even garam masala! Karena pernah iseng bikin vegetarian samosa – menyusul ya resepnya). Secara rasa dan bau tentunya bumbu bubuk ini kalah sama bumbu aslinya. Tapi demi kepraktisan, boleh banget digunakan. Dari mulai bawang putih, ketumbar, cengkeh, pala, jahe, cinnamon, kunyit, dan maasih banyak lagi. Ngga perlu iris-iris, kupas-kupas, ulek-ulek lagi. Langsung taburin aja bumbunya.

Kedua, kalau kurang yakin dengan taste dari bumbu bubuk, bisa beli food processor kecil untuk bikin bumbu dasar putih. Resepnya gampang banget.. cuma campur bawang putih, kemiri, bawang merah, merica, dan ketumbar. Masukin semuanya ke dalam food processor, tunggu sampai halus deh. Nah bumbu dasar ini bisa disimpan di kulkas. Bisa tahan satu minggu sih waktu di Manchester dulu. Jadi setiap mau tumis-tumis, tinggal pakai bumbu ini. Ngga perlu tiap mau masak bikin.

Ketiga, cari menu yang lauk dan sayurnya dimasak sekaligus. Biasanya yang repot adalah karena masak harus dilakukan beberapa kali. Bikin sayur dulu, baru goreng lauk, misalnya. Supaya hemat waktu dan tenaga, bikin aja menu yang sayur dan lauknya jadi satu. Contohnya capcay, sapi cah brokoli, sup ayam wortel, dan lain-lain. Kalau bisa sekalian karbohidratnya juga lebih bagus. Pasta pakai jamur dan daging cincang misalnya.

Keempat, ini hampir kelupaan padahal ini penjamin enaknya masakanku selama di Manchester meskipun asal bumbunya: oils and sauces. Minyak wijen itu wajib ada (kalau suka, karena ada beberapa orang yang ngga suka). Sesame oil ini ada yang sudah dicampur chili oil juga, lebih enak menurutku dan enak banget buat bikin mie goreng. Kalau saus yang perlu ada yaitu fish sauce, kecap asin, dan kecap manis. Kalau temen-temenku yang orang Chinese biasanya punya semacam peanut sauce juga dan ini enak lho (ngga inget namanya). Saus lain yang optional tergantung selera adalah oyster sauce dan teriyaki sauce.

Kelima dan terakhir, for the sake of praktis dan mudah, beli daging dalam bentuk fillet atau cube. Pengolahannya jadi lebih gampang dan ngga repot. Selain itu, jangan ragu untuk beli frozen vegetable karena ini praktis banget! Setiap mau dimasak, tinggal di-defrost lalu bisa direbus atau di-sautee.

Kira-kira itu hal-hal yang bisa dilakukan supaya masak lebih praktis dan cepat. Ini berguna banget waktu dulu di Manchester karena banyak banget hal yang perlu dikerjakan setiap harinya dan masak adalah salah satu yang cukup makan waktu. Jadi harus diakalin biar lebih cepet. Dan masih berguna juga buat sekarang karena aku suka masak bekal buat ke kantor. Hectic banget pagi-pagi kalau harus masak ribet. Yaa aku tetep berpikir masak yang hakiki itu yang repot sih (banyak bumbu, mesti di ini dulu di itu dulu dan lain-lain), that’s where the joy comes from. Tapi kalau buat sehari-hari, simplicity is best lhaa 👌🏻

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Road to Healthy Lifestyle part I

Kalau ditanya resolusi di awal tahun 2018 ini apa, aku akan jawab punya hidup yang seimbang. Sebetulnya ya, resolusi ini udah sejak 2017. Tapi saking susahnya untuk dicapai, akhirnya di-carry over sampai tahun ini. Balanced life itu aspeknya banyak banget sih (mungkin ini juga yang bikin resolusinya sulit, apa harusnya ini dijadikan prinsip hidup aja ya?). Mulai dari work-life balance, mengejar dunia dan akhirat, makan seimbang, istirahat dan bekerja, dan lain-lain. Intinya hidup yang seimbang itu harapannya akan membuat sehat lahir batin.

Salah satu poin dari hidup seimbang itu buat aku adalah olahraga teratur. Sayangnya aku baru sadar mungkin setahun ke belakang ini kalau yang namanya olahraga rutin itu penting. Aku baca di sebuah artikel kalau orang yang kurang olahraga dan aktivitas fisik punya resiko lebih besar untuk terkena penyakit seperti kanker, jantung, dan diabetes. Bukan mutlak ya ini, kan hasil dari penelitian dalam sebuah populasi (ya in case ada yang mau mendebat ‘ada kok yang ngga olahraga tapi sehat-sehat aja’ atau ‘ada yang udah rajin olahraga tapi sakit’).

Dulu, motivasi aku untuk olahraga itu supaya kurus. Supaya berat badan turun. Kalau saran aku, jangan jadiin kurus sebagai motivasi. Soalnya motivasi kurus itu bisa hilang dengan mudah. Misal, udah kurus, jadi ngga olahraga lagi? Atau kalau ternyata udah olahraga mati-matian lalu ngga kurus, jadi mengundurkan diri? Kalau aku sendiri, motivasinya ya hidup sehat dan seimbang. Olahraga itu part of healthy lifestyle yang aku pengen jalanin sampai tua nanti.

Banyak banget hal menyenangkan yang aku rasain setelah rutin olahraga. Pertama adalah jadi happy. Setiap pagi-pagi sebelum beraktivitas yang lain aku nge-gym dulu, paginya jadi lebih excited dan merasa positif. Sudah sering dibahas kan yaa, bahwa ketika kita exercising, otak kita akan me-release endorphin yaitu hormon yang bikin senang. Terus, kulitku juga jadi lebih cerah setiap habis olahraga. Kalau yang aku baca sih, dengan berolahraga, sirkulasi oksigen dan nutrients lain meningkat, termasuk di sel-sel kulit. Ketiga, badan jadi lebih enteng. Terlepas dari berat badannya, tapi badan kita jadi lebih enak untuk dipakai beraktivitas lain. Ngga males, ngga mageran seperti couch potato. Bahasanya mungkin jadi lebih energetic gitu yaa.

Ngga gampang sih untuk stay motivated. Pasti ada momen-momen dimana aku males olahraga. Iman aja naik turun, apalagi motivasi macam gini.. tapi aku bersyukur karena punya lingkungan yang support healthy lifestyle juga. Aku punya teman kantor yang ngegym bareng, ada teman yang selalu ngingetin untuk jaga makan dan olahraga cukup, ada teman yang hobi banget olahraga sampai bikin terinspirasi dan ngga mau kalah. Dan balik lagi, harus inget-inget long term positive impact yang mudah-mudahan bisa dirasakan. Fyi juga, most of the successful people in the world rajin olahraga lho (siapa tau ini bisa jadi motivasi).

Awalnya pun rutin olahraga tuh berat.. dari cuma seminggu sekali, seminggu dua kali, lalu nambah jadi seminggu tiga kali. Aku prefer olahraga di gym, karena habis itu bisa langsung ngantor dan olahraga yang bisa aku lakukan variatif. Olahraga apa aja bebas, yang penting melakukan aktivitas fisik yang cukup. Jangan terlalu nyaman sama teknologi yang cuma bikin kita duduk-duduk aja. Ngga harus ke gym, sekarang banyak banget aplikasi olahraga yang bisa dilakukan di rumah, misal NTC-nya Nike. Atau nonton aja youtube, misal skwad fitness atau tontonin instagramnya @petitediva. Bahkan banyak olahraga yang ngga butuh alat apapun. Durasinya pun cuma sebentar.

Ini baru olahraga. PR aku masih banyak banget, terutama di makanan. Exposure kita terhadap beragam makanan tuh kadang bikin makan jadi ngga terkontrol. Aku tipe yang percaya apa aja boleh dimakan (asal halal) tapi jumlahnya jangan berlebihan. Tapi aku masih belum banyak progres sih di masalah makan sehat – so i’m gonna talk about this later.

Semoga bermanfaat ya! Dan semangat berolahragaa!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Free Space

Pernah denger quote ‘we have to let go of some things to make room for others’? Kira-kira prinsip itu yang selama ini aku jalani, setiap kali beli hal-hal yang sekedar kepengen padahal ngga butuh-butuh amat dan sebenernya udah punya, aku akan memberikan barang lamaku ke orang lain. Misal, aku punya banyak kemeja biru, ketika aku beli lagi maka kemeja biruku yang lama salah satunya harus aku sumbangkan. Intinya sih supaya ngga ada terlalu banyak barang di lemari. Dan jujur aja, sampai sekarang aku masih belum bisa ‘ngosongin’ lemariku. Meskipun udah berkali-kali tidying up, tetep penuh.

Walaupun begitu, aku yang masih work in progress ini mau sharing tentang betapa hidup minimalist itu memang menyenangkan. Lega gitu rasanya kalau banyak space kosong. Entah siapa yang pertama kali mencentuskan ide minimalist, tapi sekarang banyak banget yang udah mengikuti gaya hidup tersebut. Aku sendiri bisa dibilang hanya setuju 80% deh dari keseluruhan konsep minimalist. Even 80%-nya aja tapi udah melegakan banget. Gaya hidup minimalist ini sederhananya ya hidup simpel, ngga berlebihan. Hidup dengan pas sebutuhnya aja. Salah satunya adalah makan dengan porsi sedikit (karena tubuh kita ngga butuh sebanyak itu!). Kalau dibilang hidup minimalist adalah berhemat, ngga juga. Karena intinya adalah quality over quantity. Yang aku paling setuju adalah bahwa ada beberapa barang dalam hidup kita, yang kita cukup perlu punya satu aja. Tapi satu itu harus yang kualitasnya baik sehingga everlasting. Contohnya: kacamata hitam, jam tangan, knitted sweater, dan lain-lain. Beli aja knitted sweater seharga jutaan, but be sure itu bisa awet bertahun-tahun. Toh kita (apalagi di Indonesia) ngga akan pakai setiap hari. Buat apa punya banyak-banyak seharga ratusan ribu per piece tapi baru 6 bulan udah rusak?

Kesannya mungkin agak pelit ya karena harus mengerem konsumsi impulsif, tapi ternyata attachment kita terhadap barang-barang kita tuh berpengaruh sama mindfulness. Ini mungkin agak relate ya sama postku sebelumnya tentang berqurban. Kita seringkali susah untuk melepas hal yang kita punya. Padahal bisa jadi itu akan lebih bermanfaat kalau kita kasih ke orang lain. Belum lama ini aku dan temanku bikin garage sale buku. Awalnya aku ragu banget mau menjual buku-bukuku. Niatnya mau dikoleksi aja, terutama buku yang favorit. Ngga rela deh kalau dijual. Tapi kalau dipikir-pikir, aku ngga akan baca lagi bukunya sampai kapan pun (aku bukan tipe yang bisa baca buku yang sama lebih dari satu kali). Lama-lama semua buku itu berdebu aja di rak. Mungkin saat ini ada orang lain yang bisa memanfaatkan buku itu lebih baik daripada aku. Akhirnya aku beranikan diri untuk menjual buku-bukunya. To be honest aku masih selektif sih, buku yang aku favorit banget belum berhasil aku lepas. Dan ternyata, garage sale buku ini lumayan candu lho! Nagih. Kayak pengen jualin lagi supaya lemari di rumah juga lega, ngga penuh dengan buku berdebu.

Aku juga baru selesai beberes kamar dan mengeluarkan barang-barang yang aku udah ngga pakai lagi. Kertas-kertas yang dikira penting padahal cuma sampah juga akhirnya aku buang. Hasilnya, kamarku jadi rapi, lega.. ngga sumpek. Dan lebih bright juga jadinya. Suka banget. Semoga rapinya kamarku ini bertahan lama ya.

Sedikit tips dari aku nih untuk yang mau mencoba mengosongkan space di rumahnya:

1. Beresin lemari baju itu paling susah, ada aja alasan ‘siapa tau nanti bisa kepake lagi’. Nah kalau udah tiga kali cycle beresin lemari dan ada item yang selalu diberikan alasan tersebut, langsung aja keluarin. Jangan dipikir-pikir lagi.

2. Buku-buku yang salah beli, alias ternyata ngga berhasil dibaca sampai habis, baiknya dikasih ke orang lain aja. Atau dijual lagi juga boleh. Kadang ada buku yang kurang cocok di kita tapi bisa jadi bermanfaat buat orang lain. Ngga ada gunanya juga kan disimpan tapi kita ngga dapat apa-apa juga dari bukunya?

3. Sebelum membeli segala hal yang sifatnya impulsif (terutama kalau belanja online nih), coba ditunggu dulu sampai 3-7 hari. Diemin aja di cart, kalau masih kepengen, baru deh check out. Selain untuk meyakinkan diri sendiri kita benar-benar butuh atau engga, itu bisa jadi waktu untuk compare dengan produk lainnya.

4. Hal yang aku ngga kepikiran sebelumnya adalah rapi-rapi kosmetik. Ternyata ada banyak banget make up yang mubazir di rumah, terutama lipstik. Soalnya lipstik yang aku pake sehari-hari sebetulnya yang itu-itu aja. Jadi mungkin in total aku hanya butuh 2-4 lipstik (buat sehari-hari, buat weekend, dan buat kalau ke acara formal). Belum lagi lipstik dengan merk berbeda yang ternyata shade-nya sama dan lipstik yang ternyata ngga cocok di warna kulit kita. Yang masuk ke kategori di atas, bisa disumbangkan ke orang lain. Daripada expired tapi masih utuh.

5. Tips terakhir, do this regularly sih intinya.. karena kalau sering, otomatis ngeluarin barangnya jadi sedikit-sedikit. Ngga terlalu berasa deh jadinya. Lagian, kalau cuma sekali mungkin belum bisa memutuskan masih butuh atau engga. Regularly-nya bisa satu atau dua bulan sekali.

Punya space kosong itu menyenangkan. Kalau kamar, rumah, meja di kantor lengang tuh rasanya lebih adem gitu… yuk beberes!

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Thoughts on Almost Finding The One

Karena aku tipe orang yang lebih mudah mengutarakan perasaan dalam bentuk tulisan dibanding omongan, ini tulisan untuk kamu.

Aku dulu berdoa sama Tuhan supaya cepet-cepet dipertemukan dengan jodohku. Tapi kalau cepet-cepet mungkin ngga ketemu kamu. Awalnya aku nyaman aja, sama kamu bisa ngobrol banyak dan aku bisa cerita macem-macem hal. Aku sampe sempet berpikir kalau finding the one tuh simply atas dasar rasa nyaman..

Tapi ngeliat kamu, di perjalanan kita yang baru sebentar tapi udah roller coaster banget ini, aku sadar nyaman aja ngga cukup untuk bisa bertahan. Nyaman emang punya kontribusi besar sih.. tapi lebih dari itu, kamu nunjukin kalau kamu baik dan bertanggung jawab. Kamu dewasa banget menghadapi banyak hal yang kita alami. Kamu simply do all the necessary things yang bikin kita bertahan. Itu semua membuat aku semakin yakin sama kamu. Kamu sebaik itu.

Kalau mengutip Nayyirah Waheed, someone can be madly in love with you and still not be ready. They can love you in a way you have never been loved and still not join you on the bridge. And whatever their reasons, you must leave. Because you never ever have to inspire anyone to meet you on the bridge. You never ever have to convince someone to do the work to be ready. There is more extraordinary love, more love that you have never seen, out here in this wide and wild universe. There is the love that will be ready. Kamu, somehow berhasil buat aku yakin, kalau kali ini.. this is the love that will (soon) be ready.

Aku ngga tau Tuhan punya rencana apa buat kita. Tapi semoga Tuhan punya rencana yang baik, yang ngga bikin kita harus pisah. Yang ngga bikin aku dan kamu sedih. Semoga Tuhan punya pendapat yang sama kayak aku, bahwa kamu orang yang aku butuh dan sebaliknya. Semoga Tuhan bisa merasakan apa yang aku rasakan sampe Tuhan ngga tega kalau harus misahin aku dan kamu.

Sejungkir balik apapun hidup kita ke depannya, i can’t wait to hop on the journey with you.

Aku berterima kasih banget sama Tuhan karena udah jawab doa-doaku, lebih dari yang aku minta. Semoga Tuhan selalu kasih rasa sayang yang banyak buat aku dan kamu untuk dibagi berdua dan ke orang lain.