Siapa Bilang Enak? (part 2)

Kalau kalian belum membaca Part 1 dari tulisan ini, aku saranin untuk baca dulu Part 1-nya di sini. Untuk kalian yang udah baca, welcome back! Sekarang aku akan melanjutkan ceritaku tentang the real life of mahasiswa rantau. Let’s continue the journey 🙂

Exam dan Essay

Dua hal ini mungkin sering luput dari perhatian orang banyak. Fyi, dibalik foto-foto bahagia kami saat jalan-jalan, tersimpan rasa either khawatir tentang ujian yang akan dilaksanakan setelah liburan atau deg-degan mengenai nilai ujian yang baru aja dilalui. Sistem di UK, hampir di setiap uni, winter break akan datang duluan sebelum exam. Berbeda dengan di Indonesia, dimana liburan tahun baru bisa dinikmati sepuas-puasnya tanpa kepikiran kapan harus mulai belajar. Jadi, even though we’re on holiday mode, we have to study. Disiplin itu kunci utama untuk survive di masa-masa liburan sebelum ujian. Sistem kebut semalam works for me di Indonesia tapi aku tau betul di sini aku ngga bisa sesantai itu. Different people, different story. Kalau kamu jenius, mungkin kamu bisa lebih santai dalam menghadapi exam. Satu prinsip aku, preparation is bloody important. Ketika kita udah mempersiapkan diri, pasti jadi lebih percaya diri saat menghadapi ujian. Selain itu, sesulit apa pun ujiannya, hasil ngga akan pernah mengkhianati usaha. So, I will always suggest to prepare as best as you can.

Semua exam-ku durasinya 2 jam. Tipe soalnya essay dan jumlahnya sedikit (ngga lebih dari 5, bahkan kadang kita hanya perlu menjawab 2 soal aja). Good thing or bad thing? You decide. Kalau kita diminta untuk mengerjakan 2 soal dalam 2 jam, tentu ekspektasinya adalah kita bisa menjelaskan dengan detail dilengkapi dengan contoh, opini, dan criticism. Buat aku itu challenging banget. Aku harus benar-benar mendalami teorinya, memahami konsep dan aplikasinya, dan membaca reference lain supaya bisa menjawab dengan baik. Exam sejenis ini bukan hal yang biasa buatku, selama S1 dulu semua jawaban bentuknya deskriptif (kalau pertanyaan essay). Asal hafal definisinya, pasti bisa menjawab. Sekarang, deskripsi dan teori itu hanya introduction sebelum memberikan jawaban yang sebenarnya. The tricky part is, karena ini bukan hitungan matematis dimana 1+2 mutlak jawabannya 3, ngga ada jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan. Semua depends on sudut pandang kita, kuncinya adalah berargumen yang disupport dengan scientific data. Selama argumennya bagus dan logis, you can always be right. Good thing or bad thing? You decide again. Yang jelas, exam sukses menghasilkan dua jerawat di mukaku.

Mirip dengan exam, tugas essay ribuan kata (2000-5000, normalnya) juga ditekankan ke critical thinking. Instead of mendeskripsikan suatu teori, kita harus bisa mengkritisi teori itu berdasarkan teori-teori lain dan hasil research. Jadi sebelum menulis, harus membaca puluhan paper dulu. Saking pentingnya kemampuan menulis academic essay, beberapa universitas mewajibkan students untuk membuat formative essay di awal perkuliahan untuk melihat sejauh mana skill-nya. Di uni pun ada kelas-kelas optional untuk mengasah kemampuan menulis essay. Aku punya personal tutor yang baik banget dan beliau ngasih poin-poin penting yang harus diperhatikan dalam menulis essay. Pertama, understand the instruction. Kedua, read a lot of references. Ketiga, plan your writing dan supaya structure-nya rapi, beliau menyarankan untuk menggunakan headings. Keempat, start writing. Pemilihan vocabulary itu penting, vocab yang biasa aku gunakan untuk menulis blog seringkali ngga bisa digunakan untuk menulis essay. Gunakan thesaurus untuk memperkaya vocab kamu. Kelima, reference well. Jangan sampai lupa menulis darimana argumen yang kamu utarakan berasal. Plagiarism is a big issue here dan sanksinya lumayan berat. Argumen yang digunakan juga harus berdasarkan sesuatu yang scientific dan ada datanya. Opini pribadi hanya bisa diutarakan di kesimpulan. Terakhir, proofread your essay. Membaca essay dengan lantang bisa membuat kamu menyadari kesalahan-kesalahan yang kamu buat, terutama untuk melihat struktur kalimat kamu itu make sense atau ngga. Proofread bisa dilakukan sendiri atau bisa juga menggunakan jasa orang lain. Kalau kamu mau tau lebih detail tips-tips menulis academic writing, kamu bisa cek di blog kakakku, she explains it in more detail. Good luck!

The uni cares about you

Ini adalah bagian yang paling aku suka dari negara-negara maju. Kalau kamu pernah baca postinganku sebelumnya tentang bagaimana pemerintah atau council di UK sangat peduli terhadap citizen-nya yang memiliki disability, begitupun dengan universitasnya. Mulai dari tersedianya automatic door, toilet, dan jalur untuk pengguna kursi roda sampai ke fasilitas lainnya untuk penyandang cacat. Fyi, cacat itu ngga harus cacat fisik. Jadi, di uni-ku ada sebuah institusi namanya DASS (Disability Advisory and Support Service) yang akan membantu para penyandang cacat. Siapa aja yang eligible untuk difasilitasi oleh DASS? Penyandang dyslexia, autism, mental (anxiety, depression), mobility impairment, sensory impairment, epilepsy, AIDS, dan chronic fatigue. Salah satu temanku terdaftar sebagai student yang eligible untuk layanan DASS karena mengalami back pain. Jenis fasilitasnya macam-macam, misalnya ketika ujian, akan ditempatkan di ruangan terpisah. Di ruangan tersebut akan ada kursi khusus misalnya, atau extra time, reader, rest breaks, amenuensis (orang yang akan membantu menuliskan jawabanmu di lembar jawaban ujian, tapi tetap kamu yang mendiktekan jawabannya), dan lain-lain. Pokoknya disesuaikan dengan jenis disability-mu. Selain saat ujian, ada juga fasilitas saat kegiatan belajar mengajar. Misalnya fasilitas note-taking, nantinya akan ada seseorang yang membantu kamu menulis catatan waktu lecture. Dan banyak banget lagi fasilitas lainnya.

Selain fasilitas untuk para disabled students, ada juga skema mitigating circumstances. Gimana kalau seorang student harus absen saat minggu exam atau menjelang deadline karena sakit atau ada kejadian yang ngga diinginkan (misalnya, keluarga dekat sakit keras atau meninggal dunia)? Students bisa request untuk pengunduran jadwal ujian dan jadwal pengumpulan tugas, atau alternatif lainnya.

Keren ya, my uni cares about me! I wonder if in Indonesia we have such mechanism and support…

Kompetisi

Are you the smartest student in the class during your undergrad study? If so, then great! Banyak first class student yang berusaha keras untuk me-maintain peringkatnya di kelas ketika melanjutkan studi di luar negeri. And it’s definitely possible! Ngga selalu kok orang-orang dari Eropa lebih pintar, but the thing is… don’t ever take your study as a competition. Apalagi kalau di luar negeri. Do your best for the sake of yourself, not to win over someone else. Karena dengan mental cooperative instead of competitive, justru makin akan memperkaya ilmu kita. Kelasku itu diverse banget, ngga hanya dari nationality-nya aja, tapi juga dari background pendidikan dan pengalamannya. Beberapa orang udah mengambil course MBA sebelumnya, ada juga yang udah bekerja lebih dari 5 tahun, ada yang menguasai 5 bahasa, dan masih banyak lagi ragamnya. Do you think you want to compete with them? No. And don’t.

Always be open minded, jangan merasa paling pintar tapi juga jangan ngga percaya diri dengan kemampuan kamu. Learn from your classmates and let them learn from you too.

Feedback dan Nilai

Dulu banget waktu aku S1, aku pernah menulis tentang bagaimana nilai yang diberikan dosen-dosenku kadang ‘gaib’. Entah darimana datangnya, kenapa bisa mendapat nilai segitu, dan ngga bisa define apakah aku emang layak mendapat nilai itu atau engga. Di sini, ketika dosen memberikan nilai, mereka ngga hanya memberi angka sekian tapi juga memberi feedback deskriptif tentang bagaimana performance kita dalam mengerjakan tugas atau ujian. Parameternya jelas dan justified. Feedback-nya pun detail; dari hal yang beliau sukai sampai hal yang menurut mereka kurang.

Lalu, pertanyaan besarnya, apakah dapet nilai bagus di luar negeri itu gampang? Menurutku pribadi, susah tapi bukan berarti ngga mungkin! Dosen-dosen di sini punya ekspektasi yang cukup tinggi dan strict dalam memberikan penilaian. Untuk bisa pass, nilai minimum yang harus diraih adalah 50%. 60%-69% itu termasuk merit dan nilai 70% ke atas termasuk distinction. Kalau di Indonesia nilai 70 itu rasanya jelek banget, di sini justru bagus banget dan butuh usaha ekskskskskstra (selebay itu, kecuali kamu jenius).

Anyway, mekanisme penilaian di sini juga berbeda dari di Indonesia karena selain dosen yang mengajar, aka nada external examiner juga yang ikutan memberi nilai. I don’t quite know why, tapi untuk melihat dari sudut pandang non-akademisi kali ya.. supaya penilaiannya semakin objektif. Saat mengumpulkan tugas dan ujian, students dilarang mencantumkan namanya, jadi hanya boleh menuliskan student ID, untuk menjaga objektivitas dosen dalam memberikan penilaian.

Sosialisasi

Enough about academic, sekarang kita mulai bahas hal-hal terkait kehidupan non-akademis. Pertama, sosialisasi. Menurutku ini hal paling utama ketika merantau, supaya ngga desperate dan home sick. Selain sosialisasi dengan teman-teman sekelas (hangout bareng, ngetrip bareng, potluck, dan lain-lain), bersosialisasi dengan sesama perantau dari Indonesia juga penting. Selain bisa membuat suanasa jadi lebih feels like home, mereka itu ibaratnya tetangga terdekat kita saat merantau (meskipun bukan literally tetangga). Mereka yang kemungkinan besar akan duluan membantu kalau kita kesulitan. Begitupun sebaliknya. Jadi, selain rajin ke perpus, perlu rajin juga dateng ke acara-acara dan party-party bareng orang-orang Indonesia lainnya.

Mengatur Budget

Untuk sebagian besar mahasiswa perantau, mengatur budget itu skill wajib yang harus dimiliki. Demi bisa nabung dan jalan-jalan, uang harus dimanage baik-baik. Aku udah cerita tentang bagaimana aku mengatur budget selama di Manchester di beberapa postingan sebelum ini.

Check the link out. After all, tipsnya, jangan kayak orang susah-susah amat sampai ngga bahagia tapi juga harus bertanggung jawab atas semua pengeluaran. Bedakan mana kebutuhan, mana keinginan dan selalu prioritaskan kebutuhan.

Okay, now you’ve reach the end of this article. Masih akan ada satu part terakhir dari rangkaian cerita ini. So, stay tune and enjoy your day 🙂

 

♥ Atiqah Zulfa Nadia

Advertisements

One thought on “Siapa Bilang Enak? (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s