Marriage: A Perspective

Tadi malam ngobrol-ngobrol seru dengan beberapa teman, sampai akhirnya kesinggung juga masalah pernikahan. Ngga bisa dipungkiri ya kalau topik ini emang lagi pas banget diomongin di umur segini.. obrolannya singkat, tapi cukup untuk membuatku berpikir di sepanjang jalan pulang. Terus jadi keinget untuk nulis tentang menikah.. dari perspektif aku, dengan fair dan jujur. Jadilah tulisan ini dibuat.

Kenapa fair dan jujur? Karena sebelum nikah dulu, aku cukup tergelitik dengan pendapat orang-orang yang sangat mendewakan menikah. Well, maybe they aren’t wrong, but their opinion can be misleading. Contoh, “nikah enak banget cuy..” atau “nyesel gue nikah, nyesel kenapa ngga dari dulu” dan ungkapan-ungkapan lain yang menurutku menjadikan menikah cukup overrated. Orang jadi menganggap menikah adalah solusi dan jalan keluar, sebuah happy ending layaknya fairytale. Dari dulu aku selalu wonder, masa iya seindah itu? Bukannya pesimis, tapi aku yakin bahwa menikah adalah hal besar dan semua hal besar pasti butuh persiapan, butuh di-handle dengan baik, dan juga perhatian ekstra. Semakin besar sesuatu, challenge-nya juga semakin banyak. Makanya perspektif ini akan aku buat dengan jujur dan semoga ngga misleading buat yang membaca.

Menikah itu menyenangkan, tapi perjalanannya ngga mulus melulu. Tentu menyenangkan dong punya teman hidup, yang bisa diajak menjalani hobi bareng, berkarya bareng, diskusi banyak hal tiap hari tiap malem. Aku baru 2 bulan lewat dikit menikah dan menyadari bahwa ke depannya it won’t be easy peasy. Bahkan di bulan-bulan yang sudah aku lalui, ada juga hal-hal cukup berat yang harus diputuskan bersama, ada pengorbanan yang harus dilakukan, dan pastinya penyesuaian. Oleh karena itu, menikah butuh persiapan untuk meghadapi itu semua.

Banyak orang super sibuk dengan persiapan acara akad dan resepsi – perhelatan akbar sekali seumur hidup. Don’t get me wrong, aku pun sibuk merealisasikan the wedding of my dream saat itu. Tapi Jihan juga selalu ingetin untuk menyiapkan mental dan ilmu untuk menikah. Orang tuaku juga memfasilitasi dengan pembekalan pranikah dari ustadzah. Ini menurutku penting, soalnya kan agama adalah way of living, jadi pernikahan juga harus dijalani sesuai dengan petunjuk di agama. Temanku yang beragama lain pun punya pendekatan yang sama ketika mau menikah, ada pembekalan agamanya juga.

Ilmu lainnya, seperti manajemen keuangan, baca-baca tentang parenting, dan sharing dengan orang lain yang sudah menikah juga perlu. Tapi perlu digarisbawahi, semua orang punya ceritanya masing-masing dan pendekatan yang mereka lakukan belum tentu berhasil di hidup kita.

Tadi aku sempat menyinggung tentang penyesuaian. Bisa dibilang juga adaptasi. Nah di awal-awal menikah ini yang aku rasa challenge-nya ya adaptasi ini. Klise sih, tapi faktanya gitu. Adaptasi satu sama lain, plus adaptasi dengan keluarga pasangan. Nanti next levelnya adaptasi dengan keluarga besar dan teman-temannya. Penyesuaian dengan diri sendiri yang punya peran baru aja adalah sebuah tantangan, lho. Misal, jadi istri sekarang harus nurut sama suami, mau pergi izin dulu, lalu harus menyesuaikan kegiatan dengan waktu yang diizinkan suami, dan lain-lain.

Ini baru satu dari banyak tantangan lain dalam pernikahan dan membangun rumah tangga. Satu hal yang penting adalah saling support. Kerja sama di tugas rumah tangga, saling back up dan bantu, sering komunikasi dan sharing. Soalnya dalam menghadapi segala tantangan itu, berdua akan lebih baik daripada sendiri. We gotta work things out together, gitu kira-kira prinsipnya. Sambil terus menerus saling mendoakan.

Kalau ditanya pendapat tentang pernikahan, aku akan jawab, aku meng-encourage orang untuk menikah. It is indeed fun, it is such an adventure dan pada beberapa kesempatan, banyak keuntungan dari menikah yang aku rasakan. Namun jangan beranggapan asyiknya aja. Apalagi berpikir kalau nikah adalah solusi dari lelah kerja dan bikin skripsi. Jangan juga keputusan untuk menikah didasari impulsivitas, kepatok umur, desakan society, dan hal-hal lain yang bukan bentuk dari kemauan dan kesiapan diri. Kalau pengalaman aku, ada satu titik dimana aku merasa aku serius untuk mau menikah (bukan cuma bercanda dan ucapan asal-asal aja). Dari situ mulai deh persiapannya, dari berdoa, banyak memperbaiki diri supaya dapat jodoh yang baik juga, sampai mengimprove diri sendiri dari berbagai aspek. Kayak tergerak aja gitu, Alhamdulillah diberikan jalannya. The right moment will come…

Last but not least, jangan takut menikah. Apalagi takut sama hal-hal yang mungkin terjadi dalam pernikahan. Ngga ada yang bisa guarantee seperti apa endingnya, atau apa yang bakal terjadi di awal atau pertengahan. Tapi selama niatnya baik, sama partner saling support dan berjuang, mudah-mudahan apapun bisa dilalui bersama. Mudah-mudahan juga bisa selamanya 🙂

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Thoughts on Finally Found the One

When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible. 

Quote dari film When Harry Met Sally itu rasanya relate banget dengan apa yang aku rasakan di minggu-minggu menuju hari pernikahan. Setiap ditanya orang “udah deg-degan belum?”, pasti jawabnya “belum nih..” karena emang ngga nervous sama sekali. Aku lebih deg-degan ketika mau naik wahana flying dinosaur di USJ daripada waktu mau nikah kemarin. Yang aku rasakan justru excited, mau cepet-cepet tanggal 16 Februari. Persis dengan quote di atas, deh.

Akhirnya perjalanan Atiqah Finding the One selesai juga.. bener aja, Tuhan rencananya selalu terbaik. Semua yang kita harapkan, jadi kenyataan dan dikabulkan di waktu yang tepat. I used to dream of getting married at 23. Ternyata menikahnya umur 25 tahun. Alhamdulillah tetep bahagia. It’s a long journey untuk bisa ketemu Jihan dan akhirnya sama-sama memutuskan untuk menikah. Gabungan dari berbagai kejadian kecil, yang disengaja maupun tidak, akhirnya berujung di sini. Siapa yang nyangka? Begitu kali ya, yang namanya takdir.

Kalau ditanya bagaimana rasanya finally found the one, aku akan jawab excited. Soalnya, ketika kita dengan sadar memilih seseorang untuk hidup bersama, pasti karena ada visi hidup, cara pandang, dan cita-cita yang sejalan. Jadi aku excited banget untuk bisa banyak melakukan berbagai hal berdua, pursuing dreams, banyak diskusi, dan semoga dengan berdua ini jadi semakin banyak manfaat yang aku dan Jihan bisa berikan di dunia. Jihan selalu bilang, dengan menikah, bukan 1+1 = 2, tapi harus bisa jadi lebih dari itu.

After all, menikah itu sama halnya dengan milestones hidup yang lain. Life goes on.. dan sama halnya dengan hidup seperti biasanya, akan ada susah-senang, sedih-gembiranya. It’s not an instant happily ever after (meskipun aku fans disney fairy tales garis keras). Justru malah kadang nervous-nya di sini, menghadapi ketidakpastian masa depan ya pasti bikin insecure. Tapi, the airplane I used to fly on my own sekarang ada co-pilot-nya. Jadi bisa pilih destinasi bersama, bisa overcome turbulence berdua, bisa diskusi untuk ambil keputusan, bisa saling gantian in charge, dan lain-lain.

At this point of time, untuk diriku sendiri, i think two is better than one

Love,

Atiqah Zulfa Nadia

Galau Pekerjaan

Siapa bilang masa-masa galau cuma dialami ketika udah lulus tapi belum dapat kerja alias nganggur? Udah bekerja, bahkan udah beberapa tahun kerja pun, tetep bisa ngerasain galau.

Ada banyak faktor dalam sebuah pekerjaan yang menjadi penentu betah atau engga-nya kita. Betah di sini artinya, ya settle down. Faktor ini pun bisa berganti-ganti, tergantung keadaan kita saat itu. Faktor bagi fresh graduate pastinya beda dengan faktor untuk karyawan yang sudah belasan tahun bekerja.

Saat pertama kali bekerja, biasanya orang akan cukup ambisius. Haus akan tantangan dan semangat 45 untuk bisa mencapai posisi tertentu. Kalau merasa tidak cukup di-develop dan diutilisasi oleh perusahaan, rasanya malas dan jadi demotivasi. Buat fresh graduate, biasanya pertanyaan yang muncul “masa gue udah S1 susah-susah tapi kerjanya begini aja?”

Faktor yang menurutku berlaku secara umum adalah lingkungan. Berhubung manusia ini mahluk sosial dan kita menghabiskan waktu setidaknya 8 jam sehari di kantor, pasti ada kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Dengan lingkungan kerja yang pas, bekerja jadi lebih nyaman dan menyenangkan. Aku bilang pas, karena tiap orang punya preferensi dan standar masing-masing. Lingkungan ini mencakup rekan kerja, atasan, dan budaya atau kebiasaan di sana.

Selain lingkungan ada juga faktor dari pekerjaan itu sendiri. Sesuai passion atau hal yang kita sukai atau engga. Ditambah dengan apakah kapasitas kita mencukupi untuk bisa mengerjakan hal tersebut. Hal-hal seperti ini baiknya diputuskan setelah cukup lama menjalani pekerjaannya, sih.. karena ada masa adaptasi dan belajar yang perlu kita maklumi.

Terakhir ya tentunya kesejahteraan. Apakah kita dibayar sesuai dengan responsibility yang kita miliki, bagaimana coverage asuransinya, ada tunjangan-tunjangan atau tidak, dan lain-lain.

Jadi kenapa orang bisa galau pekerjaan? Menurutku karena ada setidaknya satu dari 4 faktor di atas yang tidak terepenuhi.

Menyambung masalah kegalauan, beberapa hari yang lalu aku mendapatkan advice yang bagus banget dari Managing Director tempat aku bekerja. Waktu itu lagi ada acara lunch with beliau. Too bad, advice-nya justru membuat aku makin wondering, apakah sekarang emang saat yang tepat untuk mencari tempat lain untuk bekerja?

Salah satu advice-nya adalah keep your options open. Ada banyak pekerjaan di dunia ini dan jangan buru-buru menyimpulkan kalau kita sukanya A, bagusnya di A, ngga suka B, dan ngga akan bisa mengerjakan C. Aku udah kerja selama 2 tahun di perusahaan yang sekarang, walaupun berbagai macam tugasnya tapi bisa dibilang berputar di bidang yang sama. Mulai bosen? Lumayan.. mau coba ngerjain yang lain? Mau.. tapi aku belum tau spesifik mau nyobain apa.

Advice kedua paling bikin aku galau. Katanya, work with great leaders. Di beberapa post sebelumnya yang juga membahas karir, aku sedikit cerita tentang bosku dulu. Bos yang menurutku adalah great leader, sebuah inspirasi dan role model. Semenjak beliau resign, aku mengalami masa-masa bagai anak itik kehilangan induk. Kebetulan emang posisinya ngga digantikan oleh siapa-siapa dan rolenya jadi dilebur ke tim lain. Aku lumayan lost sih, even up to now, kayak ngga ada direction dan ngga ada orang yang akan backup semisal nanti ada apa-apa. Meskipun di sisi lain aku bersyukur juga masih dibantu dan dibimbing oleh manager-manager lain (walaupun aku ngga direct report ke mereka). Intinya sih, interaksi dan relationship aku dengan direct reportku saat ini (yang udah ganti 2 kali) masih besar gap-nya. Dan ini buat aku faktor yang determining banget.

To conclude, ibu Managing Director ini juga bilang kalau there’s more to life than working. Kalau nantinya udah ngga kerja lagi, we have to ensure that we still have things to be done and dreams to pursue.

(((Semakin bikin galau kan)))

So, give it a go or… no, not yet?

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Talking ’bout Resolution

It’s 2019 already!

Banyak yang bilang, new year is just another day pass by. Iya juga, tapi kadang manusia butuh momentum untuk memulai sesuatu. Tahun baru sering dijadikan momentum untuk memulai hal baik atau membuat resolusi yang memberikan perubahan besar dalam hidup. So, yes, it’s just another day – which might be the day when something big begins.

Kalau bicara resolusi, seberapa sering sih resolusi biasanya tercapai? Dulu banget aku punya daftar resolusi yang cukup panjang setiap tahunnya. Ternyata, resolusi yang banyak itu kurang efektif. Entah berhenti di tengah tahun atau justru telat dan baru dimulai menjelang akhir tahun. Sejak 4 tahun yang lalu, tepatnya di 2016, aku mengganti caraku membuat resolusi. Instead of a long list, I made one simple sentence which I committed to throughout the year.  Di 2016 resolusiku adalah: do not hesitate in doing good deeds. Aku ngga buat resolusi apa-apa di 2017 dan di 2018 kemarin, resolusiku: live a balance life.

Dengan niat yang kuat, kalimat simpel itu bisa membawa segala hal yang kita lakukan ke arah tercapainya resolusi tersebut. Misalnya, kalau aku lagi ragu untuk bantu orang, aku inget bahwa aku punya resolusi untuk selalu berbuat baik tanpa paksaan. Atau, tahun lalu aku jadi tergerak untuk rutin olahraga dan membatasi konsumsi gula karena kata-kata ‘hidup sehat’ terngiang-ngiang terus. Hal yang simpel dan fleksibel (bukan to do list: ke gym 3 kali seminggu, minum kopi maksimal 2 kali sehari, plank 1 menit tiap pagi, dan lain-lain yang melelahkan) lebih mudah untuk di-maintain dan dijaga sustainability-nya.

Satu hal penting lagi tentang resolusi, kita harus tau seberapa penting resolusi tersebut dan apa yang akan kita dapat kalau resolusinya tercapai. Sebelum membuat resolusi hidup seimbang, aku banyak baca tentang pentingnya olahraga, bahaya gula, kenapa badan harus fit, dan aku waktu itu sadar banget jaman sekarang banyak penyakit yang diderita oleh orang-orang yang masih muda. Jadi aku sadar sepenuhnya kalau mencapai resolusi hidup seimbang itu penting. Kalau sudah tercapai, aku akan dapat reward kesehatan dan mudah-mudahan dapat pahala juga karena sudah menjaga pemberian Tuhan dengan sebaik-baiknya. Kalau sudah tau background dan objective-nya, jadi semakin semangat deh menggapai resolusi. Plus, dukungan dari orang-orang terdekat juga bisa membantu 😉

Terus, apa resolusiku di 2019? Aku mau punya kehidupan sosial (habluminannas) yang baik. Fingers crossed, bisa tercapai. Semoga apapun rencana dan resolusi kalian di tahun ini bisa terlaksana juga.. 🙂

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Manusia Ada-ada Saja

Beberapa hari yang lalu, waktu tugas ke luar kota, selama di hotel aku selalu nonton acara-acara tentang hewan yang ada di channel Natgeo Wild. Terasa banget keajaiban ciptaan Tuhan ketika tau keistimewaan dari setiap spesies yang ada di bumi. Contohnya, hiu yang bisa berenang cepet banget dan bentuk rahangnya didesain pas banget untuk menangkap mangsa. Yang lebih menarik lagi, mereka tuh punya sifat-sifat kayak manusia juga. Bisa cemburu, marah, sedih.. ada yang galak, ada yang sabar, dan lain-lain.

Binatang aja kayak gitu, apalagi manusia yang lebih kompleks. Manusia tuh ada-ada aja kelakuannya. Semakin dewasa, ketika kita makin banyak bergaul dan punya bermacam pengalaman, otomatis pandangan dan pola pikir kita jadi meluas. Dulu aku sempit banget mikirnya dan sering mengkotak-kotakkan orang dengan traits tertentu. Misal, dulu aku beranggapan kalau perempuan merokok itu tergolong nakal. Sekarang? Banyak temanku (perempuan) yang merokok tapi mereka baik, enak diajak ngobrol, berprestasi juga.

Makin ke sini, aku jadi lebih tertarik untuk menilai orang dari banyak sisi. Apa yang dia lakukan, bagaimana dia bersikap, dan yang paling penting, kenapa dia seperti itu. Kepo banget ya? Tapi buat aku ini hal yang menarik sih.. karena setiap orang punya alasan untuk perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan. Kadang juga emang bawaan dari lahir aja, sih. Aku kepo bukan untuk ngejudge, simply pengen tau aja karena human’s emotion and behavior tuh menarik. Dan somehow ini melatih empati, biar ngga asal mengkotak-kotakkan orang lain dan asal ngejudge. Plus, jadi bisa senantiasa berprasangka baik ke orang lain.

Contohnya baru-baru ini temanku cerita tentang si A yang katanya rakus. Kalau ada makan-makan di kantor, dia ambil paling banyak dan kalau ada sisa pun dia bungkus paling banyak. Temanku ini ceritanya sambil sedikit emosi. Karena menurut dia, itu kurang beretika.. harusnya ambil secukupnya aja. Kan masih ada yang lain yang ingin makan dan bungkus juga. Nah cerita ini bikin aku wonder, kenapa si A kayak gitu. Apakah emang doyan, suka makan, atau di rumahnya banyak adik-adiknya dan dia suka berbagi makanan dari kantor ke mereka, atau dia ngekos dan pengen berbagi ke tetangga kosnya, atau simply value yang dianut temanku (tentang etika makan bersama) berbeda dengan value yang si A punya. Setiap individu, keluarga, kelompok masyarakat pasti punya value yang dianut dan bisa jadi berbeda satu sama lain. Buat temanku mengambil makanan secukupnya itu value yang penting, bisa jadi untuk si A itu value yang biasa aja. Dia ngga merasa ada yang salah dengan hal itu.

Sebenarnya ini cukup relate juga dengan apa yang harusnya kita lakukan sebagai manusia. Aku pernah denger ceramah tentang berprasangka baik terhadap orang lain. Intinya, kalau kita punya prasangka buruk ke orang lain, langsung cari 70 alasan yang bisa membuat prasangka buruk itu hilang. Kalau udah 70 dan masih belum ada yang make sense, maka yakin aja dalam hati bahwa orang tersebut punya alasan tersendiri yang kita ngga tahu. Jadi even kita ngga nemu alasannya, kita tetep ngga boleh berprasangka buruk. Kebayang kan repotnya nyari 70 alasan yang ujung-ujungnya kita harus berprasangka baik anyway. Mending ngga usah punya prasangka buruk makanya 🙂

Setiap orang itu unik, tingkah lakunya suka ada-ada aja. Bisa nyebelin, bisa menyenangkan. Ada yang nyebelin terus. Ada yang moody. Ada yang lempeng banget hidupnya kayak ngga pernah diterpa cobaan. Selama bisa, ya dimaklumi aja. Udah sifatnya begitu, dia lagi ada masalah, lagi PMS, lagi kesenengan karena kebanyakan makan gula, punya value berbeda, dan lain-lain alasannya. Kalau ditahap ngga bisa memaklumi lagi, jaga jarak sebisa mungkin. Supaya kita ngga sebel amat sama itu orang dan bikin orang itu balik sebel ke kita. Karena memang ngga semua orang bisa cocok. Tapi ngga cocok bukan berarti musuhan.

Yang ada-ada aja kayak gini, enaknya dibawa asik aja 🙂

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

What I’ve Learned about Career

Ada yang pernah baca cerita tentang Lucy and why she’s unhappy? Kalau belum, bisa dibaca di sini:

https://waitbutwhy.com/2013/09/why-generation-y-yuppies-are-unhappy.html

Sebaiknya, baca dulu cerita Lucy sebelum melanjutkan baca post ini ya. Soalnya akan berkaitan.

Nah, apa yang dialami Lucy pernah terjadi di aku waktu baru lulus S1 dan mulai bekerja di pekerjaan pertamaku. Singkat cerita, dulu aku pikir cari kerja yang bagus dengan benefit yang melimpah itu gampang. Aku selalu look up ke pekerjaan orang tua ku dan bagaimana kehidupan yang aku jalani saat itu. Jadi, aku punya ekspektasi yang tinggi terhadap karir dan pekerjaan dan berharap kesuksesan yang instan (sangatlah mental millenials). Dan realitanya sama sekali berbeda.

Awalnya ada rasa “duh kok nasibku ngga sebagus temen-temen yang lain..” atau ngga proud dengan yang aku kerjakan saat itu dan pengen banget dapet pekerjaan yang lebih bergengsi. Atau at least punya pekerjaan yang aku suka dan aku bangga ngejalaninnya. Tapi setelah aku memutuskan untuk lanjut S2, akhirnya jadi lebih santai. Ngga lagi interview sana sini, pokoknya fokus di pekerjaanku waktu itu dan mempersiapkan banyak hal untuk kuliah lagi. Mungkin karena saat itu aku jadi punya target yang exciting ya, dan menganggap kerja cuma iseng sambil menunggu waktu kuliah tiba.

Beberapa saat sebelum pulang dari S2, aku udah niat bahwa sampai di Indonesia aku harus langsung produktif. Makanya waktu itu aku langsung apply untuk magang di salah satu startup. Sembari magang, aku juga apply kerja. Ada 2 perusahaan FMCG yang aku ikuti proses rekrutmennya saat itu dan salah satunya adalah tempatku bekerja saat ini. Nanti-nanti mungkin aku akan cerita tips buat tes kerja berdasarkan pengalaman selama ini.

Well, it’s not the best company in the world or even in the country. Tapi sekarang aku lebih serius meniti karir di tempat aku bekerja. Aku suka dengan apa yang aku kerjakan, bosku selalu develop aku dan percaya kalau aku mengerjakan tugas-tugas yang menantang. I’m not in any point where I can give you advice about achieving a particular position at the office or about becoming the best employee. Tapi ada beberapa take out dari pengalaman yang aku ceritakan tadi.

First thing first, semua orang punya timeline hidup masing-masing. Mungkin hidup kita dari kecil sampai kuliah semacam ada juklaknya ya, tapi setelah lulus kuliah tuh semua random aja. Tiap orang akan punya jalan hidup masing-masing. For some people, it’s a one lucky shot untuk dapat pekerjaan yang bagus dan sesuai keinginan. Ada lagi yang dapat kerjaan bagus, ternyata setelah dijalani jadi ngga cocok. Yang awalnya ngga suka dengan kerjaannya, lama-lama jadi enjoy juga ada. Beberapa lainnya harus pindah sana sini dulu baru ketemu yang pas. Pokoknya beragam banget ceritanya deh.

Satu hal yang temanku bilang, career is a marathon, not a sprint. After all, it’s not about the speed but about the endurance.

Kedua, setiap milestone dalam hidup pasti mengajari kita sesuatu. Pelajarannya ngga mesti relate dengan milestone itu sendiri. Misalnya, ada di pekerjaan yang kurang disukai, tapi teman-teman di kantor membuat kita paham tentang empati. Jadi harus percaya kalau apa yang kita alami saat ini akan membentuk kita yang lebih baik di masa nanti. Salah satu yang bisa dipelajari dari perjalanan berkarir adalah bagaimana menjadi profesional. Mantan director di kantorku selalu bilang, no one puts a gun on your head and force you to take this job. Jadi bekerja di tempat yang saat ini adalah pilihan kita yang dibuat secara sadar dan tanpa paksaan. Kalau ngga suka, pindah. Cari pekerjaan yang lebih baik. Jangan stay dan ngga perform. Kalau pada akhirnya memilih untuk stay, ya do our best. Jangan males, jangan ogah-ogahan, jangan mempersulit pekerjaan orang lain yang ada kaitannya dengan pekerjaan kita. Intinya, be professional. Sengga suka apapun dengan pekerjaannya, kalau kita memilih untuk stay, harus tetap perform dengan baik. Ini akan jadi nilai positif juga buat kita, karena orang lain akan lihat bahwa kinerja kita baik. It will leave them a good impression. Dan ketika akan pindah ke pekerjaan lain, recruiternya bisa mendapat rekomendasi yang positif dari teman-teman kerja kita.

Terakhir, set our own standards. Ada yang punya ambisi besar, ada yang merasa cukup dengan karir yang biasa-biasa aja. Ada yang cinta mati dengan perusahaan, ada yang bekerja sekedarnya. Ngga ada yang benar, ngga ada yang salah. Semua preferensi masing-masing orang aja. Tapi kita harus set standar kita sendiri. Mau kerja dimana, mau posisi apa, mau hidup yang kayak gimana. Do not settle for comfort, but settle to the standards we made for ourselves. Dan yang terpenting, jangan compare dengan orang lain. Karena setiap orang berbeda-beda. Rezeki juga udah ada yang atur. Live for our own personal achievement, dan untuk orang-orang sekitar yang kita sayangi.

Nah itu sedikit cerita tentang pekerjaan, yang mungkin akan berlanjut juga di post berikut-berikutnya. Satu prinsip yang selalu aku ulang-ulang; nobody in life gets exactly what they thought they were going to get, but if you work really hard and you’re kind, amazing things will happen.

It did. It does. And I believe it always will..

♥️ Atiqah Zulfa Nadia

Thoughts on Almost Finding The One

Karena aku tipe orang yang lebih mudah mengutarakan perasaan dalam bentuk tulisan dibanding omongan, ini tulisan untuk kamu.

Aku dulu berdoa sama Tuhan supaya cepet-cepet dipertemukan dengan jodohku. Tapi kalau cepet-cepet mungkin ngga ketemu kamu. Awalnya aku nyaman aja, sama kamu bisa ngobrol banyak dan aku bisa cerita macem-macem hal. Aku sampe sempet berpikir kalau finding the one tuh simply atas dasar rasa nyaman..

Tapi ngeliat kamu, di perjalanan kita yang baru sebentar tapi udah roller coaster banget ini, aku sadar nyaman aja ngga cukup untuk bisa bertahan. Nyaman emang punya kontribusi besar sih.. tapi lebih dari itu, kamu nunjukin kalau kamu baik dan bertanggung jawab. Kamu dewasa banget menghadapi banyak hal yang kita alami. Kamu simply do all the necessary things yang bikin kita bertahan. Itu semua membuat aku semakin yakin sama kamu. Kamu sebaik itu.

Kalau mengutip Nayyirah Waheed, someone can be madly in love with you and still not be ready. They can love you in a way you have never been loved and still not join you on the bridge. And whatever their reasons, you must leave. Because you never ever have to inspire anyone to meet you on the bridge. You never ever have to convince someone to do the work to be ready. There is more extraordinary love, more love that you have never seen, out here in this wide and wild universe. There is the love that will be ready. Kamu, somehow berhasil buat aku yakin, kalau kali ini.. this is the love that will (soon) be ready.

Aku ngga tau Tuhan punya rencana apa buat kita. Tapi semoga Tuhan punya rencana yang baik, yang ngga bikin kita harus pisah. Yang ngga bikin aku dan kamu sedih. Semoga Tuhan punya pendapat yang sama kayak aku, bahwa kamu orang yang aku butuh dan sebaliknya. Semoga Tuhan bisa merasakan apa yang aku rasakan sampe Tuhan ngga tega kalau harus misahin aku dan kamu.

Sejungkir balik apapun hidup kita ke depannya, i can’t wait to hop on the journey with you.

Aku berterima kasih banget sama Tuhan karena udah jawab doa-doaku, lebih dari yang aku minta. Semoga Tuhan selalu kasih rasa sayang yang banyak buat aku dan kamu untuk dibagi berdua dan ke orang lain.

Reflection on Eid

Waktu kecil dulu, aku sekolah di sekolah islam yang selalu membuat suasana hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha meriah. Setiap mendekati Idul Adha, murid-murid akan diajak untuk beramal setiap hari dan berapapun uang yang terkumpul akan digunakan untuk membeli hewan qurban.

Momen Idul Adha selalu dijelaskan sebagai momen untuk berbagi ke sesama, ke orang-orang yang kurang beruntung. Sering guruku bercerita bahwa banyak orang yang hanya bisa makan daging satu tahun sekali, ya di hari Idul Adha itu. Sedangkan untuk aku dan sebagian orang lainnya, makan daging adalah hal biasa. Kalau bulan puasa sering dijelaskan salah satunya agar kita bisa merasakan kelaparan yang dirasakan orang-orang yang kurang beruntung, hari raya qurban adalah saatnya orang-orang yang kurang beruntung untuk merasakan apa yang biasa kita rasakan.

Itu hal yang aku pahami waktu kecil. Idul Adha ya tentang berbagi aja.. tapi ternyata ada hal lain yang penting – dan selama ini aku belum paham. Yaitu tentang kesabaran. Tadi lagi scroll timeline twitter, sampai ada suatu akun yang membuat post berisi ayat Alquran surat As-Saffat ayat 99-111. Ayatnya bercerita tentang bagaimana Nabi Ibrahim berdoa agar diberikan anak yang soleh. Lalu ketika akhirnya punya anak, Allah memberi ujian dengan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya (Nabi Ismail). Dan keduanya menjalani ujian tersebut dengan sabar.. dan akhirnya diberikan balasan yang baik.

Reflecting on our life, rasanya jadi Nabi Ibrahim tuh kayak.. udah lama banget kepengen sesuatu. Sampai berdoa yang lebih dari biasanya. Terus pas akhirnya dikabulkan, eh harus dibalikin lagi. Hal kayak gitu lumayan sering ngga sih terjadi di kehidupan? Dikasih ujian untuk mengikhlaskan sesuatu, apa aja. Orang yang kita sayang, barang yang kita suka, hal-hal yang kita biasa lakukan. Selama ini mungkin ada banyak attachment-attachment dalam hidup yang membuat kita susaaah banget untuk melepas sesuatu. Padahal, semua yang ada di dunia kan fana.. pasti berakhir, pasti harus mengikhlaskan atau diikhlaskan.

Idul Adha tahun ini buatku, selain tentang berbagi, juga tentang belajar untuk melepas attachment terhadap hal-hal di dunia ini. Orang, barang, pekerjaan, dan lain-lain. Supaya nanti kalau suatu saat hal-hal tersebut harus dikembalikan ke Yang Maha Esa, atau dipergilirkan ke orang lain, aku bisa sabar dan ikhlas. Sebenernya, hal ini udah pernah dijelasin panjang lebar sama temenku belum lama ini sih, tapi waktu itu aku belum ngeh banget hehe..

Mengikhlaskan sesuatu yang kita suka banget, yang kita pengen banget tuh ngga gampang. Dan bersabar atas ujian itu juga sama susahnya. Tapi bisa belajar.. dan inget terus aja kalau Allah janji akan memberi balasan untuk orang-orang yang berbuat baik 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia