Most of love is gone

Between what is said but not meant and what is meant but not said most of love is gone

It’s a quote by Kahlil Gibran. I believe the quote is rather accurate. Depict, almost perfectly, the cause of many problems between human beings. Haven’t got the idea just yet? Let me elaborate.

What is said but not meant

How often do we hurt other people by saying something we didn’t really mean to say? Or how often do we get hurt because someone is saying something that he or she doesn’t really mean? Sometimes we speak without concerning how people will feel about what we’re saying. Another case is when we’re angry and we don’t really think about our choice of words. We just let it slip from our tongue.

Inevitably it creates problems between humans. Lovers become strangers, friendships are broken apart, or simply just a beginning of cold war. Here, we realize, that most of love is gone.

What is meant but not said

We’re afraid of the uncertainty. We’re not that brave to take the risk and cross the bridge. Therefore we stay silent. A boy likes a girl but stay quite. The possibility of them becomes a lover turns zero. A girl misses a boy but never try to call first. The girl never knew if the boy actually feels the same. A child wants to apologize to their parents but never been able to speak up. They stay distant forever. Best friends want to stick around but say nothing and now they are apart. Again, we realize, that most of love is gone.

Don’t you feel those are actually familiar to the current state of living? I do.

But i hope we always say only good things, and once we have to say bad things we can still deliver it beautifully. And i hope we all have the courage to say what we need to say. As John Mayer put it, it’s better to say to much than never to say what you need to say.. Thus we keep love from falling apart. Cheers 🙂

❤️, Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Overflowing Gratitude

All I want to say tonight is Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…..

for the fate has been really kind. And Allah has been merciful. That I am loved, abundantly blessed and truly happy. As my life has not always been as planned or dreamed but it's always endearing.

Nothing I would do next but to pray that your days be fulfilled with everything that triggers an overflowing gratitude. You are blessed 🙂

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Kindness

Beberapa hari yang lalu seorang director di tempatku bekerja pensiun. Dalam acara town hall bulanan, presiden director di kantorku menyampaikan rasa terima kasihnya dan secara official mengucapkan selamat tinggal. Salah satu kalimatnya yang aku ingat adalah bagaimana ia melihat sosok direktur yang akan resign tersebut sebagai laki-laki yang sangat positif dan memiliki 'frustratingly endless kindness'. Aku ngga mengenal sosoknya secara pribadi, tapi melihat beliau berinteraksi sehari-hari dengan orang-orang disekelilingnya, aku yakin beliau adalah seseorang dengan personality yang sangat baik. Ceria, ramah, dan hangat adalah kesan yang aku rasakan mengenai beliau.

Wouldn't it be so nice to be remembered as someone with frustratingly endless kindness?

Bukan hanya orang baiknya aja yang merasa tentram kalau diingat sebagai sosok yang baik.. tapi juga orang-orang di sekitarnya. Seumur hidup aku belum pernah bertemu dengan kakek dari ibuku. Seringnya aku hanya mendengar cerita dari ibu atau dari nenek. Beberapa tahun yang lalu, waktu sedang jalan-jalan di mall dengan ibu, kami bertemu dengan teman kantor kakekku dulu. Setelah bersalaman, hal yang sampai sekarang aku ingat adalah beliau bilang "kakekmu itu orangnya baaaik sekali." And that truly warms my heart. Bahkan setelah puluhan tahun kepergiannya dari dunia, orang-orang mengingat kakekku sebagai sosok yang baik.

Kindness is eternal, yes?

How do we all want to be remembered?
Ngga semua orang punya kesempatan untuk bisa diingat sebagai seseorang yang pemberani atau pembela hak-hak manusia atau pemegang suatu rekor atau juara dari sebuah kompetisi. Tapi, semua orang punya kesempatan supaya bisa diingat sebagai orang yang baik..

Diingat sebagai orang baik harusnya bukan jadi alasan berbuat baik. Itu hanya bonus aja dan bukan urusan kita lagi apakah orang akan ingat dengan kebaikan kita atau ngga. Yang pasti, berbuat baik itu penting dalam kehidupan. Menyenangkan hati orang lain, menyapa dengan ramah, menawarkan bantuan, dan banyak lagi cara-cara untuk berbuat baik. Supaya bisa terus menerus melakukan dan menebar kebaikan, satu hal yang penting adalah untuk selalu berpikiran baik. Cluttering mind, kalau bahasa kerennya. Ujungnya ya mendapatkan inner peace. Jadi menjalani hidup dengan legowo aja. If we feel good about ourselves, it will be easier for us to do good for others..

Selain itu, perlu juga punya value bahwa kita ngga boleh ragu-ragu dalam melakukan hal baik. Do not ever hesitate in doing good deeds. Kadang kan kita ragu ya, ada teman pinjam pulpen, ragu mau minjemin karena takut hilang.. mau bantu orang lain mengerti suatu hal, tapi takut kerjaan jadi ngga selesai, dan lain-lain. Padahal, pada kenyataannya dengan berbuat baik, semua urusan kita tetap baik-baik aja. Malah kadang jadi lebih mudah. Kindness is inexplicably mutual. Entah gimana, pokoknya segala kebaikan-kebaikan yang kita lakukan akan balik lagi ke kita, dalam bentuk yang beragam.

Kindness should be a way of life. Cause when we got nothing left, we can always give a little bit of kindness to people around 🙂

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

Pre-destined

There are 10 millions citizens of Jakarta. The area of the city itself is 700 km square. It is very unlikely for a person to meet his/her relatives coincidentally. Also, for a person to meet the same stranger twice coincidentally.

Unless.. nothing is ever coincidental. From up above, God plans two people to meet each other or otherwise.

The encounter of two persons always has meanings underneath. To teach us, to inspire us, to save us, or even to destroy us. Meeting or not meeting another person can be both good and bad. Yet it has been destined.

If we're keen on that person, then we shall be grateful. If we secretly loathe the person, then we shall be wise. For in the end, if God wants two people to meet, no matter how far they are apart, no matter how hard each person tries to hide and run, they will meet. Likewise, if God does not want any encounter to happen between them, no matter how hard they try to reach each other, they will never meet.

In life, some people are meant to come, then walk away, and never come back. Some others, though, stay. Appreciate them.

❤️ Atiqah Zulfa Nadia

What’s Next?

Siapa bilang menjadi dewasa itu mudah? Ketika seseorang beranjak dewasa, banyak keputusan besar yang harus diambil. Salah satunya keputusan mengenai jalan hidup yang ingin dilalui. Setelah memilih salah satu jalan pun, kadang kala seseorang masih saja tersesat. Tiba-tiba menyadari bahwa ia berada di jalan yang salah. Atau, entah bagaimana takdir seperti tidak setuju dengan jalan yang ia ambil. Sebegitu membingungkannya kehidupan sebagai orang dewasa.

Aku masih ingat betapa mudahnya menjawab pertanyaan “what’s next?” beberapa tahun yang lalu. Sesudah SMP, aku akan lanjut SMA. Kemudian seusai lulus SMA, aku akan lanjut berkuliah. Seperti sudah diberikan jalannya, aku hanya tinggal berjalan sebaik mungkin.. jangan sampai berbelok atau terjatuh.

Sayangnya sesudah kuliah, privilege GPS otomatis itu berakhir. Aku berumur 20 tahun dan aku sama sekali belum yakin dengan jalan mana yang harus aku tempuh saat itu. Aku lulus dari perguruan tinggi dan menyadari bahwa mencari pekerjaan yang ‘pas’ tidak semudah berhitung tambah kali kurang bagi. Bahkan ternyata lebih sulit dari soal integral lipat 3 yang mati-matian aku pecahkan saat semester 1 kuliah. Aku pun ngga 100% yakin dengan keputusan untuk lanjut S2 saat itu.

Pun saat ini, setelah aku akhirnya berhasil melewati fase pekerjaan pertama, kemudian lulus sekolah S2, dan kembali menjadi seorang corporate slave, aku ngga pernah benar-benar 100% yakin dengan keputusan yang aku ambil. Dan sekarang, aku belum menentukan mau kemana nantinya. Bekerja sampai jadi manager dalam 5-7 tahun lalu resign dan membuka bisnis sendiri adalah jalur yang ideal. Tapi… ada banyak pertimbangan, ada banyak hal yang membuat pengambilan keputusan menjadi sulit.

Kita bisa menjadi apa saja saat sudah dewasa. Katanya sih begitu… dan sebenarnya memang begitu. Namun memutuskan mau jadi apa ternyata bukan perkara mudah. If I hate being a corporate slave so much, I could be unemployed forever. Lalu bagaimana aku harus mencukupi kebutuhan sehari-hari? If I like working that much, I could be very ambitious in pursuing my career. Apakah nantinya akan ada kehidupan sosial yang harus dikorbankan demi mencapai puncak karir? If I love learning and living abroad so much, I could take another 4 years for PhD. Alasan sederhana itu cukup ngga ya untuk bertahan belajar PhD?

Ada terlalu banyak pertimbagan. Dan semakin dewasa, semua keputusan harus berasal dari pemikiran yang menyeluruh. This life ain’t got no rehearsal. Jadi harus hati-hati dan ngga bisa grasa-grusu.

So, what’s next, Tics? Sudah 24 tahun. Sudah selesai belajar di institusi formal. Sudah bekerja. Well, masih banyak yang belum… yang pasti resolusi hidup belum terealisasi. Live a meaningful life. Sudah berhasil menginspirasi banyak orang kah? Sudah terus menerus belajar untuk jadi pribadi yang semakin baik kah? Sudah makin mendalami ilmu agama kah? Sudah betul-betul ngga settle for comfort kah? Sudah terceklis semua kah bucket list yang aku punya?

Kayaknya banyak yang belum dan harus dilakukan. Still can’t really define the portfolio of my life that I want to pursue… but they said, it’s okay to haven’t figure it all out yet. Lagipula, kita sebagai manusia menjalani hidup itu pieces by pieces.. sedangkan Tuhan sudah merancangnya dalam satu kesatuan, the whole puzzle. Rely upon Him and we shall find peace 🙂

Yang penting, always have courage and be kind. Selalu melakukan yang terbaik, mau belajar, dan berpikir positif. Embrace mistakes and failures, selalu berdoa dan bersyukur agar senantiasa bahagia… at last, do not ever compare your life to anyone else’s.

 

♥Atiqah Zulfa Nadia

24!

In the morning I woke up, realizing that I’m not 23 anymore. I have, again, survived another year in life. I woke up healthy, on an overly comfortable bed. I sat in the dining table with my parents for breakfast, and they both are healthy too. Everyday, we live well off.

I just started this new routine of watching short Islamic lecture on YouTube every morning. I hope this routine could lasts forever, not merely a seasonal habit. For I need to make a better use of my smartphone and social media. When I was checking my phone, I read several chats from my friends. I knew I got a lot of good friends and even better inner circles. Another thing that I treasure the most in life.

I took a shower and ordered an online motorcycle taxi to pick me up to work. I have been following the same route for the past 5 months. To me, being posted in Pondok Indah is such a blessing. Almost no traffic jam in the morning and the street congestion at night is still somewhat manageable (though sometimes not…).

In the office, I am surrounded by smart people, supportive bosses, and very fun team mates. Sure, there are people I do not get along very well with. And sometimes the job gets very tricky. But overall, going to work everyday and staying there for 8 hours (or more) are pleasurable for me. I realize things will change, sooner or later, but I have pledged to myself that I won’t settle for comfort. So, I kind of (like… 70%?) look forward to whatever journey this job is going to take me to.

I went home, tired. Along the way from my office to my house, I enjoy a dazzling view of city lights. At home, a range of food is available on the dining table. So I ate right away. I cleaned up myself before going to bed and shut the light off. I like to sleep in a total darkness and have a deep sleep till the morning comes.

That is how my day goes. A wonderful day, which makes me always feel truly blessed. Perfect? Surely not. My mood swings once in a while, someone annoys and irritates me sometimes, I make mistakes in my job, I feel lazy and bored, and so on. And that’s just how life supposed to be. Bitter and sweet. Up and down. Exciting and dull. What goes around comes around, simply. However, never a day we can skip being grateful and showing our gratitude. All Praise due to Allah Swt…..

I thank God for getting old (or else i’ll be dead by now). I thank God for every responsibility He has entrusted me. I thank God for the life I’m living, for all the people in my life, those who left, and especially those who stay and stick around, for the person He has made me become. Thank You for being here for me all the time, for never letting me down.

*make a wish…*

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Let It Be and (but) Don’t Forget to Be Happy

Coba ingat-ingat, seberapa sering kita meyakinkan diri sendiri untuk ‘let it be’? Bahwa semua yang terjadi di kehidupan kita sudah ada yang mengatur dan pasti ada hikmahnya.. Seberapa sering kita mengakunya pasrah dan legowo atas kehidupan yang dijalani saat ini?

Tapi… sudahkah kita membersamai kepasrahaan dan kelogowoan itu dengan rasa bahagia? Rasa senang menjalani hidup, seberapapun capeknya, pusingnya, frustrasinya… Seringnya kita lupa, disamping let it be, kita juga harus merasa happy. Karena percuma kalau let it be tapi setiap hari mengeluh, setiap hari grumpy, setiap hari ada saja misuh-misuh karena hidup yang tidak sesuai ekspektasi.

Mungkin kita semua harus membalik siklus bahagia. Bukan semua indah dulu baru kita bahagia, tetapi kita bahagia dulu baru segala hal akan jadi indah dan menyenangkan. Bukan menunggu semesta membuat segala sesuatunya menyenangkan, tetapi merasa senang dulu baru semesta memberikan yang indah-indah.

Kalau sedikit-sedikit hal kecil membuat emosi, membuat kesal, dan terlalu dipikirkan, kapan bisa bahagia seutuhnya? Kalau sedikit-sedikit menggerutu, mengeluh, dan merasa ngga bahagia, apa iya sudah benar-benar pasrah dan legowo namanya?

Belum lagi, mood itu menular. Positive vibes dan negative vibes itu menular ke orang-orang sekitar. Kalau ngga bahagia, kalau grumpy, otomatis aura negatif menular ke lingkungan sekitar. Bukannya sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat untuk orang lain? Kalau menebar aura negatif, namanya bukan memberi manfaat dong? 🙂

Let it be.. jangan cuma dipasrahkan, harus juga diiringi dengan semangat untuk merasa bahagia apa pun hasilnya, apa pun takdirnya nanti. Fake it till you make it 😉

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Some Things are Better Kept as Memories

Everything in our life will eventually comes to an end. Either it ends while we’re still living or it ends together as our souls are taken away from this world.

But God is kind. He gave each one of us a brain, in which there is a part called cerebral cortex. The cerebral cortex is in charge for our memories. Be it the thing we learn in high school, sad moments in our childhood, and the happiest moment of our lives. Thanks but no thanks to brain, we are able to recall our memories. I haven’t gone into so much depth that I can explain how our brains can recall something we avoid to remember the most. Yet we all know that sometimes, our brains remind us about bad moments in our lives without our consent.

On the contrary, does remembering good moments make us happy? I’d say yes to the degree of 80%. The rest 20%, I feel a great longing that I want to repeat the memory. For example, I want to go back to Manchester so much every time I see a picture of  the city. I could feel the heat of the sun combined by a cold wind as I walk through the Oxford Road. As if I was there physically. And that leaves me with a great desire re-visit Manchester.

However, things are not the same anymore. Manchester that I remember in my memory is not the same Manchester as it is now.

Manchester in my memory is full of my friends. Full of our laughter, our silly discussion in a café, our sleepless nights at the library, our argument about in the classroom, etc. Manchester in my memory is full of familiar faces. The cashier at Lidl, the waitress in an Indian restaurant, the cleaner in my dorm, etc. Yet they’re gone now. There aren’t any of my classmates (except those who are doing their PhD), the cashier at Lidl might have moved to another chain of Lidl, and the cleaner might have cleaned another dorm.

If I do re-visit Manchester now, will the previous memory of Manchester being replaced by the new one? I can’t tell. But I don’t want it to be replaced. I want it to be permanently stored in my brain, which I then can recall anytime I like. Just as it is permanently has a place in my heart.

So I think, whether it is good or bad, some things are better kept as memories. If it’s bad, well, we know it’s just a memory and it had happened in the past. If it’s good, I’m pretty sure it will brighten up our day 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

 

Prayers & Fortitude

Ada perasaan yang bahagia ketika menyadari bahwa di mana kita saat ini, hidup yang sedang dijalani sekarang, merupakan kehidupan yang kita dambakan di masa lalu. Jawaban dari doa-doa yang dulu pernah diucapkan.

“Bener ya, berdoa itu emang harus sabar..”

Satu kalimat itu yang diucapkan temanku ketika kami membicarakan tentang kesibukan masing-masing saat ini. Dulu aku dan dua orang temanku bekerja di perusahaan yang sama. Kami sebenarnya punya cita-cita untuk keluar dari pekerjaan itu. Aku mau S2 ke luar negeri, temanku mau kerja di perusahaan Jerman (karena dia ngefans banget sama Jerman entah kenapa), dan temanku satunya lagi mau kembali ke bidangnya saat kuliah yang ngga nyambung sama sekali dengan pekerjaan kami.

Akhirnya satu per satu dari kami berhasil resign dan menjalani cita-cita masing-masing.

Dari obrolanku di dalam angkot saat menyusuri kota Bandung sesudah hujan (yang suasananya syahdu banget itu…) ada beberapa pelajaran yang aku dapat. Bahwasannya berdoa itu harus sabar. Ada sebagian doa yang langsung dijawab seketika sesuai dengan apa yang dipinta. Namun ada sebagian lain yang perlu ditekuni, setiap hari, terus menerus.

Berdoa juga harus dibarengi dengan legowo. Kan kita semua tahu bahwa ada 3 cara Allah menjawab doa: diberi sesuai dengan permintaan, diberi yang lebih baik dari apa yang diminta, dan diberikan saat di akhirat. Nah untuk case yang kedua, seringkali yang ‘lebih baik’ itu awalnya ngga kita sadari sebagai sesuatu yang baik. Jadi kesannya seperti doa kita ngga terjawab. Seringkali kita merasa kalau berdoa minta A ya harusnya dikasih A. Padahal ngga juga 🙂 Bisa jadi B atau C itu jauh lebih baik.. tapi kita terlalu narrow minded untuk menyadari itu.

Lalu, pelajaran lainnya.. saat menjalani sesuatu yang kurang kita sukai, kita harus tetap menjalaninya sebaik mungkin. Say we don’t like the job we’re doing, bukan berarti kita bisa seenaknya dan malas-malasan sampai hasil kerjanya jadi berantakan. Bukan berarti bisa setiap hari mengeluh. Pernah dengar “be happy with what you have while working for what you want?” Jalani kehidupan saat ini sebaik-baiknya, sambil juga berusaha dan berdoa supaya bisa mendapatkan hal yang lebih baik, yang lebih sesuai dengan cita-cita dan ekspektasi kita.

Ada lagi nih, quotes bagus dari Conan O’Brien. Katanya “nobody in life gets exactly what they thought they were going to get. But if you work really hard and you’re kind, amazing things will happen.

Kayaknya di umur-umur pasca kampus gini banyak hal yang terjadi yang ngga sesuai ekspektasi. Ada artikel bagus membahas hal ini yang dikemas dengan menceritakan kehidupan tentang Lucy. Kalau dipikir-pikir, no need to stress that out. Berdoa aja dengan sabar dan terima apa yang sedang dikasih oleh Tuhan untuk kita jalani saat ini dan jalani dengan sebaik-baiknya. Plus, do not compare our life with others’.

…and then amazing things will happen 🙂

 

♥, Atiqah Zulfa Nadia

 

Ignorance is a Bliss

Minggu lalu aku baru aja selesai baca sebuah buku yang menarik banget. Judulnya The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Intinya buku tersebut mau mengajarkan kita untuk ngga ambil pusing mengenai terlalu banyak hal. We should pay attention to several matters in life, but not everything. Yang pertama tentu karena we only have this much of attention span, and 24 hours a day, 7 days a week untuk bisa memikirkan semua hal dalam hidup. Kedua, karena ada hal-hal yang di luar kendali kita and we can only do so little about it. Ketiga, karena as I’ve written about this in another post, society is way too noisy. Dan hidup setiap orang ngga bisa di-sama-samain. We all are unique.

Nah alasan keempatnya nih, which is the last chapter of the book, yang aku suka banget. And it’s a very good reminder for us all. Alasan tersebut adalah cause we will end up dying.

We ain’t gonna live forever. Pada akhirnya ada satu waktu di mana kita harus meninggalkan kehidupan kita di dunia. We’re gonna die anyway, jadi buat apa terlalu mikirin hal-hal yang kurang penting, things that do not matter so much in our life. So we gotta pick very carefully and very wisely, hal-hal apa saja yang mau kita pedulikan dalam hidup ini.

Since we’re going to die, one day, hal-hal tersebut harus merupakan sesuatu yang meaningful. Many people try to leave traces in this world. Ada yang nulis buku, menciptakan sesuatu, dan lain-lain supaya ketika mereka meninggal, mereka ngga benar-benar hilang dari muka bumi. And if you believe in the life after death just like me, kita tentu juga harus make sure bahwa hal yang kita pedulikan tersebut bisa membawa kita ke kehidupan yang lebih baik setelah meninggal nanti.

Some said ignorance is a bliss. Yes, true, only if we choose the right things to ignore. As compensation, we also have the right things to care about (or like the book said, to give a f*ck about). Sooo, dengan memilah-milah mana yang penting dan mana yang engga, beban hidup jadi lebih ringan and we will end up being happier. Who wouldn’t want that?

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia