Siapa Bilang Enak? (part 3)

Welcome to the final part of Siapa Bilang Enak! Sebelumnya, terima kasih sudah membaca part 1 dan part 2. Such an honor for me to have a numerous readers. Insya Allah bener-bener bermanfaat yaa.

Without any further ado, please buckle up, have your most comfortable position, and let’s continue the journey 😀

Mandiri dan Bertanggung Jawab

Mandiri saat merantau itu beyond bisa bangun pagi sendiri dan bisa masak (seriously, this isn’t the thing you need to worry about. Kemampuan itu akan datang dengan sendirinya, once you have no other option). Aku juga awalnya ngga menyangka mandiri itu akan sebegininya. Sebelum aku berangkat, salah satu sahabatku pernah bilang “Tiq, kalau ngerantau tuh jadi mandiri banget. Kalau ada masalah itu diselesaiin sendiri, ngga mau ngerepotin orang-orang di rumah.” Awalnya aku mikir, masalah apa sih yang bisa dialami oleh mahasiswa yang kuliah di luar negeri? Paling masalah akademis.. tapi ternyata aku salah. Dan yang dibilang oleh sahabatku itu menjadi kenyataan.

Waktu aku punya masalah dengan account PayPal-ku (ada orang ngga dikenal yang belanja dengan account PayPal-ku sebanyak £400-an) aku sama sekali ngga mau melibatkan ibu dan bapak, even up to now aku belum cerita ke mereka hehehe. Untungnya uangku kembali utuh setelah diurus selama satu minggu dengan pihak PayPal.

So, mandiri means bisa menyelesaikan masalah sendiri even that requires you to deal with other people by your own. Sure, aku bercerita ke beberapa temanku di sini dan ke kakakku. But they can only give suggestion, do this and do that. Yang harus melakukan usahanya ya kita sendiri. I’d say kemandirian ini juga bisa muncul dengan sendirinya saat kepepet. Tapi semua butuh persiapan, aku merasa pengalamanku bekerja di kantor selama setahun membuatku cukup percaya diri untuk menyelesaikan masalah sendiri sebelum eskalasi ke supervisor. Dan itu yang membantuku untuk bisa melalui masalah tanpa kebingungan seperti anak ayam mencari induknya.

Saat merantau, you have to be independent. Ngga bisa bergantung sama orang lain dan hanya ikut kemana orang lain pergi. Ke bank, ke student service, ke pendaftaran klinik dokter, vaksin, dan lain-lain harus berani sendiri.

The one who wishes to wear the crown must bear its weight

Bertanggung jawab itu hal yang cukup berat. segala tindak tanduk selama di perantauan harus bisa dipertanggungjawabkan. To go to the pub or not go to the pub, to spend lots of money on winter coat or to buy some experiences (watch a theater, for instance), to study only or to also join a social activity, and so on. After all Tuhan udah memberikan kesempatan untuk kuliah di luar negeri (yang ngga semua orang bisa dapatkan), jadi salah satu bentuk syukurnya adalah dengan menjalani kesempatan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Yang utama tentunya belajar sebaik-baiknya supaya mendapat hasil yang baik pula.

Menjaga Diri

Manchester is not safe at all! Banyak copet (di jalanan maupun yang membobol rumah), banyak orang mabuk, dan orang-orang yang melakukan sexual harassment. Don’t worry, most of other cities in the UK are way safer than Manchester. Aku jadi harus bisa menjaga diri supaya ngga menjadi korban kejahatan selama di sini. Dari mulai ngga pegang handphone saat di jalan, selalu pulang saat terang benderang (kalau terpaksa, selalu pulang ramai-ramai atau naik kendaraan seperti bus dan uber), selalu lewat jalan besar, dan aware terhadap lingkungan sekitar kalau sedang sendirian.

Menjaga diri itu termasuk juga membatasi pergaulan, jangan sampai kebawa arus dan melenceng dari prinsip hidup yang sebelumnya. I won’t elaborate more on this, karena prinsip hidup dan batasan setiap orang itu berbeda-beda but one important thing is jangan sampai menjadi pribadi yang lebih buruk dari sebelumnya.

Keep in Touch

Seven hours time difference, isn’t that too much? It is! Untungnya ada teknologi canggih yang assist segala kebutuhan komunikasi kita saat ini. Walaupun tetap aja rasanya ngga sama dengan hadir secara secara fisik di tengah-tengah keluarga dan sahabat. Kadang-kadang merasa left out juga karena perbedaan jarak dan waktu. Sometimes you just wish you were there too. Yes, merantau tandanya kamu kemungkinan besar akan kelewatan momen-momen spesial bersama keluarga dan teman-teman. On the other hand, kamu bisa punya special moment juga saat kamu studi di luar negeri. It’s a matter of trade-off.

Once in a while, mungkin kamu akan merasa home sick juga. Aku sendiri so far baru merasa home sick waktu stress ujian kemarin. On the most stressful day, you just want to be home but home is just too far away. (Sedih ya? Huehehe tapi nikmatin aja). Dan di saat-saat seperti itulah keeping in touch itu penting. Seengganya bisa mengurangi sedikit rasa kangen dan bisa semangat lagi.

Pasca Kampus

“Mau ngapain abis S2?”

Ekspektasi orang-orang terhadap mahasiswa bergelar master pasti lebih tinggi dari yang bergelar sarjana. Ketika dulu kita udah di level 7, seusai sekolah pasti harapannya bisa ada di level 9 atau bahkan 10. Kehidupan pasca kampus itu harus betul-betul dipikirin juga. And it’s tough. Bagaimana caranya membuktikan kalau memang studi yang sudah ditempuh sampai jauh-jauh ke negeri orang itu bener-bener memberikan value added kepada diri kita. Kita yang lebih baik dari sebelumnya, kita yang bisa mencapai sesuatu yang lebih besar lagi.

This is my biggest concern right now. How to execute my plan after study and be successful.

After all, ini beban terberat (at least menurutku) dari sekolah ke luar negeri. Make sure you have a clear plan in your mind and be eager enough to turn it into reality.

‘Bonus’

Here we are in the last part and the most fun one I can guarantee: the bonus! Jalan-jalan ke Eropa, Afrika, dan keliling UK, menonton bola langsung di stadion ternama, menonton premier film lebih awal dari orang-orang di Indonesia, dan belanja barang branded murah di outlet atau charity shop adalah bonus yang akan kamu dapat kalau kamu kuliah di luar negeri. Happy-happy-nya kami ini (yang kami tunjukkan di social media) hanya sebagian kecil dari perjuangan selama menjadi mahasiswa di luar negeri.

Tentunya selain jalan-jalan, kamu juga bisa jadi orang yang lebih baik, lebih dewasa, lebih pintar, dan lebih mandiri dari sebelumnya (kalau kamu benar-benar memanfaatkan waktu merantau kamu dengan baik).

 

IMG_7982
Winter break in Scotland

 

In conclusion, i will give you time to yourself to answer the question: are you ready to make a decision now? Semua yang aku tulis, silahkan dijadikan consideration (if you feel like it matters to you). Intinya, be sure that you want it that bad and you’re ready to take all the consequences. After all, don’t ever give up in reaching your biggest dream. It’s never too far to reach your dream. Quoting from a very inspirational movie, Pursuit of Happyness, “Don’t ever let someone tell you, you can’t do something. Not even me. You got a dream, you got to protect it. You want something, go get it. Period.”

I wish you all the best 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

Siapa Bilang Enak? (part 2)

Kalau kalian belum membaca Part 1 dari tulisan ini, aku saranin untuk baca dulu Part 1-nya di sini. Untuk kalian yang udah baca, welcome back! Sekarang aku akan melanjutkan ceritaku tentang the real life of mahasiswa rantau. Let’s continue the journey 🙂

Exam dan Essay

Dua hal ini mungkin sering luput dari perhatian orang banyak. Fyi, dibalik foto-foto bahagia kami saat jalan-jalan, tersimpan rasa either khawatir tentang ujian yang akan dilaksanakan setelah liburan atau deg-degan mengenai nilai ujian yang baru aja dilalui. Sistem di UK, hampir di setiap uni, winter break akan datang duluan sebelum exam. Berbeda dengan di Indonesia, dimana liburan tahun baru bisa dinikmati sepuas-puasnya tanpa kepikiran kapan harus mulai belajar. Jadi, even though we’re on holiday mode, we have to study. Disiplin itu kunci utama untuk survive di masa-masa liburan sebelum ujian. Sistem kebut semalam works for me di Indonesia tapi aku tau betul di sini aku ngga bisa sesantai itu. Different people, different story. Kalau kamu jenius, mungkin kamu bisa lebih santai dalam menghadapi exam. Satu prinsip aku, preparation is bloody important. Ketika kita udah mempersiapkan diri, pasti jadi lebih percaya diri saat menghadapi ujian. Selain itu, sesulit apa pun ujiannya, hasil ngga akan pernah mengkhianati usaha. So, I will always suggest to prepare as best as you can.

Semua exam-ku durasinya 2 jam. Tipe soalnya essay dan jumlahnya sedikit (ngga lebih dari 5, bahkan kadang kita hanya perlu menjawab 2 soal aja). Good thing or bad thing? You decide. Kalau kita diminta untuk mengerjakan 2 soal dalam 2 jam, tentu ekspektasinya adalah kita bisa menjelaskan dengan detail dilengkapi dengan contoh, opini, dan criticism. Buat aku itu challenging banget. Aku harus benar-benar mendalami teorinya, memahami konsep dan aplikasinya, dan membaca reference lain supaya bisa menjawab dengan baik. Exam sejenis ini bukan hal yang biasa buatku, selama S1 dulu semua jawaban bentuknya deskriptif (kalau pertanyaan essay). Asal hafal definisinya, pasti bisa menjawab. Sekarang, deskripsi dan teori itu hanya introduction sebelum memberikan jawaban yang sebenarnya. The tricky part is, karena ini bukan hitungan matematis dimana 1+2 mutlak jawabannya 3, ngga ada jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan. Semua depends on sudut pandang kita, kuncinya adalah berargumen yang disupport dengan scientific data. Selama argumennya bagus dan logis, you can always be right. Good thing or bad thing? You decide again. Yang jelas, exam sukses menghasilkan dua jerawat di mukaku.

Mirip dengan exam, tugas essay ribuan kata (2000-5000, normalnya) juga ditekankan ke critical thinking. Instead of mendeskripsikan suatu teori, kita harus bisa mengkritisi teori itu berdasarkan teori-teori lain dan hasil research. Jadi sebelum menulis, harus membaca puluhan paper dulu. Saking pentingnya kemampuan menulis academic essay, beberapa universitas mewajibkan students untuk membuat formative essay di awal perkuliahan untuk melihat sejauh mana skill-nya. Di uni pun ada kelas-kelas optional untuk mengasah kemampuan menulis essay. Aku punya personal tutor yang baik banget dan beliau ngasih poin-poin penting yang harus diperhatikan dalam menulis essay. Pertama, understand the instruction. Kedua, read a lot of references. Ketiga, plan your writing dan supaya structure-nya rapi, beliau menyarankan untuk menggunakan headings. Keempat, start writing. Pemilihan vocabulary itu penting, vocab yang biasa aku gunakan untuk menulis blog seringkali ngga bisa digunakan untuk menulis essay. Gunakan thesaurus untuk memperkaya vocab kamu. Kelima, reference well. Jangan sampai lupa menulis darimana argumen yang kamu utarakan berasal. Plagiarism is a big issue here dan sanksinya lumayan berat. Argumen yang digunakan juga harus berdasarkan sesuatu yang scientific dan ada datanya. Opini pribadi hanya bisa diutarakan di kesimpulan. Terakhir, proofread your essay. Membaca essay dengan lantang bisa membuat kamu menyadari kesalahan-kesalahan yang kamu buat, terutama untuk melihat struktur kalimat kamu itu make sense atau ngga. Proofread bisa dilakukan sendiri atau bisa juga menggunakan jasa orang lain. Kalau kamu mau tau lebih detail tips-tips menulis academic writing, kamu bisa cek di blog kakakku, she explains it in more detail. Good luck!

The uni cares about you

Ini adalah bagian yang paling aku suka dari negara-negara maju. Kalau kamu pernah baca postinganku sebelumnya tentang bagaimana pemerintah atau council di UK sangat peduli terhadap citizen-nya yang memiliki disability, begitupun dengan universitasnya. Mulai dari tersedianya automatic door, toilet, dan jalur untuk pengguna kursi roda sampai ke fasilitas lainnya untuk penyandang cacat. Fyi, cacat itu ngga harus cacat fisik. Jadi, di uni-ku ada sebuah institusi namanya DASS (Disability Advisory and Support Service) yang akan membantu para penyandang cacat. Siapa aja yang eligible untuk difasilitasi oleh DASS? Penyandang dyslexia, autism, mental (anxiety, depression), mobility impairment, sensory impairment, epilepsy, AIDS, dan chronic fatigue. Salah satu temanku terdaftar sebagai student yang eligible untuk layanan DASS karena mengalami back pain. Jenis fasilitasnya macam-macam, misalnya ketika ujian, akan ditempatkan di ruangan terpisah. Di ruangan tersebut akan ada kursi khusus misalnya, atau extra time, reader, rest breaks, amenuensis (orang yang akan membantu menuliskan jawabanmu di lembar jawaban ujian, tapi tetap kamu yang mendiktekan jawabannya), dan lain-lain. Pokoknya disesuaikan dengan jenis disability-mu. Selain saat ujian, ada juga fasilitas saat kegiatan belajar mengajar. Misalnya fasilitas note-taking, nantinya akan ada seseorang yang membantu kamu menulis catatan waktu lecture. Dan banyak banget lagi fasilitas lainnya.

Selain fasilitas untuk para disabled students, ada juga skema mitigating circumstances. Gimana kalau seorang student harus absen saat minggu exam atau menjelang deadline karena sakit atau ada kejadian yang ngga diinginkan (misalnya, keluarga dekat sakit keras atau meninggal dunia)? Students bisa request untuk pengunduran jadwal ujian dan jadwal pengumpulan tugas, atau alternatif lainnya.

Keren ya, my uni cares about me! I wonder if in Indonesia we have such mechanism and support…

Kompetisi

Are you the smartest student in the class during your undergrad study? If so, then great! Banyak first class student yang berusaha keras untuk me-maintain peringkatnya di kelas ketika melanjutkan studi di luar negeri. And it’s definitely possible! Ngga selalu kok orang-orang dari Eropa lebih pintar, but the thing is… don’t ever take your study as a competition. Apalagi kalau di luar negeri. Do your best for the sake of yourself, not to win over someone else. Karena dengan mental cooperative instead of competitive, justru makin akan memperkaya ilmu kita. Kelasku itu diverse banget, ngga hanya dari nationality-nya aja, tapi juga dari background pendidikan dan pengalamannya. Beberapa orang udah mengambil course MBA sebelumnya, ada juga yang udah bekerja lebih dari 5 tahun, ada yang menguasai 5 bahasa, dan masih banyak lagi ragamnya. Do you think you want to compete with them? No. And don’t.

Always be open minded, jangan merasa paling pintar tapi juga jangan ngga percaya diri dengan kemampuan kamu. Learn from your classmates and let them learn from you too.

Feedback dan Nilai

Dulu banget waktu aku S1, aku pernah menulis tentang bagaimana nilai yang diberikan dosen-dosenku kadang ‘gaib’. Entah darimana datangnya, kenapa bisa mendapat nilai segitu, dan ngga bisa define apakah aku emang layak mendapat nilai itu atau engga. Di sini, ketika dosen memberikan nilai, mereka ngga hanya memberi angka sekian tapi juga memberi feedback deskriptif tentang bagaimana performance kita dalam mengerjakan tugas atau ujian. Parameternya jelas dan justified. Feedback-nya pun detail; dari hal yang beliau sukai sampai hal yang menurut mereka kurang.

Lalu, pertanyaan besarnya, apakah dapet nilai bagus di luar negeri itu gampang? Menurutku pribadi, susah tapi bukan berarti ngga mungkin! Dosen-dosen di sini punya ekspektasi yang cukup tinggi dan strict dalam memberikan penilaian. Untuk bisa pass, nilai minimum yang harus diraih adalah 50%. 60%-69% itu termasuk merit dan nilai 70% ke atas termasuk distinction. Kalau di Indonesia nilai 70 itu rasanya jelek banget, di sini justru bagus banget dan butuh usaha ekskskskskstra (selebay itu, kecuali kamu jenius).

Anyway, mekanisme penilaian di sini juga berbeda dari di Indonesia karena selain dosen yang mengajar, aka nada external examiner juga yang ikutan memberi nilai. I don’t quite know why, tapi untuk melihat dari sudut pandang non-akademisi kali ya.. supaya penilaiannya semakin objektif. Saat mengumpulkan tugas dan ujian, students dilarang mencantumkan namanya, jadi hanya boleh menuliskan student ID, untuk menjaga objektivitas dosen dalam memberikan penilaian.

Sosialisasi

Enough about academic, sekarang kita mulai bahas hal-hal terkait kehidupan non-akademis. Pertama, sosialisasi. Menurutku ini hal paling utama ketika merantau, supaya ngga desperate dan home sick. Selain sosialisasi dengan teman-teman sekelas (hangout bareng, ngetrip bareng, potluck, dan lain-lain), bersosialisasi dengan sesama perantau dari Indonesia juga penting. Selain bisa membuat suanasa jadi lebih feels like home, mereka itu ibaratnya tetangga terdekat kita saat merantau (meskipun bukan literally tetangga). Mereka yang kemungkinan besar akan duluan membantu kalau kita kesulitan. Begitupun sebaliknya. Jadi, selain rajin ke perpus, perlu rajin juga dateng ke acara-acara dan party-party bareng orang-orang Indonesia lainnya.

Mengatur Budget

Untuk sebagian besar mahasiswa perantau, mengatur budget itu skill wajib yang harus dimiliki. Demi bisa nabung dan jalan-jalan, uang harus dimanage baik-baik. Aku udah cerita tentang bagaimana aku mengatur budget selama di Manchester di beberapa postingan sebelum ini.

Check the link out. After all, tipsnya, jangan kayak orang susah-susah amat sampai ngga bahagia tapi juga harus bertanggung jawab atas semua pengeluaran. Bedakan mana kebutuhan, mana keinginan dan selalu prioritaskan kebutuhan.

Okay, now you’ve reach the end of this article. Masih akan ada satu part terakhir dari rangkaian cerita ini. So, stay tune and enjoy your day 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Enabling the Disabled

I’m impressed by the way the governments in Europe and UK treat people with disability. Totally impressed.

In Indonesia, i always pity those who use a wheelchair. Because they look so fragile and they seem like very dependent to other people. My grandma use a wheelchair and i definitely find some difficulties when taking her outside the house, either to the mall, supermarket, or a wedding hall.

In Europe and UK, people with disability are treated very nicely. They have all accesses to go anywhere they want to. Even in some cities in the UK, people with disability do not have to pay the transportation cost when they are traveling by bus (i’m not sure about train and airplane tho). The bus is very disabled-friendly. The bus driver can lower the bus height (the same height as the pavement) so the disabled can enter the bus. The bus also has a special space for a wheelchair.

Moreover, truth to be told, i have never seen any people with disability in Dufan. Maybe yes in Taman Safari or Taman Mini but not in a theme park like Dufan. But i saw many people with disability in Disneyland Paris. They played the ride. They had a special access card that makes them didn’t have to wait in the line. When the parade started, Disneyland had prepared a space for the disabled. they can enjoy the parade without any difficulty.

One last thing. There are special dogs that are specially trained to accompany the blind. It’s a special dog because it wears a green dog-shirt. The dog will lead the blind to go anywhere.

Aren’t those facts amazing? I wish the government can do such things in Indonesia, someday. Because people with disability may have a great super talent but sadly, they have to bury the talent because their movements are confined. It’s also a loss for the country, isn’t it? And above all, people with disability have the same rights as healthy people.

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Siapa Bilang Enak? (part 1)

Gimana sih rasanya kuliah di luar negeri? Pasti asik ya, bisa sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui dan sambil menyelam minum air, alias sekolah plus jalan-jalan? Seru banget deh kayaknya punya temen-temen bule?!

Siapa sih yang bikin mindset kuliah di luar negeri itu seperti paragraf di atas?

Kenapa bukan ‘pasti susah ya bikin essay ribuan kata’ atau ‘gimana tuh handle kerja kelompok dengan orang-orang yang culture-nya beragam?’ yang terbersit pertama kali ketika mendengar seseorang merantau ke negara lain untuk kuliah?

Mungkin karena manusia lebih suka menilai sesuatu dari yang terlihat aja. Just the tip of the iceberg. Padahal, di bawah lautan, bagian dari bongkahan batu es itu luar biasa besarnya. Segala kemelut perkuliahan dan kehidupan mahasiswa rantau itu letaknya di dalam lautan. You have only seen the fun, after all this time…

Siapa bilang kuliah di luar negeri itu enak? Aku membuat artikel ini (yang nantinya akan ada part 2 dan part 3-nya) karena aku merasa selama ini perspektif orang tentang kuliah di luar negeri itu selalu hal-hal bagusnya aja. Selalu tentang bagaimana asyik-nya hidup di luar negeri, mencoba hal-hal baru, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Aku juga memiliki persepsi yang sama ketika memulai cita-citaku untuk kuliah di luar negeri. I will never say that the perspective is wrong. Tapi aku mau meng-expose dan meng-elaborate sisi lain dari kehidupan kami para mahasiswa asal Indonesia di negara lain. Niatnya bukan untuk nakut-nakutin atau membuat orang-orang jadi ragu untuk merantau dan kuliah tapi supaya semua orang bisa mengambil keputusan yang wise, whether to study abroad or to study in Indonesia (or not to study at all!).

Kuliah di luar negeri itu pilihan yang harus diputuskan baik-baik karena trade-off nya banyak: jauh dari orangtua, resign dari pekerjaan, meninggalkan comfort zone, dan lain-lain. Ditambah lagi dengan tanggung jawab kepada pihak yang udah membiayai studi kita (either scholarship negara, scholarship perusahaan, atau orangtua). It’s a hell lot of money. Jadi, untuk sesuatu sebesar ini, ngga bisa asal memutuskan karena senang-senangnya aja kan? The decision has to be fully justified, bukan hanya supaya keren atau supaya bisa jalan-jalan aja. We have to be aware that apart from the fun, kita harus mau berjuang dan berusaha supaya bisa make the most out of our study.

So, how is it really like to study abroad?

Kampus dan Fasilitasnya

Sebelumnya, aku kuliah di Universitas Indonesia, salah satu kampus terbaik di Indonesia dengan fasilitas yang lumayan oke. Dulu aku sering mengeluh karena internet connection di perpustakaan (yang komputer-nya Mac semua itu..) lemot banget sehingga perpustakaan bukan menjadi tempat favorit buatku. In Manchester, I love the library and the learning common! Bahkan aku pernah nginep di learning common karena gedungnya open 24 hours. Masalah safety, dijamin aman karena semua akses ke library harus menggunakan student card. Ada shuttle service juga yang siap sedia mengantar students sampai ke depan akomodasinya ketika udah malem banget (not free, though). Kalau lupa membawa laptop dan ngga kebagian PC, students bisa meminjam laptop ke resepsionis selama 4 jam. Kegiatan self-learning difasilitasi dengan baik oleh uni. Akses ke beragam jurnal tersedia, ngga perlu datang ke kampus untuk bisa akses jurnal-jurnal tersebut karena ada VPN yang sangat membantu (terutama saat liburan, karena banyak international students yang pulang ke negara asal). Koleksi buku di library pun lengkap. Kalau ngga menemukan buku yang dicari, students bisa request supaya library membeli bukunya dengan membayar 1-2 quids. Tenggat waktu peminjaman buku normalnya satu semester, kecuali untuk koleksi high demand yang harus segera dikembalikan dalam 1×24 jam.

IMG_5940
Salah satu cubicle untuk group study di Learning Common

Aku bukan anak teknik ataupun science, jadi ngga tau bagaimana kualitas laboratory di sini. Tapi, semua students yang nantinya akan nge-lab harus lulus safety induction terlebih dahulu sebelum bisa mendapatkan akses ke lab. Safety first, always. Seingatku aku udah menjalani seengganya tiga safety induction di awal kedatanganku ke Manchester.

Gedung di University of Manchester ada puluhan, ada yang tua dan ada yang modern. Di gedung yang tua, ruang kelasnya ngga sebagus ruang kelas di gedung-gedung yang baru. Tapi setiap kelas punya standard fasilitas yang harus dimiliki: speaker, komputer, dan LCD. Anyway, di sini dosen dipaksa mengajar sambil berdiri karena ngga ada kursi yang disediakan untuk mereka di depan kelas. Mereka bisa duduk saat break atau saat ada orang lain yang presentasi di depan kelas. Menurutku itu bagus banget untuk men-trigger students supaya semangat mendengarkan lecture. Waktu di UI, banyak dosenku yang mengajar sambil duduk which is bikin ngantuk…

Dosen

Pada dasarnya, semua dosen hanyalah manusia biasa. Bukan berarti dosen-dosen di luar negeri lebih pandai dan lebih bisa mengajar dibanding dosen di Indonesia. Throw away that mindset! Salah satu dosenku saat ini termasuk dosen yang pintar tapi kurang ahli dalam men-transfer ilmunya. Aku pun pernah mengikuti online course dari salah satu universitas di Amerika dan dosennya pun super boring! Dosen-dosenku waktu S1 dulu malah banyak yang lebih oke. Jadi, semua kembali ke personality orangnya masing-masing.

Alhamdulillah, so far semua dosenku berbahasa inggris dengan jelas. Permasalahan yang banyak dialami oleh overseas students adalah: dosen-dosen berbicara dengan cepat dan memiliki aksen yang sulit dimengerti. Kadang takes time buatku mengerti kalimat yang mereka ucapkan, kadang juga aku harus buka kamus supaya lebih yakin kalau aku menangkap materinya dengan benar. Setiap datang ke kelas, bukan semata-mata mendengarkan dosen, tapi betul-betul harus memperhatikan. Berbeda jauh dengan yang biasa aku lakukan kalau di Indonesia, aku bisa mendengarkan dosen sembari mengetik sesuatu di handphone dan tetap bisa paham dengan baik pelajaran yang disampaikan. Di sini? Handphone harus disimpan baik-baik dan baru bisa digunakan lagi saat break, kalau mau benar-benar mengerti penjelasan dari dosen.

Kuliah dan Seminar

Rata-rata untuk program master, dalam satu semester terdiri atas empat mata kuliah. Di semester pertama ini semua mata kuliahku adalah core unit. Sistem perkuliahannya terbagi dua, yaitu lecture dan seminar. Lecture itu seperti kuliah biasa, mendengarkan dosen di dalam kelas. Kalau seminar sifatnya lebih interaktif, bahkan kelasnya dibuat lebih kecil (satu angkatan dibagi menjadi tiga kelompok seminar). Students dituntut untuk lebih aktif di seminar dan ikut berpartisipasi dalam diskusi. Durasi untuk lecture adalah dua jam sedangkan untuk seminar adalah satu jam tiap kelompoknya. Di tengah-tengah lecture, dosen selalu memberi kesempatan untuk break, sekitar 5-15 menit.

Sebelum seminar, biasanya dosen akan memberi case study untuk dibaca dan dianalisis. Ada juga yang memberi ‘PR’ untuk dipresentasikan pada saat seminar. Kalau sebelum kuliah, menurutku semua orang punya preferensi masing-masing. Ada yang baca-baca reading materials dulu, ada yang datang ke kelas dengan kepala kosong. Aku termasuk orang yang lebih suka membaca background reading-nya dulu sebelum masuk kelas. Itu membantu banget buat aku men-develop pola pikir dan aku jadi lebih mudah memahami penjelasan dosen. Biasanya aku juga scroll through slide presentasi dosennya pagi-pagi sebelum berangkat kuliah.

Anyway, mau ngga mau memang students di sini dituntut untuk membaca, membaca, dan membaca. Reading materials yang diberikan oleh dosennya itu mandatory dan sebisa mungkin harus membaca jurnal, artikel, atau buku lain supaya mendapat nilai lebih. Berbeda banget dengan waktu S1 dulu, dimana slide presentasi dosen adalah sumber utama (dan bahkan satu-satunya) dari jawaban yang akan ditulis di kertas ujian.

Di University of Manchester, kami menggunakan aplikasi Blackboard sebagai platform antara students, uni, dan dosen. Jadi, semua dokumen yang terkait dengan perkuliahan akan di-post di Blackboard. Mulai dari pembagian kelompok, course outline, jurnal atau reading materials lainnya, slide presentasi, dan juga nilai. Tugas-tugas juga harus disubmit melalui Blackboard ke aplikasi Turnitin. Aplikasi canggih yang bisa count words dan mendeteksi plagiarism. Di sini aku jadi memperhatikan banget masalah referencing, karena they really take it seriously here.

Salah satu hal yang lumayan tricky, terutama untuk mahasiswa muslim adalah jadwal kuliah yang bersamaan dengan waktu solat. Kalau di Indonesia, mostly selalu ada lunch break at least selama satu jam sekitar pukul 12 yang bisa dipakai untuk solat zuhur, di sini ngga seperti itu. Misalnya, aku punya jadwal kelas dari jam 11 sampai jam 1 siang dan setelahnya langsung dilanjutkan dengan kuliah lain dari jam 1 sampai jam 4. Jadi harus pintar-pintar mengatur jadwal atau mencari celah untuk tetap bisa solat 5 waktu.

Classmates dan Group Work

Jurusanku termasuk jurusan yang jumlah muridnya banyak. Setengah dari 80 orang di kelasku asalnya dari Cina. Orang Eropa-nya malah cuma sedikit, sekitar 10 orang aja. Kelasku diverse banget, awalnya orang-orang dari Cina selalu bergerumul dengan sesamanya tapi lama-lama semuanya makin membaur. Terutama karena kami dialokasikan ke 4 group berbeda di setiap mata kuliah. Jadi ngga bisa eksklusif walaupun pasti tiap orang punya lingkaran mainnya masing-masing.

Alhamdulillah banget aku selalu ada di kelompok yang semua anggotanya bisa diajak kerja sama dengan baik. Aku belum pernah ada permasalahan apapun di dalam kelompok. Salah satu faktornya juga mungkin karena waktu S1 aku udah sering kerja kelompok, jadi udah siap dan ngga kaget dengan free rider yang hanya numpang nama tapi ngga ikutan kerja. Atau mereka yang selalu telat dan jarang dateng kumpul kelompok. Overall, dealing with people from different cultures itu sulit. Meskipun ngga mengalami masalah berarti, aku pernah merasakan beberapa hal yang juga kadang dikeluhkan oleh temen-temenku. Misalnya, orang-orang asal Eropa itu cenderung bossy dan suka narsis bahwa pendapatnya adalah yang mutlak paling benar. Mereka cukup stubborn dan kadang itu irritating banget, apalagi kalau sebenarnya pendapat mereka itu kurang benar. Atau orang Cina yang Bahasa inggris-nya kurang fasih, jadi harus memutar otak untuk memahami apa yang mereka tulis dan apa yang mereka bicarakan. Berargumen dengan orang-orang dari negara berbeda juga tricky. Demi keberlangsungan kerja kelompok yang harmonis, semua harus hati-hati ketika bersikap dan terbuka kalau tersinggung akan sesuatu (harus mau meminta maaf dan memaafkan). Karena groupwork itu akan mempengaruhi nilai akhir, jadi segala challenge di atas harus bisa di-overcome dengan baik, bukan cuma dikeluhkan.

IMG_7690
Classmates from all over the world that become good friends

That is all untuk part pertama dari artikel ini. Jangan ambil kesimpulan apa-apa dulu, because I have more to say. Stay tune 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Stratford-upon-Avon

“A heart to love, and in that heart, Courage, to makes love known”

 

If you’re amorous just like me, you must be thrilled by how romantic (yet sometimes pathetic) Shakespeare wrote most of the scripts of his famous plays. I got the chance to pay a visit to a small city, which is claimed to be the city where he was born and spent his life: Stratford-upon-Avon.

In less than a day, you will have finished your tour around this beautiful city. The famous tourist attraction in the city is the Shakespeare’s House tour, where you can visit several houses and places that are related to the life of Shakespeare. I have to say that the price of the tour is expensive, ranging from £23-£25 per person (for entry to 5 places). If you’re on a tight budget (I was), don’t worry too much. Every corner, every route you take, is admirable. You’ll be excited and have a lot of fun. Plus, you can still go to Shakespeare’s house, his wife’s house, his daughter’s house (and all the places included in the tour) for free if you don’t plan to enter them.

Jump off the train and walk a bit towards the center of the city, you will find many little shops inside peculiar buildings of the Tudor period (timber-framed house). Strolling around the city of Stratford-upon-Avon and chilling inside a little tea place will definitely make your day!

Ps. You’re even luckier when it’s sunny.

I can’t tell much, as for Stratford-upon-Avon, the pictures are worth a thousand word. Here you go!

IMG_7796

Ready to stroll!

IMG_7825

This is Hall’s Croft; the house of Shakespeare’s daughter and her husband

IMG_7826

 

IMG_7839

Have a nice afternoon tea with scones

 

IMG_7840

£1 per cake!

IMG_7842

The birthplace of Shakespeare

IMG_7793

 

IMG_7818

Me and my sister in front of the timber-framed house

I love Stratford-upon-Avon, my visit to the town was a lovely escape for a city-girl like me. If i may suggest, do come during spring or summer so you can wear a nice outfit (not wrapped in a jacket) and your pictures will turn out to be more stunning! Oh and i can even imagine how beautiful it will be with all the flowers that bloom during those seasons.

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Isi Koper

Beberapa hari yang lalu aku mendapat request dari seorang temanku untuk membuat artikel tentang barang-barang yang perlu dibawa saat berangkat untuk kuliah di luar negeri. As a matter of fact, ini topik yang cukup tricky buatku. Pertama, karena aku bukan orang yang jago packing. Kedua, karena setiap orang punya preferensi masing-masing saat packing. Belajar dari pengalaman dan juga sedikit benchmarking dengan teman-teman sesama perantau, akhirnya artikel ini selesai juga! Yeay! Semoga bermanfaat 😀

What’s there to wait? Let’s pack a bag!

Hal pertama yang penting untuk dipertimbangkan sebelum memasukkan barang-barang ke dalam koper adalah berapa banyak baggage allowance yang diberikan oleh maskapai penerbangan yang kamu gunakan. Normalnya setiap penumpang dapat jatah 30 kg plus tas kabin seberat maksimal 7 kg. Beberapa maskapai strict banget mengenai bagasi, tapi ada juga yang cukup fleksibel. Kamu bisa cek ke website masing-masing maskapai untuk tau berapa baggage allowance dan biaya overweight-nya. Aku sendiri berangkat dengan bagasi 31 kg, satu tas ransel yang disimpan di kabin, dan satu sling bag kecil untuk menyimpan barang-barang penting seperti handphone, dompet, dan paspor. Jangan lupa pilih tas koper yang dilengkapi dengan TSA lock dan yang case-nya kuat ya (Samsonite is by far my favorite, karena ringan tapi kuat).

Selain itu, kamu juga harus mempertimbangkan dengan siapa kamu berangkat. Kalau dengan teman-teman yang sama-sama mau sekolah juga atau sendirian, pastikan kamu bisa membawa semua barang-barang kamu sendiri. Di luar negeri, biasanya kalau mau menggunakan troli harus bayar, ngga seperti di Indonesia. Bukan masalah uangnya (karena cukup reasonable harganya, sekitar £1-£2) tapi karena pembayarannya yang biasanya menggunakan koin, which most likely kamu ngga akan punya saat baru tiba. Jadi, jangan sampai kamu bawa terlalu banyak barang yang ngga terpegang oleh kedua tangan kamu.

Mengenai barang bawaan, setiap orang berbeda-beda dalam menilai mana yang penting dan mana yang kurang penting untuk dibawa. Orang yang sudah cukup sering bepergian biasanya lebih simple barang bawaannya dibandingkan mereka yang first timer. Aku akan bahas satu persatu item yang biasa dibawa oleh para perantau dari Indonesia.

Survival Kit

Kemungkinan besar ketika kamu baru sampai, kamu ngga akan bisa langsung bepergian kemana-mana (terutama kalau arrival-nya di sore atau malam hari). Jadi, kamu akan perlu hal-hal essential untuk digunakan dalam satu sampai tiga hari pertama (just in case kamu ngga menemukan semua barang yang kamu perlukan dalam satu hari). Apa aja survival kit-nya?

  • Toiletries, termasuk handuk, boleh yang traveling size atau yang ukuran normal. Sebaiknya daily toiletries aja yang dibawa. Scrub, hair mask, masker, dan lainnya bisa kamu beli di negara tempat kamu belajar nantinya. Ada baiknya kalau kamu biasa pakai skincare dari dokter, kamu coba untuk lepas sedikit demi sedikit sebelum merantau supaya ngga ketergantungan dan kamu ngga perlu bawa terlalu banyak stok skincare.
  • Alat makan, aku recommend lunch box lengkap dengan sendok garpunya dan botol minum.
  • Selimut, terutama kalau kamu akan tinggal di negara yang suhunya relatif dingin. IKEA punya beberapa koleksi selimut yang tipis tapi hangat, jadi kopermu ngga akan bulky. Ini bisa kamu skip kalau kamu yakin di kamarmu nanti sudah tersedia beddings dan duvet. Do check first! Jangan sampai kamu ngga bisa tidur karena kedinginan. Setelah perjalanan panjang di pesawat, kamu butuh tidur yang nyaman.

Makanan

Orang Indonesia itu paling ribet masalah makanan kalau akan bepergian ke luar negeri. Hampir semua mahasiswa asal Indonesia ngga lupa membawa indomie, abon, dan sambal saat berangkat untuk sekolah di luar negeri. Normal kok, tapi bawa secukupnya aja. Indomie bisa kamu temukan hampir dimanapun. Sambal ABC dan kecap juga bisa dibeli di toko cina. Jadi menurutku kurang praktis kalau sebagian besar koper kamu diisi oleh makanan. Satu hal yang sering membuat khawatir adalah rendang. Banyak yang takut rendangnya akan disita di bandara. Menurut pengalamanku dan beberapa teman lain, membawa rendang itu aman kok selama masih dalam jumlah yang wajar.

Bumbu instan termasuk hal yang wajib dibawa untuk sebagian orang. Aku pun membawa beberapa bungkus bumbu instan yang hampir semuanya belum pernah aku gunakan sampai sekarang hehehe. Kamu ngga perlu khawatir ngga bisa masak makanan khas Indonesia seperti soto, opor, dan nasi uduk karena semua bahan-bahannya tersedia juga kok di luar negeri (daun salam, serai, santan, dan lain-lain). Once again, bawa bumbu instan secukupnya.

Perlu ngga sih bawa rice cooker?

Well, it is up to you. Sebetulnya rice cooker itu barang yang sudah pasti bisa kamu temukan di luar negeri, kok. Harganya beragam, dari mulai yang murah sampai yang mahal. Aku bawa rice cooker kecil dari Indonesia, alasannya supaya lebih hemat dan untuk mengurangi list belanja cooking utensils aja. Lumayan untuk mengurangi jumlah barang belanjaan (trust me, hari pertama belanja untuk kebutuhan rumah itu overwhelming banget dan kantong plastiknya bisa lebih dari 10)

Buku

Aku sendiri ngga membawa text book apa pun saat berangkat. Satu-satunya buku yang aku bawa adalah novel untuk dibaca di pesawat. Buku memang penting untuk belajar, tapi library di luar negeri koleksinya lengkap dan banyak, so it’s better to borrow them from the library atau beli e-book version dari text book yang kamu gunakan.

Pakaian

  • Celana jeans dan kaos adalah outfit yang akan paling sering kamu pakai, baik saat kuliah ataupun weekend. Pastikan mereka masuk ke dalam koper dan sebaiknya bawa beberapa pasang untuk ganti-ganti. Kamu bisa consider untuk bawa kaos heat-tech kalau akan sekolah di negara dengan empat musim.
  • Batik. Sebagai mahasiswa asal Indonesia, harus bangga dong dengan kain batik. Selain bisa dipakai untuk acara formal, memakai baju batik juga bisa jadi ajang promosi budaya bangsa kita ke teman-teman sekelas.
  • Baju daerah. Biasanya setiap PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di suatu negara mengadakan acara cultural setahun sekali. Ini menjadi momen kamu untuk memakai baju adat dari daerah-daerah di Indonesia dan memamerkannya ke temanmu dari seluruh penjuru dunia.
  • Formal outfit, seperti celana bahan, kemeja, dan blazer. Kalau kamu kuliah dengan major MBA, formal outfit ini cukup penting. Untuk jurusan lain, formal outfit akan jarang dipakai (boleh di-consider untuk beli aja saat memang dibutuhkan instead of membawa dari Indonesia).
  • Parka/sweater/coat/jacket. Saranku bawa satu atau dua jenis yang sesuai dengan musim di negara yang akan kamu kunjungi di saat kamu tiba. Misalnya, kamu datang ke UK di bulan Agustus, dimana sedang peralihan antara summer dan autumn, kamu bisa membawa sweater dan jaket waterproof (mengingat UK tingkat presipitasinya tinggi). Coat tebal untuk musim dingin bisa kamu beli di negara tempat kamu belajar (harganya pun bisa jauh lebih murah daripada beli di Indonesia).
  • Alas kaki. Basic-nya adalah slippers atau flip flop untuk di rumah, sepatu untuk kuliah dan sehari-hari (sneakers atau flat shoes), dan sepatu olahraga (kalau kamu suka olahraga).

IMG_7377

Kira-kira begitulah isi koper kami para perantau dari Indonesia saat berangkat ke luar negeri. List di atas bukan saklek harus diikuti ya, karena kamu yang paling tau apa yang kamu butuhkan and things you can’t live without! Jadi jangan ragu untuk squeeze in barang-barang tersebut tapi tetap ingat baggage allowance dan berapa banyak barang yang bisa kamu handle dengan kedua tanganmu. Good luck 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia