Manusia Ada-ada Saja

Beberapa hari yang lalu, waktu tugas ke luar kota, selama di hotel aku selalu nonton acara-acara tentang hewan yang ada di channel Natgeo Wild. Terasa banget keajaiban ciptaan Tuhan ketika tau keistimewaan dari setiap spesies yang ada di bumi. Contohnya, hiu yang bisa berenang cepet banget dan bentuk rahangnya didesain pas banget untuk menangkap mangsa. Yang lebih menarik lagi, mereka tuh punya sifat-sifat kayak manusia juga. Bisa cemburu, marah, sedih.. ada yang galak, ada yang sabar, dan lain-lain.

Binatang aja kayak gitu, apalagi manusia yang lebih kompleks. Manusia tuh ada-ada aja kelakuannya. Semakin dewasa, ketika kita makin banyak bergaul dan punya bermacam pengalaman, otomatis pandangan dan pola pikir kita jadi meluas. Dulu aku sempit banget mikirnya dan sering mengkotak-kotakkan orang dengan traits tertentu. Misal, dulu aku beranggapan kalau perempuan merokok itu tergolong nakal. Sekarang? Banyak temanku (perempuan) yang merokok tapi mereka baik, enak diajak ngobrol, berprestasi juga.

Makin ke sini, aku jadi lebih tertarik untuk menilai orang dari banyak sisi. Apa yang dia lakukan, bagaimana dia bersikap, dan yang paling penting, kenapa dia seperti itu. Kepo banget ya? Tapi buat aku ini hal yang menarik sih.. karena setiap orang punya alasan untuk perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan. Kadang juga emang bawaan dari lahir aja, sih. Aku kepo bukan untuk ngejudge, simply pengen tau aja karena human’s emotion and behavior tuh menarik. Dan somehow ini melatih empati, biar ngga asal mengkotak-kotakkan orang lain dan asal ngejudge. Plus, jadi bisa senantiasa berprasangka baik ke orang lain.

Contohnya baru-baru ini temanku cerita tentang si A yang katanya rakus. Kalau ada makan-makan di kantor, dia ambil paling banyak dan kalau ada sisa pun dia bungkus paling banyak. Temanku ini ceritanya sambil sedikit emosi. Karena menurut dia, itu kurang beretika.. harusnya ambil secukupnya aja. Kan masih ada yang lain yang ingin makan dan bungkus juga. Nah cerita ini bikin aku wonder, kenapa si A kayak gitu. Apakah emang doyan, suka makan, atau di rumahnya banyak adik-adiknya dan dia suka berbagi makanan dari kantor ke mereka, atau dia ngekos dan pengen berbagi ke tetangga kosnya, atau simply value yang dianut temanku (tentang etika makan bersama) berbeda dengan value yang si A punya. Setiap individu, keluarga, kelompok masyarakat pasti punya value yang dianut dan bisa jadi berbeda satu sama lain. Buat temanku mengambil makanan secukupnya itu value yang penting, bisa jadi untuk si A itu value yang biasa aja. Dia ngga merasa ada yang salah dengan hal itu.

Sebenarnya ini cukup relate juga dengan apa yang harusnya kita lakukan sebagai manusia. Aku pernah denger ceramah tentang berprasangka baik terhadap orang lain. Intinya, kalau kita punya prasangka buruk ke orang lain, langsung cari 70 alasan yang bisa membuat prasangka buruk itu hilang. Kalau udah 70 dan masih belum ada yang make sense, maka yakin aja dalam hati bahwa orang tersebut punya alasan tersendiri yang kita ngga tahu. Jadi even kita ngga nemu alasannya, kita tetep ngga boleh berprasangka buruk. Kebayang kan repotnya nyari 70 alasan yang ujung-ujungnya kita harus berprasangka baik anyway. Mending ngga usah punya prasangka buruk makanya 🙂

Setiap orang itu unik, tingkah lakunya suka ada-ada aja. Bisa nyebelin, bisa menyenangkan. Ada yang nyebelin terus. Ada yang moody. Ada yang lempeng banget hidupnya kayak ngga pernah diterpa cobaan. Selama bisa, ya dimaklumi aja. Udah sifatnya begitu, dia lagi ada masalah, lagi PMS, lagi kesenengan karena kebanyakan makan gula, punya value berbeda, dan lain-lain alasannya. Kalau ditahap ngga bisa memaklumi lagi, jaga jarak sebisa mungkin. Supaya kita ngga sebel amat sama itu orang dan bikin orang itu balik sebel ke kita. Karena memang ngga semua orang bisa cocok. Tapi ngga cocok bukan berarti musuhan.

Yang ada-ada aja kayak gini, enaknya dibawa asik aja 🙂

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

What I’ve Learned about Career

Ada yang pernah baca cerita tentang Lucy and why she’s unhappy? Kalau belum, bisa dibaca di sini:

https://waitbutwhy.com/2013/09/why-generation-y-yuppies-are-unhappy.html

Sebaiknya, baca dulu cerita Lucy sebelum melanjutkan baca post ini ya. Soalnya akan berkaitan.

Nah, apa yang dialami Lucy pernah terjadi di aku waktu baru lulus S1 dan mulai bekerja di pekerjaan pertamaku. Singkat cerita, dulu aku pikir cari kerja yang bagus dengan benefit yang melimpah itu gampang. Aku selalu look up ke pekerjaan orang tua ku dan bagaimana kehidupan yang aku jalani saat itu. Jadi, aku punya ekspektasi yang tinggi terhadap karir dan pekerjaan dan berharap kesuksesan yang instan (sangatlah mental millenials). Dan realitanya sama sekali berbeda.

Awalnya ada rasa “duh kok nasibku ngga sebagus temen-temen yang lain..” atau ngga proud dengan yang aku kerjakan saat itu dan pengen banget dapet pekerjaan yang lebih bergengsi. Atau at least punya pekerjaan yang aku suka dan aku bangga ngejalaninnya. Tapi setelah aku memutuskan untuk lanjut S2, akhirnya jadi lebih santai. Ngga lagi interview sana sini, pokoknya fokus di pekerjaanku waktu itu dan mempersiapkan banyak hal untuk kuliah lagi. Mungkin karena saat itu aku jadi punya target yang exciting ya, dan menganggap kerja cuma iseng sambil menunggu waktu kuliah tiba.

Beberapa saat sebelum pulang dari S2, aku udah niat bahwa sampai di Indonesia aku harus langsung produktif. Makanya waktu itu aku langsung apply untuk magang di salah satu startup. Sembari magang, aku juga apply kerja. Ada 2 perusahaan FMCG yang aku ikuti proses rekrutmennya saat itu dan salah satunya adalah tempatku bekerja saat ini. Nanti-nanti mungkin aku akan cerita tips buat tes kerja berdasarkan pengalaman selama ini.

Well, it’s not the best company in the world or even in the country. Tapi sekarang aku lebih serius meniti karir di tempat aku bekerja. Aku suka dengan apa yang aku kerjakan, bosku selalu develop aku dan percaya kalau aku mengerjakan tugas-tugas yang menantang. I’m not in any point where I can give you advice about achieving a particular position at the office or about becoming the best employee. Tapi ada beberapa take out dari pengalaman yang aku ceritakan tadi.

First thing first, semua orang punya timeline hidup masing-masing. Mungkin hidup kita dari kecil sampai kuliah semacam ada juklaknya ya, tapi setelah lulus kuliah tuh semua random aja. Tiap orang akan punya jalan hidup masing-masing. For some people, it’s a one lucky shot untuk dapat pekerjaan yang bagus dan sesuai keinginan. Ada lagi yang dapat kerjaan bagus, ternyata setelah dijalani jadi ngga cocok. Yang awalnya ngga suka dengan kerjaannya, lama-lama jadi enjoy juga ada. Beberapa lainnya harus pindah sana sini dulu baru ketemu yang pas. Pokoknya beragam banget ceritanya deh.

Satu hal yang temanku bilang, career is a marathon, not a sprint. After all, it’s not about the speed but about the endurance.

Kedua, setiap milestone dalam hidup pasti mengajari kita sesuatu. Pelajarannya ngga mesti relate dengan milestone itu sendiri. Misalnya, ada di pekerjaan yang kurang disukai, tapi teman-teman di kantor membuat kita paham tentang empati. Jadi harus percaya kalau apa yang kita alami saat ini akan membentuk kita yang lebih baik di masa nanti. Salah satu yang bisa dipelajari dari perjalanan berkarir adalah bagaimana menjadi profesional. Mantan director di kantorku selalu bilang, no one puts a gun on your head and force you to take this job. Jadi bekerja di tempat yang saat ini adalah pilihan kita yang dibuat secara sadar dan tanpa paksaan. Kalau ngga suka, pindah. Cari pekerjaan yang lebih baik. Jangan stay dan ngga perform. Kalau pada akhirnya memilih untuk stay, ya do our best. Jangan males, jangan ogah-ogahan, jangan mempersulit pekerjaan orang lain yang ada kaitannya dengan pekerjaan kita. Intinya, be professional. Sengga suka apapun dengan pekerjaannya, kalau kita memilih untuk stay, harus tetap perform dengan baik. Ini akan jadi nilai positif juga buat kita, karena orang lain akan lihat bahwa kinerja kita baik. It will leave them a good impression. Dan ketika akan pindah ke pekerjaan lain, recruiternya bisa mendapat rekomendasi yang positif dari teman-teman kerja kita.

Terakhir, set our own standards. Ada yang punya ambisi besar, ada yang merasa cukup dengan karir yang biasa-biasa aja. Ada yang cinta mati dengan perusahaan, ada yang bekerja sekedarnya. Ngga ada yang benar, ngga ada yang salah. Semua preferensi masing-masing orang aja. Tapi kita harus set standar kita sendiri. Mau kerja dimana, mau posisi apa, mau hidup yang kayak gimana. Do not settle for comfort, but settle to the standards we made for ourselves. Dan yang terpenting, jangan compare dengan orang lain. Karena setiap orang berbeda-beda. Rezeki juga udah ada yang atur. Live for our own personal achievement, dan untuk orang-orang sekitar yang kita sayangi.

Nah itu sedikit cerita tentang pekerjaan, yang mungkin akan berlanjut juga di post berikut-berikutnya. Satu prinsip yang selalu aku ulang-ulang; nobody in life gets exactly what they thought they were going to get, but if you work really hard and you’re kind, amazing things will happen.

It did. It does. And I believe it always will..

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Thoughts on Almost Finding The One

Karena aku tipe orang yang lebih mudah mengutarakan perasaan dalam bentuk tulisan dibanding omongan, ini tulisan untuk kamu.

Aku dulu berdoa sama Tuhan supaya cepet-cepet dipertemukan dengan jodohku. Tapi kalau cepet-cepet mungkin ngga ketemu kamu. Awalnya aku nyaman aja, sama kamu bisa ngobrol banyak dan aku bisa cerita macem-macem hal. Aku sampe sempet berpikir kalau finding the one tuh simply atas dasar rasa nyaman..

Tapi ngeliat kamu, di perjalanan kita yang baru sebentar tapi udah roller coaster banget ini, aku sadar nyaman aja ngga cukup untuk bisa bertahan. Nyaman emang punya kontribusi besar sih.. tapi lebih dari itu, kamu nunjukin kalau kamu baik dan bertanggung jawab. Kamu dewasa banget menghadapi banyak hal yang kita alami. Kamu simply do all the necessary things yang bikin kita bertahan. Itu semua membuat aku semakin yakin sama kamu. Kamu sebaik itu.

Kalau mengutip Nayyirah Waheed, someone can be madly in love with you and still not be ready. They can love you in a way you have never been loved and still not join you on the bridge. And whatever their reasons, you must leave. Because you never ever have to inspire anyone to meet you on the bridge. You never ever have to convince someone to do the work to be ready. There is more extraordinary love, more love that you have never seen, out here in this wide and wild universe. There is the love that will be ready. Kamu, somehow berhasil buat aku yakin, kalau kali ini.. this is the love that will (soon) be ready.

Aku ngga tau Tuhan punya rencana apa buat kita. Tapi semoga Tuhan punya rencana yang baik, yang ngga bikin kita harus pisah. Yang ngga bikin aku dan kamu sedih. Semoga Tuhan punya pendapat yang sama kayak aku, bahwa kamu orang yang aku butuh dan sebaliknya. Semoga Tuhan bisa merasakan apa yang aku rasakan sampe Tuhan ngga tega kalau harus misahin aku dan kamu.

Sejungkir balik apapun hidup kita ke depannya, i can’t wait to hop on the journey with you.

Aku berterima kasih banget sama Tuhan karena udah jawab doa-doaku, lebih dari yang aku minta. Semoga Tuhan selalu kasih rasa sayang yang banyak buat aku dan kamu untuk dibagi berdua dan ke orang lain.

Reflection on Eid

Waktu kecil dulu, aku sekolah di sekolah islam yang selalu membuat suasana hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha meriah. Setiap mendekati Idul Adha, murid-murid akan diajak untuk beramal setiap hari dan berapapun uang yang terkumpul akan digunakan untuk membeli hewan qurban.

Momen Idul Adha selalu dijelaskan sebagai momen untuk berbagi ke sesama, ke orang-orang yang kurang beruntung. Sering guruku bercerita bahwa banyak orang yang hanya bisa makan daging satu tahun sekali, ya di hari Idul Adha itu. Sedangkan untuk aku dan sebagian orang lainnya, makan daging adalah hal biasa. Kalau bulan puasa sering dijelaskan salah satunya agar kita bisa merasakan kelaparan yang dirasakan orang-orang yang kurang beruntung, hari raya qurban adalah saatnya orang-orang yang kurang beruntung untuk merasakan apa yang biasa kita rasakan.

Itu hal yang aku pahami waktu kecil. Idul Adha ya tentang berbagi aja.. tapi ternyata ada hal lain yang penting – dan selama ini aku belum paham. Yaitu tentang kesabaran. Tadi lagi scroll timeline twitter, sampai ada suatu akun yang membuat post berisi ayat Alquran surat As-Saffat ayat 99-111. Ayatnya bercerita tentang bagaimana Nabi Ibrahim berdoa agar diberikan anak yang soleh. Lalu ketika akhirnya punya anak, Allah memberi ujian dengan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya (Nabi Ismail). Dan keduanya menjalani ujian tersebut dengan sabar.. dan akhirnya diberikan balasan yang baik.

Reflecting on our life, rasanya jadi Nabi Ibrahim tuh kayak.. udah lama banget kepengen sesuatu. Sampai berdoa yang lebih dari biasanya. Terus pas akhirnya dikabulkan, eh harus dibalikin lagi. Hal kayak gitu lumayan sering ngga sih terjadi di kehidupan? Dikasih ujian untuk mengikhlaskan sesuatu, apa aja. Orang yang kita sayang, barang yang kita suka, hal-hal yang kita biasa lakukan. Selama ini mungkin ada banyak attachment-attachment dalam hidup yang membuat kita susaaah banget untuk melepas sesuatu. Padahal, semua yang ada di dunia kan fana.. pasti berakhir, pasti harus mengikhlaskan atau diikhlaskan.

Idul Adha tahun ini buatku, selain tentang berbagi, juga tentang belajar untuk melepas attachment terhadap hal-hal di dunia ini. Orang, barang, pekerjaan, dan lain-lain. Supaya nanti kalau suatu saat hal-hal tersebut harus dikembalikan ke Yang Maha Esa, atau dipergilirkan ke orang lain, aku bisa sabar dan ikhlas. Sebenernya, hal ini udah pernah dijelasin panjang lebar sama temenku belum lama ini sih, tapi waktu itu aku belum ngeh banget hehe..

Mengikhlaskan sesuatu yang kita suka banget, yang kita pengen banget tuh ngga gampang. Dan bersabar atas ujian itu juga sama susahnya. Tapi bisa belajar.. dan inget terus aja kalau Allah janji akan memberi balasan untuk orang-orang yang berbuat baik 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Ada yang baru nih.. Tic Talks

Sebagai mahluk sosial, tentu kita semua suka ngobrol dengan orang lain kan? Dalam sehari pasti ada waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi, membahas suatu hal dengan keluarga, teman, dan orang-orang terdekat. Aku termasuk orang yang menikmati banget ngobrol dan diskusi. Nah, belakangan ini aku jadi sadar kalau selama ini banyak topik diskusi yang bermanfaat dan membuka wawasanku. Dari diskusi, jadi makin tahu banyak hal dan makin open minded juga. Daripada obrolan-obrolan berbobot aku dan teman-teman nantinya terlupakan begitu saja, aku akan summarize itu semua di blog. Biar keren dikit, aku namain Tic Talks (supaya kayak Ted Talks). Semoga bisa bermanfaat juga buat yang baca dan biar ngga dikira obrolanku hanya lawakan receh dan gosip-gosip belaka :p

Tic Talks pertama udah publish lho! Bisa dibaca di sini (klik).

Selamat menikmati!

♥ Atiqah Zulfa Nadia

TicTalks 1: Coping with Life

Belakangan ini cukup sering denger berita tentang orang-orang terkenal yang bunuh diri. Sejak bulan Mei kemarin at least udah ada 2: Kate Spade dan Anthony Bourdain. Menurut kabar yang tersebar, dua-duanya mengalami stress dan depresi yang akhirnya membuat mereka memilih untuk mengakhiri hidup. Isu tentang mental health ini jadi banyak dibahas. Termasuk juga jadi topik obrolanku dengan beberapa teman.

Kita memang ngga akan pernah bisa menilai kehidupan orang lain, apalagi kalau hanya lihat dari tampak luarnya aja. Ada yang sudah sukses dengan karirnya, terkenal hampir di seluruh dunia, berkeluarga, tapi sebenernya struggling dengan sesuatu – entah apa – yang secara perlahan membuat dia ngga kuat lagi dengan hidupnya. Life literally does not stop until you die. Kata temanku begitu.

This whole world will keep pushing us. Setelah lulus kuliah, harus bekerja dan dituntut untuk bisa mandiri secara finansial. Setelah sukses berkarir, ada karir lain yang lebih tinggi lagi.. dan seterusnya. Manusia dan dunia ngga akan pernah sampai pada titik puas. Not until we die.

The world is moving, continuously. Kadang cepat, kadang lambat. Temanku bilang, dan di tengah-tengah dunia yang berputar ini kadang kita merasa lelah. Rasanya mau berhenti sejenak, snooze off dari hiruk pikuk keseharian. Mungkin di titik tertentu dalam hidup, kita akan merasa selelah itu sampai rasanya mau berhenti selamanya..

Semua orang yang terlihat ‘normal’, tanpa beban bukan jaminan hidupnya baik-baik aja. Everybody is struggling. Apalagi di tengah-tengah society yang mulutnya betul-betul lebih tajam dari silet dan lingkungan yang ngga pernah berhenti memberikan pressure dalam kehidupan. Tapi, ngga semua orang bisa dengan terbuka menceritakan keluh kesah hidupnya. Makanya, lagi-lagi bersikap baik dan ramah itu penting. Checking up on people itu penting, sesimpel menanyakan kabar dan memberikan perhatian sederhana. Ada buat orang lain, baik keluarga ataupun teman itu penting. Because everybody could use our little act of kindness to stay alive and survive a life.

Sebagai pribadi menurutku kita juga harus bisa menolong diri sendiri, coping with all the troubles of life. Hal yang klise tapi benar adalah dengan dekat sama Tuhan, supaya selalu merasa tentram. Kedua, mengelilingi diri dengan lingkungan yang baik dan positif. Ketiga, tahu limit diri sendiri.. kapan take a break dan berhenti sejenak, kapan harus mengambil keputusan besar, dan lain-lain. Keempat, count our blessings, supaya ngga terus menerus merasa ngga beruntung dalam hidup. Kelima, salurkan emosi, apapun bentuknya (bahagia, kesel, marah, sedih).. kalau bukan tipe yang bisa outspoken untuk mengekspresikan di depan orang lain, coba disalurkan lewat media lain. Keeping a journal, maybe?

Semoga kita semua bisa menjalani hidup dengan apa adanya, banyak bersyukur, dan bahagia terus dan terus…

(Tulisan ini berdasarkan obrolan bersama geng Manchester-ku; Sarahi, Indi, dan Azizah)

♥ Atiqah Zulfa Nadia

My Ramadan Story

It began with a moment where I finally completed my running goal. I challenged myself to run for 3k. Though running in a slow speed, I did not stop ever for a second. That is where I learned about endurance, which apparently is a combination between a strong mind and an obedient body. I finally knew that I can endure the activity I used to hate the most in life (I never liked running). Thus, I believe that there are other difficult and challenging things I can overcome. And it all starts with the mind.

Ramadan is a month of endurance. We don’t get to eat when we want to during the daylight, we refrain from talking behind someone else’s back, and we break our bad habits. This Ramadan, believing that I have quite master endurance, I challenged myself. There are 3 things I tried to endure – which were not really necessary – but I hope they do me any good. The things might be something very basic for other people, yet to me those were new. Things that I have never done before.

First drill is to pray tarawih in the mosque. I haven’t really done this in the previous years. Either because I was lazy, the mosque is hot, the prayer takes too long, and so on. I prefer to pray at home. But this year was different. I realized that almost every single weekend before Ramadan, I always went out with my friends until it’s very late at night. Then I asked myself, why wouldn’t I go the extra miles to pray tarawih in the mosque as often as possible during Ramadan? If I could play until very late, why couldn’t I pray tarawih in the mosque until 9pm? I have a healthy body and there are mosques with air conditioner, I got no valid reason to not praying tarawih in the mosque. That keeps me going, consistently. There are days where I felt exhausted and felt like I just want to pray at home.. but again, this Ramadan is about endurance. So I tried to endure.

Second drill is to eat just enough food during sahur and buka puasa. I used to be very specific about what I have to eat at buka puasa; hot tea with sugar and gorengan. If there’s no tea and gorengan, I might be a little bit fussy. Well, a lot fussy sometimes. This year, I learned to be okay with whatever it is on the table. Also, I tried to endure all the cravings during the day. Back then, I would fulfill my cravings and ate them at buka puasa time. Imagine how full I became? Very full. I did this drill, first because I wanted to reduce my weight and second because I listened to a lecture few weeks before Ramadan started. The lecture explained that during Ramadan, we’re missing out the idea of fasting if we refrain ourselves from eating and drinking during daylight and eat with such greed at buka puasa time. I believe it’s a good drill to eat wisely, even after Ramadan (and gain the desirable weight as a result!).

The last drill is to wear old piece of clothes in Idulfitri day. This one is easy, though. The idea came as I have many clothes which I have only worn once. I want to better utilize things that I keep (some clothes are just too good to be given away or sold as preloved items, so I keep them). Since I did not allocate any money for new clothes, I was able to spend my money for better things.

That’s the story about my Ramadan. I can definitely say that I had a magical and wondrous time during the month. I hope it is indeed life changing. Next year, shall we meet again, I hope it will be better 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Tweet Compilation / May

“Nulis apa ya…?”

Pertanyaan yang sama berulang kali terpikir setiap aku buka laptop dan berniat untuk nulis sesuatu di blog. Entah kenapa, akhir-akhir ini susah banget nulis yang terstruktur. Bahkan cerita tentang liburan ke Jepang belum kesampaian untuk ditulis. Hari ini kembali mencoba mengumpulkan niat dan ide nulis blog, terus kepikiran untuk nulis kompilasi tweet-ku sebulan terakhir ini. Baik tweet yang aku buat sendiri ataupun tweet orang lain yang aku like. Buat aku, twitter kembali menjadi source of motivation and inspiration setelah Instagram become pretty boring these days. So, shall we begin?

On Kindness

[from @elwa] “Buatku, ikhlas itu gini; Hanya dimanfaatkan atau tidak, dia beneran butuh atau tidak, habis itu dinyinyirin atau tidak, tidak begitu penting lagi ketika kamu memutuskan untuk menolong seseorang” Waktu baca tweet ini, rasanya langsung ‘jleb’ karena ternyata masih sering ngga ikhlas saat nolongin orang lain.

[my own tweet] “Semalem ceramah pak ustad: kalau beribadah dan berbuat baik jangan pas-pasan. Lebihin. And it’s such a thoughtful and beautiful advice 🙂 :)” Seringnya (ini aku sih) kalau beribadah atau bantu orang, ya seadanya aja. Padahal ternyata dengan ngelebihin, meskipun sedikiiit aja, efeknya bisa besar banget katanya.

[from @FiersaBesari] “Dan kini saya sadari, seseorang tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia ini selama kita menyimpan semua kenangannya dan menyebarkan kebaikan yang diajarkannya”  Tweet ini lagi-lagi jadi pengingat dan penyemangat untuk meninggalkan jejak yang baik di bumi.

[my own tweet] “Pagi ini di prambors topiknya ‘pernah ngga ditolong orang yg ngga dikenal?’ Trus dengerin cerita orang2, bikin senyum2 sendiri 🙂 ♥♥” Aku kayaknya udah berkali-kali banget ditolong oleh orang yang belum aku kenal. Dari yang nolongin pas aku bener-bener butuh atau yang hanya simple act of kindness yang tetep aja bikin damai di hati. Kadang kalau lihat orang agak kebingungan atau kesusahan, suka ragu gitu mau bantuin.. kadang gengsi juga.. atau kadang merasa ‘nanti juga ada yang nolong’. Tapi kalau inget kejadian-kejadian random ditolong orang, rasanya malu sendiri kalau ngga offer some help. It all can start with a short question “are you okay?”, sesimpel itu (ini note to myself banget sih..)

On Life

[my own tweet] “Hari ini ngga ada random act of kindness. Adanya isi ceramah pak ustad.. katanya kehidupan kita itu sejatinya berjalan ke tempat kita akan kembali” Ceramahnya mengingatkan kita semua bahwa sejauh apa pun kita berjalan, tujuan akhirnya itu pulang ke Yang Maha Pencipta. Kita semua punya cita-cita dalam hidup, sekolah di Amerika, kerja di Inggris, jalan-jalan ke Disneyland di seluruh dunia, jadi manager di tempat kerja, tapi sebetulnya setiap path yang kita jalani dalam hidup itu akan mengantar kita kembali. Jadi, bagaimana kita hidup harus bisa membuat kita kembali ke tempat yang baik.

[from @tifahr] “Bismillah. Di balik segala ikhtiar, Allah adalah pemegang hak prerogatif utama. Dan semua takdirNya baik.” I repeated the last sentence over and over again… dan semua takdirNya baik. Kebayang ngga sih betapa tenangnya hidup kalau selalu punya mindset ‘semua takdirNya baik’? 🙂

[from @sahid___] “Kalau ingin tahu sifat asli seseorang, beri dia Jabatan Followers.” Tweet ini lahir waktu lagi ada kasusnya gitasav kalau ngga salah.. setelah ngobrol-ngobrol sama temen, intinya sih namanya manusia pasti ngga ada yang sempurna. Kadang orang juga ada masanya habis kesabarannya atau lagi ngga bisa mengontrol emosi. Tapi harusnya itu semua ngga bikin kita jadi judgmental terhadap orang lain. Kalau kata temenku, hard on yourself, easy on others.

On Love and Relationship

[from @sittakarina] “Someone’s effort is a reflection of their interest in you.” Sampai sekarang masih menjadi penganut ‘kalau seseorang itu serius, he won’t make you wonder’

[from @autocorrects] “Date someone you can have fun at a grocery store with” 

[my own tweet] “Jd inget dulu becandanya @erinplstr ‘sendal jepit jodohnya sm sendal jepit, sepatu jodohnya sm sepatu’ ;)” which pretty relates to ‘a flower does not dream of the beet, it blooms then the bee comes’ 🙂

 

Sekian tweet compilation bulan Mei. Semoga nanti akan ada tweet compilation di bulan-bulan berikutnya hehehe

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia